
Jing Yang memerah wajahnya, dia melihat jelas wajah Xue Rong yang tersipu malu. Apalagi badan mereka bersentuhan, Jing Yang sebisa mungkin mencoba berdiri.
Cit... Cit... Cit...
Mendengar suara berisik Tikus Listrik terakhir, Xue Rong langsung membekukan tubuh Tikus Listrik yang berukuran seperti harimau itu. Dia memalingkan wajahnya ke samping dan membentuk sepuluh pedang es dari tenaga dalam, kemudian membunuh Tikus Listrik yang berlari ke arah Jing Yang.
“Maaf, Senior Rong. Aku bertindak lancang.” Jing Yang mengalihkan pandangannya ketika dadanya bersentuhan dengan sesuatu yang kenyal. Napasnya tertahan, kepalanya terasa pusing.
Xue Rong memerah wajahnya, dia ingin bersembunyi di suatu tempat.
Kemudian Jing Yang berdiri dan terhuyung, badannya ditahan Xue Bingyue. Xue Rong berdiri dan menurunkan Xue Que yang terkena perangkap.
“Guru, kau terlalu ceroboh.” Xue Que berkata seolah-olah dia tidak ceroboh.
Harta yang tersimpan di lantai tiga adalah Akar Roh Lima Unsur, Daun Petir, Mutiara Sembilan Petir, Bulu Es Phoenix dan Bulu Merah Phoenix. Ketika Jing Yang dituntun Xue Bingyue menuju tempat penyimpanan harta, dia tertegun.
“Rumah Lima Warna? Bulu Merah Phoenix...” Jing Yang ingin mengganti nama Rumah Lima Warna, tetapi segera dia menggelengkan kepalanya. Sebenarnya bukan ini yang dia pikirkan.
“Kita bagi sama rata.” Xue Rong dengan wajah yang merah merona mencoba bersikap seperti biasa.
“Ambillah. Bagianku, aku berikan padamu...” Bisik Jing Yang pada Xue Bingyue.
Xue Bingyue tidak membantah dan mengambil sumber daya yang ada di lantai tiga. Tersisa dua lantai lagi, mereka kembali menuruni lantai lebih bawah dan lebih dalam.
Di lantai empat terdapat sebuah kolam. Xue Rong yang mendapatkan gambaran dari ingatan Siluman Agung menjelaskan jika cara untuk memasuki lantai kelima adalah menyerap air berwarna merah yang didalamnya terkandung unsur api.
“Sepertinya aku yang harus turun tangan, lagipula badanku gerah...” Xue Que segera menahan tangan Xue Rong yang hendak melepaskan gaun putihnya.
“Guru, lihat disini ada Saudara Jing.”
Xue Rong baru menyadari kecerobohannya hampir membuat dirinya melakukan tindakan yang melakukan lagi.
‘Bahaya.’ Xue Que menatap dalam wajah Xue Rong rumit untuk dijelaskan.
Xue Bingyue menggelengkan kepalanya pelan, “Rubah Putih, biar kita berdua yang masuk ke dalam kolam itu.”
__ADS_1
Secara tidak sadar perkataan Xue Bingyue membuat Jing Yang mengingat saat dirinya bersama gadis muda itu mandi bersama. Bahkan ucapan Xue Bingyue lebih parah.
“Aku tidak bisa. Saudara Que, tolong bawa Senior Rong dan Yueyue menjauh dari tempat ini.” Jing Yang menatap Xue Bingyue yang kebingungan.
Pandangan Xue Bingyue, Xue Rong dan Xue Que terarah pada Jing Yang. Mereka terlihat penasaran, namun pada akhirnya membalikkan badannya dan menjauh.
Jing Yang melepaskan seluruh pakaiannya dan secara perlahan masuk ke dalam kolam berwarna merah. Seketika kilatan petir menyambar tubuhnya disertai dentuman keras selama lima kali.
Jing Yang merapatkan giginya karena tidak mengira akan seperti ini. Bahkan dia tidak sempat melapisi bagian tubuhnya dengan aura. Sensasi aliran listrik yang menyatu dengan titik penghubung meridian dan aura tubuhnya membuat Jing Yang mengerang.
“Arggghhh!”
Kepala Jing Yang mendongak ke atas melihat sebuah batu berwarna ungu yang hancur dan mengenai kepalanya. Seluruh tubuhnya terasa mati rasa, tak lama meridian kecilnya menyerap air berwarna merah yang mengandung unsur api.
Jing Yang merasakan tubuhnya diselimuti api yang hangat dan air yang melegakan jiwa. Kualitas otot dan tulangnya juga semakin menguat.
Namun Jing Yang merasakan Darah Naga miliknya bercampur dengan sesuatu yang membara dan menghangatkan.
Ketika Jing Yang sedang memusatkan tubuhnya untuk menyerap air, dia melirik Xue Bingyue dan Xue Rong yang menatapnya khawatir.
“Rubah Putih...” Xue Bingyue yang berlari kecil langsung menghentikan langkahnya ketika wajah Jing Yang terbakar.
“Ada apa?” Jing Yang berekspresi datar. Tak lama dia melihat Xue Rong dan Xue Bingyue langsung memanipulasi air dan menyiram wajahnya.
Api di wajahnya tidak padam. Jing Yang mengambil serpihan batu yang seperti kaca dan melihat wajahnya, “Api?”
Sontak dia terkejut. Tetapi anehnya dia tidak merasakan sakit saat wajahnya terbakar, bahkan tidak ada bekas luka terbakar, justru seluruh bekas luka di mata kirinya dan seluruh tubuhnya sepenuhnya menghilang. Yang lebih aneh adalah topeng rubah putih yang dia kenakan tetap terpasang tanpa terbakar.
“Penempaan Tubuh Dewa Phoenix...” Xue Rong menjelaskan kepada Xue Bingyue dan Xue Que jika air kolam yang berwarna merah merupakan Air Mata Phoenix.
Jing Yang menyerap seluruh khasiatnya. Benturan Darah Naga dan Darah Phoenix telah menyatu sepenuhnya, dan ini membuat Xue Rong kagum karena bagaimanapun Jing Yang dapat menyerap khasiatnya tanpa kesulitan yang berarti.
Setelah itu mereka berempat membuka lubang di kolam dan memasuki lantai kelima Makam Ratu Kuno. Xue Bingyue dan Xue Rong tertawa manis ketika melihat Jing Yang tidak dapat mengendalikan Api Phoenix.
Sementara Xue Que tertawa paling keras, Jing Yang juga heran karena Api Phoenix sulit untuk dia kontrol.
__ADS_1
Ruangan terakhir Makam Ratu Kuno lebih luas dari lantai-lantai sebelumnya. Di sini Jing Yang, Xue Bingyue, Xue Rong dan Xue Que disambut dengan Reruntuhan Kristal.
“Indahnya...” Xue Bingyue tertegun melihat gemerlap cahaya di dalam ruangan.
“Junior Yang, emm, Rubah Putih. Dengan kekayaan ini kita bisa hidup tenang dan membuat anak keturunan kita... Hidup bahagia...” Xue Rong berbicara tenang sebelum akhirnya dia sadar akan ucapannya. Jing Yang dan Xue Rong saling menatap, sebelum Jing Yang melirik Xue Bingyue yang tersenyum.
Xue Que tidak berkomentar, dia mengetahui betapa polosnya Xue Rong. Tetapi gadis berumur sembilan belas tahun itu selalu bersikap dingin selain pada perempuan.
‘Jika Saudara Jing lebih dewasa dan membulatkan tekadnya. Mungkin aku harus menggantikan Guru, agar dia dapat bebas.’ Xue Que membatin.
“Kenapa tidak ada penjaga lantai kelima?” Xue Bingyue berdiri di dekat Jing Yang dan langsung mengamati sekelilingnya.
Jing Yang juga merasa ada yang aneh, beruntung mereka hanya diam mematung memandang harta yang ada ruangan lantai kelima.
Empat patung zirah muncul dari dalam lantai ketika Xue Que menginjak lantai berwarna merah dengan cerobohnya.
”Saudari Que, hati-hati...” Jing Yang memberi tanda pada Xue Que agar berada di dekat Xue Bingyue.
Empat patung zirah itu memancarkan cahaya dari mata mereka. Jing Yang dan yang lainnya tidak dapat melihat apapun selain cahaya berwarna putih.
Suara patung zirah yang bergerak terdengar. Salah satu patung zirah bergerak menyerang Xue Rong dan melepaskan hawa dingin.
Xue Rong mengayunkan tangannya, serpihan salju menumpuk dan melindungi tubuhnya. Tetapi pukulan patung zirah yang dilapisi api dapat mencairkan pertahanan salju.
‘Ini...’ Xue Rong merasa patung zirah yang menyerangnya memiliki kemampuan yang sama dengannya.
Bukan hanya Xue Rong, ketiga patung zirah yang tersisa juga memiliki kemampuan yang sama dengan lawan mereka.
___
Mudah-mudahan di lokasi pabrik jaringannya bagus, biar aku bisa tetap update. Kalau jaringannya lemah, terpaksa harus libur update. Mungkin kalau dari kalian ada yang tinggal di sekitar Kutai Timur, tahu sendiri bagaimana keadaan disana.
Ini aja up dalam perjalanan, semoga menyukai dan maaf kalau tidak sesuai selera. Dan harap dimaklumi ya, sampai jumpa.
Legenda Takdir Ilahi [23 Chapter]
__ADS_1