Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 168 : Aku Pasti Akan Menepatinya


__ADS_3

Seorang perempuan bertopeng putih menatap tajam Xue Rong dan Jing Yang dari balik topengnya, “Apa yang kalian berdua lakukan di tempat ini?!”


Xue Rong berbisik lembut pada Jing Yang yang memperhatikan perempuan bertopeng putih, “Junior Yang, dia adalah Senior Qinghua, nenek dari Yueyue. Orang yang pernah aku ceritakan.”


Mata Jing Yang melebar, “Nenek!” Tubuhnya mendadak lemas karena bagaimanapun Xue Qinghua sudah dia anggap sebagai neneknya sendiri.


“Salju Dendam, sepertinya pemuda ini sudah mengetahuinya. Lebih kau jelaskan padanya tentang dirimu. Dan alasan mengapa dirimu bergabung dengan Pelangi Dosa.” Perempuan bertopeng biru berkata sambil memperhatikan Salju Dendam yang berulang kali menghela napas panjang.


“Ini bukan hal yang mudah, Selendang Nafsu. karena bagaimanapun diriku ini terlalu berdosa dan tak pantas dia kenal kembali.” Salju Dendam menjawab diiringi senyuman kecut yang menghiasi wajahnya.


Selendang Nafsu menggelengkan kepalanya pelan, ”Kau terlalu pesimis. Dan kau harus ingat, pendekar aliran hitam dan semua penguasa serakah yang kita bunuh selama beberapa tahun ini adalah tindakan yang benar. Aku sendiri masih belum cukup puas sebelum menghabisi orang bernama Jiang Feng.”


Jing Yang dan Xue Rong samar-samar mendengar obrolan Salju Dendam dan Selendang Nafsu, tak lama Jing Yang melangkahkan kakinya mendekati Salju Dendam namun kedua kakinya dibekukan.


“Kenapa kau kasar sekali pada pemuda ini!” Selendang Nafsu setengah berteriak melihat Salju Dendam membekukan kedua kaki Jing Yang, “Tunggu sebentar, pemuda ini semakin tampan selain itu mengapa dia datang ke Negeri Kabut Tersembunyi bersama Matriark Istana Bulan Biru yang terkenal akan kecantikannya di Kekaisaran Yin?”


Jing Yang menatap tajam Selendang Nafsu yang berjalan mendekatinya, ‘Mengapa Nenek tidak mau bertemu denganku?’


“Jing Yang, dimana perempuan seksi yang pernah bersamamu saat dimalam itu?” Selendang Nafsu menyinggung Ye Xiaoya, tetapi Jing Yang hanya diam dan merapatkan giginya.


“Wah, aku baru ingat jika kita berdua kembali bertemu aku akan membunuhmu. Tetapi aku tidak menyangka kita bertemu secepat ini.” Saat Selendang Nafsu terkekeh pelan, Xue Rong mencairkan es yang membekukan kaki Jing Yang.


“Senior Qinghua mengapa anda menyerang Junior Yang?” Xue Rong berdiri didepan Jing Yang dan dan melepaskan hawa dingin pada Salju Dendam dan Selendang Nafsu.


“Ah, menyebalkan. Aku tidak menyangka gadis sedingin es hatinya mencair karena pemuda ini...” Selendang Nafsu justru menggelengkan kepalanya karena melihat Xue Rong yang terlihat sangat mempedulikan Jing Yang.


Salju Dendam membuka topengnya dan memperlihatkan wajahnya kepada Jing Yang, “Yang‘er, satu hal jika kau ingin mengembalikan hari-hari hangatmu seperti dulu, semuanya sudah tidak bisa dikembalikan lagi, tidak akan pernah... Sampai kapanpun itu.”


Jing Yang menahan tangisannya melihat wajah Salju Dendam. Perempuan bertopeng putih ini tak lain adalah Xue Qinghua.


“Dan jika kau berniat mengembalikan ingatan Yueyue, kau harus mencapai pendekar bumi terlebih dahulu. Aku yakin kau bisa melakukannya. Jika telah menjadi seorang pendekar bumi temui aku disini.” Xue Qinghua memberikan sebuah denah lokasi yang mengarah ke suatu tempat kepada Jing Yang.

__ADS_1


“Selendang Nafsu kita pergi...” Setelah berkata demikian dan mengakhiri pembicaraan, Xue Qinghua pergi meninggalkan Jing Yang dan Xue Rong.


“Sampai berjumlah lagi. Semoga kelak kau menjadi lelaki yang hebat, Jing Yang.” Suara Selendang Nafsu membuat tubuh Xue Rong bergetar, tak lama perempuan bertopeng putih ini pergi mengikuti Xue Qinghua.


“Junior Yang, sepertinya perempuan yang dipanggil Selendang Nafsu itu menyukaimu?” Xue Rong melihat wajah Jing Yang yang memandang denah lokasi.


Jing Yang tidak menjawab perkataan Xue Rong, dan lebih memilih untuk melanjutkan tidurnya, “Senior Rong, aku tidur dulu. Nenek pasti ingin aku bertambah kuat karena dia menyadari sesuatu. Dan semua ini pasti demi kebaikanku...”


Xue Rong tersenyum melihat Jing Yang masih baik-baik saja, Matriark Istana Bulan Biru ini sempat mengira Jing Yang akan merasa sedih ataupun terpukul setelah kejadian malam ini tetapi pemuda itu tetap terlihat baik.


____


Suara kicauan burung yang hangat menyambut kedatangan pagi setelah melalui malam yang dingin.


Jing Yang membuka matanya secara perlahan karena merasa ada sesuatu yang kenyal mengenai pipinya. Bahkan sentuhan kulit yang begitu lembut bersentuhan langsung dengan kulitnya membuat tubuhnya merasakan kehangatan yang membuat jantungnya berdetak kencang.


Saat membuka matanya alangkah terkejutnya Jing Yang karena Xue Rong mengigau dan memeluk tubuhnya dengan begitu erat.


Jing Yang mencium harum wangi bau badan Xue Rong, pikirannya terasa pusing saat rambut Xue Rong yang halus mengenai wajahnya.


Sesaat setelah Jing Yang kembali tidur terlelap, barulah Xue Rong terbangun pelan-pelan. Gadis ini menjadikan Jing Yang guling malamnya.


“Hah?” Xue Rong terkejut karena dirinya memeluk Jing Yang bahkan membenamkan wajah Jing Yang kedadanya.


Cepat-cepat Xue Rong melepaskan pelukan dan duduk sambil memperhatikan wajah Jing Yang, ‘Kenapa aku bisa seceroboh ini? Ini sangat memalukan!’


Bagi setiap laki-laki mungkin jika mereka mengalami hal yang sama dengan Jing Yang akan merasa menjadi manusia paling beruntung dalam hidupnya. Xue Rong sendiri memiliki tubuh yang ideal dan menjadi idaman setiap perempuan, dan tentunya banyak laki-laki diluar sana yang ingin berharap bisa memilikinya.


Tetapi jika semua laki-laki yang memiliki perasaan kepada Xue Rong di Kekaisaran Yin mengetahui kejadian ini, mungkin mereka akan membunuh Jing Yang.


Jing Yang sendiri secara mental belum siap, hanya saja pemuda itu juga merasa malu saat bersentuhan dengan perempuan apalagi berpelukan.

__ADS_1


“Junior Yang?” Xue Rong menggoyangkan tubuh Jing Yang, namun pemuda ini terlihat kelelahan. Hanya saja Xue Rong memperhatikan wajah Jing Yang penuh makna yang sedikit memerah.


Xue Rong tersenyum tipis dan berjalan pelan menuju sungai untuk membasuh wajah sekaligus tubuhnya. Kemudian bergegas membuat sarapan pagi untuk dirinya dan Jing Yang.


Dua jam setelah Xue Rong terbangun, barulah Jing Yang kembali terbangun dan menatap Xue Rong yang sedang menyiapkan beberapa daging bakar yang terlihat begitu lezat.


“Senior Rong, kepalaku pusing...” Jing Yang mengucek matanya dan berjalan menuju sungai.


“I-iya...” Xue Rong gugup karena merasa malu mengingat dirinya yang menjadikan Jing Yang sebagai guling. Namun saat melihat ekspresi Jing Yang yang baru tidur, Xue Rong tidak bisa menahan tawanya.


Setelah membasuh wajahnya dan mandi pagi di sungai, Jing Yang duduk disamping Xue Rong. Kemudian mereka berdua menikmati sarapan pagi seadanya.


Xue Rong tidak berani menatap wajah Jing Yang, begitu juga dengan sebaliknya. Saat makan Jing Yang berulang kali menggelengkan kepalanya dan menyentuh pipinya dengan tangan gemetaran.


“Junior Yang, apa daging bakar buatanku tidak enak?” Xue Rong berpikir jika Jing Yang tidak menyukai daging bakar buatannya.


“Ya!” Tubuh Jing Yang gemetaran, bahkan suaranya ikut bergetar saat melihat wajah Xue Rong.


“Senior Rong, daging ini lezat. Lihat, bahkan aku menghabiskannya...” Jing Yang melanjutkan perkataannya sambil mencoba menenangkan dirinya.


Xue Rong tersenyum lembut, kemudian memberikan minuman kepada Jing Yang. Lalu keduanya mengobrol singkat sebelum akhirnya Jing Yang mengatakan niatnya untuk menjadi seorang pendekar bumi.


“Tetapi ini membutuhkan waktu yang lama. Selain itu, bukankah empat bulan lagi umurmu akan bertambah. Mungkin...” Xue Rong sendiri ingin mendukung jalan yang diambil Jing Yang, tetapi gadis ini merasa tidak bisa meninggalkan Istana Bulan Biru terlalu lama.


“Senior Rong, aku hanya butuh waktu satu tahun...” Jing Yang berkata sambil menatap wajah Xue Rong yang bimbang, “Jika Senior Rong ingin kembali ke Istana Bulan Biru, aku akan pergi mengantar. Dan soal janji itu...”


Wajah Jing Yang memerah, “Aku pasti akan menepatinya.”


Mata Xue Rong melebar melihat sikap manis Jing Yang, gadis ini tersenyum cerah dan menatap wajah Jing Yang yang terlihat menggemaskan, “Junior Yang, aku akan menemanimu sampai kita berdua dapat mengembangkan ingatan Yueyue.”


Setelah Xue Rong berkata demikian, tubuh Jing Yang terhuyung. Xue Rong menahannya dan berkata, “Apa kamu sakit?”

__ADS_1


Jing Yang menggelengkan kepalanya pelan, “Aku tidak sakit, hanya saja kepalaku terasa pusing.”


Jing Yang tidak sanggup memikirkan hal-hal yang manis, sehingga secara tidak sadar pemuda ini bisa mengerti tentang perasaannya sendiri dan orang-orang disekitarnya. Hanya saja, butuh waktu lama bagi Jing Yang untuk memahaminya.


__ADS_2