Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 257 - Pertempuran Rongma IV


__ADS_3

Menyadari kemampuan musuhnya, Jing Yang merapatkan giginya setelah dirinya berhasil membunuh seribu pasukan Kekaisaran Ma. Berbeda dengan dua hari sebelumnya, pasukan militer Kekaisaran Ma yang berjumlah sepuluh ribu ini memiliki kemampuan setara dengan Pendekar Putih atau Pendekar Hitam, sebagian dari mereka juga ada yang mencapai Pendekar Suci.


Berada ditengah-tengah lautan musuh membuat Jing Yang melepaskan sejumlah jurus dan membunuh setiap pasukan militer Kekaisaran Ma yang mempersingkat jarak dengannya.


Jing Yang sudah berlumuran darah dan dikepung dari segala arah. Bukan hanya memusatkan perhatiannya pada pasukan Kekaisaran Ma, Jing Yang juga berulang kali memperhatikan pertarungan disekitarnya.


“Aku harus cepat membunuh mereka semua...” Jing Yang memandang lautan musuh dan memasang kuda-kuda kokoh saat ribuan panah mengarah pada dirinya.


“Bukankah bocah itu monster? Bagaimana mungkin dia bisa tetap bertahan setelah mendapatkan luka dan membunuh seribu pasukan kita?!”


“Jangan takut! Kita menang jumlah! Lagipula dia hanya satu orang!”


“Jumlah tidak menjamin kemenangan! Hei, hei, bukankah dia berlari kearah kita?!”


Sejumlah pasukan Kekaisaran Ma terlihat hati-hati menyerang Jing Yang sebagian melarikan diri saat Jing Yang mendekati mereka. Tidak ada yang bisa lepas dari kedua tebasan pedang milik Jing Yang. Terlebih aura hitam pekat serta tekanan gravitasi terus-menerus memenuhi sekitarnya membuat pasukan Kekaisaran Ma kesulitan bergerak.


Jing Yang menebaskan pedangnya membunuh setiap pasukan Kekaisaran Ma yang jaraknya paling dekat dengan dirinya. Seperti tidak ada habisnya, satu demi satu orang berdatangan sambil melepaskan sejumlah serangan.


Jing Yang melepaskan tekanan gravitasi lebih besar dari sebelumnya lalu menancapkan pedangnya ditanah. Seketika tanah terangkat dan batu-batu besar berterbangan. Sekitar empat ratus pasukan Kekaisaran Ma berterbangan diudara karena tekanan gravitasi Jing Yang.


Jing Yang langsung menarik pedangnya sambil mengayunkan pedangnya dari bawah. Tubuh pasukan Kekaisaran Ma tercabik-cabik dan sebagian terkena hantaman tanah beserta batu-batu.


Kemampuan Jing Yang belum selesai sampai disitu saja. Sejumlah teknik pedang yang baru dia gunakan pada pertempuran ini, memukai medan pertempuran. Mengingat para Tetua Lentera Iblis Tunggal yakin jika dirinya tidak mampu menghadapi sepuluh ribu pasukan Kekaisaran Ma, Jing Yang menggunakan kesempatan ini untuk membunuh semuanya.


Fan Bao yang sebelumnya sempat meremehkan Jing Yang membelalakkan matanya mengetahui Jing Yang masih dapat bergerak dengan lincah terlebih setiap jurus yang dia lepaskan itu mengandung energi pedang dan tenaga dalam berjumlah besar.


Menyadari kemampuan Jing Yang tidak masuk akal, Fan Bao berniat menyerang Jing Yang saat lengah namun tentu saja Chu Yui tidak membiarkannya.


“Berhentilah bersikap menjadi seorang pecundang, Senior Fan! Aku tidak akan membiarkanmu menganggu pertempurannya!” Chu Yui melepaskan sejumlah serangan mulai dari pedang yang tercipta dari aura tubuhnya sampai pukulan dahsyat yang menghancurkan tanah.


Fan Bao mencakar tubuh Chu Yui tanpa ragu jika akan melukai tubuh wanita itu, namun Chu Yui mengantisipasi dan menangkis pergelangan tangan Fan Bao yang hendak mencakarnya sebelum memutarkan tubuhnya melakukan tendangan sapuan atas.


Fan Bao dalam posisi setengah kayang melompat kebelakang dan marah, “Benar-benar jalangg sialan!” Fan Bao melepaskan aura pembunuh lebih besar dari sebelumnya lalu menciptakan sejumlah burung-burung api yang berterbangan diudara.


Ada keanehan dalam burung-burung api yang diciptakan Fan Bao, Chu Yui melakukan hal yang sama. Dan saat salah satu burung api miliknya bertabrakan dengan milik burung api Fan Bao ledakan tercipta.


Fan Bao tertawa lantang, “Aku sarankan kau berlari menjauh dan bersembunyi, Chu Yui! Tidak ada yang bisa lari dari seranganku ini!”


‘Ini buruk! Kemampuannya jauh diatasku! Sejauh inikah perbedaan kita?! Aku selalu membicarakan balas dendam terhadap Tang Mu, tetapi kemampuanku ini sangatlah lemah!’ Chu Yui merapatkan giginya sambil berusaha bergerak sejauh mungkin menghindari burung-burung api yang diciptakan Fan Bao.


“Meledaklah-”


Mulut Fan Bao berhenti berbicara saat Mei Hua dan Qiao Xi melepaskan sebuah tebasan dari kejauhan yang tepat mengenai burung-burung api miliknya. Ledakan besar tercipta, Chu Yui berhasil menyelamatkan dirinya.


“Kalian berdua?!” Chu Yui terkejut dan menoleh kearah Mei Hua dan Qiao Xi.


“Bukankah kalian diperintahkan untuk membantu Yueyue?” Chu Yui berkata dan kembali menatap Fan Bao, tidak menurunkan kewaspadaannya sedikitpun.


Mei Hua sendiri tidak menyangka Xue Bingyue akan bertarung hebat dan seimbang melawan Kai Xuexuan. Xue Bingyue menyarankan dirinya dan Qiao Xi untuk membantu Chu Yui karena kemampuan lawan dari Chu Yui berada di tahap Pendekar Roh.


“Melawan Pendekar Roh... Aku tidak menyangka akan mendapatkan pengalaman secepat ini...” Mei Hua berkeringat dingin wajahnya saat merasakan aura pembunuh Fan Bao walaupun jarak antara dirinya dengan Fan Bao sudah jauh.


“Yueyue meminta kami untuk membantumu, Bibi Yui.” Mei Hua memejamkan matanya dan mengolah pernapasan untuk menenangkan dirinya.


“Hmm..." Chu Yui memperhatikan pertarungan Xue Bingyue dan benar apa adanya seperti yang dikatakan Mei Hua jika Xue Bingyue dapat mengimbangi pergerakan Kai Xuexuan.


‘Walaupun mereka membantuku, tetapi tidak akan banyak membantu. Kemampuannya itu sangat tidak wajar jika kalian telah berhadapan langsung dengan Pendekar Roh.’ Chu Yui dalam posisi sulit.


“Bibi Yui, aku sadar jika kami berdua akan membebanimu. Tetapi izinkan kami bertarung denganmu, kami ingin berguna.” Ini adalah pertempuran sebelum perang di Pulau Iblis Tengkorak. Baik Mei Hua dan Qiao Xi. Keduanya ingin mendapatkan pengalaman sebelum pertempuran besar nanti di Pulau Iblis Tengkorak.

__ADS_1


Chu Yui tersenyum lalu berkata, “Kalian berdua bisa membantuku. Serang Fan Bao dari kejauhan saat aku berusaha menahannya. Jangan sampai perhatianku teralihkan oleh tekniknya yang merepotkan.”


Chu Yui melepaskan aura tubuhnya lebih besar dari sebelumnya. Sebuah gaun berapi-api melapisi tubuhnya, sedangkan sebuah seruling tercipta dari api. Chu Yui tersenyum dingin kearah Fan Bao yang sudah melompat kearahnya.


“Akan kupertaruhkan semuanya! Kau akan berakhir disini, Senior Fan!” Chu Yui juga melompat kearah Fan Bao.


“Teknikmu itu merupakan teknik pendekar dari Istana Api Timur. Chu Yui, aku tidak akan membunuhmu jika kau bersedia kuhamili. Bukankah sangat disayangkan membiarkan ilmu Istana Api Timur binasa?” Perkataan Fan Bao penuh ejekan membuat Chu Yui naik pitam.


“Matilah, bajingann!” Chu Yui meniup serulingnya saat jarak keduanya mendekat.


Fan Bao mengerutkan keningnya dan memperhatikan dengan seksama permainan suling Chu Yui sebelum akhirnya kobaran api memenuhi udara. Kobaran api itu membentuk sebuah kepalan tangan berapi-api dan menyerang dirinya.


“Ini!” Fan Bao mendecakkan lidahnya dan menatap geram Chu Yui yang terlihat telah menggunakan kekuatannya, “Jika kau kelelahan, maka akan tidak mengasyikkan jika aku menodaimu! Aku menyukai teriakan dan erangan kesakitan perempuan!”


Fan Bao melepaskan pukulan pada tangan berapi-api yang menyerangnya. Diudara terjadi pertarungan hebat lainnya antara Fan Bao dan Chu Yui, kini seluruh langit diluar benteng Rongma dipenuhi pertarungan dahsyat.


Beruntung jarak Rongma dengan medan pertempuran cukup jauh. Bisa dilihat jelas jika kerusakan akibat pertempuran ini membuat wilayah pertempuran ini tercipta sebuah lubang yang semakin lama mirip dengan danau yang mengering.


“Tidak buruk juga! Hibur aku lebih jauh, Chu Yui!” Fan Bao terlihat santai menyambut serangan Chu Yui walaupun awalnya kesulitan.


Chu Yui mengumpat, “Dia sudah mulai bisa membaca dan terbiasa dengan seranganku! Jika pertarungan ini terus berlanjut hanya tinggal menunggu waktu sampai dia mengalahkanku!”


Chu Yui menoleh kebawah dan melihat Mei Hua dan Qiao Xi terkena serangan pertarungan lainnya dari Kong Taiha melawan Tao Qiaoli dan Hua Ying.


Berniat membantu, tetapi kondisi Chu Yui sendiri tidak kalah jauh dengan mereka. Bahkan bisa dibilang Chu Yui sudah dalam kondisi terdesak saat Fan Bao berhasil mematahkan jurus andalannya.


Chu Yui kembali memainkan serulingnya dan mengatur aliran nafasnya menjadi tenang, ‘Ini bukan waktunya mengkhawatirkan yang lain. Aku harus percaya pada kekuatan mereka.’


Fan Bao kembali mengerutkan keningnya, “Kali apa yang ingin kau lakukan, Chu Yui? Sudah aku katakan kau tidak akan bisa mengalahkanku!”


Fan Bao menyeringai sebelum meraung sangat keras mengalahkan suara seruling Chu Yui. Seketika seruling dan gaun api milik Chu Yui menghilang. Dalam waktu singkat Fan Bao sudah berada dihadapan Chu Yui.


“Aku akan melumpuhkan titik meridianmu. Aku jadi mengingat saat Patriark Ho membuat lumpuh anak Hua Minha. Tangisan dan teriakannya itu masih terngiang-ngiang didalam kepalaku. Apalagi ekspresinya yang seolah-olah menggambarkan bahwa masa depannya telah hancur-”


“Aku akan membunuhmu!” Chu Yui melepaskan sejumlah pukulan yang didasari emosi. Fan Bao menghindar dengan mudah dan memegang pergelangan tangan Chu Yui sebelum menendang perut perempuan itu.


“Haaaak!” Mulut Chu Yui memuntahkan darah segar dalam jumlah besar. Chu Yui hampir tidak sadarkan diri saat merasakan rasa sakit diperutnya akibat tendangan yang dilakukan Fan Bao pada dirinya.


“Sepertinya ini sudah berakhir. Aku akan melumpuhkan-”


Fan Bao hendak menjambak rambut Chu Yui, namun pergelangan tangannya ditahan seseorang. Bersamaan dengan itu ledakan besar terdengar begitu keras menggema dan yang lebih parah menghancurkan gerbang depan benteng Rongma.


Beruntung tidak ada korban jiwa disana. Ledakan itu tercipta akibat pertarungan antara Yong Xiang melawan Bai Xianlin dan Fan Ziwei.


“Kalian berdua sangat ceroboh! Kombinasi serangan kalian benar-benar merepotkanku, tetapi tenang saja setelah ini kalian akan menjadi wanitaku jadi tidak perlu repot-repot bertarung mati-matian seperti ini!” Yong Xiang menggunakan teknik yang sama dengan Fan Bao.


“Burung-burung sialan itu! Aku lengah karena mencoba menahannya dengan lilitan selendangku!” Bai Xianlin menoleh kebelakang dan menemukan dirinya dililit selendang menabrak rumah penduduk.


“Senior Xianlin, beruntung kau melindungi mereka semua termasuk kita. Jika tidak, maka kita tidak bisa melanjutkan pertempuran ini dan korban penduduk Rongma akan terkena imbasnya.” Fan Ziwei memperhatikan reruntuhan benteng yang berjatuhan diatas selendang.


“Adik Ziwei, ulurkan waktu untukku sebentar.” Bai Xianlin menatap Fan Ziwei sambil melepaskan aura tubuhnya kembali menggerakkan selendangnya.


Fan Ziwei menganggukkan kepalanya. Walaupun sudah diambang batas tetapi Fan Ziwei ingin mengerahkan segenap kemampuannya.


Sebelum Yong Xiang mendekati Rongma, Fan Ziwei melepaskan sejumlah tebasan dari kejauhan sebelum akhirnya tebasan pedangnya berbenturan dengan pukulan api Yong Xiang.


“Hahaha, apa kau berpikir bisa memotong kepalaku? Sepertinya kau tidak menyadari batas kemampuanmu!” Ujung kepalan tangan Yong Xiang memanas. Dan tak lama semburan layaknya semburan api dari mulut tercipta.


Mata Fan Ziwei terbelalak dan refleks menghindar. Serangan itu bisa saja membuat sebagian tubuhnya hangus terbakar. Saat Fan Ziwei sedang menjaga keseimbangannya karena menghindari serangan Yong Xiang sebuah pukulan berapi-api mengarah padanya.

__ADS_1


Yong Xiang menyeringai saat pukulannya mengenai tubuh Fan Ziwei. Tanpa ampun Fan Ziwei menerima pukulan tersebut sebelum akhirnya Yong Xiang melepaskan satu pukulan yang penuh dengan tenaga dalam pada wajah Fan Ziwei.


Sebuah selendang melilit tangannya yang hendak memukul wajah Fan Ziwei. Tubuh Fan Ziwei terhempas ketanah tidak sadarkan diri karena mendapatkan pukulan Yong Xiang yang bisa saja melumpuhkan tubuhnya dan membunuhnya.


“Sepertinya dia berhasil membunuh semua pasukan Ma... Adik Ziwei, kau sangat ceroboh. Aku memang mengatakan untuk mengulut waktu, tetapi kau membahayakan nyawamu.” Bai Xianlin memandang medan pertempuran yang banjir darah.


Pemandangan yang membuat Bai Xianlin berkeringat dingin adalah retakan serta lubang akibat pertarungan yang membentuk danau dipenuhi darah sepuluh ribu pasukan Kekaisaran Ma.


Mata Yong Xiang melebar saat mengetahui sepuluh ribu pasukan Kekaisaran Ma dibantai habis oleh Jing Yang.


“Satu membantai sepuluh ribu?! Ini tidak mungkin, bahkan aku sekalipun tidak akan sanggup membunuh setengahnya!” Yong Xiang menelan ludah dan memucat wajahnya.


“Jangan pernah berpikir untuk melarikan diri! Kalian semua akan mati disini!” Bai Xianlin berteriak lantang dan melepaskan aura tubuhnya.


Selendangnya bergerak kearah Yong Xiang dan melilit tubuhnya. Yong Xiang mampu melepaskan diri dan menatap geram Bai Xianlin.


“Kau! Apa kau berpikir bocah itu masih memiliki tenaga untuk menghadapi Saudara Fan? Setelah bertarung melawan sepuluh ribu pasukan dari Kekaisaran Ma, tentu saja kondisinya saat ini melemah!” Yong Xiang bergerak menuju Bai Xianlin dan menjentikkan jarinya.


Bai Xianlin melebar matanya saat melihat burung-burung api berterbangan. Bai Xianlin tersenyum kecut dan memanipulasi aura tubuhnya menciptakan selendang berwarna merah muda.


Selendang itu membungkuk burung-burung api yang diciptakan Yong Xiang sebelum ledakan besar kembali tercipta dilangit Rongma.


Yong Xiang menggunakan kesempatan itu untuk menyerang Bai Xianlin. Hanya satu pukulan saja, tubuh Bai Xianlin sudah terhempas jatuh kebawah dengan kecepatan tinggi.


Selendang-selendang berusaha melindungi tubuh Bai Xianlin yang hampir membentur tanah. Walaupun sudah meminimalisir dampak serangan Yong Xiang, tetap saja Bai Xianlin merasakan dampaknya.


Saat ini dirinya mendapat luka parah diperutnya, pukulan Yong Xiang benar-benar membuat titik-titik meridiannya merasakan panas.


“Ini sangat memalukan... Tetapi aku harus akui, sekarang diriku sudah tidak mampu melawannya...” Bai Xianlin tersenyum kecut dan menyadari batas kemampuannya.


___


Tingkatan Pendekar :


Pendekar Tingkat Satu


Pendekar Tingkat Dua


Pendekar Tingkat Tiga


Pendekar Tingkat Tinggi


Pendekar Ahli


Pendekar Raja


Pendekar Kaisar


Pendekar Putih/Hitam


Pendekar Suci


Pendekar Agung


Pendekar Bumi


Pendekar Langit


Pendekar Roh

__ADS_1


Pendekar Surgawi


Pendekar Dewa


__ADS_2