
Terik matahari di Kota Xuedong membuat Shen An bersama Ye Xiaoya dan Jing Yang berhenti dan berkunjung di Penginapan Pondok Kelapa. Namun sesuatu yang mengejutkan terjadi. Dua minggu yang lalu penginapan itu telah ditutup.
Menurut penduduk yang rumahnya dekat dengan Penginapan Pondok Kelapa. Mereka melihat Chang Xuan bersama puluhan pendekar menutup penginapan tersebut dan membawa paksa pelayan menuju rumahnya, bahkan pelayan perempuan itu sampai hari ini belum kembali.
Kejadian itu sekitar dua minggu yang lalu. Tepat setelah Jing Yang meninggalkan Kota Xuedong. Shen An terlihat pucat pasi dan bergegas menuju kediaman Walikota Kota Xuedong bersama Jendral Besar Huan dan beberapa pasukannya.
Sementara itu Jing Yang dan Ye Xiaoya memulai menjalankan rencana untuk mencari keberadaan keluarga Shen Mi yang dikurung.
Jing Yang mengikuti Ye Xiaoya yang mengendap-endap menuju ruang bawah tanah kediaman Walikota Kota Xuedong. Sebuah pintu yang menuju ruang bawah tanah dijaga ketat puluhan pendekar dari Pulau Salju Rembulan.
Ye Xiaoya menyerang secara sembunyi-sembunyi dan membunuh mereka dengan sangat rapi. Tebasannya tidak mengelupas suara ayunan, membuktikan kemahirannya dalam menggunakan pedang. Sementara Jing Yang hanya mengikuti Ye Xiaoya dan menuruni tangga menuju ruang bawah tanah.
Namun kenyataan yang mengejutkan terjadi. Suara teriakan dari seorang perempuan. Tangisan serta erangan terdengar. Wajah Jing Yang memucat karena pernah mendengar suara tersebut. Dalam hatinya dia menebak-nebak, dan terkejut ketika melihat dua pelayan yang menyambutnya di Penginapan Pondok Kelapa telah dicambuk oleh Chang Xuan bersama pendekar yang memakai jubah merah.
“Yang‘er tutup matamu...” Ye Xiaoya menggigit bibir bawahnya ketika melihat salah satu perempuan dengan rambut yang diikat diperlakukan tidak senonoh oleh puluhan pendekar.
“Tarian Pedang Kematian : Kilat Pembelah Awan!”
Ye Xiaoya membunuh puluhan pendekar yang sedang menggumuli pelayan perempuan. Wajah Chang Xuan memucat ketika melihat aura pembunuh yang dikeluarkan oleh Ye Xiaoya.
“Kau! Jangan macam-macam denganku...” Chang Xuan lari keluar ruang bawah tanah namun Jing Yang menghadangnya.
“Katakan padaku, dimana pemilik Penginapan Pondok Kelapa?!” Jing Yang mengambil Pedang Gravitasi dan menatap tajam Chang Xuan.
Chang Xuan menatap Jing Yang dan berpikir jika pemuda didepannya tidak akan membunuhnya. Bahkan dia sampai lupa jika telah berurusan dengan Jing Yang dua minggu lalu di Penginapan Pondok Kelapa.
“Dia melarikan diri! Dua Minggu lalu, aku kesal karena mereka membiarkan anak liar menginap sehingga aku harus memberi pelajaran pada pelayan-pelayan ini!” Chang Xuan justru terlihat seperti orang yang berkuasa karena mengira Jing Yang tidak akan membunuhnya.
“Aku menyiksa mereka, aku mencambuk dan merengg—”Belum Chang Xuan menyelesaikan perkataannya, Jing Yang memotong tangan kiri dan tangan kanan Chang Xuan.
Roh Sang Hitam menghela napas panjang karena melihat sisi gelap Jing Yang. Pemuda itu akhirnya sadar jika tindakannya selama ini terlalu naif. Jati dirinya mulai terbentuk secara bertahap. Pemuda yang memiliki masa lalu kelam akhirnya berusaha melepaskan diri dari belenggu rantai yang mengekangnya.
__ADS_1
“Yang‘er, kau membunuh berdasarkan amarah. Apa kau sanggup membunuh orang-orang seperti mereka menurut kata hatimu bukan amarahmu?” Ye Xiaoya bertanya setelah menghabisi semua pendekar yang mengawal Chang Xuan.
Tubuh pendekar yang merupakan anggota Pasukan Salju Merah tergeletak di tanah dan tak bernyawa.
Dua pelayan yang Jing Yang kenal bunuh diri dengan pedang milik pendekar Pasukan Salju Merah. Mata Jing Yang terbelalak. Ini kesalahannya. Ini keraguannya. Hatinya berkecamuk. Dia menggertakkan giginya hingga saling bergesekan.
“Ini memang berat, aku sudah melihat ini berkali-kali...” Ye Xiaoya menghela napas panjang dan tersenyum pahit.
“Aku masih terlalu naif!” Jing Yang berteriak. Dalam sekali tebasan pedangnya, dia memotong kaki Chang Xuan.
“Argh! Tangan! Kakiku?!” Chang Xuan memucat wajahnya dan sangat ketakutan. Dalam satu kali tebasan. Jing Yang memotong kepala Chang Xuan dengan sangat rapi.
“Guru, tahun depan aku berniat mempermalukan Pulau Salju Rembulan di kompetisi aliran putih. Tetapi hari ini, aku ingin mereka mendapatkan balasannya! Jika perlu aku dengan kekuatanku yang sekarang akan membunuh Lin Song dan seluruh anggotanya!” Jing Yang menatap Roh Sang Hitam dan Ye Xiaoya.
“Sebagai gurumu, aku akan membantumu!” Roh Sang Hitam dan Ye Xiaoya menjawab bersamaan.
Tidak lama setelah mereka membunuh pendekar Pasukan Salju Merah dan Chang Xuan. Suara erangan terdengar. Suara tertahan, seperti ada sesuatu yang menutupi mulutnya.
“Hmmmpph!” Jing Yang mendengar suara orang yang disekap, begitu juga dengan Ye Xiaoya.
“Tolong kami!” Seorang perempuan dengan mulut yang disumpal langsung berteriak setelah Ye Xiaoya melepas kain penutup mulutnya.
“Ibu!” Sekarang gadis kecil yang parasnya hampir mirip seperti Shen Mi menangis.
“Terimakasih...” Shen Liu, ayah Shen Mi, menangis. Jing Yang menggertakkan giginya. Andai dia bertindak dua minggu yang lalu, maka mereka tidak akan menderita. Bahkan dua pelayan penginapan yang Jing Yang kenal serta pelayanan lainnya tidak akan berakhir tragis seperti ini.
“Mari ikut dengan kami...” Ye Xiaoya menjelaskan kepada Shen Liu tentang kedatangan Shen An bersama Jendral Besar Huan Chen.
Lantai di ruang bawah tanah berlumuran darah. Potongan tubuh bergelimpangan. Sekarang Jing Yang tidak peduli dengan semua itu. Kepala Chang Xuan dia pegang, sambil membawanya menuju rumah megah yang tak lain adalah kediaman Walikota Kota Xuedong.
Langkah kakinya dipenuhi melodi kesedihan yang bercampur dengan amarah yang bergejolak.
__ADS_1
___
Sementara itu di kediaman Walikota Kota Xuedong hal mengejutkan terjadi. Puluhan bawahan Jenderal Besar Huan Chen terbunuh dalam sekejap.
“Tuan Shen, Tuan Huan, jika kalian berdua mati disini. Maka ini akan menguntungkan Pangeran Jiang Feng. Lagipula beliau sudah mengantisipasi tindakan kalian.” Chang Feng tersenyum menyeringai, lalu meminum teh hangat sambil menatap rendah Shen An dan Jendral Besar Huan Chen. Kakinya dia taruh di meja dan mengarahkannya ke arah Shen An dan Jendral Besar Huan Chen.
Puluhan senjata tajam ditodongkan puluhan pendekar Pasukan Salju Merah pada Shen An dan Jendral Besar Huan Chen. Sehingga mereka berdua tidak dapat bergerak sembarangan. Untuk Jendral Besar Huan Chen sendiri baru mencapai pendekar raja, sehingga dia tidak ingin bertindak gegabah ketika ada dua orang yang tahapannya di atas dirinya.
Di dalam ruangan itu juga ada salah satu dari lima petinggi Organisasi Laba-Laba Hijau dan pendekar dari Pulau Salju Rembulan yang bernama Lin Chu.
“Mati diserang bandit. Itu mungkin akan menjadi berita hangat yang bagus.” Lin Chu menodongkan pedangnya pada leher Jendral Besar Huan Chen.
Setelah pembunuh bayaran dari Organisasi Laba-Laba Malam gagal membunuh Shen An, kini salah satu dari lima petingginya datang mengincar Shen An secara langsung.
Sedangkan orang yang bekerjasama dengan Lin Song adalah Pangeran Jiang Feng. Situasi ini diluar dugaan Shen An dan Jendral Besar Huan Chen karena masalah ini tidak akan bisa diselesaikan dengan baik-baik.
Namun pihak Chang Feng yang didukung Pangeran Jiang Feng dan Pulau Salju Rembulan juga tidak mengetahui keberadaan Ye Xiaoya dan Jing Yang.
“Ngomong-ngomong cucumu yang bernama Shen Mi itu sudah matang. Bahkan sangat matang. Aku akan membuatnya untuk mengandung anakku...” Chang Feng tersenyum sinis kepada Shen An.
“Dasar iblis! Kau sentuh Mi‘er, aku akan membunuhmu!” Shen An berteriak keras. Namun setelah pedang yang jaraknya sejengkal dari lehernya ditodongkan oleh Lin Chu, dalam sekejap Shen An berkeringat dingin dan wajahnya pucat pasi. Mulutnya terkunci rapat-rapat. Perlahan dia menelan ludahnya dengan detak jantung yang berpacu cepat.
“Jangan berteriak! Sekarang serahkan semua harta warisanmu! Kau sudah tidak ada harapan, Shen An!” Chang Feng dengan angkuh menginjak meja dan menatap tajam Shen An.
“Tanda tangani surat ini! Cepat!” Chang Feng membentak keras, menambahkan.
“Aku akan melepaskanmu dan keluargamu. Apa perlu aku menyuruh mereka membunuh anakmu?!” Chang Feng mengintimidasi Shen An, ancaman Chang Feng membuat Shen An terdiam seribu bahasa. Tidak lama setelah Chang Feng merasa rencananya berjalan sesuai rencana dari Pangeran Jiang Feng, dalam sekejap semua berubah.
“Aku sudah membunuh anakmu!” Suara teriakan Jing Yang terdengar, bersamaan dengan kepala Chang Xuan yang menggelinding di lantai.
Wajah Chang Feng langsung pucat pasi setelah melihat kepala anaknya terpenggal. Setelahnya asap berwarna putih menghalangi seluruh jarak pandang pendekar dan semua orang yang ada di dalam ruangan.
__ADS_1
“Ilusi Asap Putih!”
Ye Xiaoya tersenyum menyeringai dan menarik kedua pedangnya.