Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 120 : Topeng Penyembunyi Perasaan


__ADS_3

Jing Yang sendiri masih tidak menyangka sosok berparas cantik yang menyelamatkan dirinya bersama Xue Bingyue saat berada di Kota Yunfei adalah Roh Sang Putih.


Xue Bingyue menerima cerita Jing Yang, wajahnya bersemu merah ketika pemuda ini mengatakan pada dirinya tentang kedekatan keduanya. Namun seiring berjalannya waktu, Xue Bingyue merasa bersalah karena telah melupakan pemuda yang paling berharga dalam hidupnya.


Jing Yang menceritakan segalanya saat dirinya terjatuh ke Tebing Dimensi Hitam, diangkat sebagai Tetua Istana Sembilan Naga, akan meneruskan tahta Kekaisaran Jiang, membentuk sebuah kelompok bisnis perdagangan, sampai perpisahannya dengan Ye Xiaoya.


Xue Bingyue menahan napasnya, serpihan ingatan yang terkunci mulai terbuka secara perlahan. Dia menatap wajah Jing Yang lama sebelum telapak tangannya menyentuh mata kiri pemuda itu.


“Yangyang...”


Tepat setelah Xue Bingyue kembali mengingat segala hal tentang pemuda ini. Denyutan rasa sakit di kepalanya membuatnya berteriak kesakitan. Jing Yang seketika panik dan memegang tubuh Xue Bingyue.


Xue Rong dan Xue Que langsung mendatangi keduanya, mata keduanya melebar. Ini adalah kedua kalinya dia melihat Xue Bingyue mengerang kesakitan.


“Yueyue! Kamu kenapa?!” Hati Jing Yang teriris mendengar jeritannya. Beberapa saat kemudian, mata Xue Bingyue tampak sayu secara perlahan.


Xue Bingyue menatap Jing Yang lama sebelum akhirnya dia tidak sadarkan diri.


‘Sekarang aku mengingatnya. Yang berada disampingku ini bukanlah orang yang tidak ku kenal. Dan dia bukanlah orang asing yang pantas untuk aku lupakan. Yangyang adalah orang yang paling berharga dalam hidupku. Kenapa aku bisa melupakan semua itu...’


Xue Bingyue sudah tidak sadarkan diri meninggalkan kepingan pertanyaan di dalam benak Jing Yang.


“Junior Yang. Ikut aku sebentar.” Xue Rong menatap Jing Yang yang meneteskan air matanya, “Que‘er, jaga Yueyue.”


___


Xue Rong dan Jing Yang berada di dalam gua terdalam. Xue Rong menjelaskan kepada Jing Yang bahwa Xue Bingyue akan menerima siksaan ingatan jika mengingat masa lalunya.


Kejadian ini pernah terjadi sebelumnya saat Xue Qinghua menceritakan yang sebenarnya. Sehingga semenjak saat itu, Xue Bingyue memakai topeng putih dan mengamati Xue Bingyue dari kejauhan.


“Yang aku takutkan otak Yueyue tidak dapat menerima kondisinya. Kau paham maksudku?” Xue Rong melirik Jing Yang. Pemuda ini merenung dan tak lama tersenyum tipis.


Hanya senyuman yang dapat menyembunyikan perasaan. Jing Yang merasa lebih baik mengamati Xue Bingyue dari kejauhan dibandingkan harus kehilangan gadis itu.

__ADS_1


“Apa kau yakin dengan keputusanmu ini? Dia tidak akan mengingatmu. Dia takkan berterimakasih padamu. Dan dia tidak akan membalas kebaikanmu. Ingatan Yueyue akan terus membeku saat kau mengawasinya!” Xue Rong baru pertama kali melihat laki-laki yang seperti Jing Yang. Tanpa sadar emosi gadis berumur sembilan belas tahun ini tidak stabil.


“Aku sudah bersiap untuk itu...” Jing Yang menarik napas panjang sambil memejamkan matanya.


“Kenapa kau berbuat sampai sejauh itu? Bukankah kau anak muda. Apa kau tidak ingin menikmati hidup seperti anak seusiamu?” Xue Rong bertanya karena dia hampir tidak memiliki kenangan indah. Menjalankan keinginan sektenya, menjadi Patriark Istana Bulan Biru. Jujur baginya, semua ini bukanlah keinginannya.


“Aku hanya ingin dia bahagia. Jika dia menderita, maka aku tidak bisa menikmati hidup. Asalkan aku melihatnya tersenyum, walau dia bukan tersenyum untukku, maka bagiku itu sudah cukup. Jadi tolong jaga Yueyue saat aku jauh dan tidak berada didekatnya...” Jing Yang sebisa mungkin tersenyum dan menatap Xue Rong yang terkejut.


Untuk pertama kalinya Xue Rong merasakan getaran pada tubuhnya. Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Pipinya yang sejernih salju memerah. Pemuda ini bukanlah polos ataupun kuat. Dia menyembunyikan perasaannya. Hati Jing Yang lemah, namun dia menghancurkan bagian dirinya sendiri dengan tekanan yang sempurna.


“Junior Yang, kenapa kamu masih bisa tersenyum?” Xue Rong tidak pernah menunjukkan sisi lemahnya ini pada siapapun kecuali Tetua Agung Istana Bulan Biru, Xue Bingyue dan Xue Que. Gadis ini merasa Jing Yang memandang dunia yang berbeda dengannya. Mata pemuda ini seolah-olah menatap masa depan.


“Mendiang ibuku selalu menyuruhku agar tetap tersenyum walau dalam keadaan sesakit apapun itu...” Jing Yang bergetar ketika menjawabnya, “Meski aku tahu ini adalah sebuah kebohongan. Namun ini adalah cara terbaik yang harus dijalankan.”


Jing Yang berdiri dan berniat melihat kondisi di luar gua karena bagaimanapun hujan masih turun dengan derasnya. Xue Rong memegang tangannya, lalu melepaskannya.


“Tunggu, sebentar. Mendiang ibuku meninggalkan topeng ini untukku.” Wajah gadis cantik ini memerah ketika memberikannya sebuah topang rubah putih kepada Jing Yang.


Saat itu Xue Rong sadar. Walau lebih muda darinya, pemuda ini memiliki ketabahan dan sifat yang berbeda dari orang-orang yang pernah dia temui.


Tak mudah bagi Jing Yang untuk melepaskan, tetapi Xue Bingyue terlalu sakit untuk dia genggam. Dengan memendam dan menyembunyikan perasaan. Bukan berarti dirinya kuat, tetapi dia tidak mempunyai pilihan lain.


Apapun yang terjadi, Xue Bingyue akan melupakannya. Perjuangannya dan pengorbannya maupun masa lalu mereka. Satu hal yang membuat Jing Yang ingin mengembalikan ingatan Xue Bingyue, karena gadis itu bagaikan cerita yang tak pernah habis dia baca.


Jing Yang berjalan keluar gua melewati Xue Que yang sedang menjaga Xue Bingyue. Perlahan dia melepas topengnya sesaat sebelum mengigit jari jempolnya dan memakai topengnya kembali.


“Fang Baihu, keluarlah.” Satu tetes darah jatuh ke tanah. Cahaya berwarna putih terang keluar dari lingkaran formasi roh sebelum memperlihatkan wujud Binatang Roh, Harimau Putih.


Xue Rong berdiri disampingnya dan mengajaknya untuk berkerjasama. Tidak mudah mengatasi tiga pendekar bumi sendirian. Selain itu, saat ini aura tubuh Xue Rong telah pulih dan dia merasa Jing Yang akan menerima ajakannya.


Xue Rong menjelaskan kepada Jing Yang tentang anggota Partai Hewan Buas yang bernama Sheng Yuwen.


“Dia memiliki jarum yang dapat menyerap aura dan tenaga dalam milik seseorang. Selain itu dia memiliki ratusan jarum yang dapat mengendalikan Hewan Buas.” Xue Rong menjelaskan bahwa jarum yang digunakan Partai Hewan Buas untuk mengendalikan Hewan Buas dan Binatang Iblis adalah Jarum Jiwa.

__ADS_1


Saat Jing Yang dan Xue Rong sedang berbincang, Xue Que tidak menyangka melihat gadis berusia sembilan tahun belas tahun itu berbicara dan bersikap berbeda kepada Jing Yang.


“Ini tidak mungkin, kan? Baru pertama kali aku melihat Guru berbicara panjang lebar dengan laki-laki...” Xue Que dapat melihat wajah Xue Rong yang bersemu merah. Kulit putihnya itu tidak dapat menyembunyikan perasaannya.


“Aku akan mempertemukanmu dengan Senior Xue Qinghua. Maaf, Junior Yang, aku tidak dapat menceritakan yang sebenarnya tentang tujuan Senior Xue Qinghua.”


“Setiap orang punya hal yang ingin disembunyikan. Aku sangat berterimakasih karena Senior Rong mau membantuku.” Jing Yang membalas sambil menatap bentuk tubuh Fang Baihu yang terlihat lebih gemuk.


“Anak manusia, Jing Yang! Beraninya kau membangunkanku saat aku sedang tidur! Lebih parahnya lagi kau memanggilku saat hujan!” Fang Baihu menatap geram Jing Yang sebelum melompat dan melepaskan satu cakaran yang di tahan tangan Jing Yang.


“Ini Binatang Roh-mu, Junior Yang?” Xue Rong justru terlihat gemas melihat bentuk badan Fang Baihu.


“Ya, Senior Rong. Namanya Fang Baihu, dia adalah Binatang Roh-ku.”


‘Siapa manusia cantik ini? Kenapa Jing Yang memakai topeng?’ Fang Baihu pasrah ketika Xue Rong menyentuh bulu-bulunya yang basah.


“Fang Baihu, aku ada tugas untukmu.” Jing Yang menyuruh Fang Baihu untuk mencari keberadaan Sheng Yuwen, Lei Wu dan Xun Ji.


Harimau Putih ini merasa diremehkan, “Jangan konyol! Kau cari sendiri! Jangan samakan aku dengan hewan pelacak! Aku ini adalah Binatang Roh langka!”


“Fang Baihu, kau terlihat lebih jantan saat terakhir kita bertemu.” Jing Yang mengamati bentuk tubuh Fang Baihu dengan seksama.


“Jangan memujiku, dasar bodoh! Kau pikir dengan pujianmu aku akan membantumu.” Fang Baihu menatap wajah Jing Yang yang tertutup topeng. Tidak ada balasan dari pemuda itu. Dia melompat ke tanah dan langsung mencium bau badan Jing Yang.


“Akhir-akhir ini kau selalu dikelilingi perempuan. Lagipula kau keturunan kaisar bukan? Sudah wajar kau mempunyai lebih dari satu perempuan sejak dini.” Fang Baihu pergi setelah berkata demikian.


“Sepertinya aku harus melakukan kontrak darah dengan Binatang Roh yang baru...” Jujur Jing Yang sedikit kesal dengan sikap Fang Baihu.


Xue Rong justru tertawa lirih karena baru pertama kali dia melihat pemilik Binatang Roh, bertengkar dengan Binatang Roh.


Banyak lelaki di luar sana yang berharap bisa melihat senyuman Xue Rong. Dan sekarang Jing Yang dapat melihatnya dengan jelas. Namun senyuman indah itu tidak dapat mengobati perasaannya.


Saat ini Jing Yang tenggelam dalam kekosongan yang tak terlukiskan. Dan menyembunyikan kepedihannya dari balik topeng penyembunyi perasaan.

__ADS_1


__ADS_2