Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
~ Arc 4 - Negeri Kabut Tersembunyi ~ DWP 166 : Kakak Beradik


__ADS_3

“Senior Rong, aku ingin hidup damai seperti dulu lagi. Aku terus berpikir untuk tetap hidup dan menjadikan Yueyue sebagai alasan. Setelah kehilangan kedua orang tuaku, berkali-kali aku merasa kalau kematian jauh lebih baik daripada harus merasakan semua ini...” Dalam perjalanan Jing Yang mengungkapkan perasaannya kepada Xue Rong. Perasaannya tentang dunia yang dia pandang selama ini.


Xue Rong memahami perasaan Jing Yang karena kedua orang tuanya juga telah lama mati. Tetapi dia tidak menyangka Jing Yang dapat melalui semua penderitaan hanya dengan melakukan kepura-puraan yang penuh akan kepalsuan. Hanya dengan membayangkannya saja membuat Xue Rong merasakan sakit.


“Aku juga pernah mencoba bunuh diri, tetapi setelah kupikir hidup ini hanya sekali. Jika aku mati, setidaknya aku mati dengan penuh kebahagiaan...” Xue Rong tersenyum tipis, dan itu membuat Jing Yang bergetar hatinya.


“Aku juga pernah berpikir seperti itu, aku tidak menyangka Senior Rong mempunyai pemikiran yang sama denganku. Apa Senior Rong tahu, jika aku ingin membuat sebuah keluarga seperti dulu. Saat kedua orang tuaku lengkap. Impianku mungkin terdengar konyol, tetapi aku menginginkan tempat untukku pulang...” Jing Yang tertawa lirih melepaskan kesedihannya.


Xue Rong memerah wajahnya mendengar perkataan Jing Yang. Pemuda ini baginya memang polos, bahkan ucapannya sekalipun terdengar alami.


Mulut Xue Rong terbuka, namun tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Hingga akhirnya setelah melakukan perjalanan selama dua hari, Xue Rong memakai kain penutup wajah dengan alasan untuk menyembunyikan wajahnya.


Jing Yang tidak memungkiri jika Xue Rong memiliki kecantikan tersendiri, bahkan baginya Xue Rong adalah seorang kakak yang menjadi tempat untuk mendengar keluh kesahnya.


“Junior Yang, apakah kita bisa menginap bersama? Aku ingin membuatkanmu makanan yang lezat. Bukankah kamu menginginkan sebuah keluarga?” Xue Rong berkata dengan wajahnya yang polos tertutupi kain putih. Gadis ini baru menyadari jika dirinya benar-benar terbuka saat bersama Jing Yang.


“Hmmm...” Jing Yang menganggukkan kepalanya tanpa berpikir panjang. Dan itu membuat wajah Xue Rong berseri. Lalu keduanya berjalan memasuki sebuah penginapan yang masih berada di salah satu kota Kekaisaran Yin.


Saat Xue Rong dan Jing Yang jalan berdampingan, para pelayan menganggap Jing Yang dan Xue Rong adalah kakak beradik.


Xue Rong memesan kamar pribadi dengan fasilitas lengkap layaknya sebuah rumah. Saat Jing Yang terus mengikutinya dari belakang dan berakhir dikamar miliknya, Xue Rong kebingungan karena ini baru pertama kalinya dia memasuki kamar bersama seorang laki-laki.


“Junior Yang, aku ingin mandi...” Xue Rong melepaskan pakaiannya secara perlahan, segera Jing Yang berjalan keluar kamar. Dari kejadian ini dia baru menyadari kecerobohan Xue Rong yang diceritakan Tetua Agung Istana Bulan Biru.

__ADS_1


Xue Rong akan sangat terbuka pada orang-orang yang telah dia percayai, bahkan Xue Rong baru menyadari kecerobohannya setelah melihat Jing Yang cepat-cepat keluar dari kamar.


‘Ini kebiasaanku... Aku kelepasan...’ Xue Rong menundukkan kepalanya dan berjalan pelan memasuki kamar mandi.


Diluar kamar Jing Yang menghela napas panjang, dia menyadari dirinya tidak dapat melawan semua beban dihatinya. Sosok Ye Xiaoya ataupun Xue Rong benar-benar menjadikan suntikan tersendiri dalam hidupnya.


“Seandainya tidak ada mereka berdua, aku tidak akan bisa memiliki kepercayaan diri untuk mengembalikan ingatanmu, Yueyue...” Jing Yang tersenyum tipis mengingat perjalanannya dengan Ye Xiaoya ataupun perjalanan yang sekarang sedang dia jalani bersama Xue Rong.


____


Saat malam tiba, Jing Yang sudah duduk manis menunggu masakan yang dibuat Xue Rong. Kamar yang dipesan Xue Rong memiliki dua ranjang sehingga keduanya bisa tidur terpisah.


Jing Yang sendiri hanya bersikap tenang dan santai melihat gerak-gerik Xue Rong. Dia memperhatikan Xue Rong yang menyiapkan makanan untuknya.


Jing Yang tersenyum penuh antusias, dia sendiri justru merasa bahagia karena melihat Xue Rong bekerja keras membuatkan masakan untuknya.


Jing Yang mencicipi sup hangat buatan Xue Rong, kemudian dia mengunyah potongan bawang merah yang digoreng dengan sempurna, tidak ada komentar yang keluar dari mulut Jing Yang selain senyuman khasnya yang tipis itu.


Xue Rong menutup mulutnya karena tidak menyangka masakannya sesuai dengan selera Jing Yang. Namun ada perasaan aneh dalam hatinya karena dirinya seperti seorang kakak yang sedang merawat adiknya.


Xue Rong tidak ingin kehilangan kenangannya saat ini, dia menikmati momen ini. Momen saat Jing Yang dan dirinya melakukan perjalanan bersama sebelum akhirnya dirinya kembali terkurung di hamparan pegunungan bersalju.


Xue Rong duduk manis disamping Jing Yang dan mulai makan bersama pemuda yang dia cintai itu. Ketenangan malam di ujung kota membuat Jing Yang dan Xue Rong menikmati suasana saat ini.

__ADS_1


Saat Jing Yang menyinggung hubungannya dengan Xue Rong yang bisa dibilang lebih condong pada hubungan dua kakak beradik, Xue Rong tertawa lirih karena bagaimanapun dirinya tidak keberatan jika Jing Yang menganggapnya sebagai seorang kakak.


Xue Rong juga menceritakan kisah hidupnya kepada Jing Yang. Mereka berdua saling memberi semangat dan saling mendukung satu sama lain. Jing Yang sendiri tidak memungkiri kelembutan tindakan Xue Rong membuatnya terbius, berbeda dengan sikap khas Ye Xiaoya yang terkesan arogan.


“Aku tidak menyangka Senior Rong dapat membuat makanan seperti ini. Perjalanan melelahkan ini menjadi seperti biasa setelah memakan sup hangat buatan Senior Rong...” Jing Yang menepuk perutnya pelan sebelum membantu Xue Rong mencuci piring dan mangkuk.


Xue Rong tersenyum mendengar perkataan Jing Yang. Dia merasa bahagia karena masakannya sesuai selera Jing Yang. Dari kejadian ini Xue Rong menyadari jika dilihat dari segi manapun Jing Yang masih butuh kasih sayang dan perhatian.


Hanya satu hal yang membuat Xue Rong merasa sedih karena Jing Yang tidak terbuka dengan perasaannya yang sesungguhnya. Jing Yang terlihat ingin memendam semuanya sendirian.


“Junior Yang, saat kamu menceritakan ingin merasakan kehangatan sebuah keluarga. Apakah itu benar-benar perasaan dari dalam hatimu? Dan kenapa kamu berkata lebih baik mati daripada menanggung semua ini?” Xue Rong bertanya, seketika ruangan kamar hening. Jing Yang menaruh mangkuk yang telah dia cuci dan menghela napas panjang.


Jing Yang menggigit bibir bawahnya dan tersenyum kecut, “Saat aku bertemu dengan perempuan bernama Ye Xiaoya, aku merasakan kenyamanan walau pikiranku ini terus mengkhawatirkan Yueyue. Saat aku mengetahui kebenaran tentang kondisi tubuhku maupun tubuhnya, aku baru menyadari harapan dan kebencian yang diperlihatkan ingatan ayahku ataupun Senior Xiaoya. Dunia ini sangat kejam untuk orang yang mengharapkan kedamaian sepertiku...”


Xue Rong mengangkat alisnya, dia sama sekali tidak memahami maksud dari perkataan Jing Yang. Yang dia tahu adalah tatapan mata Jing Yang yang berbeda dari biasanya.


“Aku bisa memikirkan masalah itu sambil memperkuat diriku ini. Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh siapapun orang yang ingin aku lindungi...” Jing Yang mengepalkan tangannya erat, “Aku harus secepatnya menjadi pendekar bumi agar dan membunuh keparat itu!”


“Junior Yang...” Xue Rong menggumam pelan saat mendengar bunyi jari Jing Yang.


Xue Rong mengetahui sosok Mao Gang dari cerita Xue Qinghua, dan dia menyadari Jing Yang juga memiliki sisi gelap yang baru pertama kali dia lihat.


Bagaimanapun Jing Yang tidak akan bebas sebelum membunuh Mao Gang, pemuda itu tidak akan bisa berdamai dengan masa lalunya sebelum orang yang menghancurkan kehidupannya dia pastikan mati ditangannya.

__ADS_1


Saat hari semakin malam, Jing Yang dan Xue Rong tertidur hampir bersamaan untuk menyambut pagi yang menjadi awal perjalanan baru mereka.


__ADS_2