
Setelah menginap selama sehari di Kota Shuyang, Jing Yang langsung mengantar Keluarga Liu Mengda dan Keluarga Ma Lizi ke Ibukota Huayin.
Setelah membunuh seratusan pendekar, aura pembunuh yang dimiliki Jing Yang semakin pekat, bahkan terasa mencekam dan menakutkan. Namun seiring berjalannya waktu dalam perjalanan, Jing Yang mengolah aura pembunuhnya menjadi Aura Raja Phoenix.
Aura Raja Phoenix dia ketahui dari ingatan Giok Phoenix serta ingatan Xue Rong. Gadis dari Istana Bulan Biru itu menjelaskan tentang Dewa Phoenix dalam perjalanan.
Xue Rong semakin menyadari bahwa perasaannya ini semakin menguat saat terus-menerus bersama Jing Yang, ‘Dia lebih muda dariku tujuh tahun. Kenapa aku bisa menyukainya?’
Jing Yang dan Xue Bingyue berjalan bersama Ma Chenba dan Liu Jimeng. Melihat dua bocah yang terlihat akrab, Xue Bingyue merasakan kehangatan. Dalam hati dia bertanya-tanya karena merasa dirinya pernah mengalami masa lalu yang sama seperti dua bocah itu.
“Ada apa?” Jing Yang memegang topeng rubah putih dan menatap Xue Bingyue yang terlihat sedih.
“Melihat mereka berdua, aku mengingat masa laluku. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya, setiap berada didekatmu... Aku merasa menemukan jati diriku dan kepingan masa laluku...”
Xue Bingyue berbicara mengatakan semua itu dengan wajah yang terlihat sendu, Jing Yang menggenggam tangan Xue Bingyue dengan lembut.
“Jangan terlalu dipikirkan. Aku lebih menyukai kamu yang ceria, dibandingkan yang murung...” Jing Yang merah padam wajahnya mengatakan itu karena Xue Que berbisik di telinganya.
“Wah, dia mengatakannya...” Xue Que langsung mundur secara perlahan dan menahan tawanya, sementara Xue Rong tersenyum.
“Rubah putih, aku tidak menyangka kamu akan mengatakan hal seperti itu...” Xue Bingyue tertawa lirih dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
Ma Chenba dan Liu Jimeng yang berpegangan tangan justru berseri-seri wajahnya.
“Kakak Jing Yang, ajarkan aku berbicara seperti tadi...” Ma Chenba dengan polosnya memegang jubah Jing Yang.
__ADS_1
“Adik Chenba, suatu saat kamu bisa mengatakan hal seperti itu. Saat ini kamu harus melindungi Adik Jimeng...” Jing Yang berbisik pelan dan Ma Chenba menganggukkan kepalanya.
“Aku akan menjaga dan melindungi Mengmeng!” Ma Chenba mengatakan ini dengan polosnya, “Terimakasih Kakak Jing Yang!”
Liu Mengda dan Ma Lizi tertawa pelan melihat tingkah manis anak mereka, perhatian mereka sekeluarga justru menatap Jing Yang dan Xue Bingyue yang terlihat begitu dekat.
___
Beberapa hari telah berlalu sejak rombongan Jing Yang meninggalkan Kota Shuyang menuju Ibukota Huayin. Dalam perjalanan terkadang mereka jalan kaki ketika Jing Yang sedang mengisi aura tubuhnya dan tenaga dalamnya.
Setelah itu, barulah Jing Yang menggunakan kekuatan gravitasi dan Ilmu Pedang Terbang menuju Ibukota Huayin.
Dalam perjalanan Ma Chenba dan Liu Jimeng selalu meminta untuk diajari bela diri oleh Jing Yang, tetapi Jing Yang menolaknya dengan lembut.
“Kakak Jing Yang, ajarkan aku! Aku ingin melindungi Mengmeng!” Sekarang Ma Chenba yang mengiba.
Jing Yang berkali-kali menghela napas panjang, hingga akhirnya dia melatih latihan dasar pada dua bocah itu. Jing Yang melatih Ma Chenba dan Liu Jimeng ketika mereka sedang singgah dalam perjalanan untuk beristirahat.
Daratan Kekaisaran Yin, kurang lebih sama dengan Kekaisaran Jiang. Namun satu yang berbeda karena Kekaisaran Yin tidak mengalami perebutan tahta seperti di Kekaisaran Jiang.
Bahkan kabar kudeta Jiang Feng dan Jiang Nian telah tersebar ke Kekaisaran Yin. Menurut kabar yang beredar tentang pewaris tahta Kekaisaran Jiang juga menjadi perbincangan hangat di kalangan keluarga bangsawan. Mengingat pemuda itu masih berumur dua belas tahun.
Yin Yiyao yang menjelaskan hal tersebut juga merasa dunia persilatan di Kekaisaran Jiang masih jauh dari kata damai, bahkan Kekaisaran Yin saja cepat atau lambat akan mengalami perang dingin dengan Kekaisaran Ma.
Jing Yang mengeluarkan lencana lambang bahwa dirinya merupakan pewaris tahta Kekaisaran Jiang. Seketika raut wajah, Liu Mengda, Yin Yiyao, Ma Lizi dan Guan Yu terkejut. Napas mereka tertahan karena bagaimanapun mereka tidak menyangka pewaris tahta yang dirumorkan hanya seorang bocah ternyata adalah Jing Yang.
__ADS_1
“Margaku Jing karena aku ikut mendiang ayahku...” Jing Yang berkata singkat.
Setelah berbincang lama, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju Ibukota Huayin. Makanan yang disimpan Jing Yang dalam Cincin Dewa menjadi santapan mewah karena bagaimanapun Daging Hewan Buas yang mereka bunuh di Hutan Kegelapan mempunyai khasiat yang penting bagi tubuh.
Satu hal yang mengejutkan terjadi dalam perjalanan karena mereka singgah di suatu desa yang diserang gerombolan Binatang Iblis. Pemandangan ini membuat Jing Yang mengernyitkan keningnya.
“Partai Hewan Buas?” Jing Yang memegang topeng rubah putihnya sambil menajamkan matanya menatap gerombolan Binatang Iblis sebelum terjun ke bawah.
Xue Bingyue ikut melompat, dan membuat Jing Yang mau tidak mau harus menggendongnya.
Xue Rong menggelengkan kepalanya pelan, “Yueyue terlihat lebih bebas ketika bersama Junior Yang. Bahkan aku merasa dia akan menjadi laki-laki yang hebat di masa depan...”
Setelah berkata demikian, Xue Rong melayang di udara sambil melepaskan aura tubuhnya. Butiran salju-salju disekitarnya saat Xue Rong layaknya hujan deras ketika gadis ini semakin dekat dengan tanah.
“Daun Salju Berguguran!”
Xue Rong segera menghabisi Binatang Iblis yang mengacau di tempat permukiman desa, sementara Jing Yang dan Xue Bingyue juga telah melakukan pergerakan bersama.
“Seni Napas Dewa Naga Api!”
“Seni Napas Dewi Naga Es!”
Jing Yang dan Xue Bingyue sama-sama mengolah pernapasan, kemudian mereka melepaskan tebasan menyilang hampir bersamaan.
Pusaran api dan tebasan sabit dipenuhi hawa dingin memotong tubuh Binatang Iblis Tahap Raja. Tidak butuh waktu lama bagi Jing Yang, Xue Bingyue dan Xue Rong menghabisi gerombolan Binatang Iblis Tahap Raja yang mengamuk di permukiman desa.
__ADS_1