
Pemimpin Pelangi Dosa tersenyum melihat Jing Yang cepat menangkap ucapannya. Bahkan Golok Serakah menjadi tertarik pada bocah itu saat melihat kemampuannya yang melakukan pembunuhan terhadap anggota Menara Dewa tanpa mengedipkan mata sedikitpun.
‘Bocah ini! Sudah berapa orang yang dia bunuh!’ Golok Serakah tidak percaya saat aura hitam pekat samar-samar keluar dari tubuh Jing Yang.
Xu Wangbin melompat kearah Jing Yang, namun Golok Serakah menahan pergerakan pria itu. Golok Serakah membiarkan Jing Yang dan yang lainnya menuju lantai atas.
“Sungguh drama yang menarik. Kau pandai berakting, manusia jadi-jadian.” Xu Wangbin tersenyum menyeringai. Golok Serakah mengerutkan keningnya.
“Manusia jadi-jadian? Apa yang kau bicarakan?”” Golok Serakah merasa ada yang aenh disini. Yang paling dirinya benci adalah pengkhianatan. Golok Serakah berharap tidak ada satupun pengkhianat diantara orang-orang yang dibawa Salju Dendam dan Selendang Nafsu kedalam rencana Pelangi Dosa.
Xu Wangbin menyeringai, “Seandainya aku juga memiliki kekuatan Iblis Siang, aku tidak perlu bersembunyi seperti ini!” Sebuah pukulan dari Xu Wangbin melepaskan energi yang sangat kuat membuat Golok Serakah kesulitan bertahan bahkan anggota Menara Dewa yang berjaga dilantai satu terlempar tubuhnya.
‘Seperti kata pemimpin, kita tidak akan menang jika tidak bersiap mati!’ Golok Serakah tersenyum lebar sebelum melepaskan aura tubuhnya dalam jumlah besar.
“Aku tidak mengerti yang kau bicarakan, tetapi kau tidak akan bisa menggunakan kemampuan jika terkena sinar matahari bukan?” Golok Serakah tersenyum lebar dan menebaskan goloknya yang dipenuhi energi pedang kearah pintu.
Ledakan dari tebasan golok itu memang mengerikan tetapi belum mampu menghancurkan pintu tersebut. Bahkan saat Golok Serakah mengincar dinding tebasannya tidak mampu menghancurkan dinding tersebut.
Xu Wangbin tertawa, “Menara ini adalah teknik milik Ketua Fu! Kau akan mati disini, itulah takdirmu! Tujuan kami hanya satu, Tubuh Yin, Tubuh Yang dan Tubuh Raja Neraka! Kami akan mendapatkannya!”
Dalam kondisi kebingungan, Golok Serakah mendapatkan serangan dari berbagai arah. Sekarang dirinya benar-benar dikepung. Sementara Xu Wangbin masih saja berada diluar jangkauannya.
Golok Serakah terus membunuh setiap anggota Menara Dewa yang menghadangnya, tetapi dirinya sadar kemampuan Xu Wangbin yang merupakan seorang Pendekar Langit.
Kekuatan keduanya berimbang, tetapi jika pertempuran ini terus berlanjut, maka Golok Serakah akan kehabisan aura dan tenaga dalamnya terlebih dahulu sebelum membunuh Xu Wangbin.
Sementara Golok Serakah melawan Xu Wangbin, Jing Yang merasakan kejanggalan karena dari lantai satu sampai sepuluh tidak ada satupun penjaga yang terlihat.
“Apa memang tidak penjaga atau...” Jing Yang sudah menghabisi beberapa penjaga dilantai santai saat membuka jalan, tetapi semua ini terlalu lancar. Terlebih di lantai sebelas terdapat satu tangga yang langsung menuju kelantai teratas.
“Sepertinya lewat sini lebih cepat.” Pemimpin Pelangi Dosa yang bernama Tinju Api berkata sambil memperhatikan tangga tersebut. Tetapi jelas semua ini terlihat seperti jebakan dan membuat Tinju Api memikirkannya dua kali.
“Pemimpin, sebaiknya kita tidak mengambil jalan pintas.” Pria dengan sebutan Pedang Amarah mengusulkan.
“Aku mengerti-” Saat Tinju Api memperhatikan tangga tersebut tiba-tiba tangga itu hancur dan berubah menjadi Ular Hijau Raksasa. Diatas kepala Ular Hijau Raksasa terlihat bayangan seseorang.
“Selamat datang di Sarang Bisa. Darisini aku akan menyambut kalian dengan cairan racunku...” Suara pria terdengar, seketika pria itu berdiri dihadapan Bing Mu dan Bing Hen sambil melemparkan sejumlah jarum beracun.
Bing Mu telat bereaksi, sementara Bing Hen menghindarinya. Melihat pergerakan Bing Mu yang tidak seperti biasanya membuat Bing Hen panik.
__ADS_1
“Senior Mu, apa kau masih terluka?” Bing Fen berpikir Bing Mu masih dalam kondisi terluka karena peristiwa di Desa Api.
Bing Mu meringis kesakitan dan mencabut jarum tersebut, “Sial, aku terlambat menghindarinya! Tenang saja, Junior Hen, ini tidak seberapa!”
“Selanjutnya!” Pria itu kembali mengincar Bing Hen, tetapi Xue Rong membekukan tubuhnya.
Pergerakan pria itu sangat cepat dalam menghindar dan menyerang, “Apa kau tidak bisa bersabar dulu, gadis cantik. Kalian semua akan mendapatkan gilirannya.”
“Aku Fen Henjia akan membuat kalian merasakan penderitaan karena terkena racun mematikanku.” Pria yang menyebutkan dirinya bernama Fen Henjia itu melempar sejumlah bubuk membuat seluruh lantai sebelas dipenuhi kabut.
Fen Henjia bergerak dengan kecepatan tinggi dan menyerang Bing Hen kembali, tetapi Bing Mu secara refleks menahannya. Pisau kecil beracun menembus kulit perut Bing Mu.
“Hei, lagi-lagi kau bertindak seperti pahlawan-” Fen Henjia kembali melompat menjauh saat Xue Qinghua datang kearahnya.
Xue Qinghua melepaskan aura tubuhnya dan memanipulasi salju yang dingin bersamaan dengan angin yang berhembus kencang membuat kabur-kabut menghilang.
Tinju Api sudah berada dibelakang Fen Henjia dan melepaskan pukulan tangan dengan bayangan naga dikepalan tangannya. Pukulan itu menembus perut Fen Henjia membuat pria itu terkapar dilantai.
“Junior Rong, urus dia." Xue Qinghua menoleh kearah Xue Rong. Sementara Tinju Api menghela nafas panjang.
“Salju Dendam, tinggalkan orang yang menjadi beban. Aku tidak ingin rencana untuk melenyapkan Menara Dewa tidak berjalan lancar karena orang luar.” Ucap Tinju Api karena melihat kemampuan Bing Mu dan Bing Hen yang terlihat membebani pertarungan mereka.
“Aku mengerti.” Xue Qinghua segera menuju lantai kedua belas bersama Tinju Api, Pedang Amarah, Selendang Nafsu dan satu anggota Pelangi Dosa yang dikenal sebagai Rantai Dosa.
Jing Yang menatap tajam Tinju Api dan membalas, “Pergilah, duluan, Senior. Aku akan menunggu Senior Rong.” Jing Yang sendiri bekerjasama dengan Xue Qinghua dan Selendang Nafsu, tetapi dia belum memercayai anggota Pelangi Dosa yang lainnya begitu juga dengan Bing Mu dan Bing Hen.
Jing Yang mendapatkan amanah dari Tetua Istana Bulan Biru untuk menjaga Xue Rong. Melihat Xue Rong yang terlihat akrab dengan Bing Mu tentu membuatnya curiga, tetapi Jing Yang menepis jika Bing Mu berniat memanfaatkan kepolosan Xue Rong, mengingat dirinya sendiri juga polos.
“Jangan menghambat!”
Mendengar Tinju Api berteriak padanya, Jing Yang menghela nafas panjang dan menjawab, “Jangan berteriak, Senior.”
Xue Rong memperhatikan Jing Yang, gadis cantik itu menyadari perubahan sikap Jing Yang. Xue Rong sendiri menyadari jika perasaannya kepada Jing Yang mungkin terlalu dalam, tetapi berada didekat Bing Mu sedikit membuatnya nyaman hanya saja ada kejanggalan besar dalam hatinya.
“Terimakasih, Saudari Xue.” Bing Mu berdiri dan menambahkan, “Sebaiknya kita melanjutkan perjalanan.”
Xue Rong masih khawatir, “Tetapi lukamu-”
“Tidak apa, luka seperti ini tidak menghambatku." Segera Bing Mu bergerak mengikuti Tinju Api.
__ADS_1
“Semua ini salahku, sial!" Bing Hen mendecakkan lidahnya kesal.
Jing Yang memperhatikan Bing Mu dan kembali menghembuskan nafas ringan, “Apa aku terlalu berprasangka buruk padanya...”
Setelah itu Jing Yang menatap tubuh Fen Henjia sebelum menarik Pedang Gravitasi dan memanipulasi tekanan disekitar tubuh Fen Henjia.
“Teknik Pedang Gravitasi : Genggaman Naga Bumi!”
Tubuh Fen Henjia tercerai-berai, dari kepala sampai dadanya terlempar. Tindakan Jing Yang ini membuat Xue Rong dan Bing Hen terkejut.
“Saudara Jing...” Bing Hen menekan ludah tidak percaya. Dia melihat Jing Yang tidak berkedip saat membunuh, bahkan pemuda itu melihat tatapan suram dan dingin yang bercampur satu dikedua bola mata Jing Yang.
Xue Rong menegur, “Apa yang kamu lakukan, Junior Yang?! Dia sudah mati!”
“Hah?” Jing Yang melirik tajam Xue Rong dan menyarungkan Pedang Gravitasi, “Aku hanya ingin memastikannya saja. Entah mengapa kedua pedangku ini sangat ingin memotong tubuhnya.”
Jing Yang kali ini menarin Pedang Dewa Naga lalu berniat memotong kepala Fen Henjia, tetapi Xue Rong menahannya.
“Junior Yang! Cukup!” Xue Rong menatap tajam Jing Yang.
“Apa kau tidak sadar?” Jing Yang membalas tatapan Xue Rong lebih tajam, “Aku melakukan ini karena kau sekarang terlalu percaya pada seseorang, Senior Rong!"
Xue Rong baru kali ini melihat Jing Yang seperti ini, “Apa kau cemburu padaku hanya karena dekat dengan Saudara Mu?” Xue Rong tanpa sadar melontarkan kalimat itu, gadis cantik itu sendiri tidak menyangka akan berkata demikian.
Jing Yang mendecakkan lidahnya, “Dia belum mati.” Jing Yang menghela nafas panjang.
“Berhenti berpura-pura mati.” Setelah Jing Yang berkata demikian, tubuh Fen Henjia beregenerasi membuat Xue Rong terkejut begitu juga dengan Bing Hen.
“Senior Rong, Saudara Hen, kalian pergi duluan. Aku akan menghabisinya dalam satu kali tebasan.” Mendengar ucapan Jing Yang membuat Fen Henjia menjentikkan jarinya menggerakkan Ular Hijau Raksasa yang sempat tidak bergerak karena dirinya pura-pura mati.
Ular Hijau Raksasa membuka mulutnya lebar, Jing Yang menebaskan pedangnya penuh tenaga dalam dan memotong tubuh Ular Hijau Raksasa menjadi dua bagian.
“Selanjutnya dirimu!” Selanjutnya Jing Yang sudah berada dihadapan Fen Henjia dan menebaskan pedangnya.
“Jurus Pedang Dewa Naga : Menghunus Keheningan Malam!”
Kepala Fen Henjia terpotong membuat kedua bola matanya melebar tidak percaya. Jing Yang mengibaskan Pedang Dewa Naga dan kembali menyarungkannya.
“Ini berakhir.”
__ADS_1
“Tidak mungkin! Aku tidak mungkin mati-” Fen Henjia berteriak tidak percaya namun kepalanya berubah menjadi asap dan tubuhnya benar-benar menghilang ditelan bumi.
Xue Rong dan Bing Hen tidak menyangka dengan apa yang barusan mereka lihat. Jing Yang segera kembali bergerak menyusul Tinju Api, Salju Dendam, Selendang Nafsu, Pedang Amarah dan Bing Mu.