
Secercah cahaya dari atas tidak lagi nampak, Jing Yang mengingat perkataan Xue Qinghua jika dirinya mampu selamat dari tebing tempat dia dan Xue Bingyue terjatuh karena cincin milik mendiang ibunya.
Cincin yang telah diisi aura dan tenaga dalam mendiang ayahnya itu menyelamatkan hidupnya dan hidup Xue Bingyue. Namun sekarang Jing Yang tidak mendapati cincin milik mendiang ibunya yang melingkar di jari manisnya.
Tubuh Jing Yang terhempas ke bawah. Jurang Kesepian yang tidak tahu kedalaman pastinya itu akan menjadi akhir dari Jing Yang. Samar-samar Jing Yang mengingat wajah Xue Bingyue.
“Yueyue, aku mencintaimu...” Kata-kata itu terlintas di kepala Jing Yang. Tidak berapa lama suara terdengar di telinga ketika mata Jing Yang tidak dapat melihat cahaya dari atas sana.
Kegelapan yang tak berujung sama dengan kesedihannya. Semua berbisik di telinganya dan masuk ke sela-sela tulangnya.
“Anak manusia. Kenapa kau bisa datang ke Tebing Dimensi Hitam?” Tiba-tiba tubuh Jing Yang melayang di udara. Perasaan yang sama dengan saat melihat Xue Bingyue berbicara sendiri membuat Jing Yang kebingungan.
“Sepertinya aku telah mati. Sekarang aku bermimpi mendengar suara raja kegelapan,” ujar Jing Yang sembari tertawa lirih.
“Raja kegelapan? Dasar bodoh, kau pikir aku suka dengan julukan itu,” sahut suara yang entah datang dari arah mana, namun menggema di telinganya.
Jing Yang memejamkan matanya dan tidak menggubris perkataan suara yang terus menanggapi perkataannya.
“Sudah lama aku terkurung di tempat ini. Maukah kau berjanji padaku, anak manusia?” Suara tersebut kembali menggema di jurang tak berdasar yang penuh dengan kegelapan.
“Janji? Suaramu terdengar seperti perempuan. Aku akan berjanji jika permintaan janjimu tidak aneh-aneh,” ujar Jing Yang ketus.
Suara tersebut tertawa mendengarnya. Tidak berapa lama Jing Yang merasa ada sesuatu yang mendekat padanya.
“Aku ingin kau berjanji satu hal padaku. Aku ingin kau menerimaku apa adanya. Dan aku ingin kau membantuku bertemu dengan saudara jauhku. Maukah kau berjanji padaku?” Jing Yang memejamkan matanya dan berpikir terlebih dahulu sebelum menjawab perkataan suara yang bertanya padanya.
“Di dalam kegelapan yang tak berujung ini. Di dalam jurang yang menjadi saksi bisu atas kelemahanku ini. Aku berjanji akan menerima kau apa adanya, seperti aku menerima dirinya. Aku berjanji akan membantumu bertemu dengan saudara jauhmu seperti aku yang ingin bertemu dengannya.” Jing Yang berteriak sekeras-kerasnya. Suaranya menggema di jurang gelap tak berujung itu.
Tidak berapa lama suara tawa kembali terdengar. Suaranya semakin dekat bahkan terasa suara tersebut sedang tertawa di samping telinga Jing Yang.
“Baiklah, janji telah terucap dan aku akan memegang janjimu itu.” Suara tersebut kembali terdengar. Jing Yang merasa tubuhnya dipeluk oleh seorang perempuan. Dalam benak Jing Yang merasa jika dia dadanya bersentuhan dengan sesuatu yang kenyal.
“Mari kita berdua terjun bebas bersama,” bisik suara tersebut pada telinga Jing Yang.
__ADS_1
“Aku biasa di panggil Roh Sang Hitam,” tambah suara tersebut.
Jing Yang memejamkan matanya dan merasakan sensasi kehangatan yang sedang memeluknya.
“Namaku Jing Yang. Ingat itu,” sahut Jing Yang sembari menatap ke atas walau hanya kegelapan yang dapat dia lihat.
“Aku tidak peduli dengan nama anak manusia,” jawab suara itu dengan ketus.
Tubuh Jing Yang semakin melesat ke bawah dan tidak berapa lama dia melayang di udara. Di dasar jurang ada suara air sungai yang mengalir. Namun yang paling membuat Jing Yang terkejut adalah cahaya yang terang benderang menyinari hutan.
“Ini adalah Tebing Dimensi Hitam. Dari hutan, sungai dan semuanya adalah bagian dari Tebing Dimensi Hitam. Dengan kata lain akulah pemilik tempat ini, anak manusia,” jelas Roh Sang Hitam sembari menurunkan tubuh Jing Yang pelan-pelan dan penuh kehati-hatian.
“Terimakasih. Tetapi aku masih tidak menyangka akan ada keajaiban seperti dua tahun lalu,” ujar Jing Yang sembari melihat sekelilingnya.
“Tubuhmu berantakan. Darah, luka lebam ada dimana-mana. Apa kau lemah?” Jing Yang hanya tersenyum mendengar perkataan Roh Sang Hitam.
Kemudian Jing Yang menjelaskan pada Roh Sang Hitam tentang kehidupannya dan apa saja yang dia alami di Pulau Salju Rembulan selama dua tahun.
“Kasihan sekali dirimu, wahai anak manusia. Aku turut bersimpati atas kehidupan malangmu. Tetapi pada dasarnya manusia akan selalu seperti itu.” Perkataan terakhir Roh Sang Hitam membuat Jing Yang penasaran.
“Nona Suara? Siapa dia? Teman manusiamu?” Roh Sang Hitam bertanya untuk memastikan. Namun mendengar itu, Jing Yang tertawa lirih.
“Aku tidak bisa melihat wujudmu jadi aku memanggilmu Nona Suara? Apa kau menyukainya?” Jing Yang tersenyum selama beberapa detik, namun setelahnya darah segar keluar dalam jumlah besar dari mulutnya.
“Anak manusia memanggilku Nona Suara? Dasar manusia!” Roh Sang Hitam menjentikkan jarinya. Tidak berapa lama tubuh Jing Yang melayang-layang di udara
“Aku akan mengobatimu. Pertama-tama kau harus melatih tubuhmu yang lemah ini di tempat ini sampai kau kuat. Agar kita bisa keluar dari Tebing Dimensi Hitam yang masih tersegel ini.” Roh Sang Hitam menjelaskan.
Sementara Jing Yang hanya mendengarkan. Sekarang dirinya merasa benar-benar lelah dan lemah. Perlahan matanya buram dan pingsan.
Roh Sang Hitam bisa melihat pendarahan di kepala Jing Yang. Dengan segara dia memberi pertolongan pertama pada Jing Yang.
Seharian sudah Jing Yang berada di tempat yang disebut dengan Tebing Dimensi Hitam. Tubuhnya perlahan berangsur-angsur membaik, Jing Yang merasa tubuhnya di bungkus oleh sesuatu yang tak kasat mata.
__ADS_1
“Sudah bangun kau rupanya.” Suara Roh Sang Hitam kembali terdengar. Jing Yang mencari wujud Roh Sang Hitam namun dia tidak menemukan siapapun di hutan yang dipenuhi dengan pepohonan ini.
“Sekarang gigit jari jempolmu sampai berdarah. Dan jatuhkan darahmu ke tanah yang ada di depanmu ini.” Roh Sang Hitam memberi arahan dan hanya diikuti oleh Jing Yang.
“Hmm...” Jing Yang penasaran namun dia mengikuti perkataan Roh Sang Hitam. Perlahan Jing Yang menggigit jari jempolnya hingga berdarah sebelum menyentuhkan jari jempolnya ke tanah. Darah segar keluar dari jari jempol Jing Yang yang langsung bersentuhan dengan tanah.
Tepat setelah darah segar yang keluar dari jari jempol Jing Yang menyentuh tanah, daun-daun berwarna hitam berjatuhan di depan Jing Yang.
Mata Jing Yang terarah pada jari jempolnya yang menyentuh kaki mulus dan putih. Matanya kembali dikejutkan dengan sesosok perempuan berparas cantik dengan rambut yang panjang sepinggang dan telinga yang runcing.
“Cantiknya... apakah aku bermimpi?” Jing Yang kagum melihat bentuk tubuh Roh Sang Hitam dan membuat matanya tidak berkedip sedikitpun.
“Apa kau tidak takut dengan bentuk telingaku ini?” Roh Sang Hitam memegang telinganya yang runcing dan bertanya.
Jing Yang berdiri dan menggelengkan kepalanya, “Buat apa takut. Justru penampilanmu ini sangat cantik. Aku tidak pernah melihat perempuan secantik ini selain mendiang ibuku dan Yueyue,” jawab Jing Yang penuh kekaguman.
“Tetapi ada yang kurang. Kenapa kau tidak berpakaian?” Jing Yang menatap setiap lekuk tubuh Roh Sang Hitam.
“Aku adalah Roh Sang Hitam. Manusia sepertimu tidak pantas menyuruhku berpakaian.” Roh Sang Hitam menyilangkan kedua tangannya di dada.
Tidak berapa lama Roh Sang Hitam kembali menjentikkan jarinya. Dalam sekejap lekuk tubuhnya yang indah dibalut dan ditutupi pakaian.
Jing Yang semakin kagum dengan kemampuan Roh Sang Hitam.
“Hebat. Kau bisa berganti pakaian hanya dengan menjentikkan jarimu,” ucap Jing Yang.
“Tentu aku bisa. Ini belum seberapa,” jawab Roh Sang Hitam sombong.
Jing Yang kemudian duduk di atas batu dan mengamati lingkungan di sekitarnya.
“Apa kau bisa mengajariku ilmu bela diri? Aku ingin menjadi orang kuat agar pantas berdiri dan berjalan disampingnya!” Jing Yang menatap tajam Roh Sang Hitam.
“Tenang dulu. Setelah kita terikat janji. Memang aku berniat mengajarimu. Sebelum aku mengajarimu. Aku ingin memberitahumu tentang tubuhmu yang terkena Racun Iblis Neraka.” Roh Sang Hitam berdiri di depan Jing Yang dengan wajah yang serius.
__ADS_1
“Dengarkan perkataanku baik-baik.” Roh Sang Hitam menambahkan. Sedangkan Jing Yang hanya mengangguk pelan dan menatap wajah Roh Sang Hitam yang mendadak menjadi serius itu.