
“Jawab pertanyaannku atau aku akan memotong salah satu jarimu?” Jing Yang menjambak rambut Gu Cao dan menatapnya dingin, “Jangan buang waktuku! Katakan padaku, apa benar Jiang Feng membunuh kakekku?!”
Dalam perjalanan ke Istana Sembilan Naga, Jing Yang mendengar kabar yang tidak enak. Kabar kematian Jiang En menjadi perbincangan hangat. Kabar itu Jing Yang dengar dari para penduduk disetiap desa dan kota yang dia lewati.
Gu Cao tersenyum menyeringai, “Apa aku terlihat peduli dengan keparat itu? Jiang Feng sialan itu, dia pernah menodai wanitaku! Aku tidak peduli dengannya!”
Jing Yang melepaskan kekuatan gravitasi dan mematahkan jari kelingking Gu Cao membuat pria itu berteriak kesakitan. Setelahnya Jing Yang menjambak rambut Gu Cao sangat keras sambil menatapnya dingin.
“Cukup jawab pertanyaanku! Apa menurutmu kau memiliki kesempatan untuk hidup setelah ini?!” Sebuah aura mematikan keluar dari tubuh Jing Yang. Aura Raja Neraka yang membuat Gu Cao berkeringat dingin dan ketakutan itu berhasil membuat pria dari Bulan Purnama Merah menceritakan kudeta yang dilakukan Jiang Feng beberapa hari ini.
Mata Jing Yang melebar sepenuhnya mendengar cerita Gu Cao bahwa Ibukota Huaran dikuasai Jiang Feng dan Bulan Purnama Merah. Kakak dari Gu Cao yang membantu Jiang Feng melakukan kudeta.
“Kau tidak tahu betapa menakutkannya Paman Mao dan Ayahku. Aku sarankan kau melepaskanku jika kau masih menyayangi nyawamu..." Gu Cao mengira jika Jing Yang mendengar nama Mao Gang dan Gu Rao maka pemuda itu akan ketakutan, namun justru sebaliknya Jing Yang menatap dingin Gu Cao dan mencekik leher pria itu sebelum menghancurkannya.
Tidak berhenti sampai disitu, Jing Yang melempar tubuh Gu Cao keatas sebelum menendang wajah Gu Cao saat pria itu terjatuh kebawah. Pemandangan saat Jing Yang membunuh Gu Cao membuat Xue Bingyue dan Shi Surao bergidik, sementara Bai Xianlin dan Fan Ziwei menatap tidak percaya.
Sekarang kemampuan Jing Yang sungguh tidak normal. Mencapai Pendekar Roh diusia yang sangat muda serta dapat membunuh Pendekar Bumi yang sudah beradaptasi ditahap puncak sungguh pencapaian yang mengerikan.
Terlebih kedua bola mata Jing Yang tampak tenang dan kosong seolah-olah tidak merasakan apapun saat menyiksa dan membunuh Gu Cao.
“Yang‘er, kau berlebihan!” Bai Xianlin menegur Jing Yang karena merasa pemuda itu berbeda dari sebelumnya setelah mendengar kabar kematian Jiang En.
“Bibi Xianlin, aku tidak merasakan apapun...” Jing Yang menatap tubuh Gu Cao yang berlumuran darah terutama bagian kepalanya. Memang dirinya membunuh Gu Cao dengan keji, tetapi Jing Yang sendiri merasa bagian dirinya mulai berubah dan menghilang setelah kematian Xue Qinghua dan saat dirinya membunuh Kakek kandungnya sendiri, Jing An.
“Apa maksudmu, Yang‘er?" Bai Xianlin mengernyitkan dahinya tidak mengerti maksud ucapan Jing Yang.
“Lupakan. Aku hanya ingin memastikan bahwa informasi yang kita dengar benar.” Jing Yang mengalihkan pembicaraan dan Bai Xianlin mengikutinya.
“Jadi apakah informasi itu benar? Jika benar maka kakekmu...” Bai Xianlin menelan ludah karena dia memahami kesulitan yang dialami Jing Yang.
“Informasi itu benar. Argh, kenapa aku harus mengalami semua ini?!” Jing Yang memasang ekspresi cemberut dan menjambak rambutnya sendiri.
__ADS_1
Bai Xianlin tertawa kecil dan mencubit pipi Jing Yang dengan gemas, “Yang‘er, jangan memendam semuanya sendirian. Ingat, ada Bibi Xianlin disini. Kau bisa bergantung padaku.”
Bai Xianlin setengah jongkok sambil mengelus kepala Jing Yang dan tersenyum lembut, “Kau bisa melepaskan kesedihanmu disini. Karena kau adalah orang pertama yang memegangnya, aku izinkan kau membenamkan kepalamu disana. Kau tahu, ini adalah idaman semua pria.”
Jing Yang memalingkan wajahnya dan mendecakkan lidahnya, “Bibi Xianlin, ini pelecehan. Aku masihlah seorang bocah.” Jing Yang menjauh dari Bai Xianlin dan melepaskan aura tubuhnya.
Setelah itu Jing Yang menjentikkan jarinya dan mendesis saat mengolah pernapasan, “Api Penyucian...” Seketika mayat Gu Cao dan pendekar Bulan Purnama Merah dilahap api berwarna hitam yang membakar tubuh mereka hingga habis tak bersisa sedikitpun.
Jing Yang dengan kemampuan barunya ini membuat Bai Xianlin waspada bahkan Xue Bingyue dan Fan Ziwei tidak berhenti berdecak kagum melihat perkembangan pesat Jing Yang.
Kembali Jing Yang menjentikkan jarinya dan seketika api berwarna hitam lenyap. Tidak ada bekas tubuh Gu Cao dan pendekar Bulan Purnama Merah setelah dilahap habis api berwarna hitam.
‘Kemampuannya berkembang sepesat ini? Seingatku dia masih jauh dibawahku saat di Menara Dewa. Tetapi sekarang bocah nakal ini sudah berada jauh di depanku dan menembus Pendekar Roh.’ Bai Xianlin tersenyum manis dan kembali membatin, ‘Benar-benar berlian yang harus terus diasah.’
Fan Ziwei sendiri masih tidak percaya dengan apa yang barusan dia lihat. Sosok Jing Yang sangat berbeda dari yang dia ingat, kepolosan bocah itu seakan telah menghilang. Tatapan dingin dan kosong yang sekilas Jing Yang perlihatkan membuat jantungnya berdetak kencang untuk beberapa saat.
‘Hei, yang benar saja? Ingat umurmu! Aku tidak pernah jatuh cinta pada lelaki yang seumuran denganku, tetapi ini tidak mungkin kan? Dia bocah berumur tiga belas tahun, sementara aku?’ Fan Ziwei kebingungan akan perasaannya. Kedua bola matanya memperhatikan Jing Yang yang sedang berbicara dengan Bai Xianlin.
Tak lama Jing Yang dan Bai Xianlin berjalan menghampirinya. Jing Yang jongkok dihadapannya lalu duduk dan menghela nafas panjang.
“Eh... Itu...” Fan Ziwei tiba-tiba merasa gugup, pipinya bersemu merah.
Bai Xianlin mengerutkan keningnya, ‘Ekspresi kasmaran ini... Jangan bilang wanita cantik ini.’ Bai Xianlin menelan ludah lalu pandangan matanya terarah pada Jing Yang.
‘Bocah nakal tidak bisa kutebak jalan pikirannya. Apa dia sebenarnya adalah berondong yang berpura-pura seperti bocah?’ Bai Xianlin memperhatikan Fan Ziwei yang sedang menceritakan alasan keberadaannya di Istana Sembilan Naga.
“Aku tidak menyangka akan menjadi seperti ini... Sepertinya Kekaisaran Jiang masih jauh dari kata damai...” Jing Yang bergumam pelan setelah mendengar cerita Fan Ziwei tentang pertemuan sekte aliran putih dan netral di Istana Naga Api dan juga tentang apa yang terjadi di Istana Naga Api.
Fan Ziwei mengatur nafasnya saat Jing Yang menatap wajahnya, dia mengalihkan pandangannya menatap gadis kecil yang cantik dan terlihat anggun itu.
‘Apa dia cucu Matriark Pulau Salju Rembulan?’ Fan Ziwei membatin memerhatikan wajah Xue Bingyue.
__ADS_1
“Tetua Ziwei, bisa tunjukkan jalan menuju Istana Naga Api?” Jing Yang berdiri sambil menatap Fan Ziwei yang memperhatikan Xue Bingyue.
Fan Ziwei penasaran dengan tujuan Jing Yang, “Junior Jing, apa yang akan kau lakukan setelah sampai di Istana Naga Api?”
“Aku ingin menghabisi sekte yang terlibat dalam penyerangan Pulau Salju Rembulan. Para petinggi sekte yang kuincar sedang berkumpul dalam satu tempat bukan? Maka ini lebih mudah untukku menghabisi mereka semua.” Jing Yang berkata dengan penuh percaya diri. Memang dirinya berumur tiga belas tahun, tetapi pengalaman hidupnya yang tidak indah memaksanya untuk seperti ini.
Jing Yang mengerti ekspresi Fan Ziwei yang terkejut. Tetapi dirinya mengatakan itu bukan karena sombong, melainkan memang dirinya sangat yakin untuk menghabisi seluruh anggota Istana Naga Api, Pedang Tiga Raja dan Gunung Pedang Tunggal.
“Saat ini yang mampu menghentikanku hanyalah Mao Gang dan Tang Mu. Semakin aku membunuh orang kuat yang kemampuannya hampir setara denganku, maka aku akan terus berkembang.” Jing Yang mengatakan itu dengan ekspresi kosong.
Xue Bingyue berdiri disamping Jing Yang dan menegur, “Yangyang, bukankah sebaiknya kita mendengarkan rencana Tetua Ziwei dan memberitahu pendekar dari aliran putih dan netral!”
“Yueyue.” Jing Yang menatap Xue Bingyue dan tersenyum tipis. Lalu telapak tangan kanannya mengelus kepala Xue Bingyue lembut, “Kau tidak perlu merasa khawatir.”
Jing Yang menarik nafas panjang dan menatap langit, “Saat aku mengetahui dirimu dijadikan budak. Apa kau tahu perasaanku?” Setelah itu Jing Yang melirik Xue Bingyue yang menundukkan kepalanya.
“Saat aku memutuskan untuk menghancurkan tiga sekte yang mengusikmu, maka aku akan menghancurkannya.” Jing Yang kembali berkata dan memantapkan tekadnya untuk tidak lagi bersikap lemah.
“Tetua Ziwei, tidak ada waktu lagi. Selagi kita berbicara disini, situasi di Istana Naga Api akan semakin kacau. Terlebih saat ini aku sangat mengkhawatirkan kondisi ***** Yi.” Jing Yang terlihat seperti orang yang memberikan perintah pada Fan Ziwei.
Fan Ziwei tidak ada pilihan lain selain menyanggupi permintaan Jing Yang dan percaya pada kekuatan pemuda itu.
Jing Yang mengeluarkan sejumlah sumber daya dan pil, lalu memberikannya pada Fan Ziwei.
“Tetua Ziwei gunakan itu untuk memulihkan kekuatanmu.” Jing Yang memberikan sejumlah sumber daya dan pil berharga yang berguna untuk memulihkan tenaga dalam dan menyembuhkan luka kepda Fan Ziwei.
Jing Yang berjalan menjauh saat Fan Ziwei sedang mengobrol dengan Bai Xianlin. Terlihat Bai Xianlin tertawa cekikikan sedangkan Fan Ziwei terlihat malu-malu.
Jing Yang yang menguping pembicaraan itu menghela nafas panjang, tak lama Xue Bingyue menghampirinya dan terlihat khawatir.
“Yueyue, aku tahu apa yang kau pikirkan. Tetapi seseorang harus melakukannya. Seseorang harus mengotori tangannya. Jika semua ini bisa membuat Benua Dataran Tengah menjadi lebih baik dan jika semua ini bisa membuatku menggapai mimpi selangkah lebih dekat. Aku akan memainkan peran ini.”
__ADS_1
Jing Yang mengatakan itu sambil tersenyum. Dia telah mendengarkan bagaimana masa depan dari Raja Neraka. Selain itu Jing Yang dimasa depan akan terjatuh dalam implusif gelap dan membuatnya menjadi penguasa Benua Dataran Tengah dengan cara membantai ribuan orang yang mengusiknya.
‘Masa depan seperti itu... Tidak akan terjadi. Raja Neraka, entah karena kau ingin mempermainkanku atau hanya mencari waktu luang untuk mengeledekku. Aku tidak akan membiarkan siapapun mengatur masa depanku. Aku yang akan menentukannya.’ Jing Yang larut dalam pikirannya sebelum melihat Fan Ziwei yang sudah berdiri dan mengajaknya untuk menuju Istana Naga Api.