
[Seseorang yang luar biasa itu sederhana dalam ucapannya, tetapi hebat dalam tindakannya.]
Jangan lupa dengerin lagu Seventeen yang judulnya Menemukanmu waktu baca chapter ini.
___
“Putih?” Roh Sang Hitam keluar dari tubuh Jing Yang dan melayang di udara.
Jing Yang mencoba menatap ke arah Roh Sang Hitam namun tiba-tiba dia melihat tubuh seorang gadis yang sebaya dengannya terpental ke arahnya.
Jing Yang melepaskan aura dan memusatkannya pada sepuluh jari sebelum menahan tubuh gadis itu dan membungkusnya dengan aura.
“Kakak Que! Apakah kau tidak apa-apa?” Gadis ini mengabaikannya, bahkan dengan santainya bersandar padanya.
Jantung Jing Yang berdebar kencang. Perasaan ini tidak asing, suara lembut dan indah milik sang gadis membuat tubuhnya bergetar.
“Daripada itu, kau menabrak seseorang, Yueyue...” Gadis berambut hitam keperakan memegang perutnya.
Di bawah guyuran hujan, Jing Yang mencium harum wangi bau badan gadis didepannya. Ketika gadis itu membalikkan badannya, dia hampir tak mengenalinya. Rambut hitam yang panjang dan tatapan matanya terasa akrab baginya.
Satu hal yang Jing Yang ketahui. Gadis yang memiliki kulit sejernih es dan salju, serta kecantikannya yang seterang giok tidak asing baginya.
“Yueyue...” Jing Yang memegang pundak gadis ini dan berusaha mengingat saat terakhir mereka berdua berpisah.
Tanpa sadar Xue Bingyue meneteskan air matanya ketika melihat wajah pemuda yang menyebut namanya, ‘Dia siapa... Kenapa aku menangis ketika melihatnya...’ Dalam kebingungan, tubuhnya sudah didekap erat.
Xue Que melebar matanya, mulutnya terbuka melihat Xue Bingyue dipeluk erat oleh pemuda tak dikenal.
“Jangan lecehkan adik seperguruanku!” Teriak Xue Que ketika melihat telapak tangan Jing Yang membelai rambut hitam Bingyue.
“Maaf, lepaskan pelukanmu...”
“Hitam!” Suara perempuan berparas cantik yang terbang melayang di udara dan secercah cahaya berwarna putih terang memisahkan diri dari tubuh Xue Bingyue.
__ADS_1
Xue Bingyue terkejut melihat Roh Sang Putih memeluk tubuh perempuan berparas cantik yang memakai gaun hitam.
Roh Sang Putih mengabaikan Xue Bingyue dan memeluk saudari jauhnya. Keduanya menghiraukan orang-orang disekitarnya.
“Kalian tidak akan bisa melarikan diri. Melawan satu anggota Partai Hewan Buas saja kami sudah kewalahan. Setidaknya kalian berdua akan menjadi tangkapan kami...” Pendekar suci dengan napas terengah-rengah menatap Xue Bingyue dan Xue Que.
Xue Bingyue mendorong tubuh Jing Yang, “Orang ini tidak ada hubungannya dengan kami berdua! Biarkan dia pergi!”
Orang yang paling terkejut mendengar perkataan Xue Bingyue adalah Xue Que. Baru pertama kali adik seperguruannya melindungi laki-laki, bahkan mau dipeluk oleh laki-laki itu.
Jing Yang menggelengkan kepalanya. Dia berpikir Xue Bingyue menganggap dirinya masih lemah.
“Yueyue. Mungkin bagimu, aku ini adalah orang yang harus kamu lindungi. Tapi saat ini biarkan aku melindungimu...” Jing Yang berjalan melewati Xue Bingyue dan menarik Pedang Gravitasi dari sarungnya.
‘Yang kuat menindas yang lemah. Dunia busuk yang mengikuti aturan mudah seperti itu. Hanya saja, aku selalu berusaha menjadi kuat, untuk bertahan di dunia ini. Saat itu, aku lemah dan kau selalu menolongku. Aku tidak bisa menerima semua itu. Aku juga ingin menjadi kuat sepertimu, agar bisa berdampingan denganmu, dan menjalani hidup di dunia ini...’ Jing Yang memejamkan matanya mengingat masa lalunya dengan Xue Bingyue, “Aku tidak akan menunjukkan kelemahanku lagi!”
Jantung Xue Bingyue berdetak lebih cepat dari biasanya. Wajah tampan seorang pemuda yang sebaya dengannya memancarkan aura kebangsawanan, membuat matanya melebar dan tidak berkedip ketika pemuda itu tersenyum tipis ke arahnya.
Jing Yang tidak menjawab, melainkan melepaskan Aura Raja Naga yang terpusat pada satu titik.
“Apa ini?!” Pendekar suci itu tersentak kaget karena merasa bagian tubuhnya dari kepala hingga kaki seperti menahan beban yang berat.
Xue Bingyue dan Xue Que terkejut melihat kemampuan Jing Yang, Xue Que berniat membawa Xue Bingyue pergi, namun gadis ini mengurungkan niatnya ketika melihat Xue Bingyue meneteskan air matanya dan terus menatap punggung pemuda itu dengan air mata yang sunyi dan kedua bola mata bahagia.
Jing Yang tersenyum karena menyadari Yue Wang dan Lingling telah menyatu dengan jiwa dan pikirannya. Bukti dari keduanya mulai menerima keberadaan Jing Yang sepenuhnya adalah tangisan mereka ketika melihat Jing Yang menangis.
Dalam satu kali gerakan yang cepat, Jing Yang menebaskan pedangnya tajam pada perut pendekar suci.
“Teknik Pedang Dalam Sarung...” Jing Yang menyarungkan pedangnya pelan-pelan setelah menggunakan kekuatan gravitasi dan menebaskan pedangnya secepat mungkin, “Ledakan Gravitasi!”
Tubuh pendekar suci terhimpit ke tanah sebelum suara tulang yang remuk terdengar. Nyawanya hilang seketika, setelah Pedang Gravitasi tersarung rapi.
Xue Que menatap Xue Bingyue penuh keheranan. Ekspresi wajah gadis ini sulit untuk dia ungkapkan.
__ADS_1
“Yueyue?” Jing Yang menatap Xue Bingyue yang menatapnya tanpa berkedip. Gadis ini masih meneteskan air matanya.
Jing Yang menghampiri Xue Bingyue, menghiraukan keberadaan Xue Que yang bersikap waspada padanya.
“Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu lagi.” Jing Yang membelai rambut halus Xue Bingyue yang basah. Tidak ada perlawanan sama sekali darinya.
‘Siapa dia? Itu tidak penting, kenapa Yueyue membiarkan pemuda ini menyentuh rambutnya?’ Xue Que ingin bergerak, tetapi setelah melihat kemampuan Jing Yang, dia tidak ingin bertindak gegabah.
“Jangan menangis. Maaf, aku tidak bisa menepati janji yang kita buat saat itu...” Jing Yang mengeluarkan sebuah jubah tebal dari Cincin Dewa, kemudian memakaikannnya pada tubuh Xue Bingyue. Kemudian dia menyeka air mata Xue Bingyue, namun kedua bola mata yang indah itu terus meneteskan air mata.
“Kamu tidak perlu merasa bersalah. Luka di mata kiriku ini sudah sembuh.” Jing Yang mengira Xue Bingyue heran melihat luka di mata kirinya telah menghilang.
Xue Bingyue ingin berbicara, tetapi dia terus meneteskan air mata. Kebahagiaan di dalam hatinya sulit untuk dia mengerti. Ketika mulutnya terbuka, justru tangisannya terdengar. Tubuhnya bergerak, tidak sesuai pikirannya. Tatapan hangat pemuda itu terasa akrab baginya.
Xue Bingyue mendekap tubuh Jing Yang begitu erat. Wajahnya dia benamkan pada dada pemuda itu. Perlahan sensasi kehangatan merayapi sekujur tubuhnya.
Jing Yang mengira Xue Bingyue tidak dapat menahan kesedihannya. Dia tidak tahu kondisi Xue Bingyue yang kehilangan ingatannya. Perlahan dia membalas pelukan Xue Bingyue dengan erat, dia tidak ingin kehilangannya kembali.
Pedang yang dipegang Xue Que terjatuh. Mulut gadis ini menganga lebar melihat Xue Bingyue menangis di pelukan Jing Yang. Selain menelan ludah, dia tidak dapat berkata apapun.
Jing Yang tersenyum bahagia mendengar tangisan Xue Bingyue. Tangannya mengelus rambut hitam yang basah itu dengan lembut.
Sekilas Xue Bingyue mengingat dirinya yang duduk termenung di sebuah tebing. Walau ingatannya samar-samar gelap, tetapi perasaannya tidak berbohong. Pemuda ini sangat berharga baginya.
“Apa yang terjadi... Kemana saja kamu selama ini? Aku pikir kamu sudah mati!” Xue Bingyue secara tidak sadar mengatakan hal tersebut. Kepalanya menatap wajah Jing Yang dan menyeka air matanya karena dia sadar yang dia lakukan ini berlawanan dengan pikirannya.
“Terimakasih, Yueyue. Terimakasih karena kamu masih tetap hidup. Aku mengira telah kehilanganmu tanpa bisa berbuat apa-apa. Jika kamu menghilang, maka aku akan sendirian.”
Hari yang mulai gelap, suara petir yang terus menyambar berhenti ketika dua insan manusia bertemu untuk sekian lamanya.
Hujan deras menerpa tubuh keduanya, Xue Bingyue tanpa bisa mengingat apapun memeluk tubuh Jing Yang dan mengatakan hal yang tidak sesuai dengan pikirannya.
Yang Xue Bingyue tahu, perasaan di hatinya ini adalah nyata dan bukan sekedar kepalsuan. Jika dia melepas pelukannya, maka Jing Yang akan menghilang.
__ADS_1