
Xue Bingyue sudah terbiasa dengan candaan Bai Xianlin yang terkesan dewasa. Awalnya Xue Bingyue merasa risih namun seiring berjalannya waktu akhirnya gadis kecil itu terbiasa.
Xue Bingyue sendiri duduk dengan santai diatas pedang kesayangannya, Suxue. Sementara Bai Xianlin terbang disampingnya sambil sesekali memulai pembicaraan obrolan ringan diselingi candaan.
“Yueyue, tentang kemampuanmu itu aku tidak ingin menyinggungnya. Tetapi kemampuanmu memiliki banyak kemiripan dengan Jing Yang. Sebenarnya siapa Gurumu?” Bai Xianlin menebak Jing Yang dan Xue Bingyue memiliki seorang Guru yang sama.
Xue Bingyue tidak bisa memberitahu tentang Roh Sang Putih kesembarang orang bahkan Bai Xianlin sekalipun. Dengan alami Xue Bingyue menceritakan masa lalunya bersama Jing Yang di Pulau Salju Rembulan.
Xue Bingyue dan Jing Yang menjadi murid Xue Qinghua, keduanya dididik secara langsung dibawah Matriark Pulau Salju Rembulan tersebut. Berbeda dengan Xue Bingyue yang merupakan seorang jenius dan memiliki kemampuan bela diri menjanjikan diusia belia, Jing Yang justru dikenal sebagai anak yang cacat bahkan kata 'sampah' tak pernah lepas dari dirinya.
Mendengar itulah Bai Xianlin terkejut mengingat sosok Jing Yang sekarang merupakan jenius muda dengan bakat mengerikan. Bai Xianlin tidak pernah menemukan bakat sejenius Jing Yang di Benua Bintang Timur sehingga dia menaruh harapan besar kepada Jing Yang.
“Ini sulit dipercaya tetapi aku mempercayainya.” Bai Xianlin melirik Xue Bingyue yang berdiri diatas bilah pedang Suxue sambil bercerita.
Xue Bingyue menceritakan jika dirinya dan Jing Yang tidak memiliki seorang guru yang sama kecuali saat dibawah asuhan Xue Qinghua. Memang sulit dipercaya tetapi Jing Yang tumbuh seorang diri sebagai seorang pendekar berbeda dengan dirinya yang berlatih dibawah didikan Xue Rong.
Bai Xianlin mengerutkan keningnya dan memperhatikan ekspresi wajah Xue Bingyue. Dia mengetahui Xue Bingyue menyembunyikan sesuatu darinya. Bai Xianlin ingin bertanya lebih jauh tetapi dia mengurungkan niatnya saat siluet kota terlihat.
“Akhirnya kita sampai, Yueyue. Itu adalah Kota Luodao.” Bai Xianlin menunjuk kesatu arah, Kota Luodao.
Xue Bingyue memperhatikan arah yang ditunjuk Bai Xianlin, “Kota yang besar. Apa Kota Luodao merupakan salah satu kota terbesar di Kekaisaran Shi?”
Xue Bingyue bertanya karena bagaimanapun Kota Luodao sangat berbeda dengan kota perbatasan, Zhenshu. Sederet bangunan megah dijalan utama terlihat dan bangunan menjulang tinggi mulai dari penginapan, restoran hingga toko yang menjual berbagai sumber daya tersaji didepan mata.
Xue Bingyue menajamkan matanya dan memperhatikan Kota Luodao dari kejauhan. Setelah jarak antara Kota Luodao dan dirinya semakin singkat, Xue Bingyue terbang rendah dan membuka telapak tangannya.
“Kembalilah Suxue...” Pedang Salju Suxue masuk kedalam telapak tangannya dan menghilang. Bai Xianlin mendarat disamping Xue Bingyue sambil memperhatikan kemampuan unik Xue Bingyue tersebut.
Sebelum memasuki Kota Luodao, Bai Xianlin menjelaskan kepada Xue Bingyue jika setelah mengambil Kain Langit Suci mere harus bergegas pergi meninggalkan Kekaisaran Shi.
__ADS_1
“Bibi Xianlin aku harap Kain Langit Suci dapat mengembalikan kondisi Jing Yang. Aku ingin menanyakan sesuatu tentang Jing Yang tetapi aku tidak menanyakannya...” Xue Bingyue dengan ekspresi sedih menghela nafas Membuat alis Bai Xianlin mengkerut.
“Yueyue, kau ingin menanyakan sesuatu tentang Jing Yang pada siapa?” Bai Xianlin mengira Xue Bingyue mencurigai kematian Xue Qinghua.
“Kepada...” Cukup lama Xue Bingyue terdiam. Dia tidak bisa mengatakan kepada Bai Xianlin jika dirinya ingin menanyakan sesuatu tentang Jing Yang kepada Roh Sang Putih
“Guru..." Maksud Xue Bingyue adalah Xue Rong. Bai Xianlin semakin erat menatap Xue Bingyue.
“Bibi Xianlin?” Xue Bingyue merasakan tatapan tajam Bai Xianlin yang mengganggunya, “Apa ada sesuatu yang menempel di wajahku?”
“Eh?” Bai Xianlin memudarkan tatapan tajamnya dan tersenyum, “Tidak Yueyue. Bibi Xianlin mengira kamu tidak menyukai perjalanan ini.”
Bai Xianlin memalingkan wajahnya karena dia mengutuk dirinya sendiri yang membalas dengan jawaban membosankan.
Xue Bingyue tertawa lirih, “Dibalik penampilan Bibi Xianlin yang seenaknya ternyata terdapat sisi yang manis.”
“Ampun Bibi Xianlin! Berhenti!” Xue Bingyue tertawa cekikikan dan mencoba melepaskan diri dari jari-jemari Bai Xianlin yang menggelitik badannya.
Bai Xianlin menikmati ini dan tersenyum lebar, “Aku tidak akan berhenti.” Bai Xianlin cukup lama menggelitik badan Xue Bingyue hingga akhirnya dia berhenti dan berjalan mendekati gerbang kota.
____
Cukup ramai suasana digerbang depan Kota Luodao. Antrean panjang memenuhi jalan utama dan membuat petugas kewalahan. Ditengah-tengah antrean yang panjang itu Xue Bingyue mengamati keadaan disekitarnya dan sesekali dia menguping pembicaraan orang-orang.
‘Tidak ada informasi yang menarik. Semuanya membicarakan tentang lalainya penjaga gerbang...’ Xue Bingyue menghela nafas lembut dan memejamkan matanya.
Tak lama dia mendengar obrolan menarik dari salah satu pedagang yang mengantre. Bukan hanya Xue Bingyue saja yang menguping, Bai Xianlin juga sedari tadi menajamkan indera pendengarannya mengorek segala informasi yang berguna.
Informasi yang didapat Xue Bingyue dan Bai Xianlin adalah lengsernya Kaisar Shi. Situasi di Ibukota Shilin kacau karena seluruh militer Kaisar Shi dibantai habis oleh pendekar dari Menara Sejalan.
__ADS_1
Sekte-sekte seperti Menara Pilar Langit, Sekte Lembah Darah bahkan Benteng Naga Besi bergabung ke Menara Sejalan yang dibentuk oleh Kaisar Shi yang baru bernama Shi Xuanyuan.
Kematian Kaisar Shi sebelumnya sangat mengenaskan karena seluruh anggota bangsawan Shi dibantai oleh Shi Xuanyuan. Dengan enam pilar dibelakangnya, Shi Xuanyuan bahkan membunuh ayah kandungnya sendiri karena tidak memberikan tahta padanya dan masih memikirkan kematian Shi Haolin.
Dikabarkan Shi Xuanyuan juga membunuh adik kandung perempuannya. Informasi ini membuat Xue Bingyue dan Bai Xianlin memejamkan matanya. Mereka berdua tidak menyangka akan ada pembunuhan sedarah hanya karena warisan dan harta.
‘Aku sedikit mengerti mengapa Yangyang tidak pernah menceritakan tentang keluarganya...’ Xue Bingyue sendiri sekalipun tidak pernah mendengar Jing Yang menceritakan tentang bahagianya lahir di keluarga bangsawan bahkan Jing Yang seolah-olah membenci darah yang mengalirkan dipembuluh darahnya sendiri.
Setelah lama mengantre akhirnya Xue Bingyue dan Bai Xianlin dapat memasuki Kota Luodao. Segera Bai Xianlin menuntun Xue Bingyue menuju sebuah pemakaman yang berada diujung kota.
Sepanjang perjalanan menuju ujung Kota Luodao, Bai Xianlin melihat jelas banyak pendekar berlalu-lalang membawa berbagai macam senjata. Situasi ini membuatnya waspada terlebih setelah melihat jubah yang dikenakan sejumlah pendekar dan mengidentitaskan pendekar tersebut berasal dari Sekte Lembah Darah, Menara Pilar Langit dan Benteng Naga Besi.
“Bibi Xianlin.” Xue Bingyue juga menyadarinya. Melihat banyaknya pendekar yang berlalu-lalang tentu menandakan ketidakwajaran. Xue Bingyue waspada dan tidak menurunkan perhatiannya karena situasi di Kota Luodao tidak sesuai pikirannya bahkan lebih parah dari yang dia pikirkan.
‘Apa yang sebenarnya terjadi?’ Xue Bingyue memperhatikan banyak pendekar yang terlihat seperti mencari sesuatu bahkan beberapa dari mereka menggeledah rumah-rumah penduduk.
“Yueyue, kemari.” Bai Xianlin berjalan melewati gang sempit saat menyadari ada lima pendekar mengikutinya.
Setelah masuk cukup jauh kedalam gang sempit Bai Xianlin berhenti berjalan dengan Xue Bingyue yang berada disampingnya dan mengikuti instruksinya.
“Sebenarnya ada apa Bibi Xianlin?" Xue Bingyue bertanya karena penasaran dengan tujuan sekelompok pendekar di Kota Luodao.
“Yueyue, Bibi Xianlin sendiri tidak mengetahuinya tetapi apapun itu pasti sesuatu yang mengejutkan. Tatapan mereka padamu seolah-olah mengenal dirimu.” Jawaban Bai Xianlin justru membuat Xue Bingyue terkejut, dia tidak menyadari tatapan para pendekar yang tertuju padanya karena dia mengira tatapan para pendekar mengarah pada Bai Xianlin.
Saat Bai Xianlin dan Xue Bingyue berbicara, kelima pendekar yang mengikuti mereka berdua melepaskan aura pembunuh dan mengelilingi keduanya.
Salah satu pendekar menarik golok dan mengarahkannya pada Xue Bingyue, “Tuan Putri pelarianmu cukup sampai disini!”
Xue Bingyue mengerutkan keningnya dan merasa heran dengan pendekar dihadapannya. Bukan hanya Xue Bingyue yang keheranan bahkan pendekar yang mengarahkan golok kearah lehernya juga menatapnya keheranan.
__ADS_1