Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 78 : Memperingati Kematian Yi Yue Dan Jiang Lian


__ADS_3

Selepas menikmati hidangan, Jing Yang mendengarkan perbincangan tentang rencana kudeta yang dilakukan Jiang Feng.


Menurut Panglima Shen Ho, saat ini Kediaman Jiang Feng telah dikosongkan setelah mendengar kabar kejadian di Istana Sembilan Naga. Sementara itu, beberapa prajurit militer meyakini jika Shi Mubai dan Jiang Nian telah membiarkan penyusup dari Kekaisaran Shi masuk ke dalam Ibukota Huaran.


“Membunuh penyusup dari Kekaisaran Shi, akan menyebabkan peperangan.” Panglima Shen Ho menghela napas panjang sebelum mengatakan hal tersebut.


‘Jujur saja, bagiku Jiang Nian ini terlalu bodoh. Dari cerita yang kudengar, dia tak lebih seperti bidak. Yah, berbeda dengan muridku yang polos ini. Tetapi, orang yang polos dan pendiam, jauh lebih mengerikan dari orang yang banyak bicara.’ Ye Xiaoya menghabiskan daging terakhirnya, sebelum membatin dan menatap Jing Yang yang sedang duduk dengan tenang.


“Saat ini Asosiasi Pedang Hati akan menghadang pendekar aliran hitam yang bergerak di bawah perintah Pangeran Jiang Feng. Dan kita, akan melindungi Kaisar Jiang. Orang yang paling harus diwaspadai adalah Shi Mubai. Jangan ragu untuk membunuhnya. Jika Kekaisaran Shi tidak menerima dan memilih mengambil jalur pertempuran. Maka kita bisa menyinggung...” Murong Qiaomi menghentikan ucapannya ketika melihat perubahan raut wajah Jing Yang yangt tenang, namun samar-samar dia bisa merasakan detak jantung yang memainkan melodi penuh kemarahan dan dendam.


“Masalah dunia persilatan Kekaisaran Jiang lebih merepotkan dari yang kita kira.” Tao Qiaoli menghela napas panjang ketika mengerti maksud dari Murong Qiaomi.


“Aku yang akan membunuh Shi Mubai! Jika Kekaisaran Shi akan menyerang Kekaisaran Jiang, maka aku akan bertanggung jawab dan mengajarkan pada mereka ketakutan yang sesungguhnya!” Jing Yang berkata dengan nada yang dingin.


“Karena kelemahanku, aku hanya bisa menangis. Aku tak bisa berbuat apa-apa untuk Yueyue dan yang lainnya. Masa laluku tidak akan mempengaruhi tindakanku, hanya saja aku tidak akan naif lagi...” Jing Yang menggertakkan giginya, dan menarik napas dalam.


“Maaf, aku ingin tidur lebih awal...” Jing Yang pergi meninggalkan meja makan. Alasan dirinya berkata demikian karena melihat Yi Yue bimbang.


Sesampainya di kamar, Jing Yang merebahkan tubuhnya dan menenangkan dirinya. Ketika mengingat Lin Song dan tragedi di Kota Yunfei, emosinya tidak stabil. Jing Yang ingin memilih tidur, tetapi dia tidak bisa. Kepalanya tidak pernah mengizinkan dia untuk tenang disaat hatinya masih mengkhawatirkan kondisi Xue Bingyue.


Sekitar tiga puluh menitan, Yi Yue datang dan memberitahu Jing Yang jika dia dipanggil oleh Ye Xiaoya.


Jing Yang segera beranjak dari tempat tidur dan pergi ke taman, dimana Ye Xiaoya sedang menunggunya.


“Yang‘er, dua hari lagi acara itu dimulai. Aku mengerti apa yang kau rasakan saat ini...” Ye Xiaoya duduk di bangku taman dan menatap langit malam.


“Guru Xiaoya kurang lebih sama sepertiku. Jika tidak keberatan, bisakah Guru sedikit bercerita padaku. Mungkin aku hanyalah anak kecil di mata Guru, tetapi aku berbeda dengan anak seusiaku.” Jing Yang berkata untuk mencairkan suasana, tetapi Ye Xiaoya tertawa terbahak-bahak.


“Bisanya kau berlagak keren seperti ini.” Ye Xiaoya meremas rambut Jing Yang.


Malam itu Jing Yang dan Ye Xiaoya mengobrol berdua sebagai seorang guru dan murid. Keduanya tidak menceritakan masa lalu mereka, walau Ye Xiaoya telah mengetahui masa lalu Jing Yang. Tetapi tidak dengan Jing Yang yang tidak mengetahui masa lalu Ye Xiaoya.


___

__ADS_1


Dua hari kemudian sebelum peringatan kematian Yi Yue dan Jiang Lian. Di padang rumput yang penuh dengan bunga menjadi berdarah ketika Asosiasi Pedang Hati yang dipimpin Sheng Long bertemu dengan pendekar aliran hitam yang berniat melakukan kudeta secara terang-terangan.


“Tidak kusangka, Pangeran Jiang Feng akan melibatkan rakyat di Ibukota Huaran dalam menjalankan ambisinya...” Sheng Long berkata sebelum mengintimidasi pendekar aliran hitam dengan kekuatan rambut putihnya yang memanjang.


Tidak ada tanda-tanda kehadiran Mao Gang dan ketua aliran hitam yang lain. Kemungkinan besar, kelompok yang dikirimkan Jiang Feng sudah menyusup di Ibukota Huaran.


‘Rencana ini berhasil, tetapi kedepannya kami harus membentuk aliansi yang dapat menekan kekuatan mereka!’ Sheng Long menyadari jika jumlah pendekar aliran hitam lebih banyak dari aliran putih dan netral. Dari angka satu sampai sepuluh, pendekar aliran hitam memiliki kekuatan delapan angka sementara dua lainnya aliran putih dan netral. Dalam dunia persilatan Kekaisaran Jiang, aliran hitam lebih mendominasi jumlahnya dibandingkan aliam putih dan netral.


___


Saat ini Ibukota Huaran dipenuh dengan orang-orang yang memperingati hari kematian Yi Yue dan Jiang Lian. Begitu banyak rakyat yang hadir di pinggiran Ibukota Huaran menuju sungai bening yang tidak lama akan terjadi pertempuran.


Menjelang malam, pengunjung semakin sepi. Tetapi Kaisar Jiang En masih tetap menangis dan duduk termenung menatap aliran sungai.


Rombongan Jing Yang berada di dalam kerumunan prajurit militer. Sementara itu Panglima Shen Ho dan Jendral Besar Huan Chen berada di samping kiri dan kanan Jiang En.


Tak lama Jiang En kembali ke kediamannya. Malam semakin gelap, bulan bersinar terang seakan-akan menyaksikan dan menyinari Ibukota Huaran dengan sinar lembutnya.


“Sepertinya Kediaman Kaisar Jiang telah disusupi penyusup...” Murong Qiaomi memejamkan matanya ketika merasakan nafsu membunuh dan beberapa hawa keberdaan orang.


Sesampainya di kediaman Kaisar Jiang, tidak ada tanda-tanda darah yang berceceran. Tetapi bagi seorang pendekar bumi maupun pendekar agung dan pendekar suci, mereka mengetahui jika prajurit militer yang berjaga di kediaman telah mati. Dan mayat mereka disembunyikan.


“Panglima...” Murong Qiaomi memberi tanda pada Panglima Shen Ho untuk segera membawa Jiang En masuk ke dalam kediaman.


“Yang Mulia, mari hamba antar.” Panglima Shen berkata sambil membawa beberapa prajurit militer ke ruang singgasana.


“Kamu...” Kaisar Jiang En menggumam pelan, “Kamu terlihat seperti istriku?” Kaisar Jiang En tiba-tiba mendekati Yi Yue yang memakai penutup wajah agar tidak dikenali siapapun.


Yi Yue mengalihkan pandangannya, melihat itu, Kaisar Jiang En menarik napas dan berjalan masuk ke dalam kediamannya dengan wajah yang sedih.


“Nenek Yi...” Jing Yang menatap Yi Yue yang bimbang setelah mendengar penjelasan situasi yang sedang terjadi dari Murong Qiaomi.


“Lindungi Nenekmu ini ya, Yang‘er. Nenek ingin melihatmu menjadi Kaisar Jiang yang hebat.” Yi Yue mengelus rambut Jing Yang dan berkata lirih.

__ADS_1


Jing Yang mengetahui permintaan Yi Yue yang menyuruhnya menjadi putra mahkota. Tidak ada pilihan lain, karena Jiang Feng telah melakukan begitu banyak kejahatan. Sementara Jiang Nian hanya dimanfaatkan Shi Mubai. Terutama setelah Jiang En pernah memiliki niat untuk mewarisi tahta pada Jiang Feng, hubungan buruk keduanya justru membuat Jiang En memilih anak dari Jiang Lian menjadi pewaris tahta. Jiang En melakukan itu agar hubungan Jiang Feng dan Jiang Nian membaik, tetapi justru tindakannya membuat Jiang Lian terbunuh di Kota Yunfei. Bahkan yang lebih parah, kehidupan Jiang Lian penuh tuduhan dan fitnah sehingga dia memilih angkat kaki dari keluarga kekaisaran dan hidup menetap di sebuah pedesaan bersama Jing Tian dan Jing Yang.


Cerita ini sudah dimulai beberapa tahun lalu. Ambisi, dendam dan hubungan yang penuh kepalsuan. Semenjak kematian Jiang Lian disusul Yi Yue, kondisi Jiang En semakin memburuk.


Jiang Feng berniat membunuh ayahnya agar dia secara otomatis menjadi Kaisar Jiang, mengingat dia satu-satunya pria dalam tiga bersaudara. Sementara itu Shi Mubai dan Jiang Nian berniat membongkar kebusukan Jiang Feng dan melimpahkannya pada Jiang En dalam rencana pembunuhan.


“Nenek Yi, masalah itu aku akan memikirkannya terlebih dahulu.” Jing Yang dan Yi Yue berjalan mengikuti Panglima Shen Ho. Yi Yue hanya mengangguk dan tersenyum lembut dari balik penutup wajahnya.


Mereka memasuki ruang singgasana, terlihat Jiang En duduk termenung dan memegang selendang milik Yi Yue.


Sementara itu Murong Qiaomi dan yang lainnya bersembunyi untuk mengamati situasi. Hanya ada Jing Yang dan Yi Yue yang sedang berdiri di dekat Panglima Huan Chen.


‘Shi Mubai akan datang sendiri dengan pasukannya untuk membunuh Kakek Jiang.’ Jing Yang mengamati keadaan sekitarnya karena angin malam yang berhembus terasa begitu tenang.


Murong Qiaomi memperkirakan jika Shi Mubai akan bergerak setelah Organisasi Laba-Laba Hijau dan beberapa pendekar yang berkeliaran di kediaman Jiang En telah menghabisi prajurit militer.


Murong Qiaomi berpendapat jika Jiang Feng tidak akan mengotori tangannya untuk membunuh ayah kandungnya. Pria seperti Jiang Feng hanya memberikan perintah dan menunggu hasil yang memuaskan dari orang-orang yang dia suruh.


“Jangan ada yang keluar sampai nyawa Kaisar Jiang terancam. Kita tidak kejam, hanya saja dia harus tahu dan menerima kenyataan jika anak dan menantunya berniat membunuhnya.” Ucap Murong Qiaomi pada Ye Xiaoya, Tao Qiaoli, Fan Ziwei, Fan Liwei, Xue Liwen dan Xue Lihua.


Angin malam yang berhembus dengan tenang dan sinar lembut rembulan menandakan akan terjadinya pergejolakan di Ibukota Huaran.


Terimakasih atas segala dukungan yang kalian berikan pada Dragon Warrior Pair baik berupa like, komentar maupun vote poin/koin.


Semoga kalian terhibur di setiap chapternya dan terus mengikuti kisahnya. Untuk mendukung author agar lebih semangat dalam berkarya, kalian bisa membagikan novel ini ke akun sosmed kalian melalui tombol berbagi dan jangan lupa tekan like di setiap chapternya.


Ikuti novel Pena Bulu Merah yang lainnya dengan klik profil author.


Kagutsuchi Nagato, Tamat.


Dragon Warrior, On.


Sweet Dragon, On.

__ADS_1


Terimakasih dan semoga terhibur.


__ADS_2