
Dengan penuh kelembutan Fan Ziwei melepaskan pakaian atasnya tanpa ragu. Mata Jing Yang melebar saat Fan Ziwei duduk dihadapannya dan menyentuh pipinya. Jing Yang hendak mengalihkan pandangannya ataupun memejamkan matanya namun Fan Ziwei menahannya.
“Kau telah melihat tubuh yang telah kujaga ini. Mulai sekarang kau harus bertanggung jawab menjadi suamiku setelah kau dewasa, Yang‘er.” Fan Ziwei berkata sambil membenamkan wajah Jing Yang pada gundukan kenyal yang terjaga dan belum pernah dijamah pria.
“Kakak Ziwei, tolong jangan bertindak terlalu jauh.” Jing Yang memberi peringatan, “Aku sekarang hanyalah seorang bocah dan tidak memiliki ketertarikan padamu.”
Fan Ziwei tertawa pelan, “Sekarang kau seorang bocah? Hei, perkataanmu itu seolah-olah kau datang dari masa depan. Aku mengerti...”
Fan Ziwei berbisik menggoda ditelinga Jing Yang, “Yang Mulia Jing, mungkin saat umurmu dewasa, aku terlalu tua untukmu. Tetapi detik ini juga aku berjanji, tubuh dan hati hanya untukmu.”
Jing Yang menelan ludah karena tidak menyangka Fan Ziwei sangat agresif setelah Xue Bingyue, Mei Hua dan Qiao Xi tidak sadarkan diri.
Fan Ziwei menyentuh telapak tangan Jing Yang dan mengarahkannya pada gunung kembarnya, “Kau bisa memulainya.”
“Eh?” Jing Yang terkejut saat telapak tangannya bersentuhan dengan ujungnya. Wajah Fan Ziwei merah padam membuat Jing Yang menarik tangannya dan menghela nafas.
“Kakak Ziwei, kau!” Jing Yang akhirnya mengumpat karena dirinya tidak tahan dengan situasi ini.
Akhirnya Jing Yang mulai meraba punggung Fan Ziwei dan mengalirkan tenaga dalamnya.
“Aaaahhh, Zhen‘er!”
‘Suaramu itu...’ Jing Yang menggelengkan kepalanya mendengar suara Fan Ziwei.
Fan Ziwei sekalipun berteriak saat titik-titik meridiannya diperbaharui. Namun Jing Yang menyadari setelah berniat membantu Mei Hua, Qiao Xi dan Fan Ziwei tentang metode pelatihan yang membebani dirinya ini.
‘Aku tidak bisa mengatakan kepada mereka. Tetapi aku akan membuat mereka berempat berjanji merahasiakan hal ini...’ Jing Yang fokus pada Fan Ziwei.
Fan Ziwei memperhatikan ekspresi wajah Jing Yang yang begitu serius. Kedua tangannya mengelus kepala Jing Yang dan membenamkan kepada pemuda itu pada dadanya.
“Zhen‘er, pelan!” Suara aneh Fan Ziwei membuat Jing Yang bingung terlebih nafas Fan Ziwei tidak beraturan.
“Ini aneh! Aku!” Fan Ziwei kembali mengeluarkan suara.
Bukannya merasakan rasa sakit, Fan Ziwei justru memekik dan tersenyum. Fan Ziwei memegang pahanya dan semakin kedalam sebelum terkejut.
‘Basah?’ Fan Ziwei kebingungan, terlebih Jing Yang.
__ADS_1
“Zhen‘er, kenapa rasa sakit yang mengerikan barusan berubah menjadi nikmat?” Pada dasarnya Fan Ziwei belum pernah merasakan hal seperti ini, sehingga dia tidak menyadari apa yang telah terjadi pada dirinya.
“Aku sendiri tidak mengetahuinya.” Jing Yang justru belum paham apa yang terjadi pada Fan Ziwei.
“Sekarang aku mulai dari depan, Kakak Ziwei.” Maksud Jing Yang dirinya akan menyentuh perut Fan Ziwei dan melakukan Metode Penyiksaan Petir dan Metode Penyiksaan Api.
“Kau boleh menyentuhnya, Zhen‘er...” Fan Ziwei tidak bisa mengendalikan perasaannya. Rasa aneh karena kenikmatan yang baru pertama kali dia dapatkan membuatnya ingin disentuh Jing Yang.
Jika Yi Yue mengetahui ini, sudah pasti Fan Ziwei akan mendapatkan hukuman bahkan wanita itu tidak akan dibiarkan berada didekat Jing Yang. Namun sekarang tidak ada siapapun yang mengetahui keduanya.
“Aku hanya menyentuh perutmu, Kakak Ziwei.” Jing Yang bingung dengan sikap Fan Ziwei. Dirinya menyentuh perut Fan Ziwei dan mengeluarkan Api Ilahi.
“Zhen‘er, tolong sentuh lebih lama...” Secara sepihak, Fan Ziwei menggila membuat Jing Yang mengerutkan keningnya.
‘Ada yang salah dengan dirinya.’ Jing Yang tidak menyadari jika Fan Ziwei sedang dalam kondisi membutuhkan belaian.
“Akh!” Kenikmatan yang baru pertama kali Fan Ziwei dapatkan menghilang sepenuhnya. Mata Fan Ziwei terbelalak saat Api Ilahi dan petir dari telapak tangan Jing Yang masuk kedalam perutnya.
“Zhen‘er!” Fan Ziwei menjerit sekeras-kerasnya dan memeluk tubuh Jing Yang erat.
Jing Yang sendiri kesulitan bernafas karena wajahnya terbenam didada Fan Ziwei.
Teriakan Fan Ziwei terus menggema selama beberapa saat sebelum akhirnya Jing Yang mengambil alih delapan puluh lima persen rasa sakit Fan Ziwei.
Sebelum tidak sadarkan diri Fan Ziwei mendapatkan penglihatan misterius tentang sosok wanita dewasa yang tidak memakai sehelai pakaian.
“Kakak Ziwei, aku ingin...” Dari belakang wanita dewasa itu terlihat pria tampan yang memeluknya.
“Tapi, Zhen‘er, aku sedang hamil. Katakan padaku, apa benar kau menghamili teman-temanku? Kau tahu, kau sama saja menghamili Para Tetua Istana Bunga Persik dan tidak bertanggung jawab!” Wanita dewasa itu terlihat marah.
“Kau mencintaiku bukan? Setelah semua ini selesai, aku akan menikahi kalian semua.” Pria itu tidak menunjukkan perasaan bersalah, justru meraba tubuh wanita dewasa itu.
Fan Ziwei menelan ludah sebelum tidak sadarkan diri, ‘Zhen‘er, apa benar itu dirimu?’
Jing Yang mengerutkan keningnya melihat ekspresi Fan Ziwei. Sekarang dihadapan ada empat perempuan tergolek lemas. Jing Yang merapikan pakaian atas Fan Ziwei sebelum berbaring lemah karena dia tidak menyangka dirinya akan kesulitan menerima penyiksaan itu.
____
__ADS_1
.
Setelah pagi tiba, suara tulang retak didalam gua terus menggema dan saling bersahut-sahutan. Suara tulang retak itu berasal dari tubuh Mei Hua, Qiao Xi dan Fan Ziwei.
“Sepertinya kalian bertiga menerobos tahap selanjutnya...” Xue Bingyue yang sudah terbangun memperhatikan Mei Hua, Qiao Xi dan Fan Ziwei secara bergantian.
“Semalam aku tidak mampu bertahan. Aku merasa bersalah pada Kaisar...” Mei Hua menatap Jing Yang yang tertidur pulas.
“Aku juga sama...” Qiao Xi tidak berani menatap Jing Yang karena mengingat penglihatan misterius semalam.
Fan Ziwei sendiri menggelengkan kepalanya beberapa kali karena ingin memastikan jika penglihatan misterius semalam bukanlah mimpi.
‘Apa aku berhalusinasi? Tetapi ingatan semalam sangat nyata.’ Fan Ziwei bingung dan memperhatikan wajah pucat Jing Yang.
Saat hari menjelang siang, barulah Jing Yang terbangun. Dia menemukan dirinya sedang berbaring diatas batu datar, sementara Xue Bingyue, Mei Hua, Qiao Xi dan Fan Ziwei sudah berganti pakaian baru.
“Sepertinya tubuh mereka bertiga sudah mulai berubah. Apa mereka berhasil menerobos?” Jing Yang bangkit duduk dan mengucek matanya.
Jing Yang berdiri dan mendekati Xue Bingyue yang sedang melakukan perawatan pada Pedang Salju Suxue.
“Yangyang, kau sudah bangun. Apa kau baik-baik saja? Kau terlihat sangat kelelahan.” Xue Bingyue bertanya sambil memperhatikan wajah Jing Yang yang tidak lagi pucat.
“Aku hanya kelelahan. Sebaiknya kita segera melanjutkan perjalanan.” Jing Yang mengambil daging bakar yang sudah dibuat Fan Ziwei lalu memakannya.
“Zhen‘er, situasi di Rongma tidak terkendali. Saat ini Rongma dikuasai prajurit militer Kekaisaran Ma. Banyak pendekar yang berkumpul disana.”
Fan Ziwei menjelaskan jika dirinya bersama Xue Bingyue mencari informasi di Rongma dan terkejut dengan apa yang mereka lihat disana. Kurang lebih Rongma sekarang adalah tempat berkumpulnya para prajurit militer Kekaisaran Ma yang bersiap melakukan penyerangan pada Kekaisaran Jiang.
“Tetapi situasi ini bisa menjadi langkah terbaik untuk memberikan ancaman kepada mereka. Jika kita berhasil menyudutkan prajurit militer Kekaisaran Ma yang berpusat di Rongma maka untuk beberapa saat Kekaisaran Ma tidak akan menyerang Kekaisaran Jiang.” Fan Ziwei menyimpulkan.
“Sudah separah itu...” Jing Yang berkomentar setelah menghabiskan daging bakar.
“Ini sesuai tujuan awalku.” Jing Yang berniat membebaskan Rongma dan menghabisi prajurit militer Kekaisaran Ma.
“Bisakah kalian berjanji padaku untuk merahasiakan hal semalam?” Jing Yang berdiri sambil menatap Xue Bingyue, Mei Hua, Qiao Xi dan Fan Ziwei.
Mereka berempat menganggukkan kepalanya dan menjawab serentak.
__ADS_1
“Kami berjanji.”