Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 205 - Kaisar Kecil


__ADS_3

Setelah mengetahui apa yang terjadi pada Istana Sembilan Naga. Jing Yang memutuskan untuk meninggalkan Istana Bulan Biru yang bertempat di Pegunungan Suxue. Sekte yang seluruh anggotanya adalah perempuan ini menerima Jing Yang karena keterlibatan dan keegoisan Xue Rong.


Ditengah-tengah ratusan perempuan itu, Jing Yang adalah sosok laki-laki yang berdiri sendiri. Sambil mendengarkan ucapan Tetua Agung Istana Bulan Biru yang memberinya beberapa nasihat, Jing Yang menyadari bahwa dirinya telah terlibat terlalu jauh masalah orang ataupun sekte yang tidak seharusnya menjadi bagiannya.


“Kau masih muda dan berbakat. Kau seorang jenius yang luar biasa. Aku sendiri mengakui kemampuanmu, tetapi disaat yang bersamaan aku kasihan padamu karena telah memikul beban seberat ini.” Tetua Agung Istana Bulan Biru mengelus kepala Jing Yang layaknya dia menganggap bocah itu sebagai cucunya.


“Soal janjimu kepada cucuku, kau harus menepatinya. Aku sendiri merasa yakin jika lelaki yang pantas menjadi pendamping hidupnya adalah dirimu. Kau mungkin masih berumur tiga belas tahun, tetapi beberapa tahun lagi dirimu akan menjadi lelaki yang hebat.”


Ucapan Tetua Agung Istana Bulan Biru membuat pipi Jing Yang bersemu merah. Saat itu dia terlalu polos, namun sekarang dirinya telah menyadari bahwa dia telah memberikan sejumlah harapan pada beberapa perempuan.


Memang itu bukan keinginan Jing Yang, tetapi dia tidak menyadari tindakannya yang alami dan polos itu membuat banyak perempuan jatuh hati padanya dan bertekuk lutut.


“Jika aku tiada, tolong jaga Rong‘er dan Istana Bulan Biru untukku.” Tetua Agung Istana Bulan Biru memberikan kepercayaan kepada Jing Yang.


Dipundak seorang bocah berumur tiga belas tahun itu telah mengemban harapan seseorang. Jing Yang memberi hormat dan menjawab keinginan Tetua Agung Istana Bulan Biru.


“Aku akan melindungi semuanya.” Sebuah jawaban singkat dari Jing Yang. Dia memang telah memutuskan untuk menjadi yang terkuat di Benua Dataran Tengah dan melindungi semuanya, semua yang berharga bagi dirinya.


Setelah itu Jing Yang diantar Tetua Agung Istana Bulan Biru keluar kediamannya. Disana ada Xue Rong yang telah menunggunya. Jing Yang tersenyum dan menyapanya.


“Senior Rong, apa kau menungguku?” Jing Yang menghampiri Xue Rong yang berdiri didepan halaman kediaman Tetua Agung Istana Bulan Biru.


“Iya.” Xue Rong menjawab singkat diiringi dengan senyuman indah gadis cantik itu.


“Aku akan pergi.” Jing Yang menatap Xue Rong yang lebih tinggi darinya, “Mungkin kita tidak akan bertemu dalam waktu yang cukup lama.”


Xue Rong menganggukkan kepalanya lembut. Tidak pernah dia sangka dirinya akan jatuh hati pada bocah berumur tiga belas tahun. Usia keduanya terpaut empat tahun, tetapi senyuman Jing Yang dan sikapnya adalah yang paling hangat dihati Xue Rong.


“Senior Rong, tunggu aku disini. Aku tidak akan melupakan janji yang telah kita buat. Aku akan membawamu keluar dari tempat ini dan memenuhi janji yang kubuat dengan Nenekmu.” Jing Yang mengatakan itu dengan tenang sambil menatap wajah yang Xue Rong yang terlihat begitu cantik hari ini.


“Sampai saat itu tiba, tunggulah aku.” Jing Yang mengakhiri ucapannya dan membuat hati Xue Rong berbunga-bunga.


“Ehem!” Bai Xianlin batuk pelan sambil menyembunyikan hawa keberadaannya, “Sudah kuduga, calon Kaisar memang pandai memikat hati wanita. Aku tidak bisa membayangkan jika dirimu dewasa kelak akan ada berapa puluh perempuan yang jatuh hati padamu.”


“Kakak Xianlin!” Xue Rong tersentak kaget melihat kemunculan Bai Xianlin yang tiba-tiba.


“Hihi, ada apa dengan wajahmu itu Adik Rong? Seleramu ternyata sangat mengerikan.” Bai Xianlin mengeledek Xue Rong, walaupun dirinya sendiri tertarik pada Jing Yang. Bai Xianlin tertarik pada masa depan dan harta kekayaan Jing Yang tentunya.


Xue Rong memalingkan wajahnya dan mengembungkan pipinya, “Apa yang salah? Lagipula tidak ada yang melarang perasaanku ini untuk jatuh cinta padanya!”


“Aiya, apa kau mendengarnya, Yangyang, Yueyue? Poligami itu diizinkan untuk lelaki yang mampu, kaya dan bertanggung jawab. Jadi bagaimana jawabanmu, Yangyang?” Bai Xianlin melirik kearah Jing Yang serta Xue Bingyue yang baru datang.


“Guru.” Xue Bingyue sendiri sudah mengetahui perasaan Xue Rong kepada Jing Yang.


“Yueyue, tidak aku hanya...” Xue Rong kebingungan melihat Xue Bingyue.


“Tidak apa, Guru. Aku juga sudah menyadarinya. Tentang perasaan dan keinginan Yangyang, semua tergantung dengan jawabannya. Aku akan mengikuti semua keinginannya.” Xue Bingyue menatap Xue Rong lalu mengalihkan pandangannya kearah Jing Yang.


Bai Xianlin terkekeh, “Yangyang, kenapa diam?” Memasang ekspresi mengeledek, Bai Xianlin benar-benar membuat Jing Yang terdiam seribu bahasa.


Jing Yang ingin mengatakan sesuatu tetapi kata-katanya terasa tertelan kembali. Perlahan dia memperhatikan wajah Xue Bingyue, Xue Rong dan Bai Xianlin secara bergantian.

__ADS_1


Seketika wajahnya bersemu merah dan terlihat sangat menggemaskan. Jing Yang memalingkan wajahnya dan berjalan pergi meninggalkan kediaman Tetua Agung Istana Bulan Biru.


“Hei, tunggu sebentar!” Bai Xianlin tertawa melihat ekspresi Jing Yang barusan, “Sangat menarik, aku tidak bisa berhenti menggodamu!”


“Hentikan, Kakak Xianlin! Kau membuatnya malu!" Xue Rong menghadang Bai Xianlin yang hendak mengejar Jing Yang.


“Bibi Xianlin, Guru. Jangan kesana, kalian berdua membuat Yangyang malu.” Xue Bingyue menegur Xue Rong yang mengejar Bai Xianlin.


Keduanya berhenti dan menatap Xue Bingyue. Lain halnya dengan Xue Rong yang menundukkan kepalanya karena merasa malu, Bai Xianlin justru tersenyum lebar.


“Baiklah, lihat itu Adik Rong, calon istri pertama Kaisar Jiang marah. Kau sebagai calon istri yang entah keberapa harus mendengarkannya.” Sungguh ucapan Bai Xianlin membuat Xue Rong kebingungan harus menjawab apa.


Sementara itu Xue Bingyue membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak ada kata-kata yang keluar. Wajah Xue Bingyue bersemu merah membuatnya terlihat begitu manis.


“Kalian berdua terlalu pemalu. Aku pergi dulu, ada yang ingin kubicarakan pada Yangyang tentang sosok Jing An.” Bai Xianlin beralasan karena sebenarnya dia ingin meminta imbalan kepada Jing Yang karena telah melindungi perjalanan Xue Bingyue.


“Bibi Xianlin, sejak kapan kau memangilnya Yangyang?” Xue Bingyue tiba-tiba bertanya.


“Hihi, apa aku tidak boleh memanggilnya Yangyang? Baiklah kalau begitu aku akan memanggilnya Yang‘er.” Bai Xianlin melipat kedua tangannya dibawah dada dan memasang ekspresi kesal.


Setelah tidak ada pertanyaan dari Xue Bingyue ataupun Xue Rong, akhirnya Bai Xianlin pergi mengejar Jing Yang yang sedang berdiri diatas atap salah rumah pendekar di Istana Bulan Biru.


“Ada apa kemari, Bibi Xianlin? Apa kau ingin mempermalukanku?” Jing Yang terlihat sebal dengan Bai Xianlin bahkan dia menjaga jarak.


Bai Xianlin tersenyum manis dan menyentuh pipi Jing Yang lembut, “Aku ingin membicarakan sesuatu padamu. Membicarakan tentang masa depanku dan masa depanmu.”


“Hah? Apa yang kau bicarakan?” Jing Yang mengerutkan keningnya dan mundur dua langkah kebelakang bahkan dia melepaskan aura pembunuh untuk sesaat.


Jing Yang tidak pernah diperlakukan seperti ini. Matanya melotot menatap Bai Xianlin tidak terima.


“Ada apa dengan wajahku? Apa terlalu cantik sampai-sampai matamu itu melotot?” Bai Xianlin berbisik mesra ditelinga Jing Yang membuat tubuh bocah itu gemetaran.


“Berhenti! Jangan mendekat!” Jing Yang ingin mendorong tubuh Bai Xianlin tetapi tindakannya refelknya ini justru membuat kejadian fatal karena kedua tangannya bukan mendorong badan Bai Xianlin melainkan memegang dada besar Bai Xianlin dan meremasnya keras.


“Akh!” Bai Xianlin secara naluri memekik.


“Eh?” Jing Yang terkejut saat melihat kedua telapak tangannya meremas keras sesuatu yang kenyal dan lembut dari luar gaun.


“Bocah sialan!” Bai Xianlin menampar pipi Jing Yang keras hingga bekas kemerahan dan cap lima jari terlihat jelas.


“Seumur hidupku tidak ada yang memegang dadaku dan kau adalah orang lancang yang berani memegangnya!” Bai Xianlin kembali menampar pipi Jing Yang yang lain.


“Aku tidak sengaja...” Jing Yang merasa bersalah bahkan kedua telapak tangannya gemetaran.


“Tidak sengaja? Aku tidak butuh alasan itu!” Bai Xianlin hendak menampar Jing Yang kembali namun tangannya dicengkeram.


“Sudah kukatakan aku tidak sengaja! Lagipula semua ini salahmu, Bibi Xianlin!” Jing Yang menatap Bai Xianlin tajam dengan pipi bersemu merah.


‘Kenapa cengkeramannya sangat erat? Sejak kapan dia menembus Pendekar Roh?’ Untuk sesaat Bai Xianlin terkagum-kagum pada pencapaian Jing Yang, ‘Tunggu, ini bukan saatnya mengaguminya! Dia berani meremas dadaku! Bocah sialan ini!’


“Lepaskan tanganku!” Bai Xianlin menarik tangannya memberikan perlawanan. Jing Yang melepaskannya dan langsung menjaga jarak.

__ADS_1


“Baiklah, aku bersalah. Aku meminta maaf. Aku menyesal karena telah memegang dadamu.” Jing Yang dengan santai membungkuk dan mengucapkan permintaan maaf.


Bai Xianlin mengernyitkan dahinya sebelum menendang perut Jing Yang dengan tenaga dalam. Mulut Jing Yang mengeluarkan darah segar singkat karena tidak melapisi tubuhnya dengan apapun.


“Ini belum seberapa!” Bai Xianlin menatap dingin Jing Yang sebelum memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan.


“Baiklah, aku memaafkanmu jika kau berjanji akan mengatakan aku akan menepati janjiku ini, tepat setelah aku mengatakan pembicaraan yang ingin kubahas denganmu.” Bai Xianlin memerah wajahnya. Dia merasakan perasaan aneh dan geli didadanya saat Jing Yang meremasnya.


‘Sialan, aku ingin mengerjainya justru aku yang merasa dikerjai.’ Bai Xianlin terdiam lama sebelum meremas rambut Jing Yang dan mengacak-ngacaknya.


“Ayo cepat katakan dengan hatimu yang paling tulus. Janji harus ditepati dan seorang lelaki yang bertanggung jawab harus berani menepatinya apapun yang terjadi.”


Bai Xianlin tersenyum manis saat mengatakan itu, tetapi bagi Jing Yang wanita dewasa itu terlihat penuh siasat. Mengingat dirinya merasa bersalah pada Bai Xianlin, akhirnya Jing Yang memberi jawaban yang membuat Bai Xianlin tersenyum lebar.


“Aku akan menepati janjiku ini...” Jing Yang mengatakan itu dengan ekspresi curiga.


Bai Xianlin tersenyum lebar dan bertepuk tangan, “Baiklah, aku akan membicarakan masa depanku ini. Aku ingin jika kelak kau telah menjadi seorang lelaki yang hebat, ah tidak, maksudku Kaisar Jiang. Aku ingin kau menikahiku dan menjadikanku seorang selir. Dan aku ingin kau memberiku kebahagiaan dengan harta yang melimpah dan kedamaian. Itulah imbalan yang aku minta karena aku menemani perjalanan Yueyue mu dan melindunginya.”


Bai Xianlin tersenyum tipis melihat Jing Yang melebar matanya, “Ayo katakan sekali janjimu.”


“Aku akan menepati janjiku ini.” Jing Yang tanpa sadar mengikuti ucapan Bai Xianlin karena hanyut dalam pembicaraan.


“Bagus.” Bai Xianlin mengecup kening Jing Yang dan tersenyum, “Awas jika kau mengingkarinya! Aku tidak akan pernah memaafkanmu!”


“Ini!” Jing Yang menyadari permintaan Bai Xianlin membuatnya bingung harus bereaksi seperti apa. Matanya memperhatikan wajah dan tubuh Bai Xianlin cukup lama sebelum mendecakkan lidahnya.


“Ada apa? Apa kau tertarik dengan tubuhku? Bersabarlah, jika usiamu menginjak tujuh belas tahun kau akan mendapatkannya.” Bai Xianlin berbisik ditelinga Jing Yang dan menggoda.


Jing Yang menjaga jarak dan menghela nafas panjang, “Kau lebih cocok menjadi Ibuku. Permintaanmu ini aneh. Kau sengaja menjebakku bukan?”


“Hei, bocah! Aku sudah menggodamu dan kau justru menolaknya! Ada yang salah dengan isi kepalamu itu!” Bai Xianlin menatap sengit Jing Yang.


“Cukup. Aku lelah berbicara denganmu, Bibi Xianlin. Tetapi aku akan mengabulkan permintaanmu tentang memberimu harta yang melimpah.” Jing Yang dengan enteng mengatakan itu sambil menjauh dari Bai Xianlin.


“Bocah nakal, kau rupanya sangat pengertian. Aku tunggu ucapanmu. Awas saja jika kau membohongiku.” Bai Xianlin mengedipkan matanya dan memberikan kecupan dipipi Jing Yang.


Jing Yang memerah wajahnya dan bergetar hebat tubuhnya. Bai Xianlin yang melihat itu tidak dapat menahan tawanya. Tatapan Bai Xianlin beralih ke tangan Jing Yang.


“Kenapa tanganmu gemetaran?” Bai Xianlin bertanya karena penasaran.


“Itu karena..." Jing Yang menjawab tertahan, refleks kedua matanya menatap dada Bai Xianlin.


Wajah Jing Yang memadam semerah tomat. Bai Xianlin yang menyadari tatapan Jing Yang memerah wajahnya. Pandangan keduanya bertemu, Bai Xianlin yang lebih tinggi dari Jing Yang melayangkan pukulan, namun dengan cepat Jing Yang melompat dan terbang menuju pintu masuk Istana Bulan Biru.


“Tunggu bocah nakal!” Bai Xianlin mengejar Jing Yang dengan kecepatan tinggi.


“Yang‘er!” Suara Bai Xianlin menggema memenuhi langit Istana Bulan Biru membuat para pendekar perempuan bertanya-tanya karena terlihat diatas sana Bai Xianlin mengejar Jing Yang.


‘Ini memalukan. Kenapa aku harus lari? Bukankah aku tidak sengaja?’ Jing Yang mengumpat kesal dan segera mendarat dibelakang Xue Rong serta Xue Bingyue.


Sementara itu Bai Xianlin berdiri dihadapan Xue Rong dan Xue Bingyue dengan wajah yang dipenuhi kemarahan.

__ADS_1


“Yang‘er!”


__ADS_2