Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 232 - Tolong Menjauhlah Dariku


__ADS_3

Xue Lihua mengatakan pada Xue Bingyue agar gadis manis itu bersedia menggantikan dirinya menjabat sebagai Matriark Pulau Salju Rembulan. Mengingat latar belakang Xue Bingyue tentu saja gadis manis itu merupakan pewaris kursi kosong kepemimpinan Pulau Salju Rembulan.


Lagipula Xue Lihua sendiri sudah mengakui kekuatan Xue Bingyue. Memang ini merupakan beban besar, tetapi Xue Lihua akan menjabat sebagai penasehat Xue Bingyue jika gadis manis tersebut menerima tawaran posisi Matriark Pulau Salju Rembulan.


Xue Bingyue ingin menerima posisi itu, mengingat Jing Yang juga telah menjadi seorang Kaisar Jiang diusia muda. Setelah obrolan panjang, akhirnya Xue Bingyue menerima tawaran Xue Lihua untuk menjadi Matriark Pulau Salju Rembulan.


Mungkin Xue Bingyue merupakan pendekar termuda yang menjabat sebagai Matriark Sekte diusia yang begitu muda. Bukan hal mudah untuk menjadi Matriark Sekte, karena bagaimanapun semua itu membutuhkan pengakuan dari banyak pihak.


Sesampainya di Ibukota Huaran, Xue Lihua berniat kembali ke Pulau Salju Rembulan secepatnya. Namun Jing Yang menghentikannya, karena Jing Yang telah mengutus Fan Ziwei ke Pulau Salju Rembulan agar pendekar dari pulau tersebut bergabung dengan Lentera Naga Fajar.


“Yang‘er- Yang Mulia, banyak pendekar perempuan yang tidak memiliki kemampuan bertarung. Apa kau yakin membawa mereka semua kedalam medan pertempuran.”


Xue Lihua terkejut dengan perintah Jing Yang. Memang sekarang Jing Yang telah memiliki kedudukan yang tinggi, tetapi Xue Lihua tidak menyangka akan membungkuk dan bersikap sesopan mungkin kepada Jing Yang.


‘Aura kewibawaan ini? Yang‘er, kau sungguh luar biasa...’ Batin Xue Lihua kagum akan tatapan mata Jing Yang padanya.


Jing Yang tersenyum, “Senior Lihua, aku meminta bantuan pada pendekar Istana Bunga Persik dan Pulau Salju Rembulan untuk membuat stok pil pemulih aura dan tenaga dalam. Kita memerlukan banyak stok, selain itu aku tidak memaksa pendekar perempuan bergabung dalam perang ini.”


“Aku sadar diperang ini akan banyak yang mati. Tetapi aku berjanji akan melindungi sebanyak mungkin orang yang bisa kuselamatkan.” Jing Yang mengepalkan tangannya dengan erat. Setelah sejauh ini, dia merasa perasaan dendamnya hanyalah kebencian belaka.


“Untuk membalaskan dendam kematian orang tuaku. Pada akhirnya aku melibatkan banyak orang. Aku tidak dapat melindungi siapapun jika seperti ini.” Jing Yang mengusap wajahnya dan menghembuskan nafas panjang.


“Yangyang, semua orang terlibat karena mereka merasakan bahaya dari Pulau Iblis Tengkorak. Selain itu, semua orang akan bergabung ke pertempuran memiliki perasaan yang sama pada Pulau Iblis Tengkorak. Kita tidak bisa membiarkan orang-orang di pulau itu semakin berkuasa.” Xue Bingyue menanggapi ucapan Jing Yang.


Hanya Xue Bingyue saja yang berani memanggil Jing Yang dengan panggilan demikian bahkan saat di ruang singgasana dimana disana ada Murong Qiaomi, Yi Yue, Xue Lihua, Duan Zhaoyang, Feng Xian, Shui Jun dan Yan Tian.

__ADS_1


Selain itu disana juga ada beberapa pejabat istana yang dipilih langsung oleh Murong Qiaomi. Kepemimpinan Jing Yang membuat para pejabat korup tidak memiliki tempat di Istana Jiang, bahkan semuanya telah dihukum mati oleh Murong Qiaomi dan Yi Yue tanpa sepengetahuan Jing Yang.


“Yang Mulia, kami semua memikirkan hal yang sama. Jika kita membiarkan Pulau Iblis Tengkorak tetap ada, maka malapetaka akan selalu terjadi di Kekaisaran Jiang. Sama seperti yang dikatakan Yue‘er, kita tidak boleh membiarkan mereka semakin berkuasa.” Murong Qiaomi memberikan pendapatnya kepada Jing Yang.


“Aku mengerti, Bibi Qiaomi.” Jing Yang mengangkat tangan kanannya agar Murong Qiaomi berhenti bicara karena dirinya sudah paham akan ucapannya.


“Jadi kita akan membagi tiga regu dalam perang ini. Regu pertama adalah regu penyusup yang dipimpin Saudara Feng dan Saudara Zhaoyang. Regu kedua adalah regu penyerang, regu ini dipimpin oleh Kakek Yan dan Senior Liuyu. Regu ketiga adalah regu pertahanan, regu ini dipimpin oleh Senior Liwen dan Senior Ziwei.”


Jing Yang memperhatikan semua orang yang hadir di aula pertemuan walaupun disana tidak ada Murong Liuyu, Xue Liwen dan Fan Ziwei. Terlihat semuanya setuju dengan usulan Jing Yang, namun setelah beberapa saat hening akhirnya Yan Tian angkat bicara.


“Yang Mulia, maaf atas kelancanganku karena perkataanku ini. Apa Yang Mulia tidak keberatan jika berkunjung ke Sekte Pedang Langit. Ada yang ingin kakek tua ini bicarakan kepada Yang Mulia disana.” Yan Tian memberi hormat pada Jing Yang dan membungkuk, namun Jing Yang memberi isyarat agar tidak perlu membungkuk padanya.


Jing Yang mengerutkan keningnya, “Sekte Pedang Langit?” Semua orang di aula pertemuan penasaran dengan maksud Yan Tian. Karena bagaimanapun Yan Tian pernah menjadi jagoan sama seperti Sheng Long.


Di era kepemimpinan Jing Yang, Yan Tian kembali dan ini merupakan kejadian besar. Dengan Yan Tian, tentu saja menambah peluang kemenangan semakin besar.


“Baiklah, Kakek Yan. Setelah urusanku di Kota Xuedong selesai, aku akan berkunjung ke Sekte Pedang Tunggal. Kita masih mempunyai waktu sebelum Festival Api dimulai.” Jing Yang menatap semuanya dengan tajam dan menambahkan, “Kita masih memiliki waktu dua bulan. Gunakan waktu itu sebaik mungkin.”


Setelah pertemuan itu selesai Jing Yang dan Xue Bingyue berjalan menuju kamar pribadi Jing Yang. Disana Jing Yang menceritakan pertemuannya dengan Ye Xiaoya sampai kejadian di Menara Dewa, tentang dirinya yang membunuh kakek kandungnya sendiri.


Xue Bingyue terkejut mendengar cerita Jing Yang. Bagi Xue Bingyue sekarang dirinya bukanlah satu-satunya sosok perempuan yang menempati hati Jing Yang. Saat Jing Yang menceritakan sosok Ye Xiaoya, entah mengapa Jing Yang terlihat sangat mengenal Ye Xiaoya dan merasa bersalah atas kepergiannya.


Namun setelah Jing Yang menceritakan tentang kejadian di Menara Dewa, Xue Bingyue terkejut saat mengetahui kakek Jing Yang yang bernama Jing An membunuh neneknya yakni Xue Qinghua.


Jing An dikendalikan oleh Tang Mu dan berhasil membunuh Xue Qinghua. Walaupun itu bukanlah kesalahan Jing Yang ataupun Jing An yang jiwanya dikendalikan Tang Mu, namun Jing Yang merasa bersalah dan menanggung semuanya sendirian.

__ADS_1


Jing Yang mengakhiri nyawa kakeknya sendiri. Saat mengetahui itu, Xue Bingyue bisa merasakan kesedihan dan keputusasaan yang menghampiri Jing Yang, tanpa sadar Xue Bingyue memeluk tubuh Jing Yang dan menangis.


“Yangyang, terimakasih karena telah jujur padaku. Maaf, aku tidak tahu kau melewati semua itu. Mulai saat ini, aku tidak akan membiarkan kau menanggung semuanya sendirian.”


Jing Yang mengerti Xue Bingyue akan memaafkannya, tetapi semua ini bukanlah hal yang mudah. Jing Yang takut melukai Xue Bingyue dimasa depan, gadis manis sangat berarti baginya bahkan Jing Yang rela melakukan apapun demi kebahagiaan Xue Bingyue.


Jing Yang akhirnya menceritakan pada Xue Bingyue tentang kutukan dan kondisi tubuhnya. Ekspresi Xue Bingyue rumit mendengar semua ini. Namun Xue Bingyue bisa melihat dan mengerti jika Jing Yang akan meninggalkan wanita lain demi dirinya.


Disatu sisi Xue Bingyue ingin Jing Yang menjadi miliknya seutuhnya, disatu sisi Xue Bingyue tidak ingin kehilangan Jing Yang. Batin Xue Bingyue berkecamuk, namun Xue Bingyue ingin Jing Yang memutuskannya sendiri karena dia akan menerima keputusan dengan hati yang tulus.


“Yueyue...” Jing Yang mengelus kepala Xue Bingyue dan berkata lembut.


Xue Bingyue membenamkan kepalanya dibahu Jing Yang.


“Jika suatu hari aku bukanlah menjadi sosok yang kamu kenal, tolong menjaulah dariku. Aku tidak ingin menyakitimu.” Jing Yang berhenti mengelus kepala Xue Bingyue. Suasana keduanya sekarang tegang.


Xue Bingyue mendongak dan menatap Jing Yang tajam, “Apa maksudmu?” Yangyang, tentang kutukan itu. Kau tidak perlu mengkhawatirkan perasaanku. Kita memanglah masih bocah, tetapi aku yakin dirimu akan membahagiakan sosok Keluarga yang pernah kamu dambakan."


Jing Yang tersenyum, “Maaf, Yueyue. Lupakan perkataanku. Aku hanya ingin melihat semuanya bahagia. Tetapi berkat dirimu aku sadar, jika diriku ini berhak bahagia juga, terimakasih.”


Jing Yang berdiri dan tersenyum hangat pada Xue Bingyue sambil mengulurkan tangannya. Xue Bingyue menyambut uluran tangan itu dan menanyakan kepada Jing Yang tentang perasaan pemuda itu pada Xue Rong ataupun perempuan lainnya.


Dibalik pintu kamar pribadi Jing Yang, Murong Qiaomi mendengar semua pembicaraan barusan. Wanita dewasa itu menelan ludah tidak percaya karena Jing Yang telah melewati masa-masa sulit sendirian, terlebih ucapan Jing Yang sangat misterius seolah-olah pemuda itu bisa menebak masa depan.


‘Kaisar Kecil...'

__ADS_1


__ADS_2