Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 154 : Sinar Lembut Rembulan


__ADS_3

Setelah pertarungan antara Xue Que melawan Peng Ouyang berakhir, selanjutnya dua perwakilan pendekar muda dari Puncak Persik dapat mengatasi lawannya dengan mudah tanpa kesulitan yang berarti.


Sementara itu perwakilan dari Sekte Pedang Suci berhasil menempatkan dua pendekar muda dari sekte mereka di babak delapan besar Turnamen Pendekar Muda. Xu Jianbao dan Kang Fengrui berhasil masuk ke babak delapan besar Turnamen Pendekar Muda setelah mengalahkan lawan mereka dari sekte menengah.


Peserta terakhir yang berhasil lolos ke babak delapan besar Turnamen Pendekar Muda adalah Bao Xinruo dari Sekte Menara Biru. Dengan demikian Turnamen Pendekar Muda hanya menyisakan delapan nama peserta.


Hari semakin larut membuat Tian Taohua mengakhiri Turnamen Pendekar Muda dan akan melanjutkannya di hari esok. Suasana di stadion nampak semakin sepi setelah semuanya mendengarkan pengumuman Tian Taohua.


Para tamu undangan khususnya pendekar kembali ke penginapan dituntun murid dan pendekar dari Puncak Persik. Semuanya kembali ke penginapan yang telah disediakan tuan rumah guna mengarungi hari esok tepat digelarnya babak delapan besar Turnamen Pendekar Muda.


___


Setelah dipastikan lolos ke babak delapan besar Turnamen Pendekar Muda, Xue Bingyue dan Xue Que sekarang sedang berhadapan langsung melawan Jing Yang.


Kedua gadis cantik dari Istana Bulan Biru ini melawan seorang pemuda bertopeng yang bergerak dengan tenang namun pasti.


Xue Rong mengamati bahwa Jing Yang karena pemuda itu memiliki kharisma yang unik. Bahkan dalam hatinya, Xue Rong merasa ada yang salah karena bagaimanapun Jing Yang tidak lebih dari seorang bocah berumur dua belas tahun.


Ratusan surat lamaran dari pemuda kaya dan tampan bahkan tokoh penting dunia persilatan Kekaisaran Yin sekalipun Xue Rong menolak semuanya. Gadis ini tidak akan merasakan jatuh cinta, itulah yang dia pikirkan. Namun semuanya berubah. Masa depan tidak ada yang tahu. Hanya saja Xue Rong percaya dengan apa yang dikatakan Jing Yang.


“Gerakan kalian berdua terlalu kaku...” Jing Yang menyambut setiap tebasan pedang Xue Bingyue dan Xue Que, sambil sesekali dia memberikan serangan balasan yang cepat dan mematikan.


Walau Jing Yang sangat menyayangi Xue Bingyue, dia tidak memanjakan Xue Bingyue yang memintanya menjadi teman berlatih.


Setelah melakukan pertukaran serangan lebih dari seratus serangan, Xue Bingyue dan Xue Que mengatur napasnya yang terengah-rengah. Kedua gadis ini tidak sanggup mengikuti ritme pergerakan Jing Yang.

__ADS_1


“Aku menggunakan kemampuan pendekar agung. Setidaknya kalian unggul dalam hal pernapasan saat bertarung melawan pendekar kaisar.” Jing Yang berkata dan mengakhiri latihan malamnya dengan Xue Bingyue dan Xue Que.


“Junior Yang, aku sudah membuatkan minuman hangat dari rebusan Ginseng Raja dan Ginseng Kaisar...” Xue Rong menghampiri Jing Yang dan mengajak pemuda itu untuk makan cemilan di teras penginapan.


“Ah...” Jing Yang tercekat. Tetapi dia tidak berani menolaknya setelah melihat raut wajah Xue Rong dan Xue Bingyue.


Jing Yang menikmati minuman hangat dari rebusan Ginseng Raja dan Ginseng Kaisar, dia juga memakan cemilan bersama Xue Rong.


Tak lama Xue Bingyue dan Xue Que ikut bergabung setelah mencuci tangan mereka. Setelah menghabiskan minuman hangat buatan Xue Rong, segera Jing Yang pergi untuk mencari keberadaan Kung Taoji.


Sosok kakek tua itu menyimpan banyak misteri. Bagi Jing Yang, dia tidak menyangka bahwa ada kekuatan yang diwariskan dan dapat meramalkan kejadian di masa depan. Terlebih Jing Yang menyadari bahwa Roh Sang Hitam juga belum menceritakan segalanya pada dirinya.


Jing Yang tidak berprasangka buruk kepada Roh Sang Hitam, dia hanya berpikir bahwa dirinya belum cukup kuat untuk mengetahuinya. Mengetahui apa yang disembunyikan Roh Sang Hitam.


Saat Jing Yang hendak menapaki bukit tempat dimana dirinya bertemu dengan Kung Taoji, Xue Bingyue datang mengejarnya dari belakang.


Xue Bingyue memerah wajahnya, dia sendiri merasa ingin selalu berada di dekat Jing Yang. Tanpa disadari Jing Yang dan Xue Bingyue ada sepasang mata yang mengawasi mereka.


“Rubah Putih, aku ingin ikut denganmu...” Xue Bingyue berkata dengan sangat pelan, suaranya nyaris tak terdengar. Tetapi Jing Yang mendengarnya dan tersenyum lembut dari balik topengnya.


“Di puncak bukit ini ada tempat yang indah. Aku yakin kamu menyukainya...” Jing Yang menggandeng tangan Xue Bingyue dengan lembut dan berjalan menapaki puncak bukit bersama gadis cantik itu.


Sepasang mata yang mengamati Jing Yang dan Xue Bingyue tak lain adalah Xu Jianbao. Pemuda itu berulang kali menahan napas karena amarah yang tak terbendung saat melihat Jing Yang menyeka keringat dikening Xue Bingyue bahkan memegang dan menggenggam telapak tangan gadis yang telah lama menjadi dambaan hatinya.


Jing Yang melebarkan aura tubuhnya karena menyadari orang yang mengawasinya, dia berharap orang itu adalah Kung Taoji, tetapi ternyata orang yang mengawasinya adalah orang lain.

__ADS_1


Jing Yang membawa Xue Bingyue ke sebuah bangku dan mereka berdua mengamati pemandangan Puncak Persik dari atas bukit.


Hari yang sudah malam dan sinar lembut rembulan membuat keheningan tenang menjadi indah bagi dua insan.


Jing Yang tidak memungkiri jika ada perasaan bangga saat melihat Xue Bingyue tersenyum karena menyukai tempat ini.


“Rubah Putih, apa kamu tidak lelah?” Xue Bingyue menatap Jing Yang yang juga sedang menatap dirinya.


Jing Yang menggelengkan kepalanya pelan, “Justru seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu... Apa kamu tidak lelah? Kamu telah melakukan beberapa putaran pertandingan hari ini...”


Jing Yang memegang pundak Xue Bingyue dan memijitnya pelan, “Aku akan mengalirkan aura tubuhku padamu...”


Jing Yang menotok bagian meridian tubuh Xue Bingyue dari belakang, kemudian menyalurkan Aura Naga milik Dewi Naga Hitam.


Setiap titik penghubung Xue Bingyue mendapatkan rangsangan dari Jing Yang, gadis cantik itu merasakan energi yang meluap-luap didalam tubuhnya.


Sekitaran dua menitan kemudian Jing Yang menatap Xue Bingyue menggunakan aura yang dia pusatkan pada kedua bola matanya.


“Rubah Putih, terimakasih...” Wajah Xue Bingyue merah merona, karena bagaimanapun dia tidak menyangka Jing Yang akan bertindak sedemikian rupa.


Jing Yang juga tersipu malu, walau dia hanya ingin membantu Xue Bingyue tetapi sekarang dirinya tersadar akan tingkah kepolosannya sendiri.


Malam semakin larut, kunang-kunang berterbangan dengan udara yang kian dingin. Sementara rembulan tetap bersinar terang, keindahan malam di Puncak Persik membuat Jing Yang dan Xue Bingyue menikmati waktu mereka semalam berdua.


Sebelum Xue Bingyue menyandarkan kepalanya di bahunya, Jing Yang membungkus tubuh gadis itu dengan aura sebelum menyandarkan kepalanya di pohon dan memejamkan matanya secara perlahan.

__ADS_1


Pada waktu yang sama saat Jing Yang memejamkan, Xue Rong datang ke atas bukit dan melihat Xue Bingyue tertidur lelap bersandar di bahu Jing Yang.


Xue Rong tersenyum manis dan menaruh kain hangat sebagai selimut pada tubuh Jing Yang dan Xue Bingyue.


__ADS_2