
Jing Yang dan Shen Mi disambut Xue Lihua dan Xue Liwen bersama pendekar wanita Pulau Salju Rembulan. Terlihat pulau yang dahulu menjadi masa kecilnya mengalami banyak perubahan.
Jing Yang meminta bantuan kepada Xue Liwen untuk memberitahu keberadaan beberapa pendekar yang memiliki nama tenar di Kekaisaran Jiang dan tidak terikat dengan sekte. Xue Liwen memberikan kertas kepada Jing Yang tentang informasi beberapa keberadaan pendekar yang tidak terikat dengan sekte.
Sungai dan semua alam yang ada di Pulau Salju Rembulan terlihat hancur. Ada pemandangan yang berbeda di Pulau Salju Rembulan karena pendekar wanita dari Gunung Pedang Tunggal yang sempat ditahan di Istana Sembilan Naga dibebaskan Murong Qiaomi.
Xue Lihua menjelaskan kepada Jing Yang jika pendekar wanita dari Gunung Pedang Tunggal sama sekali tidak bersalah. Bahkan diantara mereka ada gadis muda yang sempat bertarung melawan Qiao Xi.
Jing Yang mengingat Yan Hexia karena pernah bertarung melawan Qiao Xi. Tak lama Jing Yang mengajak Shen Mi untuk melihat suasana di Pulau Salju Rembulan. Jing Yang mengajak Shen Mi mendatangi Paviliun Bulan Salju.
“Disini aku tumbuh kurang lebih sekitar dua tahun...” Jing Yang sedikit bercerita tentang masa lalunya. Dia mengatakan kepada Shen Mi tentang sosok Xue Qinghua yang sudah dia anggap sebagai nenek kandungannya sendiri.
Cukup lama Jing Yang dan Shen Mi duduk di teras depan Paviliun Bulan Salju yang sudah banyak berubah. Kemudian Jing Yang mengajak Shen Mi melihat tempat latihan masa kecilnya sebelum mereka berdua menuju Tebing Kesepian.
Mata Shen Mi terbelalak melihat makam Jing Yang. Tebing yang dipenuhi hamparan salju dan sebuah makam dengan ukiran nama pemuda yang sedang bersamanya membuat Shen Mi gemetar.
Jing Yang menceritakan kepada Shen Mi tentang dirinya yang terjatuh dari Tebing Kesepian. Ketika mata Shen Mi memandang ke bawah, dia melihat kegelapan yang menatapnya dan kedalaman tebing itu tidak pernah dia bayangkan.
“Bagaimana kamu masih hidup, Jing Yang?” Shen Mi memandang raut wajah yang nampak tenang dengan kedua bola mata yang menatap ke tebing gelap itu.
“Disana ada tempat yang indah. Aku kesini ingin membicarakan sesuatu denganmu. Mau kesana?” Jing Yang membulatkan tekadnya untuk meminta bantuan kepada Shen Mi.
“Hmm, aku ingin melihat tempat yang indah itu...” Shen Mi menatap Jing Yang sebelum tangan kanannya dipegang pemuda yang berdiri disebelahnya. Tak lama badannya ditarik masuk ke dalam tebing.
Shen Mi berteriak dan langsung memeluk tubuh Jing Yang. Namun setelah matanya terbuka, betapa terkejutnya dia melihat sungai yang begitu bening, gemercik air terjun dan hutan yang rindang. Keindahan alam yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya membuat dirinya benar-benar terpana dan terpesona.
Jing Yang mengajak Shen Mi berkeliling hutan. Dia menceritakan sumber daya yang ada di Tebing Dimensi Hitam. Jing Yang menatap Shen Mi sebelum mengutarakan maksud dari ajakannya ke Pulau Salju Rembulan maupun Tebing Dimensi Hitam.
“Shen Mi, maukah kamu membantuku? Aku bersama Gu Xiaoya ingin mengajakmu membentu sebuah organisasi yang menyediakan sumber daya. Tetapi bukan itu saja tujuanku...” Jing Yang berkata pada Shen Mi sambil mengambil Buah Api dan memberikannya kepada gadis muda yang mendengarkan permintaannya.
“Aku sadar saat Guru Xiaoya menjelaskan padaku tentang kondisi Pulau Salju Rembulan. Pulau yang indah dikuasai manusia-manusia yang serakah hanya karena sumber daya. Tetapi tujuanku tidak lebih hanya ingin membuat sebuah rumah untuk kembali. Aku yakin diluar sana banyak anak-anak yang sebaya bahkan lebih muda dariku menjadi yatim piatu, aku hanya ingin membuat rumah untuk mereka kembali.” Jing Yang menambahkan sebelum menceritakan keinginannya.
__ADS_1
Jing Yang mengatakan keinginannya yang ingin membuat sebuah tempat untuk pulang. Dia sadar betapa menyakitkannya menjadi seorang yatim piatu, sehingga dia sebisa mungkin ingin menolong semua anak-anak yang bernasib sama sepertinya.
Jing Yang juga ingin menampung pendekar yang tidak terikat dengan sekte. Kebanyakan dari mereka akan menjadi seorang pembunuh, pencuri ataupun perompak demi membiayai kehidupan sehari-hari. Jing Yang ingin menolong pendekar yang tidak mempunyai tujuan hidup agar mereka memiliki tujuan yang lebih mulia.
Setelah bercerita cukup lebar, Jing Yang tersenyum karena sudah lama dia tidak berbicara panjang lebar. Bahkan dia merasa sedikit malu, karena sosok Xue Bingyue yang selalu mendengar impian kecilnya di masa lalu
“Aku akan membantumu! Biarkan aku yang mengolah dan mengurus masalah administrasi.” Shen Mi menjawab permintaan Jing Yang. Tangannya menarik rambutnya dan perlahan dia membuka mulutnya memakan Buah Api.
“Jadi ini sumber daya? Kebutuhan bagi seorang pendekar...” Shen Mi bergumam setelah mengunyah Buah Api.
“Tetapi Jing Yang. Sumber daya di tempat ini sangatlah banyak. Untuk membentuk semuanya membutuhkan biaya, apa kau mempunyai biaya untuk membentuknya?” Shen Mi bertanya sambil memetik buah-buahan.
“Aku telah menyiapkannya.” Jing Yang memperlihatkan isi Cincin Dewa kepada Shen Mi. Melihat itu, Shen Mi tersedak dan berlari menuju sungai dan meminum air bening yang mengalir itu. Terlihat Shen Mi sebisa mungkin tidak memperlihatkan sisi dirinya yang memalukan di hadapan Jing Yang.
“Bukankah uangmu itu terlalu banyak. Dengan semua ini bukan tidak mungkin dirimu menjadi orang terkaya di Kekaisaran Jiang.” Shen Mi tak habis pikir Jing Yang memiliki tumpukan emas yang menggunung.
“Tujuanku bukan menjadi orang kaya.” Jing Yang tertawa lirih melihat ekspresi Shen Mi.
“Baiklah, aku akan membantumu. Jadi kapan organisasi ini dibentuk? Bukankah kamu ingin menemui Xue Bingyue?” Shen Mi sebisa mungkin mendukung dan membantu Jing Yang. Pemuda didepannya merupakan laki-laki yang berbeda dari yang lainnya. Bersikap alami dan perkataan tulusnya membuat dirinya ikut tergerak.
Lalu keduanya menghilang dari Tebing Dimensi Hitam. Shen Mi kembali dikejutkan ketika berada di Tebing Kesepian. Tak lama Jing Yang kembali membawanya terbang menaiki pedang terbang.
Sesampainya di kediaman Walikota Kota Xuedong, Jing Yang dan Shen Mi langsung disambut dengan hidangan lezat yang telah disajikan Shen Ling.
Jing Yang dan Ye Xiaoya makan bersama Keluarga Shen Mi sebelum keduanya duduk di bangku taman bersama Shen Mi membicarakan rencana untuk membentuk organisasi pemasok sumber daya yang sekaligus menampung anak-anak yatim piatu yakni panti asuhan.
Ye Xiaoya ingin secepat mungkin mengajak kerjasama pendekar yang tidak terikat dengan sekte. Tetapi orang yang ingin dia rekrut pertama kali adalah pendekar yang ahli dalam bidang pengobatan dan membuat pil.
Shen Mi menjelaskan jika Keluarga Shen memiliki akses luas mengetahui informasi yang sulit diraih. Bahkan Panglima Shen Ho mengetahui kondisi Kekaisaran Qing yang dikuasai bangsa asing.
Shen Mi menulis rencana yang ingin dia lakukan setelah mendengar penjelasan Ye Xiaoya. Pertama dia ingin seorang pendekar yang menjadi penjaga setidaknya mencapai pendekar suci.
__ADS_1
Ye Xiaoya tertegun melihat Shen Mi yang antusias membantu rencananya bersama Jing Yang. Terlihat Shen Mi memiliki kepercayaan diri membentuk kelompok pedagang yang sedang mereka bertiga rencanakan.
Untuk membentuk kelompok pedagang yang besar tentu harus memiliki kekuatan yang besar demi kelancaran bisnis. Shen Mi pergi ke kediamannya untuk melihat dokumen tentang salah satu Keluarga Shen yang menjadi walikota di suatu kota yang berbatasan dengan Kekaisaran Qing.
Kemudian Shen Mi menjelaskan kepada Jing Yang dan Ye Xiaoya jika rute tercepat menuju Kekaisaran Qing dengan melewati kota perbatasan, yaitu Kota Shendu.
Dengan informasi yang sedikit tentang Kekaisaran Qing tentu saja sangat menghambat perjalanan Jing Yang dan Ye Xiaoya.
“Aku jadi ingin menemui Ratu Obat. Nenek pernah menceritakan tentangnya saat aku terkena Racun Iblis Neraka...”
Jing Yang memegang kertas yang berisi informasi keberadaan pendekar yang tidak terikat dengan sekte dari Xue Liwen.
Sebelum berangkat menuju Kekaisaran Qing, Jing Yang dan Ye Xiaoya berniat menemui pendekar wanita yang dijuluki Ratu Obat.
“Jing Yang, masalah organisasi biarkan aku yang mengurusnya. Aku ingin memilah-milah sendiri pendekar yang akan menjadi bagian dari organisasi ini. Kalian cukup fokus mencari keberadaan Xue Bingyue. Untuk saat ini aku akan bekerjasama dengan pendekar dari Pulau Salju Rembulan...” Shen Mi langsung menatap Jing Yang dan Ye Xiaoya penuh kepercayaan, “Lagipula aku lebih suka mempekerjakan seorang perempuan.”
“Jadi itu alasanmu...” Ye Xiaoya tertawa lirih menanggapi perkataan Shen Mi.
“Jadi nama organisasi ini apa?” Shen Mi bertanya kepada Jing Yang.
‘Nama...’ Jing Yang berpikir sejenak. Terlintas sebuah nama saat dirinya berlatih membentuk Tungku Jiwa Naga di Tebing Kesepian. Sekilas ketika membuka matanya, Jing Yang menatap rumah kediaman milik Shen Mi yang ada di Kota Xuedong.
“Rumah Lima Warna...” Jing Yang bergumam pelan, tetapi terdengar suaranya karena Shen Mi dan Ye Xiaoya memperhatikan Jing Yang.
“Boleh juga. Rumah Lima Warna...” Ye Xiaoya tersenyum sambil menatap langit malam yang berbintang.
“Rumah Lima Warna. Jadi kita sepakat nama organisasi ini adalah Rumah Lima Warna.” Shen Mi menanggapi dengan antusias.
Jing Yang tersenyum tipis, “Ya, Rumah Lima Warna.”
Di bawah langit malam berbintang yang menyinari Kota Xuedong, organisasi pedagang yang suatu saat menjadi kelompok terbesar di Kekaisaran Jiang bahkan Benua Dataran Tengah baru saja terbentuk dengan nama Rumah Lima Warna.
__ADS_1
Terbentuknya organisasi tak lebih dari keinginan kecil Jing Yang untuk menolong orang-orang yang bernasib sama seperti dirinya di masa lalu. Menolong anak-anak yatim piatu sama seperti dirinya.
Roh Sang Hitam yang memperhatikan tiga insan manusia dari alam bawah sadar Jing Yang merasakan roda takdir mulai berubah secara perlahan.