
“Lihat ekspresi Bibi Xianlin, Yueyue. Tatapan jijik kepada kepala keluarga Huang itu...” Shi Surao tidak berhenti tertawa mengamati Bai Xianlin dari ketinggian bersama Xue Bingyue.
“Kakka Raorao jangan terlalu banyak bergerak!” Xue Bingyue menegur Shi Surao yang tidak henti-hentinya membuat keseimbangannya goyah.
Setelah mengikuti rencana Bai Xianlin, akhirnya Xue Bingyue melihat jarak menuju Ibukota Shilin semakin mendekat. Xue Bingyue memperhatikan siluet sebuah kota besar dan megah dari kejauhan, kemudian dia memakai topengnya.
“Kakak Raorao saatnya menjalankan misi yang diberikan Bibi Xianlin.” Xue Bingyue terbang rendah beberapa meter didepan kereta kuda Huang Xin.
Saat kereta kuda Huang Xin mendekat, Xue Bingyue mencegat dan meminta pertolongan pada Bai Xianlin. Sementara Shi Surao hanya diam dan memperbaiki topengnya yang hampir terlepas menutupi wajahnya.
‘Kenapa diam saja?’ Bai Xianlin mengangkat kedua bahunya memberi isyarat pada Xue Bingyue untuk berbicara.
Tidak ada respon dari Xue Bingyue membuat Bai Xianlin memulai pembicaraan.
“Xin‘gege, aku pernah bertemu dengan mereka berdua. Mereka adalah anak yatim-piatu yang pernah tinggal menumpang di rumahku.” Bai Xianlin pandai mengarang cerita dan herannya Huang Xin mempercayainya.
“Lin‘er, sepertinya kau sangat mengenal mereka.” Huang Xin tersenyum melihat kepedulian Bai Xianlin terhadap dua gadis bertopeng yang mencegat perjalanan mereka.
“Gadis kecil itu tidak bisa berbicara, begitu juga dengan yang disana. Kejadian buruk dimasa lalu membuat mereka berdua seperti itu. Apa kau keberatan jika aku mengadopsi mereka berdua menjadi anak kita, Xin‘gege?” Bai Xianlin merayu Huang Xin dengan membusungkan dadanya dan memasang ekspresi memohon.
Mendapatkan rayuan maut itu tentu Huang Xin tidak dapat menolaknya, “Baiklah, Lin‘er. Aku akan mengadopsi mereka berdua. Tetapi sembunyikan identitas mereka berdua termasuk dirimu saat berada didepan istriku.”
Huang Xin memegang lembut tangan Bai Xianlin dan tersenyum, “Aku berjanji akan membuat kalian berdua saling mengenal satu sama lain.”
Bai Xianlin menganggukkan kepalanya lembut, “Xin‘gege, terimakasih karena telah membuatku kembali mempercayai seseorang.”
Huang Xin tersenyum dan segera mempersilahkan Xue Bingyue dan Shi Surao untuk naik ke kereta kuda.
Xue Bingyue tersenyum dari balik topengnya memperhatikan ekspresi wajah Bai Xianlin, begitu juga dengan Shi Surao yang sedari tadi menahan tawanya.
__ADS_1
Dalam perjalanan Xue Bingyue dan Shi Surao lebih banyak diam, sementara Bai Xianlin harus menahan diri karena Huang Xin selalu merayunya.
Setelah sampai di Ibukota Yinjing, Huang Xin dapat dengan mudah masuk karena memiliki akses untuk mengunjungi Shi Xuanyuan.
Bai Xianlin, Xue Bingyue dan Shi Surao saling menatap satu sama lain karena mereka bertiga telah memasuki Ibukota Yinjing. Mereka bertiga tidak boleh gegabah dalam bertindak.
Sebelum menuju Istana Shi, Huang Xin mengajak Bai Xianlin, Xue Bingyue dan Shi Surao ke Restoran Mawar Layu. Huang Xin sendiri tidak sabar bertemu dengan istrinya yakni Huang Yu karena keduanya sudah lama tidak berjumpa.
Sesampainya didepan Restoran Mawar Layu, Huang Xin melihat sejumlah pengawal Kaisar Shi Xuanyuan berdiri didepan. Setelah dia keluar dari kereta kuda, para pengawal itu membungkuk dan menyapanya.
“Mari masuk Lin‘er. Kalian berdua juga.” Huang Xin mengajak Bai Xianlin, Xue Bingyue dan Shi Surao untuk memasuki Restoran Mawar Layu.
Ekspresi Bai Xianlin rumit. Dia tidak menyangka Huang Xin tidak curiga terhadap istrinya. Terlebih dengan pengawal Kaisar Shi Xuanyuan yang berjaga di Restoran Mawar Layu sudah membuat pikiran Bai Xianlin menebak tentang apa yang terjadi didalam sana.
Sementara itu didalam ruangan pribadi Huang Yu terlihat pria berparas tampan sedang menindih tubuh seorang wanita. Kedua pasangan berbeda jenis itu memacu tubuh mereka menuju langit terindah.
“Xuan‘gege!” Huang Yu tidak henti-hentinya menyebut nama pria yang membuat tubuhnya lemas.
Saat keduanya hampir mencapai puncak, suara gedoran pintu diruangan mereka membuyarkan semua konsentrasi yang melayang tinggi.
“Yu‘er, ini aku!” Mendengar suara pria dari luar ruangan pribadinya membuat ekspresi wajah Huang Yu memburuk.
“Yang Mulia, ini bahaya...” Huang Yu berbisik dan mendorong tubuh Kaisar Shi Xuanyuan dan segera memakai pakaiannya.
Sementara itu Kaisar Shi Xuanyuan berdecak kesal karena belum menuntaskan keinginannya. Pria itu bersembunyi dibalik pintu saat Huang Yu membuka pintu dan menyambut Huang Xin.
“Xin‘gege, kenapa tidak memberi kabar?” Huang Yu memberikan senyuman manisnya pada Huang Xin yang memperhatikan ranjang diruangan pribadi Huang Yu berantakan.
“Kenapa ranjangmu berantakan?” Huang Xin merasa curiga terlebih dia melihat tubuh Huang Yu dipenuhi keringat.
__ADS_1
Huang Yu memeluk tubuh Huang Xin dan mendesah, “Xin‘gege, aku merindukanmu.” Suara manja Huang Yu membuat Huang Xin memeluk tubuh istrinya itu.
Huang Yu tersenyum, “Jangan disini.” Tangan Huang Yu menarik cepat tangan Huang Xin menuju ruangan yang kosong.
Kaisar Shi Xuanyuan keluar dari ruangan pribadi Huang Yu dengan ekspresi wajah kesal, ‘Sial! Lihat saja, aku akan membuatmu tidak bisa berjalan! Kau akan mengakui kegagahanku, Huang Yu!’
____
Sejak kehilangan keinginannya untuk tetap hidup, Jing Yang mendapatkan penglihatan misterius tentang Tubuh Raja Neraka.
Tubuhnya diikat dengan rantai hitam yang membelenggu, sementara sosok Raja Neraka terus berbicara dihadapannya.
“Apa tidak ada hal lain yang ingin kau bicarakan padaku selain masa depanku yang suram?” Jing Yang menatap dingin Raja Neraka yang berdiri dihadapannya.
“Kau sudah melihatnya bukan?” Raja Neraka tersenyum lebar sebelum wujudnya berubah menjadi sosok pemuda berparas tampan dengan tatapan dingin dan suram.
“Kau...” Jing Yang melebar matanya melihat sosok pemuda dihadapannya, “Aku?”
“Ya, ini adalah dirimu. Masa depan yang hebat bukan?” Raja Neraka dengan tubuh Jing Yang dewasa menatap langit-langit berapi. Tatapannya itu suram namun menunjukkan sejuta kesedihan mendalam.
Saat Raja Neraka tersenyum kearah Jing Yang, secara perlahan tubuhnya berubah menjadi cahaya berwarna merah yang memasuki tubuh Jing Yang.
Jing Yang meronta kesakitan sebelum akhirnya dia mendapatkan beberapa penglihatan misterius yang muncul satu demi satu didalam kepalanya.
Jing Yang terdiam lama sebelum akhirnya dia memutuskan untuk mengasah kemampuannya didalam Dimensi Neraka.
Rantai yang mengekang tubuhnya terlepas, Jing Yang berjalan menuju sebuah danau yang dipenuhi api sambil membunyikan lehernya.
“Aku akan melindungi semuanya.” Mendengar ucapan Jing Yang barusan, Raja Neraka tertawa keras dan melihat potensi besar dalam diri Jing Yang.
__ADS_1
“Buatlah era baru, anak manusia.” Raja Neraka memberikan ingatannya pada Jing Yang sebelum akhirnya dia tidak lagi bersuara.