
Panglima Zhang merupakan pemimpin tertinggi militer Kekaisaran Yin. Zhang Mufan merupakan ayah mertua Kaisar Yin, Yin Ruo. Selain telah mencapai pendekar kaisar, Panglima Zhang Mufan sendiri memiliki banyak pencapaian, namun di dalam dunia persilatan, Panglima Zhang Mufan tidak sebanding dengan para Tetua Sekte besar di Kekaisaran Yin.
Panglima Zhang Mufan memiliki sifat yang tegas, bahkan kepada menantunya yang merupakan seorang Kaisar Yin saja dia tidak segan-segan untuk memarahinya.
Saat mendengar permintaan Kaisar Yin Ruo untuk menemaninya dalam perjalanan menuju Puncak Persik, Panglima Zhang Mufan terkejut karena bagaimanapun ini merupakan pertama kalinya pihak Kekaisaran Yin ingin menjalin hubungan agar tercipta kerjasama dengan sekte-sekte yang mendiami Kekaisaran Yin.
Namun yang membuat Panglima Zhang Mufan lebih terkejut adalah asal dari semua tindakan Kaisar Yin Ruo yang berniat menjalin hubungan dengan sekte-sekte di Kekaisaran Yin. Ide itu sendiri berasal dari Jing Yang, seorang pemuda berumur dua belas tahun.
Walau Panglima Zhang Mufan memaklumi karena Jing Yang merupakan seorang cucu Kaisar Jiang sekaligus penerus tahta, tetapi pemikiran pemuda ini berbeda. Walau terkadang cara berpikirnya terkesan polos, tetapi Panglima Zhang Mufan menyadari keunikan dari kharisma Jing Yang.
‘Dia mempunyai hati yang tulus... Menurutku itu tidak polos, melainkan salah satu sebuah kharisma yang terpancar dalam dirinya...’ Panglima Zhang Mufan berulang kali memandang punggung Jing Yang yang sedang berlari menapaki udara dengan tubuh Xue Bingyue yang dipeluk dalam dekapannya.
“Rubah Putih, apa kamu tidak lelah? Sebaiknya aku turun...” Xue Bingyue membenamkan wajahnya pada dada Jing Yang menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah.
“Aku tidak lelah, lagian kamu tidak seberat apa yang kamu pikirkan...” Jing Yang menatap wajah Xue Bingyue yang terbenam di dadanya. Sedetik kemudian dia menjerit pelan karena Xue Bingyue mencubit kulit badannya.
“Kenapa kamu mencubitku?” Jing Yang melihat wajah Xue Bingyue yang cemberut, gadis itu mengembungkan pipinya. Ekspresi wajah itu justru membuat Jing Yang tersenyum, karena sudah lama dia tidak melihat dirinya seperti ini.
Xue Bingyue tidak menjawab, melainkan menyandarkan kepalanya pada dada Jing Yang sebelum kedua kelopak mata yang indah itu terpejam, “Aku mau tidur...”
Jing Yang hanya tersenyum dan mempercepat langkahnya.
__ADS_1
Yin Feng yang terbaring dan melihat kedekatan Jing Yang dan Xue Bingyue hanya berulang kali menghela napas panjang. Dia menyadari bahwa Jing Yang memiliki sesuatu yang tidak dia punya.
‘Pantas saja teman-teman Qiu Mei membicarakannya secara terus-menerus...’ Yin Feng membatin sebelum menerima suapan makanan dari Panglima Zhang Mufan.
“Kakek, aku malu...” Semenjak melihat Jing Yang, Yin Feng berusaha mengikuti Jing Yang yang sebaya dengannya namun berpikiran lebih dewasa.
Panglima Zhang Mufan tertawa, “Sejak kapan cucu pertamaku ini menjadi seperti ini...” Panglima Zhang Mufan memaksa Yin Feng untuk menerima suapan makanan hangat yang dibawa Jing Yang dari Istana Yin.
Mungkin karena Jing Yang memiliki latar belakang yang sama seperti dirinya, Yin Feng juga ingin seperti Jing Yang yang dapat membuat orang-orang disekitarnya ingin mengenalnya. Terlebih Jing Yang dapat berteman dengan siapapun yang dia temui dalam perjalanan setelah saling menolong.
Panglima Zhang Mufan tersenyum bangga melihat cucunya mulai tergerak hatinya karena tindakan Jing Yang.
Hari pertama perjalanan mereka menuju Puncak Persik bisa dibilang berjalan dengan lancar, sebelum matahari terbenam Jing Yang menurunkan tubuh Xue Bingyue sekaligus membangunkan gadis itu, kemudian mencari kayu kering dan membuat api unggun.
“Rubah Putih, gantian...” Xue Bingyue menatap wajah Jing Yang yang tertutupi topeng rubah putih dan sedang mengamati sekelilingnya.
Beberapa saat setelah makan malam bersama, Yin Ruo dan Yin Feng sudah tertidur. Sementara Panglima Zhang Mufan sedang berjaga sambil membakar daging Hewan Buas pemberian Jing Yang.
“Gantian, maksudnya?” Jing Yang menatap wajah Xue Bingyue.
“Dalam perjalanan aku sudah tidur, jadi aku merasa tidak enak jika kamu tidak tidur malam ini...” Xue Bingyue merasa bersalah. Jing Yang mengetahui itu dari ekspresi wajahnya.
__ADS_1
Sebelum Jing Yang membalas perkataannya, Xue Bingyue sudah merapatkan posisi duduknya dan tersenyum tipis pada Jing Yang sebelum memberi tanda pada pemuda itu untuk menyandarkan kepalanya di pangkuan pahanya.
Jing Yang hanya menggelengkan kepalanya pelan, kemudian dia memilih untuk menyuruh Xue Bingyue bercerita agar menghilangkan kejenuhan dalam perjalanan, terutama di waktu istirahat ini.
Xue Bingyue mulai bercerita tentang kisah hidupnya setelah berada di Istana Bulan Biru sampai pertemuan dengan dirinya. Beberapa saat setelah Xue Bingyue bercerita, Jing Yang menguap pelan dan menggenggam tangan Xue Bingyue, secara perlahan dia memejamkan matanya dari balik topengnya.
Xue Bingyue membalas genggaman tangan itu dan menyandarkan kepalanya pada bahu Jing Yang. Malam ini Jing Yang tidur dengan pulas karena Xue Bingyue berada disampingnya dan genggamannya, selama ini dia menyembunyikan rasa lelahnya, dan malam ini dia mengekspresikan perasaannya dengan menggenggam tangan Xue Bingyue yang tidak ingin dia lepaskan dan akan dia jaga.
Saat matahari terbit, Jing Yang dan Xue Bingyue terbangun hampir bersamaan, tetapi Jing Yang terbangun lebih dahulu karena dia mendapati Xue Bingyue bersandar di bahunya.
Setelah sarapan pagi, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Hingga tanpa terasa tiga hari telah terlewati dan kini mereka sampai di sebuah kota kecil di bawah puncak sebuah bukit.
Sebelum memasuki kota kecil itu, rombongan Jing Yang bertemu dengan Xue Rong dan Xue Que. Mereka memasuki kota kecil itu bersamaan. Satu hal yang membuat Jing Yang paham dengan perkataan Xue Que adalah saat melihat banyak pendekar yang menatap Xue Rong dan bersiul.
Walau mereka mengetahui gadis berusia sembilan belas tahun itu merupakan Matriark Istana Bulan Biru, tetapi mereka berani mencuri pandang bahkan bersiul tidak sopan.
Jing Yang mengamati dengan seksama, hingga akhirnya Xue Bingyue menjelaskan beberapa pendekar yang sudah memenuhi kota kecil itu. Kebanyakan pendekar yang ada di kota kecil itu berasal dari sekte besar di Kekaisaran Yin sehingga berani berbuat sedemikian rupa kepada Xue Rong bahkan dirinya.
Saat lusinan pendekar pria mendekatinya, Xue Bingyue dan Xue Que, Xue Rong langsung membekukan tubuh mereka lalu berjalan dengan tatapan dingin yang menusuk hingga membuat orang-orang menjaga jarak darinya.
Jing Yang hanya kagum saja melihat sisi lain Xue Rong yang benar-benar mengejutkannya. Tetapi dia menyadari betapa besarnya tanggung jawab yang dipikul pundak rapuh Xue Rong.
__ADS_1
___
Tunjukkan suport kalian kepada penulis dengan memberikan, rate bintang lima, like, komentar dan vote poin/koin. Dukungan kalian sangat berarti bagi saya selaku penulis untuk semangat update di setiap chapternya.