
Istana Bulan Biru merupakan salah satu sekte aliran netral tertua dan terbesar di Kekaisaran Yin.
Tempat kediaman Istana Bulan Biru berada di Pegunungan Suxue. Pegunungan putih yang ditutupi salju dan setiap tahunnya hanya memiliki satu musim dan merupakan pegunungan terbesar dan tertinggi di Benua Dataran Tengah.
Hewan Buas dan Binatang Iblis yang hidup di musim dingin mendiami Pegunungan Suxue. Selain Istana Bulan Biru, sekitar beberapa tahun kebelakang ada sekte aliran netral yang bernama Gunung Es Utara mendiami Pegunungan Suxue menjadi tempat kediaman mereka.
Klan Bing adalah pendiri Gunung Es Utara, namun semenjak kejadian pembantaian massal yang melibatkan Bangsa Iblis, Gunung Es Utara kehilangan harta pusaka yang konon digunakan untuk menyegel salah satu kekuatan malapetaka dari Sembilan Kekacauan Surgawi.
Patriark terakhir Gunung Es Utara yang bernama Bing Chen, Kakek dari Xue Bingyue pergi meninggalkan Pegunungan Suxue menuju Pulau Salju Rembulan bersama murid kesayangannya yang bernama Bing Zhen.
Klan Xue dan Klan Bing berhubungan erat di masa lalu. Mereka memiliki sejarah yang erat dan diturunkan dari generasi ke generasi. Klan Bing yang tersisa tidak lebih dari sepuluh orang. Sekarang hanya menyisakan lima setelah Bing Chen dan Bing Zhen tiada.
Istana Bulan Biru juga merupakan kediaman Klan Xue. Istana Bulan Biru juga memiliki hubungan erat dengan Pulau Salju Rembulan. Ada alasan mengapa kediaman Istana Bulan Biru sulit ditemukan dan mengapa Matriark Istana Bulan Biru tidak menerima Bing Chen dan Bing Zhen bersembunyi di kediaman mereka.
Matriark Istana Bulan Biru yang kini telah tiada merasa ada pengkhianat diantara Klan Bing. Demi mencegah kehancuran Istana Bulan Biru, Matriark Istana Bulan Biru menyuruh Bing Chen dan Bing Zhen pergi ke Pulau Salju Rembulan, tempat kerabat jauh mereka yang tinggal di Kekaisaran Jiang.
Kehancuran Gunung Es Utara ataupun Klan Bing berkaitan dengan Bangsa Iblis dan Sembilan Kekacauan Surgawi. Semenjak itu Istana Bulan Biru membuat perjanjian dengan Siluman Agung untuk menjaga dan menyembunyikan kediaman Istana Bulan Biru dari dunia luar.
Pegunungan Suxue memiliki iklim yang unik karena sepanjang tahun disana hanya ada satu musim yakni musim dingin. Badai salju sudah menjadi hal biasa bagi pendekar Istana Bulan Biru yang seluruh anggotanya adalah perempuan.
___
Pada puncak Pegunungan Suxue terdapat sebuah Kolam Petir yang dipenuhi dengan aura berwarna ungu dan emas.
Perempuan berparas cantik yang masih berumur sembilan belas tahun telah mengemban tugas berat menjadi Matriark Istana Bulan Biru demi menjaga salah satu harta pusaka dan kelangsungan hidup seluruh anggota Istana Bulan Biru.
Perempuan ini memiliki tubuh dan nadi khusus yang mewarisi ayah dan ibunya. Ibunya sendiri merupakan Matriark Istana Bulan Biru sebelum dirinya.
Perempuan ini sedang berendam di Kolam Petir tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya.
__ADS_1
Matanya terpejam menikmati sensasi aura yang memasuki pori-porinya. Beberapa saat, perempuan ini mendengar suara langkah kaki yang memasuki ruangan khususnya yang terdapat Kolam Petir.
“Murid memberi hormat kepada Guru...”
Gadis muda berumur dua belas tahun yang memakai gaun putih membungkuk. Parasnya cantik, wajahnya menyaingi kecantikan Matriark Istana Bulan Biru. Gadis ini datang bersama seniornya yang berumur empat belas tahun dan parasnya juga tidak kalah cantik dari keduanya.
“Yue‘er, Que‘er Apakah kalian sudah selesai berlatih. Yue‘er, sepertinya kau telah menembus pendekar kaisar... Dan Que‘er juga telah menembus pendekar putih. Selamat untuk kalian berdua...”
“Semua ini berkat bimbingan Guru...” Dua murid ini merasa bangga ketika perempuan cantik itu memuji mereka.
Perempuan ini membalikkan badannya, dan tidak menutupi tubuhnya didepan kedua murid kesayangannya. Wajah dan tubuhnya tidak memiliki kerutan sedikitpun, parasnya yang cantik dengan tubuh langsing dan memiliki daya tarik yang menggoda membuat kedua muridnya menatap lantai dengan wajah yang memerah.
“Maaf, ini kebiasaanku...” Perempuan ini memakai gaun putih untuk menutupi setiap lekuk tubuhnya sebelum duduk di tepi Kolam Petir dan menyalakan api dengan tangannya. Kulit putihnya sedikit memerah ketika api menyala di telapak tangannya.
Guru kedua murid ini bernama Xue Rong, Matriark Istana Bulan Biru termuda dan terjenius dalam sejarah dunia persilatan Kekaisaran Yin.
Gadis muda berumur dua belas tahun yang kecantikannya menyaingi Xue Rong duduk di samping perempuan cantik itu. Nama dari gadis muda ini adalah Xue Bingyue. Sementara seniornya bernama Xue Que.
“Que‘er, cepat atau lambat kau akan menembus pendekar suci. Kualitas otot dan tulangmu telah terbentuk. Pondasimu cukup matang, semenjak aku mengangkat Yue‘er menjadi muridku, kau semakin termotivasi. Aku bangga padamu...” Xue Rong mengambil sebuah peta dari Cincin Dewa dan memberikannya pada Xue Que.
“Guru, semua ini berkat bimbingan Guru. Murid berusaha yang terbaik agar menjadi contoh yang baik untuk junior...” Xue Que sedikit bergetar menjawabnya.
Tangannya menerima peta pemberian Xue Rong. Peta itu merupakan sebuah rute menuju Reruntuhan Kristal yang ada di Makam Ratu Kuno, Hutan Kegelapan.
“Guru, apakah murid dan junior akan pergi dari Pegunungan Suxue menjalankan tugas ini?” Xue Que menelan ludah. Bagaimanapun Makam Ratu Kuno adalah tempat terlarang.
Xue Rong menatap wajah Xue Que yang terkejut, kemudian dia mengalihkan pandangannya menatap Xue Bingyue yang menatap air kolam.
“Aku akan menemani kalian berdua. Lebih baik kita yang mengambil harta dan pusaka di Makam Ratu Kuno. Jangan sampai semua itu jatuh ke tangan yang salah. Aku akan menemani kalian berdua dan mengajak kalian berkelana melihat dunia luar...”
__ADS_1
“Murid berterimakasih kepada Guru...”
Xue Que dan Xue Bingyue memberi hormat, Xue Rong justru terlihat sedih menatap Xue Bingyue.
“Yue‘er, aku dengar dari Senior Qinghua, kau memiliki teman masa kecil bernama Jing Yang. Apakah kau dapat mengingatnya?” Xue Rong sesekali menanyakan hal ini, tetapi raut wajah Xue Bingyue tampak biasa.
“Guru, aku tidak mengenal orang bernama Jing Yang dan Senior Qinghua yang Guru maksud. Aku hanya ingat Guru mengasuh dan membesarkanku di Pegunungan Suxue...”
Jawaban Xue Bingyue membuat Xue Rong dan Xue Que sedih. Beberapa bulan sekali, wanita bertopeng putih datang bersama wanita bertopeng biru untuk menjenguk keadaan Xue Bingyue. Kondisi Xue Bingyue tidak terlalu memperhatikan, tetapi ingatannya telah tersegel karena tubuh dan kekuatannya mengalami pembangkitan.
“Yue‘er, sejak kau bergabung dengan Istana Bulan Biru, banyak jenius muda dan anak bangsawan tertarik padamu. Bahkan beberapa dari mereka mengirimkan surat padaku untuk diberikan padamu saat kompetisi bela diri dua tahun lalu.” Xue Rong menyuruh Xue Que mengambil gulungan surat lamaran yang ada di ruangannya.
Xue Que memberikan gulungan kepada Xue Bingyue. Berharap Xue Bingyue dapat mengingat kembali masa lalunya yang terkunci rapat.
Xue Bingyue membaca setiap surat lamaran. Namun itu tidak berlangsung lama karena dia sama sekali tidak memiliki ketertarikan pada lawan jenisnya dan langsung membekukan gulungan surat, lalu menghancurkannya dan memasukkannya ke dalam Kolam Petir.
“Aku telah berjanji akan menikah dengannya...” Sekilas Xue Bingyue mengingat wajah seorang pemuda yang sebaya dengannya sedang menarik tangannya. Dadanya sesak, namun apadaya ingatannya telah menghilang.
Butiran air mata membasahi pelupuk matanya. Xue Bingyue terkadang menangis tanpa sebab. Dadanya terasa menyakitkan karena ingatan lamanya telah tiada.
“Kenapa aku menangis... Maaf Guru, Kakak Que, aku menghancurkan gulungan surat itu...” Xue Bingyue menyeka air matanya karena tidak mengetahui alasan mengapa dirinya bisa menangis.
Xue Que yang merasa ingin mencairkan suasana, lalu menatap Xue Rong dan bertanya, “Guru, bukankah banyak laki-laki diluar sana yang melamarmu? Kenapa Guru menolak mereka semua?”
‘Ah, gawat aku mengatakannya...’ Xue Que menelan ludahnya. Dia melakukan ini demi menjaga suasana hati Xue Bingyue. Wajahnya memucat ketika raut wajah cantik Xue Rong berubah.
Xue Rong menatap tajam gadis berambut hitam keperakan yang bertanya padanya. Sementara gadis berambut hitam yang sedang menyeka air matanya tertawa lirih ketika gadis berambut hitam keperakan memegang tangannya.
“Yueyue, tolong Kakak Que...”
__ADS_1