
Selendang Nafsu mendengus kesal, “Bocah, kau seenaknya menyuruhku! Apa kau sadar dirimu ini bukan siapa-siapaku?!”
Jing Yang mengabaikan ucapan Selendang Nafsu dan terus melakukan pertukaran serangan dengan Han Yanxi. Setiap tebasan pedangnya begitu tajam, Jing Yang menyadari kemampuan Han Yanxi masih diatasnya hanya saja dia merasa heran mengapa dirinya masih dapat mengimbangi pergerakan Han Yanxi.
‘Oi, yang benar saja! Ini tidak bercanda bukan!’ Han Yanxi sendiri sangat yakin kemampuan Jing Yang setara dengan Pendekar Langit. Mengingat teknik pertarungan Jing Yang mengagumkan membuat Han Yanxi berpikir jika Jing Yang menyembunyikan kemampuannya.
“Kau beberapa tahap lagi mencapai Pendekar Langit! Aku tidak menyangka bisa melihat bocah sejenius dirimu!” Han Yanxi melepaskan aura pembunuh berjumlah besar membuat pergerakan Jing Yang melambat bahkan Selendang Nafsu ikut terkena imbasnya.
“Tetapi sangat disayangkan, kau akan mati disini! Sejak dirimu dilahirkan, kami sudah mengawasimu anak Jing Tian!” Han Yanxi dengan gerakannya yang begitu cepat mengikat tubuh Jing Yang menggunakan rantainya.
Jing Yang mencoba melepaskan diri. Dia melepaskan Aura Raja Naga berjumlah besar dan mengeraskan kulit tubuhnya menjadi besi.
Rantai yang melilit tubuhnya mulai longgar, setelah itu Jing Yang memanipulasi petir. Dengan gerakan yang cepat dia mempersingkat jaraknya dengan Han Yanxi.
“Menarik, kau sepertinya menuruni kepintaran Ayahmu itu!” Han Yanxi melempar rantai yang dilapisi petir untuk menyerang Jing Yang.
“Apa hubunganmu dengan mendiang Ayahku?” Jing Yang menatap dingin Han Yanxi dan terus memberikan serangan mematikan pada rantai yang mencoba mengikat tubuhnya kembali.
Han Yanxi terkekeh, “Hubunganku dengannya? Bisa dibilang aku berasal dari Benua Bintang Timur begitu juga dengan Ayahmu. Aku adalah anggota Klan Han yang memilih tunduk pada Kekaisaran Sembilan Iblis.”
“Benua Bintang Timur? Kekaisaran Sembilan Iblis?” Jing Yang mengerutkan keningnya lalu menarik Pedang Dewa Naga. Kedua pedangnya memancarkan aura mematikan yang pekat.
“Senjatamu itu...” Han Yanxi menyeringai sebelum melepaskan tenaga dalam berjumlah besar, “Pusaka Dewa bukan?”
Jing Yang menajamkan matanya dan menggunakan Tanda Mata Naga memperhatikan pergerakan Han Yanxi. Pergerakan Han Yanxi memang cepat dan penuh tipu muslihat, tetapi Jing Yang melihat dengan jelas.
Dengan kombinasi kedua pedangnya Jing Yang mengincar leher Han Yanxi. Seketika ekspresi Han Yanxi terkejut saat mengetahui Jing Yang dapat melihat pergerakannya.
Han Yanxi semakin tertarik untuk menangkap Jing Yang dan membawanya langsung pada Fu Xinghe.
“Rantai Petir milikku ini akan menyerangmu!" Layaknya ular, rantai milik Han Yanxi bergerak sendiri kesana-kemari menyerang Jing Yang.
Tidak ada celah bahkan saat Jing Yang mendekat. Rantai itu melingkar dan berputar mengeluarkan ledakan petir membuat Jing Yang harus menjaga jarak.
‘Aura Zirah Naga - Zirah Naga Petir!”
__ADS_1
Jing Yang mengolah pernapasan halus dan melepaskan Aura Raja Naga kembali. Mulutnya mendesis sebelum menghilang dari pandangan Han Yanxi.
“Oi, bocah!” Han Yanxi menyeringai lebar saat mengetahui Jing Yang sudah melewati pertahanan Rantai Petir.
Jing Yang sudah melepaskan dua tebasan yang langsung mengincar tubuh Han Yanxi, namun sekali lagi Han Yanxi dapat menghindarinya berkat Rantai Petir.
Jing Yang tidak panik dan terus menyerang pertahanan Han Yanxi. Sekuat tenaga Jing Yang mencoba menembus pertahanan Han Yanxi yang kuat.
Saat tubuh Jing Yang dikelilingi Rantai Petir, Jing Yang memainkan pedangnya dengan indah, kecepatan permainan pedangnya mampu mengimbangi pergerakan Rantai Petir yang terus membuatnya terdesak.
Ekspresi raut wajah Han Yanxi berubah saat mengetahui pergerakan Jing Yang semakin lincah dan gesit. Tebasan tajam datang dari segala arah, Jing Yang berpindah dengan cepat lalu menebaskan pedangnya.
Serangan itu terus berlanjut hingga pertahanan Han Yanxi terbuka lebar. Jing Yang melepaskan energi pedang gravitasi yang membuat pergerakan Han Yanxi melambat dan berat.
“Kau tahu, hal yang paling aku takutkan adalah terbiasa membunuh...” Kedua bola mata Jing Yang terlihat suram dan menggelap, tubuh Han Yanxi gemetaran melihatnya. Dia tidak menyangka bocah polos yang biasanya kedua bola mata hangat itu memiliki tatapan yang membuatnya ketakutan.
“Mungkin sejak saat itu aku sudah terbiasa, sampai-sampai aku tidak merasakan apapun saat membunuh seseorang...” Suara Jing Yang terdengar menyayat hati, tetapi bagi Han Yanxi suaranya seperti ancaman.
‘Ini tidak mungkin! Aku, Han Yanxi gemetaran karena tatapan matanya? Dia sangat berbeda dengan Ayahnya, Jing Tian!’
Jing Yang mengambil Rantai Petir lalu menaruhnya kedalam Cincin Dewa. Dia terkejut saat merasakan dirinya akan mencapai Pendekar Langit.
‘Apa semua ini karena Tubuh Raja Neraka?’ Jing Yang bertanya-tanya, tetapi dia terlalu memikirkannya dan melihat pertarungan antara Selendang Nafsu melawan Xiang Rao.
“Yang benar saja, Han Yanxi! Kau mati oleh bocah itu?!” Xiang Rao berteriak lantang saat melihat tubuh Han Yanxi lenyap tak berbekas.
Selendang Nafsu tertawa cekikikan, “Dia sangat membantu, benar-benar berlian yang harus dijaga. Jika kita memenangkan pertempuran ini, aku akan mengabdikan hidupku padamu, calon Kaisar Jiang.”
“Senior, apa perlu bantuan?” Jing Yang justru tidak menanggapi ucapan Selendang Nafsu dan menawarkan bantuan.
Selendang Nafsu mendengus kesal, “Dasar bocah! Apa dia tidak tahu kalau aku ini termasuk primadona sekte dimasa lalu! Sepertinya aku memang tidak akan pernah tertarik pada laki-laki!”
“Kau bicara apa, wanita sialan? Saat bertarung denganku, kau berani mengoceh tidak jelas!” Xiang Rao melepaskan aura tubuhnya dan melompat dengan kecepatan tinggi kearah Selendang Nafsu.
Setelah itu Xiang Rao melepaskan sejumlah tapak berapi yang ditahan langsung oleh Selendang Nafsu menggunakan selendangnya yang menjadi sebuah pertahanan.
__ADS_1
Keduanya memulai pertukaran serangan cepat, Xiang Rao terlihat unggul namun pertahanan Selendang Nafsu tidak bisa diremehkan.
Tapak demi tapak yang dilepaskan Xiang Rao tidak mampu memberikan luka pada tubuh Selendang Nafsu. Setelah melakukan pertukaran lebih dari seratus sepuluh serangan, akhirnya pergerakan Xiang Rao berubah.
‘Wanita sialan ini mampu bertahan sejauh ini! Tetapi semua ini sesuai dengan rencanaku!’ Xiang Rao melapisi seluruh tubuhnya dengan tenaga dalam dan aura tubuhnya.
Saat Xiang Rao hendak melakukan serangan penghabisan, kedua kaki dan tangannya dibekukan. Xue Qinghua muncul bersama Tinju Api dan Pedang Amarah.
Bukan hanya mereka bertiga, disana terlihat juga Golok Serakah dengan sekujur tubuh yang dipenuhi luka berhasil mengalahkan penjaga lantai pertama Menara Dewa, Xu Wangbin.
“Terimakasih, Salju Dendam!” Selendang Nafsu mengalirkan tenaga dalam berjumlah besar pada selendangnya. Terlihat selendang itu melilit tubuh Xiang Rao yang tidak bisa bergerak.
“Sialan! Mereka semua mati?! Pecundang kalian beraninya main keroyokan!” Xiang Rao berteriak kencang mencoba melepaskan diri, namun seketika tubuhnya terasa diremukkan saat selendang yang melilit tubuhnya semakin erat mencengkeram.
Selendang Nafsu tersenyum tipis dari balik topengnya, “Matilah!” Tubuh Xiang Rao hancur lebur, kemudian Pedang Amarah menebaskan pedangnya memotong kepala Xiang Rao.
“Sebentar lagi kita akan bertemu dengan bedebah sialan itu!” Pedang Amarah mengibaskan pedangnya dan menatap tubuh Xiang Rao yang lenyap tak berbekas.
Tinju Api menyapu pandangannya mencoba mencari Jing Yang, “Jangan lengah, tujuan utama mereka adalah Tubuh Yang dan Tubuh Raja Neraka! Jika benar kata Golok Serakah, maka kita harus melindungi Jing Yang dan Xue Rong.”
“Aku tidak menyangka Menara Dewa telah mengintai dan mengumpulkan semua informasi dari jauh-jauh hari. Seolah-olah Xue Rong dan Jing Yang ditakdirkan untuk menjadi tumbal mereka...” Tinju Api menambahkan.
“Dimana, Yang‘er?” Xue Qinghua bertanya pada Selendang Nafsu yang seharusnya bersama Jing Yang.
Selendang Nafsu menunjuk kearah belakang namun Jing Yang sudah tidak ada, “Disitu- Perasaanku dia melihatku disitu. Apa dia bergerak sendiri kelantai selanjutnya?”
Xue Qinghua tanpa berpikir dua kali langsung bergegas menuju lantai selanjutnya. Selendang Nafsu mengikutinya dari belakang.
“Bagaimana pemimpin?” Golok Serakah bertanya pada Tinju Api.
Tinju Api menghela nafas panjang, “Sudah kuduga, ada pengkhianat yang menyusup. Orang itu memiliki kemampuan Iblis Siang. Kita kejar orang bernama Bing Mu sebelum mencelakai Xue Rong dan Jing Yang.”
“Aku mengerti. Aku akan memastikan orang itu mati mengenaskan...” Golok Serakah meringis saat menjawab karena luka ditubuhnya terlalu parah. Butuh waktu lama bagi dirinya untuk membunuh Xu Wangbin.
Pedang Amarah ikut menanggapi, “Kita harus menyimpan tenaga untuk melakukan penyegelan itu. Kita disini untuk mengakhiri semuanya, jangan merasa ragu. Setelah memasuki Menara Dewa, yang aku pikirkan hanya satu, bagaimana caranya membunuh Fu Xinghe!”
__ADS_1
“Pedang Amarah, kau benar. Pengejaran kita berakhir di Benua Dataran Tengah. Mari kita akhiri tragedi menyedihkan ini dengan membunuh salah satu Pemimpin Iblis Siang!” Tinju Api mengepalkan tangannya erat sebelum bergerak menuju lantai selanjutnya diikuti Golok Serakah dan Pedang Amarah dari belakang.