Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 28 : Kota Pelabuhan Xuedong


__ADS_3

“Menurutku, ini adalah masalah politik yang terjadi di Kekaisaran Jiang. Ini adalah sesuatu yang besar. Lebih baik tenangkan dirimu terlebih dahulu di kota pelabuhan itu.” Roh Sang Hitam turun lebih rendah dan mengubah wujudnya menjadi perempuan berparas cantik setelah Jing Yang melompat ke tanah.


Di pesisir pantai. Jing Yang mengernyitkan dahinya dan menjambak rambutnya, “Guru, aku tidak akan bisa tidur dengan tenang jika Nenek dan Yueyue masih tidak ada kabar yang jelas. Mereka berdua dijadikan budak. Ini sangat keterlaluan dan membuatku begitu marah!”


Roh Sang Hitam mengelus rambut Jing Yang dan mengacaknya, “Maka dari itu, malam ini tenangkan dirimu. Besok kau putuskan sendiri. Mencari Yueyue-mu terlebih dahulu atau menemukan Nenek Xue Qinghua.”


Jing Yang merapatkan giginya hingga berbunyi kemudian menghela napas panjang. Dengan perasaan yang tidak tenang. Jing Yang berjalan menaiki tangga pesisir pantai menuju pinggiran Kota Xuedong.


Sebelum malam tiba. Jing Yang melihat penduduk kota yang sedang berjalan bersama sambil menikmati pemandangan sore di pinggiran Kota Xuedong. Matahari terbenam dan cahaya hangat itu membuat Jing Yang bergegas mencari penginapan.


Tatapan penduduk kota pada dirinya membuat Jing Yang merasa risih. Pakaian yang dikenakan Jing Yang memang berasal dari bulu-bulu Binatang Iblis. Selain menarik perhatian. Tidak ada seorangpun yang mendekati Jing Yang. Semua menjaga jarak darinya.


“Pakaian anak kecil ini terlihat seperti anak liar...”


“Apa dia Hewan Buas yang menyamar menjadi manusia?”


“Menakutkan. Lebih baik kita lapor ke Pasukan Salju Merah.”


Jing Yang tidak menggubris perkataan miring penduduk yang menatap dirinya. Roh Sang Hitam hanya diam dan mengamati keadaan sekitar sambil terbang melayang di udara.


Setelah terus berjalan melewati jalanan kota yang ramai. Jing Yang sampai di sebuah penginapan yang besar. Penginapan ini memiliki papan kayu yang berwarna emas dan bertuliskan ”Penginapan Pondok Kelapa” yang ditulis dalam huruf besar.


“Sepertinya aku bisa beristirahat disini...” Jing Yang menggumam pelan sebelum memasuki pintu Penginapan Pondok Kelapa.


Terdengar suara tawa serta beberapa orang kaya yang sedang meminum minuman keras. Jing Yang masuk dan dihadang dua pelayan perempuan yang parasnya manis dan terlihat ketakutan dengan lima orang yang sedang mabuk.


“Maaf, anak kecil. Ini adalah Penginapan Pondok Kelapa. Tempat menginap orang-orang yang berkecukupan dan mempunyai uang...” Gadis dengan rambut yang diikat menatap Jing Yang dengan tatapan merendahkan.


“Selain itu, lihat pakaianmu yang begitu lusuh seperti Hewan Buas. Jangan datang kemari. Ini bukan tempat orang meminta sumbangan...” Pelayan lainnya dengan sinis hendak mendorong tubuh Jing Yang.


“Apakah ini cukup?” Jing Yang mengambil satu karung keping emas dari Cincin Dewa. Dua pelayan langsung terbelalak matanya melihat satu karung berisi keping emas itu. Lima pria yang sedang mabuk juga langsung menatap Jing Yang serius.

__ADS_1


“Ini berlebihan, Tuan Muda...” Gadis dengan rambut yang diikat tersenyum semanis-manisnya kepada Jing Yang.


“Selamat datang di Penginapan Pondok Kelapa. Penginapan kami menyediakan tiga puluh kamar. Kamar yang ada di lantai satu, lantai dua dan lantai tiga memiliki harga sewa yang berbeda-beda. Lantai pertama seharga lima keping emas untuk satu kamar. Lantai kedua seharga sepuluh keping emas dan lantai ketiga seharga lima belas keping emas untuk satu kamar.” Pelayan yang lainnya langsung bersikap ramah dan berubah kepribadiannya melihat Jing Yang.


“Dasar manusia, hais parah. Sungguh parah. Aku tidak bisa berkomentar apapun.” Roh Sang Hitam menghela napas panjang melihat kedua pelayan yang berubah ramah setelah Jing Yang mengeluarkan sekarung keping emas.


“Aku akan menyewa satu kamar di lantai tiga. Sekalian aku pesan makanan yang paling mahal di penginapan ini.” Jing Yang memberi tiga puluh keping emas pada pelayan. Kemudian dia memasukkan kembali sekarung emas itu pada Cincin Dewa.


Wajah kedua pelayan tersebut takjub melihat karung yang berisi keping emas itu menghilang dalam sekejap. Tanpa menunggu lebih lama. Mereka berdua langsung membagi tugas.


“Tuan Muda. Biar saya antar ke kamar yang anda pesan.” Gadis dengan rambut yang diikat menuntun Jing Yang menuju lantai tiga penginapan.


Jing Yang merasakan nafsu membunuh dari lima pria yang sedang mabuk. Salah satu pria dengan pakaian yang paling mewah dan tampang yang seperti seorang anak pejabat melempar dua gelas kosong ke arah Jing Yang.


“Jin Hou...” Jing Yang menggumam pelan. Seketika tangan Raja Kera Emas menangkap dua gelas tersebut dan melemparnya ke arah lima pria yang sedang mabuk.


Kelima pria tersebut berkeringat dingin karena mereka bisa melihat dengan jelas jika Jing Yang tidak melakukan apapun.


Jing Yang tidak peduli dan hanya berjalan mengikuti gadis yang sedang mengantarnya menuju kamar tidur. Sekilas Jing Yang melihat wajah gadis tersebut berkeringat dingin.


“Semoga fasilitas di kamar ini sesuai dengan selera Tuan Muda...” Gadis itu membungkuk dan menatap Jing Yang sesaat sebelum membantu pelayan yang lain untuk memasak.


Jing Yang menutup pintu dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang, “Tujuh tahun lamanya aku tidak tidur merasakan kenikmatan ini.”


Roh Sang Hitam tersenyum tipis melihat ekspresi Jing Yang. Namun ada sesuatu yang menganggu dirinya karena lima pria yang berurusan dengan Jing Yang terlihat tidak akan melepaskan Jing Yang begitu saja.


Saat ini Roh Sang Hitam memberi saran kepada Jing Yang untuk membeli sebuah pakaian karena pakaian yang dikenakan Jing Yang terlalu mencolok.


“Pakaian?” Jing Yang berdiri dan menatap ke luar jendela.


“Belilah pakaian yang baru. Apa perlu aku menemanimu?” Roh Sang Hitam masih melayang di udara dan bertanya kepada Jing Yang.

__ADS_1


“Tidak perlu, Guru...” Jing Yang membuka pintu kamar penginapan dan menoleh melihat Roh Sang Hitam, “Murid akan membeli pakaian sendiri. Murid tidak ingin merepotkan Guru...”


Roh Sang Hitam memerah wajahnya dan tersipu malu, “Jangan terlalu formal padaku, dasar bodoh.”


Roh Sang Hitam terbang keluar kamar penginapan dan berjalan mendahului Jing Yang. Pada akhirnya Roh Sang Hitam ikut untuk menikmati suasana malam di Kota Xuedong.


‘Pada akhirnya Guru ikut...” Batin Jing Yang sambil menatap Roh Sang Hitam yang terbang disampingnya.


Suasana malam di Kota Xuedong cukup ramai. Terlihat banyak penduduk yang berjalan bersama keluarga mereka untuk menikmati keindahan malam di kota pelabuhan itu. Di sepanjang jalan terlihat ada toko dan kedai makan. Penduduk berlalu-lalang dan saling menyapa.


Jing Yang merasa sendirian di antara ratusan orang yang berlalu-lalang itu. Namun kehadiran Roh Sang Hitam membuat Jing Yang menjadi tenang.


Setelah berjalan cukup lama. Jing Yang melihat salah satu toko yang menjual pakaian. Jing Yang masuk ke dalam toko tersebut dan melihat-lihat pakaian beserta jubah yang digantung.


“Anak kecil. Toko kami bukan tempat untuk orang meminta sumbangan. Maaf saja, lebih baik enyah dari sini jika tidak punya uang.” Sama seperti reaksi pertama dua pelayan di Penginapan Pondok Kelapa. Pria paruh baya yang terlihat seperti pemilik toko juga tidak menyambut Jing Yang dengan baik. Hanya saja Jing Yang melihat ada perbedaan antara di pelayan penginapan dan pemilik toko ini.


“Aku beli baju hitam lengan panjang, celana hitam panjang. Jubah hitam dan kain putih itu.” Jing Yang mengeluarkan lima puluh keping emas dan memberikannya pada pria paruh baya tersebut, ”Oh, iya. Sekalian dengan tudung berwarna hitam. Apa ini sudah cukup?”


Pria pemilik toko terbelalak dan langsung bersikap ramah kepada Jing Yang. Kepribadiannya berubah setelah menerima uang pemberian Jing Yang.


‘Ternyata anak ini kaya. Tetapi dia berasal darimana? Lima puluh keping emas. Padahal semua harga pakaian ini berjumlah tiga puluh keping emas jika ditotal. Pada akhirnya anak kecil hanyalah anak kecil.’ Pikir pria paruh baya, pemilik toko baju tersebut.


Roh Sang Hitam berbisik kepada Jing Yang. Tak lama pria paruh baya, pemilik toko, menuntun Jing Yang untuk berganti pakaian menuju ruang ganti.


Jing Yang melepas pakaian lamanya dan menggantinya dengan yang baru. Pakaian kali ini yang dia kenakan terasa nyaman. Jing Yang menaruh pakaian lamanya ke dalam Cincin Dewa karena dia ingin menjadikan pakaian lamanya itu sebagai kenang-kenangan, agar di masa depan dia ingat dengan masa lalunya.


“Aku pergi dulu. Terimakasih atas sambutannya.” Jing Yang tersenyum tipis dan berjalan keluar ruang ganti. Lalu langkah kakinya berhenti di pintu keluar toko baju.


“Maaf kalau saya tadi tidak menyambut Tuan Muda dengan baik. Semoga Tuan Muda berkunjung kembali ke toko kami.” Pria paruh baya itu membungkuk dan menyatukan kedua tangannya.


“Aku harap kau menjadi orang yang sering bersedekah Paman. Lebih baik memberi daripada menerima.” Ucap Jing Yang, sambil berjalan meninggalkan pria paruh baya yang termenung dan masih dalam keadaan posisi membungkuk itu.

__ADS_1


Roh Sang Hitam terkekeh melihat ekspresi pemilik toko yang terkejut sekaligus berkeringat dingin. Sementara Jing Yang memegang tudungnya sambil menatap langit malam yang tak berbintang itu.


__ADS_2