Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 216 - Manis


__ADS_3

Murong Liuyu dan Qiao Xi telah sampai di Istana Bunga Persik. Yang pertama kali mereka tuju setelah sampai di Istana Bunga Persik adalah Rumah Bunga Persik. Sesampainya di kediaman Murong Qiaomi, keduanya melihat wanita dewasa yang baru pertama kali mereka lihat termasuk dua gadis dengan paras cantik menawan.


“Liuyu, Xi‘er. Kerja bagus. Ini waktu yang tepat. Kemarilah.” Murong Qiaomi memberi tanda pada Murong Liuyu ataupun Qiao Xi untuk ikut dalam pertemuan.


Qiao Xi dengan sopan membungkuk dan memberi hormat lalu duduk disamping Shi Surao, sementara Murong Liuyu duduk disampingnya Bai Xianlin.


“Dengan berkumpulnya seluruh Tetua Istana Bunga Persik disini, mulai hari Istana Bunga Persik akan memihak kepemimpinanmu, Yang‘er.” Murong Qiaomi menatap Jing Yang yang duduk disampingnya.


“Terimakasih, Ketua Qiaomi.” Jing Yang memperhatikan semua yang hadir diruangan tengah Rumah Bunga Persik.


“Ada yang ingin kusampaikan pada semua yang hadir diruangan ini.” Jing Yang memejamkan matanya setelah berkata demikian.. kemudian matanya terbuka secara bertahap sebelum menajam.


“Aku ingin kalian semua dari Istana Bunga Persik dan sekte yang lain berkumpul di Ibukota Huaran saat malam bulan purnama terakhir dibulan ini.” Jing Yang berniat menyelesaikan semua permasalahannya dengan Jiang Feng. Dia bersikeras tidak ingin melibatkan pendekar yang mendukungnya hanya karena masalah pribadinya.


Murong Qiaomi menatap tajam Jing Yang dan menghela nafas, “Yang‘er, bukankah sudah aku katakan padamu berulang kali. Kau masihlah seorang bocah. Kau tidak perlu berpikir terlalu keras dan merasa bertanggung jawab serta menanggung semuanya sendirian. Kau bisa bergantung pada Bibi Qiaomi ini.”


Murong Qiaomi tersenyum dan memejamkan matanya, “Jangan panggil aku Ketua Qiaomi mulai sekarang, mengerti?” Murong Qiaomi ingin Jing Yang tetap seperti anak seusianya.


Jing Yang menanggapi dengan santai, “Sebenarnya aku tidak ingin melibatkan siapapun. Tetapi melihat penduduk menderita, aku tidak tahan melihatnya...” Jing Yang justru tersenyum kecut mengingat perjalanannya kembali ke Kekaisaran Jiang.


“Saat pertama kali aku membunuh seseorang, aku pingsan karena terlalu pusing melihat darah dan potongan tubuh. Tetapi sekarang, aku tidak mengerti...” Jing Yang tersenyum tetapi tatapan kedua matanya tampak sedih.


“Saat aku membunuh mereka semua, aku merasa ada yang berbeda dari diriku. Aku tidak bisa membedakan mana yang kiri dan kanan, mana yang benar dan salah. Aku bergerak melalui naluri membunuhku. Setelah tersadar, aku telah membunuh mereka semua. Dan saat itu juga aku tidak merasakan apapun.” Jing Yang terdiam cukup lama setelah mengatakan itu membuat ruangan hening.


“Yang‘er, sebenarnya apa yang ingin kau katakan pada kami?” Murong Qiaomi yang pertama kali menanggapi.


“Pangeran Jing Yang, maaf menyela. Apa kau mengatakan ini karena kau berniat membunuh Pamanmu yang berkuasa?” Tao Qiaoli menyinggung sosok Jiang Feng.


Sementara itu Murong Liuyu dan Qiao Xi terdiam. Keduanya penasaran dengan perubahan Jing Yang. Sekarang dihadapan mereka berdua Jing Yang benar-benar merupakan sosok yang berbeda namun masih dengan sikap baiknya yang alami.


Xue Bingyue yang memperhatikan raut wajah Jing Yang mengepalkan tangannya, ‘Yangyang, kenapa kau tidak pernah terbuka padaku sekarang?’ Xue Bingyue merasa gelisah karena baginya sekarang sangat jauh darinya.


“Aku hanya ingin kalian semua yang ada diruangan ini tidak terlalu memanjakanku. Aku akan mengatasi semua ini.” Jing Yang tidak ingin dianggap sebagai seorang bocah manja, “Aku akan mengakhiri semuanya. Baik itu masalah perebutan tahta dan Pulau Iblis Tengkorak.”

__ADS_1


Setelah mengatakan Jing Yang menambahkan jika dirinya akan pergi ke Ibukota Huaran keesokan harinya. Keputusan Jing Yang yang mendadak ditentang Murong Qiaomi.


Jing Yang tetap bersikeras, “Bibi Qiaomi. Aku tidak akan mengatakannya kembali. Kau mengatakan bahwa meningkatkan kerjasama aliansi lebih penting dibandingkan melakukan perburuan pada pendekar aliran hitam bukan? Serahkan perburuan itu padaku. Aku akan memastikan Bulan Purnama Merah binasa di Ibukota Huaran.”


Murong Qiaomi mengetahui kemampuan sosok Gu Ruo, tetapi saat dirinya mengingat kemampuan Jing Yang akhirnya Murong Qiaomi diam.


Murong Qiaomi hanya tidak ingin Jing Yang merasa terbebani. Alasan terbesar Murong Qiaomi mempercayai dan memperhatikan Jing Yang karena berharap pemuda itu adalah orang yang diramalkan oleh pendiri Istana Bunga Persik.


“Baiklah. Dan kau tidak berniat ke Ibukota Huaran sendirian bukan?” Murong Qiaomi bertanya.


“Aku dan Yueyue akan langsung pergi ke Ibukota Huaran, sementara Nona Shi dan Bibi Xianlin akan ke Kota Xuedong.” Jing Yang menjawab.


“Nona Shi?” Murong Liuyu mengerutkan keningnya, “Tunggu, Shi?”


Bukan hanya Murong Liuyu saja yang terkejut melainkan seluruh Tetua Istana Bunga Persik penasaran dengan sosok gadis muda yang duduk disamping Qiao Xi.


Shi Surao segera memberi hormat dan memperkenalkan dirinya. Semua orang didalam ruangan terkejut kecuali Jing Yang, Xue Bingyue dan Bai Xianlin. Bagaimana tidak karena Shi Surao merupakan Tuan Putri Kekaisaran Shi.


“Yang‘er, bagaimana ceritanya kau bisa mengenal Tuan Putri Shi?” Murong Qiaomi berekspresi rumit.


Shi Surao menceritakan bahwa dirinya diselamatkan oleh Xue Bingyue dan Bai Xianlin dalam kudeta dan pergejolakan hebat di Kekaisaran Shi. Shi Surao tidak bercerita banyak karena nasib Kekaisaran Shi sangat tragis sekarang.


Murong Qiaomi tidak lagi bertanya karena mengetahui garis besarnya begitu juga dengan yang lainnya. Setelah acara pertemuan itu, Jing Yang mengunjungi kamar Xue Bingyue dan duduk disamping Xue Bingyue yang sedang berbaring.


“Apa kau sudah tidur Yueyue?” Bertanya Jing Yang sambil memperhatikan Xue Bingyue yang sedang tengkurap dan menenggelamkan wajahnya ke kain.


“Belum. Ada apa Yangyang?” Xue Bingyue duduk dan merapikan rambutnya.


Jing Yang tersenyum, “Yueyue, apa menurutmu aku telah berubah? Aku merasa diriku berbeda dari diriku yang biasanya. Dan itu membuatku takut.”


Terkejut Xue Bingyue mendengar ucapan Jing Yang. Pemuda itu mendatangi kamarnya dan ingin mengobrol dengannya. Terlebih Jing Yang memperlihatkan sisi kemah seolah-olah dia sangat membutuhkan seseorang yang mengerti dirinya.


“Yangyang, kau masih sama. Kau selalu dapat diandalkan. Tetapi aku tidak ingin menanggung semua ini sendirian. Aku juga ingin berguna untukmu dan tidak ingin dilindungi olehmu.” Xue Bingyue menyenderkan kepalanya kebahu Jing Yang.

__ADS_1


“Yangyang, apa kau menyembunyikan sesuatu dariku? Apa aku terlalu lemah untuk kau lindungi?” Xue Bingyue bertanya dan secara tiba-tiba memeluk tubuh Jing Yang dari samping.


“Tolong jangan menjauh dariku lagi. Aku takut...” Xue Bingyue menyadari bahwa hanya Jing Yang yang dapat menenangkan hatinya. Seperti dimalam itu, malam yang merenggut segalanya. Jing Yang menghibur dirinya dan menyemangati dirinya.


Ditengah-tengah keterpurukan dan keputusasaan, Xue Bingyue menatap Jing Yang penuh kekaguman karena saat keduanya terjebak di Tebing Dimensi Hitam, Jing Yang bagaikan matahari yang bersinar terang untuk dirinya.


Hanya kepada Jing Yang, Xue Bingyue merengek seperti ini. Xue Bingyue tidak mengendorkan pelukannya, melainkan memeluk tubuh Jing Yang semakin erat.


“Yueyue, aku tidak akan pernah menjauh darimu. Kau tahu, mungkin karena kita mengalami nasib yang sama. Aku selalu bermimpi ingin membentuk sebuah keluarga dan aku ingin membentuknya bersamamu.” Jing Yang tersipu malu mengatakan itu.


“Hanya mengingat masa lalu membuatku malu. Apa kau mengingatnya Yueyue?” Jing Yang tertawa pelan dan membaringkan tubuhnya keranjang, Xue Bingyue melepaskan pelukannya dan kepalanya tidur diperut Jing Yang.


“Kenapa kamu mengungkitnya? Itu sangat memalukan!” Xue Bingyue merah padam wajahnya. Mengingat masa lalunya saat dirinya kecil pernah berjanji pada Jing Yang jika dirinya kelak akan menjadi istrinya.


Waktu itu keduanya sangat polos, tetapi sampai saat ini perasaan Xue Bingyue kepada Jing Yang tidak berubah, tidak memadam sedikitpun walaupun melihat Jing Yang telah memiliki banyak kenalan perempuan selain dirinya.


“Yangyang, boleh aku bertanya?” Xue Bingyue menenggelamkan wajahnya keperut Jing Yang.


“Boleh. Tentu saja boleh.” Jing Yang mengelus kepala Xue Bingyue dan tersenyum.


“Apa kelak kau akan menikahiku dan Kakak Rong?” Mendengar pertanyaan Xue Bingyue, Jing Yang berhenti mengelus kepala Xue Bingyue.


“Yueyue, apa kau cemburu jika suatu saat aku akan menikahi perempuan lain selain dirimu?” Jing Yang penasaran dengan hal ini. Dia mengatakan ini secara sadar karena berulang kali mendengar obrolan dewasa Ye Xiaoya, Bai Xianlin termasuk sifat bawaan Jiang En yang dahulu terkenal akan kelemahannya pada wanita.


Bagaimanapun Jiang En dan Jing Yang berbeda. Jing Yang mengatakan semua ini karena penglihatan misterius Raja Neraka dan ingin mengetahui perasaan Xue Bingyue yang sebenarnya.


“Aku tidak keberatan, walaupun ada perasaan cemburu.” Jawaban Xue Bingyue tidak terduga. Terlebih saat Xue Bingyue duduk dan menatap dirinya yang berbaring.


Jing Yang tertawa dan membuat Xue Bingyue kebingungan. Setelah itu Jing Yang menatap balik Xue Bingyue dan tersenyum.


“Yueyue, tenang saja. Aku akan menepati janji kita.”


“Eh?” Xue Bingyue tersipu malu melihat senyuman Jing Yang.

__ADS_1


“Tidurlah. Besok kita akan pergi menuju Ibukota Huaran.” Jing Yang beranjak dari ranjang dan tersenyum lega. Dia meninggalkan Xue Bingyue yang menatapnya penuh pertanyaan.


Jing Yang menutup pintu kamar Xue Bingyue dan tersenyum tipis, ‘Raja Neraka, masa depan yang kau perlihatkan padaku tidak akan pernah terjadi. Aku tidak ingin menyakiti Yueyue.’


__ADS_2