Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 130 : Makam Ratu Kuno V


__ADS_3

“Patung zirah ini memiliki kemampuan yang sama denganku...” Masing-masing kedua telapak tangan Xue Rong dipenuhi salju yang memutari tangannya.


Sudah belasan jurus dia keluarkan, tetapi patung zirah yang menjadi lawannya tidak dapat dia tumbangkan.


Bisa dibilang empat patung zirah adalah penguasa lantai kelima. Berkat ingatan Siluman Agung, Xue Rong dapat mengetahui bahwa patung zirah memiliki kemampuan yang sama dengan orang yang memasuki lantai kelima.


“Aku tidak akan menahannya lagi...” Xue Rong melepaskan hawa dingin, sementara telapak tangannya membuka, “Cengkeraman Delapan Penjuru!”


Patung zirah yang membuatnya kesulitan berhenti bergerak ketika terkena serangan Xue Rong. Tangannya mencengkeram, namun tubuh patung zirah hanya tergores.


Xue Rong memejamkan matanya sebelum rambut hitamnya berubah menjadi putih, pergerakan Xue Rong gemulai dan dalam pertukaran serangan dia dapat mengantisipasi pergerakan patung zirah.


Setelah melakukan pertarungan selama sepuluh menit, akhirnya Xue Rong dapat menghancurkan patung zirah.


Xue Bingyue dan Jing Yang saling memunggungi. Keduanya tertegun saat melihat rambut Xue Rong berubah menjadi putih, walau memutih namun kecantikannya sama sekali tidak memudar.


Xue Bingyue tidak mengeluarkan Pedang Salju Suxue, dia hanya memanipulasi aura menjadi es. Sekitar lima pedang es berterbangan di udara dan bergerak memotong tubuh patung zirah.


Butiran-butiran es disekitar Xue Bingyue selalu menjadi pelindungnya, seolah-olah mengatakan bahwa mereka tidak akan membiarkan siapapun menyentuh atau menembus pertahanannya.


Xue Bingyue tidak bergerak dari tempatnya, dia hanya menggerakkan tangannya dan berusaha menangkap tubuh patung zirah dengan kepalan tangan bersalju.


Remasan tangan Xue Bingyue menghancurkan tubuh patung zirah. Bagaimanapun patung zirah tidak dapat menggunakan kemampuan Xue Bingyue semuanya.


Di sisi laik Xue Que dan patung zirah bertukar serangan, patung zirah yang menjadi lawan Xue Que menciptakan pedang batu yang keras.


Berkali-kali Xue Que melancarkan tebasan mematikan, namun belum dapat menghancurkannya.


Xue Que melakukan gerakan memutar dan melompat menghindari ayunan tebasan patung zirah, kemudian dia melancarkan satu tebasan tepat di tengkuknya.


Tubuh patung zirah perlahan hancur seperti meledak. Xue Que mengangkat alisnya, begitu juga dengan Xue Rong dan Xue Bingyue.


Yang tersisa hanya Jing Yang. Pemuda ini tidak menarik pedangnya. Melainkan melakukan pertarungan tangan kosong. Kemampuan bertarung Jing Yang dalam pertukaran serangan tidaklah buruk, justru setiap gerakannya begitu bertenaga dan gesit.


Setiap tendangan kakinya cepat dan mematikan. Setelah melakukan pertukaran serangan sekitar dua puluh menit, telapak tangan Jing Yang terbuka dan membentuk cakaran.

__ADS_1


‘Patung zirah ini cukup merepotkan...’ Api berputar di telapak tangan kanannya, Jing Yang menatap tajam patung zirah yang bergerak ke arahnya, “Cakar Naga Api!”


Jari-jari Jing Yang menembus patung zirah dan membakarnya. Tak lama Jing Yang memutarkan tubuhnya dan memberikan satu sapuan atas yang menghancurkan kepala patung zirah.


“Api Phoenix tidak membakar topengnya?” Xue Rong tersenyum penuh arti melihat Jing Yang. Dia berpikir Jing Yang menghargai topeng rubah putih pemberiannya.


Xue Bingyue langsung menghampiri Jing Yang dan menunjuk sebuah pondasi aura empat penjuru. Jing Yang melihat Xue Rong yang mengetahuinya dan langsung menyuruh Xue Bingyue mengikuti instruksi Xue Rong.


Mereka berempat masing-masing mengalirkan aura pada pondasi empat penjuru. Secara perlahan kubah htam yang menutupi isi di dalam pondasi terbuka.


Lantai terakhir, lantai kelima Makam Ratu Kuno merupakan tempat harta yang paling menggiurkan. Sebuah peti emas yang memancarkan aura dibuka Xue Rong secara perlahan.


Di dalamnya terdapat Kitab Segel Dewa Langit dan Rantai Pengekang Langit. Ini merupakan harta pusaka yang digunakan untuk menyegel salah satu malapetaka, Sembilan Kekacauan Surgawi dari Kutukan Dewa Iblis.


Xue Rong mengambil Giok Phoenix dan memberikannya kepada Jing Yang, dia mengambil semuanya dan menunjukannya kepada Jing Yang, Xue Bingyue dan Xue Que.


“Giok Peri Ungu, Bulu Merah Phoenix, Permata Biru, Ginseng Raja dan Ginseng Kaisar...”


Xue Bingyue ikut memegang ginseng, sementara Xue Que sibuk mengumpulkan Reruntuhan Kristal. Di sisi lain Jing Yang merasakan darahnya bergejolak ketika menyentuh Giok Phoenix.


“Tugasku hanyalah menyegel Kutukan Dewa Iblis dan mencari penyebab dari kehancuran Gunung Es Utara serta Sembilan Kekacauan Surgawi...”


Jing Yang menganggukkan kepalanya dan membuka peti berwarna emas bercampur putih. Dia membukanya bersama Xue Bingyue.


Peti itu berisi Ginseng Dewa, Ginseng Naga beserta benihnya. Bahkan juga ada Jahe Dewa dan Jahe Naga. Selain itu ada beberapa tanaman yang membuat Jing Yang kebingungan karena Yue Wang tertawa di alam bawah sadarnya.


“Kenapa tanaman seperti ini...” Jing Yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Xue Bingyue mengambil Giok Pengetahuan yang tertinggal dan memberikannya kepada Jing Yang.


“Coba kamu serap intisari dari Giok Pengetahuan...” Xue Bingyue menyuruh Jing Yang menyerap intisari Giok Pengetahuan karena penasaran dengan kekuatan Phoenix dan khasiat sumber daya yang ada di lantai lima.


“Aku penasaran kekuatan Phoenix...” Xue Bingyue menambahkan.


Jing Yang duduk bersila dan menyerap intisari Giok Pengetahuan. Perlahan gambaran tentang kekayaan dan harta pusaka yang ada di Makam Ratu Kuno muncul di dalam kepalanya.

__ADS_1


Wajah Jing Yang merah padam, Xue Bingyue menatapnya dengan tatapan menyelidik.


“Ada apa?” Jing Yang tidak berani menatap mata Xue Bingyue.


“Suatu saat, kamu akan mengetahuinya. Saat ini aku malu untuk mengatakannya.” Perkataan Jing Yang justru membuat Xue Bingyue makin penasaran.


“Saudara Jing, aku dengar kau keturunan bangsawan bukan? Oh iya, bahkan kau akan mewarisi tahta Kaisar Jiang. Aku sarankan kau untuk mengambil kristal ini. Demi kebahagiaan Guru dan juniorku, aku serahkan harta ini padamu.” Xue Que sengaja mengeledek Jing Yang.


Jing Yang hanya diam dan menatap Xue Bingyue dan Xue Rong. Kemudian dia menguras harta yang ada di lantai lima. Reruntuhan Kristal benar-benar tidak bersisa, mereka berempat menggunakan segenap kemampuan untuk menghancurkan pecahan kristal menjadi kecil.


Jing Yang memberikannya kepada Xue Rong, sementara Xue Rong justru menyuruh Jing Yang untuk menyimpan harta kekayaan yang ada di lantai lima Makam Ratu Kuno.


Tepat setelah Reruntuhan Kristal tidak lagi tersisa atau bisa dibilang lenyap. Jing Yang, Xue Bingyue, Xue Rong dan Xue Que melewatkan satu kolam yang memancarkan energi kuat.


Xue Rong dan Jing Yang menyentuhnya. Keduanya yang memiliki gambaran ingatan mengetahui khasiat air dalam kolam ini.


“Air Suci...” Jing Yang dan Xue Rong sama-sama menggumam sebelum menguras Air Suci, lalu memasukannya ke dalam Cincin Dewa.


Baik Jing Yang maupun Xue Rong membuat sebuah kolam besar di dalam Cincin Dewa menggunakan aura tubuhnya.


“Sepertinya melelahkan.” Xue Bingyue mengulurkan cangkir berisikan teh hangat.


Terlihat Xue Que sedang makan dan mengisi tenaganya. Xue Rong segera mengajak Jing Yang untuk bergabung.


Mereka berempat duduk melingkar dan memakan perbekalan yang dibawa Xue Bingyue.


Jing Yang mengambil sayur dan daging yang dipotong kecil-kecil menggunakan sumpit. Dia tidak sengaja melepaskan topengnya di hadapan Xue Bingyue.


Beruntung Xue Bingyue sedang mengobrol dengan Xue Rong, Jing Yang membalikkan badannya dan memakan dengan lahap.


Masakan yang dibawa Xue Bingyue penuh dengan nutrisi, bahkan daging dan sayurannya merupakan sumber daya, kebutuhan bagi seorang pendekar.


“Masih ada beberapa jam sebelum pagi. Kita isi tenaga dulu sebelum meninggalkan Makam Ratu Kuno dan Hutan Kegelapan ini...”


Xue Rong menjelaskan perjalanan kembali ke Pegunungan Suxue setelah makan bersama.

__ADS_1


__ADS_2