
Kedatangan Xue Bingyue membuat Jing Yang tersadar akan lamunannya. Jing Yang mengatakan kepada Xue Bingyue jika dirinya memiliki tujuan lain selain menghabisi Pulau Iblis Tengkorak. Untuk melaksanakan tujuannya yang lain, Jing Yang membutuhkan keberanian besar karena semua ini bersangkutan dengan energi kehidupan manusia.
“Yangyang, apa maksudmu kau akan melakukan sebuah teknik terlarang?” Xue Bingyue tidak memahami maksud ucapan Jing Yang.
“Kurang lebih seperti itu. Aku berniat membangkitkan Roh Pedang Yue Wang dan Lingling dengan mengorbankan seribu nyawa manusia. Menurutku di pertempuran nanti, aku bisa melakukan itu.” Jing Yang mengatakan itu penuh percaya diri sebelum tersenyum, “Tetapi untuk melakukan itu, aku membutuhkan keberanian yang besar.”
Xue Bingyue baru mendengar teknik yang dibicarakan Jing Yang. Bahkan Shen Mi yang mendengar obrolan tersebut merasa takut karena membayangkan Jing Yang membunuh dua ribu orang hanya untuk membangkitkan Roh Pedang Yue Wang dan Lingling.
Syarat pertama membuat Jing Yang merasa yakin, namun setelah Roh Pedang Yue Wang dan Lingling bangkit, Jing Yang juga harus melakukan hal yang sama jika ingin mendapatkan bantuan kekuatan dari dua Roh Pedang tersebut.
Nyawa manusia adalah makanan kedua Roh Pedang. Entah apa yang membuat Jing Yang berpikiran seperti ini, tetapi setelah mengetahui Tiga Tengkorak Abadi, Jing Yang merasa jika dirinya harus melakukan sesuatu untuk melindungi semuanya.
Bukan perkara mudah menanggung beban besar dipundaknya, Jing Yang selalu berpikir terlalu keras dan ingin mengatasi semuanya sendirian. Dan pikiran keras itu membuat Jing Yang selalu mengatakan apa yang ada dipikirannya tanpa sadar kepada orang yang mendapatkan kepercayaannya.
“Yangyang, aku berpikir jika kau mulai bisa mengandalkanku. Tetapi aku salah, kau tidak mempercayai siapapun termasuk diriku.” Xue Bingyue kesal dan menatap marah Jing Yang.
“Yueyue, maaf...” Jing Yang menyadari kesalahannya, dia tersenyum canggung sebelum akhirnya meminta maaf kepada Xue Bingyue.
Xue Bingyue hanya tersenyum melihat tingkah Jing Yang. Dia sadar Jing Yang telah melalui penderitaan yang lebih besar darinya. Dia sadar pemuda itu mengatakan semua itu karena ingin melindungi dirinya dan orang-orang terdekatnya.
“Walaupun kau melakukan semua itu untuk melindungi semuanya, tetapi kau harus ingat satu hal Yangyang jika kami semua ada disampingmu dan kau tidak sendirian.” Xue Bingyue menegaskan agar Jing Yang tidak selalu berpikir negatif.
Jing Yang menganggukkan kepalanya tanda dia mengerti, tak lama dia memberikan waktu pada Xue Bingyue dan Shen Mi untuk mengobrol berdua saat dirinya melihat Xue Lihua menuju Tebing Kesepian.
“Yueyue, Shen Mi, aku akan berbicara dengan Senior Lihua sebentar. Aku akan membujuknya agar tidak ikut dalam pertempuran.” Tidak menunggu sampai Xue Bingyue ataupun Shen Mi menjawab, Jing Yang sudah bergerak menuju tempat keberadaan Xue Lihua meninggalkan Xue Bingyue dan Shen Mi yang mematung karena tidak sempat berbicara.
Xue Bingyue dan Shen Mi saling menatap satu sama lain. Keduanya terlihat bingung harus bersikap apa setelah kepergian Jing Yang.
‘Suasananya mendadak canggung...’ Shen Mi menghela nafas panjang dan tersenyum hangat kearah Xue Bingyue sebelum menyapa gadis manis itu.
“Bukankah kita sudah saling mengenal?” Shen Mi memulai obrolan dengan Xue Bingyue untuk menghilangkan suasana canggung diantara keduanya.
“Bagaimana aku memanggilmu?” Xue Bingyue bertanya karena Shen Mi lebih tua darinya. Selain itu Xue Bingyue sudah mendengar tentang jasa pengorbanan Shen Mi kepada Jing Yang karena mengurus Rumah Lima Warna dan mewujudkan mimpi kecil Jing Yang.
Selain itu Menara Harta Naga yang dibentuk Shen Mi berkembang dengan pesat. Jika bukan karena perkembangan Pulau Iblis Tengkorak, Menara Harta Naga akan memperluas jangkauannya ke luar negeri selain Kekaisaran Jiang.
“Nona Yue, kau bisa memanggilku Shen Mi.” Shen Mi menjawab sambil tersenyum manis menatap salju-salju yang berjatuhan disekelilingnya.
“Nona Yue?” Xue Bingyue menyahuti sambil memegang dagunya, kemudian dia tersenyum manis setelah terlihat berpikir untuk sesaat, “Kakak Mimi, aku akan memanggilmu dengan sebutan itu. Lagipula kau lebih tua dariku. Kau bisa memanggilku Yueyue jika kau mau.”
__ADS_1
Shen Mi terkejut dengan sikap Xue Bingyue yang menurutnya berbeda dari yang dia pikirkan sebelumnya. Shen Mi sempat mengira Xue Bingyue merupakan tipe orang yang sulit didekati dan dingin, namun berbeda dengan apa yang dia lihat didepannya sekarang.
“Baiklah, aku akan memanggilmu Yueyue, apa boleh?” Shen Mi kembali melempar pertanyaan dijawab anggukan kepala antusias dari Xue Bingyue.
Keduanya terdiam lama memandangi salju-salju yang berjatuhan disekitar mereka. Setelah memanggil nama masing-masing, keduanya terdiam dan tidak ada yang memulai obrolan.
Xue Bingyue sendiri bisa mengetahui jelas perasaan Shen Mi kepada Jing Yang. Mungkin karena ulah Xue Que yang selalu bercerita tentang cinta dan kisah-kisah romansa, Xue Bingyue dapat berpikir demikian.
‘Sebaiknya aku bertanya untuk memastikan...’ Xue Bingyue membatin setelah memperhatikan Shen Mi untuk sesaat.
“Kakak Mimi.” Xue Bingyue menyebut nama Shen Mi sambil menoleh kearah Shen Mi memperhatikan gadis muda itu yang sedang menyibakkan rambutnya kebelakang.
“Ada apa Yueyue?” sahut Shen Mi.
Xue Bingyue tidak segera bertanya namun dia berjalan kearah bunga-bunga yang tumbuh disekitar Tebing Kesepian. Bunga-bunga yang bermekaran di musim dingin ini merupakan sumber daya Pulau Salju Rembulan.
Dahulu kudeta yang dilakukan Lin Song masih teringat jelas dibenak Xue Bingyue. Bunga-bunga yang bermekaran serta berjatuhan disaat yang bersamaan itu membuat pikiran Xue Bingyue kembali ke masa lalu.
“Kakak Mimi, apakah kau memiliki perasaan kepada Yangyang?” Xue Bingyue buka suara setelah terdiam lama, “Aku menginginkan jawaban yang jujur darimu. Tidak usah ragu, katakan yang sejujurnya.”
“Jika aku menjawab iya, apakah kah akan marah padaku, Yueyue?” Shen Mi memasang ekspresi serius saat menjawab pertanyaan Xue Bingyue barusan.
Senyuman Xue Bingyue memudar dan memasang ekspresi serius sama halnya dengan Shen Mi. Kini keduanya saling menatap satu sama lain sebelum akhirnya Shen Mi membuka suara.
“Aku memiliki perasaan padanya. Aku tahu dia lebih muda dariku, tetapi Yueyue kau sebagai seorang perempuan seharusnya mengetahui perasaan ini...” Shen Mi memegang dadanya dan merasakan debaran jantungnya yang berdetak kencang, “Hatiku telah direbut olehnya dan aku yakin jika dia adalah lelaki yang pantas mendapatkan perasaan ini.”
“Aku akan memberikan segalanya padanya, baik itu masa laluku dan masa depanku...” Shen Mi menambahkan.
Jawaban jujur Shen Mi membuat Xue Bingyue tersenyum puas. Dia sendiri sudah menebak jika Shen Mi memiliki perasaan khusus kepada Jing Yang. Untuk apa Shen Mi mengorbankan masa depannya, menolak lamaran setiap pria bahkan rela mengurus Rumah Lima Warna dan membesarkan Menara Harta Naga jika bukan untuk Jing Yang.
Shen Mi sedikit merasa bersalah karena mengatakan perasaannya yang sejujurnya, namun disaat yang bersamaan dia merasa lega.
Disisi lain Xue Bingyue belum mengatakan apapun setelah mendengar pengakuan Shen Mi. Xue Bingyue membandingkan dirinya dengan Shen Mi, jika dipikir kembali Shen Mi lebih banyak berkorban kepada Jing Yang dibandingkan dirinya. Mengetahui fakta itu membuat Xue Bingyue tersenyum kecut.
“Yueyue?” Shen Mi merasa bersalah setelah melihat sikap dan senyuman Xue Bingyue barusan.
“Maaf, aku tahu hubunganmu dengan Kaisar Yang tetapi aku tidak bisa memungkiri perasaanku ini.” Shen Mi kembali berkata.
Melihat Xue Bingyue tidak menanggapi perkataannya, akhirnya Shen Mi menceritakan kepada Xue Bingyue jika Jing Yang selalu menceritakan kepadanya tentang sosok dirinya.
__ADS_1
“Yueyue, kau harus tahu seberapa besar pengorbananku, dia selalu memandangmu...” Shen Mi berkata dengan pelan membuat Xue Bingyue melirik kearahnya.
“Menurutku tidak seperti itu...” Xue Bingyue menanggapi ucapan Shen Mi barusan, “Yangyang juga memiliki perasaan khusus padamu, aku meyakini itu.”
Shen Mi melebar matanya mendengar sahutan Xue Bingyue. Awalnya dia mengira Xue Bingyue hanya bercanda, tetapi ekspresi Xue Bingyue jelas menunjukkan keseriusan.
“Yangyang itu cukup rakus, kau harus mengetahuinya Kakak Mimi. Aku sendiri sudah menetapkan perasaanku ini semenjak malam itu dan aku akan memberikan segalanya kepada Yangyang.”
Xue Bingyue yang mengatakan itu tersenyum tipis dan mengakhirinya dengan helaan nafas.
“Yueyue, apa maksudmu dengan rakus?” Shen Mi tidak memahami maksud perkataan Xue Bingyue.
“Kenapa kau menanyakan itu, Kakak Mimi? Bukankah kau sudah mengetahuinya?” Xue Bingyue menjelaskan kepada Shen Mi tentang sosok Jing Yang yang merupakan Kaisar Jiang.
“Kakak Mimi pasti sudah mengetahui istilah ini...” Xue Bingyue tersenyum dan memegang beberapa helai rambut halusnya, “Seorang Kaisar ataupun pendekar hebat sudah wajar jika memiliki istri lebih dari satu."
Shen Mi tertawa mendengar ucapan Xue Bingyue. Dia mengira Xue Bingyue akan mengatakan apa, namun justru mengatakan ini.
“Yueyue, apa kau khawatir? Sepertinya kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun karena aku sangat yakin Kaisar Yang akan memilihmu.” Shen Mi menyeka buliran air matanya karena tertawa.
Mendengar itu Xue Bingyue mengerutkan keningnya, “Kakak Mimi, apa yang akan kau lakukan jika Yangyang memilihku?”
Shen Mi menggelengkan kepalanya pelan dan menghela nafas ringan, “Aku akan mendukung hubungan kalian. Jika dimasa depan Kaisar Yang hanya memilih dirimu, maka aku akan mengikhlaskannya. Namun jika dia memilih kita berdua, aku rela menjadi yang kedua bahkan ketiga untuknya.”
Kali ini Xue Bingyue tersedak tidak percaya. Dia menatap rumit Shen Mi sebelum kembali membuka suaranya.
“Apa kau serius, Kakak Mimi?”
“Serius.” Shen Mi menjawab saat Xue Bingyue bertanya.
Xue Bingyue heran dengan perasaan Shen Mi karena bagaimanapun gadis itu tidak terlihat kesulitan mencari sosok lelaki. Cantik, anggun, keturunan bangsawan, pandai mengatur keuangan bahkan sudah mempunyai bisnis sendiri diusia muda.
Tentu saja akan banyak lelaki yang melirik Shen Mi, namun sangat disayangkan karena hati Shen Mi telah terpikat lekat pada Jing Yang.
Xue Bingyue menghela nafas lega sebelum tersenyum, Xue Bingyue merasa lega karena menurutnya Shen Mi asyik untuk diajak berbicara. Terlebih obrolan perempuan barusan membuatnya teringat akan obrolannya saat bersama Xue Que.
“Saat ini aku tidak peduli dengan semua itu. Entah siapa dimasa depan nanti yang akan dipilih Yangyang, saat ini aku ingin mengerahkan yang terbaik untuk mengakhiri semuanya.” Xue Bingyue tersenyum sambil menatap langit dan memantapkan hatinya untuk memfokuskan diri menembus Pendekar Roh.
‘Aku tidak akan membiarkanmu berada jauh di depanku Yangyang.’
__ADS_1