Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 234 - Kelompok Pengintai


__ADS_3

Toramasa menjelaskan jika Tiga Tengkorak Abadi memiliki tiga anggota inti. Setiap anggota inti ini masing-masing dari mereka memiliki bawahan. Seperti Sian Jun dan Tan Huan, keduanya juga merupakan bawahan dari anggota inti Tiga Tengkorak Abadi.


Tiga Tengkorak Abadi dibentuk langsung oleh Raja Iblis Guo Wu. Tidak ada informasi mengenai Raja Iblis Guo Wu, namun Toramasa beranggapan jika salah satu anggota Tiga Tengkorak Abadi yang berada di Kekaisaran Ma memiliki kemampuan lebih besar dari Tang Mu.


“Nama dari anggota inti Tiga Tengkorak Abadi yang berada di Kekaisaran Ma bernama Hong Yanlan. Sedangkan dua lainnya berada di Kekaisaran Qing.” Jelas Toramasa.


Mendengar Toramasa menyinggung soal Kekaisaran Qing tentu ini menarik perhatian Jing Yang. Dia masih mengingat Ye Xiaoya yang pergi meninggalkannya ditengah perjalanan dan menuju Kekaisaran Qing.


“Kaisar, informasi mengenai Tiga Tengkorak sangatlah sedikit. Jika anda memberi kami tugas untuk mencari informasi mengenai mereka, kami akan mencarinya.”


Jing Yang menggelengkan kepalanya mendengar pengajuan Toramasa. Saat ini dia ingin memfokuskan perhatiannya pada Pulau Iblis Tengkorak. Masalah Tiga Tengkorak Abadi memang tidak bisa diabaikan, tetapi Jing Yang tidak bisa seenaknya bertindak mengingat dirinya memegang peran penting.


Toramasa menjelaskan kepada Jing Yang jika Pulau Iblis Tengkorak merupakan sebuah pulau besar yang berada ditengah-tengah laut. Pulau Iblis Tengkorak berbatasan langsung dengan Kekaisaran Yun dan Kekaisaran Jiang.


Pulau yang dikelilingi gunung-gunung ini hanya memiliki dua akses pintu masuk. Pertama gerbang depan atau lebih dikenal dengan Gerbang Mulut Harimau. Kedua adalah gerbang belakang atau lebih dikenal dengan sebutan Gerbang Kematian.


Pantas saja Pulau Iblis Tengkorak disebut sebagai benteng terkokoh karena tempatnya dikelilingi pegunungan tinggi. Selain itu Jing Yang menyadari bahwa jarak dari Ibukota Huaran dan Pulau Iblis Tengkorak sangatlah jauh.


“Mungkin aku bisa sampai kesana dalam tiga hari, tetapi mereka semua butuh waktu...” Jing Yang mendecakkan lidahnya pelan.


“Kaisar, setiap Festival Api, pengamanan di Pulau Iblis Tengkorak diperketat. Tetapi festival itu adalah satu-satunya kesempatan kita semua untuk menghabisi seluruh anggota Pulau Iblis Tengkorak. Jika dihari lain, maka para petinggi Pulau Iblis Tengkorak akan kembali ke wilayahnya masing-masing.” Toramasa mengingatkan.


“Ini informasi yang berguna, Toramasa. Sepertinya kemampuanmu sangat berguna.” Jing Yang tersenyum lalu berdiri.


“Shen Mi, apa mereka bisa bekerja dibawah perintahku?” Jing Yang berniat membentuk tim pengintai khusus dibawah perintahnya.


Shen Mi tersenyum mendengar pertanyaan Jing Yang padannya, “Kaisar Yang, apakah kamu lupa? Rumah Lima Warna terbentuk karena dirimu dan maaf karena aku tidak menceritakannya. Aku membentuk Menara Harta Naga juga menggunakan uangmu, bisa dibilang semua ini adalah milikmu. Aku hanya mengurusnya demi dirimu.”


Jing Yang baru mengingat mengenai Menara Harta Naga yang sekarang merupakan kelompok asosiasi dagang terbesar di Kekaisaran Jiang. Jing Yang tidak menyangka Shen Mi akan membentuk Menara Harta Naga tanpa sepengetahuan dirinya.


“Shen Mi, tidak banyak yang kulakukan untukmu. Tetapi kau melakukan banyak hal untukku.” Jing Yang sebisa mungkin ingin membalas kebaikan hati Shen Mi dikemudian hari.

__ADS_1


“Kaisar Yang, aku melakukan ini karena keputusan dan ketetapan hatiku. Kaisar Yang tidak perlu memikirkan apapun.” Shen Mi menjawab.


“Baiklah, mulai hari ini kalian akan bekerja dibawah perintahku...” Jing Yang membentuk kelompok pengintai khusus yang bekerja dibawah perintahnya.


Tugas pertama yang diberikan Jing Yang kepada Toramasa dan para Shinobi adalah untuk mencaritahu rencana Kekaisaran Ma dan Kekaisaran Shi.


Sebelum pergi, Toramasa mengatakan kepada Jing Yang jika situasi dunia persilatan di Kekaisaran Jiang sudah sangat bergejolak. Bisa dibilang pertempuran di Pulau Iblis Tengkorak merupakan perang terbesar dalam sejarah Kekaisaran Jiang.


Perang Pulau Iblis Tengkorak akan membuat beberapa kelompok melakukan pergerakan untuk menyerang Kekaisaran Jiang yang melemah.


Jing Yang sudah mengetahui ini dan dia tidak akan membiarkan orang-orang dari Kekaisaran Ma ataupun Kekaisaran Shi menyerang negerinya.


____


Setelah kepergian Toramasa, Jing Yang dan Shen Mi kembali mengobrol ringan. Shen Mi menceritakan kepada Jing Yang jika selama ini dirinya memiliki perasaan padanya. Shen Mi tidak meminta Jing Yang membalasnya sekarang, namun dia hanya ingin Jing Yang mengerti.


“Kaisar Yang, maafkan aku atas kelancanganku. Tetapi aku hanya ingin kamu mengetahuinya. Sejak bertemu denganmu, aku sudah menetapkan hatiku. Kau memang muda, tetapi kau istimewa. Aku tidak meminta balasan darimu sekarang. Jika suatu saat kau telah menginjak usia tujuh belas tahun dan menyadari perasaan wanita, kau bisa membalas perasaanku. Saat itu juga aku akan menyiapkan hatiku menerima keputusan terbesar dalam hidupku.”


Bahkan saat Shen Mi mengungkapkan perasaannya, Jing Yang hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya karena bingung harus menjawab apa.


‘Aku tahu Jing Yang baru berumur tiga belas tahun, tetapi aku ingin dia mengetahuinya. Maafkan, Jing Yang jika pengakuanku justru membebanimu.’ Batin Shen Mi merasa bersalah melihat wajah Jing Yang lelah.


Akhirnya Jing Yang berpamitan dengan Shen Mi karena ingin melihat Xue Bingyue. Menurutnya acara pengangkatan Matriark Pulau Salju Rembulan telah selesai.


“Boleh aku ikut?” Shen Mi refleks berdiri dan mengajukan diri.


“Boleh." Jing Yang menjawab dan mengulurkan tangannya. Shen Mi terlihat bingung saat Jing Yang tiba-tiba memeluk tubuhnya dan langsung membawanya terbang.


“Eh?” Shen Mi memerah wajahnya dan kaget karena tubuhnya tiba-tiba dipeluk Jing Yang.


Jing Yang menggendong tubuh Shen Mi dengan santainya seolah-olah gadis itu tidak memiliki beban ditubuhnya. Lain halnya dengan Shen Mi yang merasa khawatir jika berat badannya terlalu berat.

__ADS_1


“Jing Yang, apa aku tidak terlalu berat untukmu?” Shen Mi bertanya dan tiba-tiba membenamkan kepalanya dileher Jing Yang.


Jing Yang santai dan terlihat biasa saja, “Tidak. Menurutku kau ringan Shen Mi.” Jing Yang mempercepat langkahnya kakinya menapaki udara sebelum mendarat di Pulau Salju Rembulan dan menurunkan tubuh Shen Mi.


Walaupun singkat tetapi Shen Mi sangat menikmati perlakuan lembut Jing Yang. Sesampainya di Pulau Salju Rembulan, Jing Yang dan Shen Mi berjalan menuju Tebing Kesepian.


Disana Jing Yang terdiam lama dan berdiri menatap kedalam tebing itu. Sedangkan Shen Mi berdiri disampingnya mengamati ekspresi wajah Jing Yang yang terlihat memendam segala kesedihannya.


“Waktu begitu cepat berlalu...” Jing Yang bergumam pelan sebelum tersenyum kearah Shen Mi yang memperhatikan dirinya, “Benar bukan Shen Mi?”


“Eh?” Shen Mi tersadar dari lamunannya karena memperhatikan wajah Jing Yang, “I-Iya.”


Shen Mi mengetahui masa lalu Jing Yang. Hal yang berbeda setelah sekian lama tidak bertemu Jing Yang adalah momen ini. Shen Mi baru pertama kali melihat ekspresi wajah dan tatapan mata Jing Yang seperti ini.


“Entah apa yang menanti didepan sana. Tetapi aku harus menghadapinya. Pertempuran ini melibatkan banyak orang. Diantara mereka memiliki keluarga dan orang-orang yang menunggu kedatangannya dirumah.” Jing Yang menatap kosong kedalaman Tebing Kesepian sambil berkata demikian.


Beban berat dipundaknya terlalu besar. Untuk seorang bocah berumur tiga belas tahun, Jing Yang telah menanggung beban berat ini sendirian. Jing Yang terlihat lebih dewasa pembawaannya karena penglihatan misterius Raja Neraka yang selalu mengingatnya tentang masa depan.


Ya, dimasa depan Raja Neraka pernah memberitahu Jing Yang melewati penglihatan misterius melalui mimpi bocah itu jika dimasa depan nanti Jing Yang akan melakukan apapun untuk melindungi orang-orang yang dia sayangi walaupun harus mengotori tangannya.


Lambat laun Jing Yang justru menjauh dan menjadi pembunuh berdarah dingin yang tanpa sadar justru mulai melukai orang-orang terdekatnya.


Jing Yang menatap Shen Mi. Ini bukan pertama kalinya Jing Yang menunjukkan ekspresi wajahnya saat sedih ke perempuan dan Shen Mi salah satunya.


Jing Yang berharap seseorang bisa menemukannya. Menemukan bagian dirinya yang terjebak dalam arus kegelisahan dan keputusasaan.


Saat Jing Yang terdiam menatap kedalaman Jurang Kesepian. Tiba-tiba Xue Bingyue datang menghampirinya.


“Yangyang?” Xue Bingyue yang berniat untuk mendatangi Tebing Kesepian setelah acara pengangkatan Matriark Pulau Salju Rembulan selesai justru bertemu dengan Jing Yang.


Pandangan Xue Bingyue beralih ke seorang gadis berpenampilan cantik dan anggun yang berdiri disamping Jing Yang.

__ADS_1


‘Jika tidak salah namanya Shen Mi?’ Batin Xue Bingyue.


__ADS_2