
Yong Xiang dan Jing Yang saling menatap satu sama lain sebelum Jing Yang melepaskan serangan kepada Yong Xiang terlebih dahulu. Sebuah tebasan yang memancarkan aura berwarna hitam mengarah pada Yong Xiang diiringi dengan sejumlah tebasan lainnya.
‘Mustahil bisa melarikan diri dari tempat ini! Aku harus mencaritahu kelemahannya! Apa sebaiknya aku menjadikan beberapa perempuan disini menjadi sandera?!’ Yong Xiang menatap Jing Yang tajam dan melepaskan aura tubuhnya guna menciptakan burung-burung api.
Ledakan tercipta dan Yong Xiang menggunakan kesempatan tersebut untuk menyadera Qiao Xi dan Mei Hua, namun sebelum Yong Xiang mencapai tempat keberadaan Qiao Xi dan Mei Hua, Jing Yang sudah berdiri dihadapannya dan tersenyum tipis.
“Aku sudah sangat paham apa yang ada didalam pikiranmu!” Jing Yang mengarahkan Pedang Gravitasi kearah Yong Xiang sambil melepaskan Aura Raja Neraka, “Kau berniat menyadera mereka berdua bukan?”
Yong Xiang mengerutkan dahi sebelum akhirnya dia mengumpat dalam hati karena Jing Yang bisa membaca apa yang ada dipikirannya. Mustahil untuk melemahkan Jing Yang ataupun melarikan diri dari Rongma saat Yong Xiang merasakan aura merah pekat menyebar dari tubuh Jing Yang.
“Bagaimana- Bagaimana kau bisa mengetahui rencanaku?!” Yong Xiang melepaskan aura pembunuh untuk menekan intimidasi mengerikan dari Aura Raja Neraka.
“Bagaimana aku bisa mengetahui rencanamu? Aku hanya menebak, itu saja” Jing Yang mengibaskan Pedang Gravitasi membuat tubuh Yong Xiang terasa begitu berat.
Yong Xiang tidak mengetahui jika Jing Yang sekarang dalam posisi berhati-hati untuk menyerang. Qi yang melapisi tubuhnya juga sudah mulai terkuras.
‘Keparat kecil ini!’ Yong Xiang mengutuk Jing Yang dal hatinya. Matanya melihat kearah benteng Rongma dan menemukan Hua Minha serta Hua Quin yang berdiri diatasnya.
‘Dua jalangg itu! Tunggu, bukankah itu anaknya? Aku berpikir dia telah mati, tetapi tidak kusangka dia masih hidup! Aku harus tetap bertahan hidup agar bisa mempecundangi dirinya kembali!’ Yong Xiang melepaskan aura tubuhnya dan memanipulasinya menjadi ular api berjumlah tiga.
Ketiga ular api itu bergerak diudara dan mencoba melilit tubuh Jing Yang. Yong Xiang memperhatikan pergerakan Jing Yang dengan seksama saat pemuda itu menghindari ketiga ular api yang dia ciptakan dari aura tubuhnya.
Menyadari pergerakan Jing Yang melambat, Yong Xiang mempersingkat jarak dan melepaskan sejumlah pukulan dari jarak jauh.
‘Bocah ini! Apa dia hanya menggertak? Kemampuannya memang diatas diriku, tetapi kau sudah mencapai batasmu, Kaisar keparat!’ Yong Xiang menyeringai tajam saat pukulannya mengenai tubuh Jing Yang.
‘Dia menyadarinya?’ Jing Yang menatap Yong Xiang dan menghindari pukulan susulan.
__ADS_1
Jing Yang tidak ingin menggunakan tekniknya yang tidak mampu membunuh langsung Yong Xiang. Dia menunggu Yong Xiang menggunakan jurus pamungkasnya.
Selepas mempersingkat jarak, akhirnya Yong Xiang dan Jing Yang bertukar serangan. Walaupun Jing Yang berada ditahap Pendekar Roh, tetapi Yong Xiang lebih mendominasi. Setiap serangan Yong Xiang mematikan, namun Jing Yang dapat menahannya.
Yong Xiang awalnya bersikap meremehkan, namun dia baru menyadari saat melihat ekspresi raut wajah tenang Jing Yang. Walaupun pergerakannya melambat dan tidak segesit sebelumnya, bisa dibilang pergerakan Jing Yang masih lah cepat. Selain itu raut wajah Jing Yang memperlihatkan seorang pendekar yang mahir dalam mengatur aliran pernafasannya.
“Apa kau meremehkanku?! Kaisar sialan!” Yong Xiang tersulut emosi karena sekarang Jing Yang tidak berniat membiarkan Yong Xiang menjauh darinya.
Jing Yang tertawa pelan, “Aku sama sekali tidak meremehkanmu! Justru sekarang aku bersikap waspada karena aku telah melebihi batas fisikku!”
Yong Xiang geram dan melepaskan amarahnya menggunakan pukulannya. Berulang kali ledakan tercipta namun Jing Yang masih bertahan dengan menghindari pukulan ledakan itu.
Jing Yang tersenyum tipis saat mengetahui Yong Xiang tersulut emosi. Memang ini yang dia incar, dia ingin Yong Xiang termakan amarah dan melepaskan jurus pamungkasnya. Selain dapat menyalin, Jing Yang juga bisa mencuri jurus milik lawannya yang berunsur api.
“Aku tidak akan membiarkanmu pergi dari tempat ini! Aku telah berjanji pada perempuan diatas saja, jika kalian berlima akan mati ditanganku! Keparat disana sudah lenyap dan menjadi debu! Sisanya adalah dirimu dan dia!” Jing Yang menunjuk Kai Xuexuan dan menunjukkan ekspresi yang arogan.
Wajah Yong Xiang mengerut, “Hua Quin? Oh, perempuan itu. Dia menangis saat kedua kakinya lumpuh! Apa dia meminta bantuan padamu? Sangat disayangkan karena dia tidak lagi perawan!”
“Kau!” Yong Xiang mendelik dan melepaskan aura pembunuh terbesarnya.
Jing Yang berhasil memancing kemarahan Yong Xiang. Semenit kemudian Yong Xiang bergerak kearahnya melepaskan sejumlah pukulan ledakan yang berapi-api. Serangan Yong Xiang sangat agresif dan bisa membunuh lawan yang setara dengannya, namun dihadapan Jing Yang serangan itu dapat dengan mudah ditaklukkan setelah Jing Yang mengetahui arah serangannya.
Jing Yang menangkis menggunakan Pedang Gravitasi dan memberikan tanda pada sekujur tangan Yong Xiang. Pertukaran serangan itu terjadi selama beberapa menit sebelum akhirnya, Yong Xiang menyadari pergerakannya melambat dan pukulan tangannya terasa berat.
Yong Xiang menatap Jing Yang dan menyadari pemuda itu melepaskan serangan yang tidak terlalu bertenaga. Namun saat bertahan, Jing Yang justru terlihat menahan setiap serangannya penuh tenaga.
“Apa yang kau lakukan pada tanganku ini?!” Yong Xiang merasakan perbedaan pada tubuhnya saat melihat kedua tangannya terdapat bekas sayatan.
__ADS_1
Jing Yang diam tidak menjawab. Dia melepaskan aura tubuhnya yang tersisa sambil mengombinasikannya dengan Qi sehingga tekanan gravitasi dari Pedang Gravitasi membuat tubuh Yong Xiang terhimpit ketanah.
“Argh!”
Yong Xiang menghantam tanah dengan keras. Dia tidak menyangka Jing Yang masih memiliki kekuatan yang besar setelah bertarung melawan sepuluh ribu pasukan Kekaisaran Ma dan membunuh Fan Bao.
‘Dia memiliki kemampuan sebesar ini? Kemampuannya ini bahkan melebihi Patriark Ho, setiap tekniknya belum pernah kulihat dan yang paling berbahaya adalah jurus itu!’ Yong Xiang menyadari nasibnya kurang lebih akan sama seperti Fan Bao saat mengetahui Jing Yang mendarat diatasnya.
“Aku berniat memancingmu menggunakan jurus pamungkasmu, namun sepertinya itu tidak perlu. Kau akan berakhir disini.” Jing Yang menginjak leher Yong Xiang dan menghancurkannya saat mengingat pria itu mengatakan bahwa dirinya melihat Ho Xing melumpuhkan kedua kaki Hua Quin.
Suara leher patah terdengar saat Jing Yang menekan kaki kanannya menghancurkan leher Yong Xiang. Bukan hanya sampai disitu saja, Jing Yang memotong kedua tangan dan kaki Yong Xiang sambil menekan kekuatan gravitasi dan memusatkan pada tubuh Yong Xiang.
“Argh!!!”
Yong Xiang meronta kesakitan saat kedua tangan dan kakinya dipotong Jing Yang. Hal yang terjadi selanjutnya adalah tebasan pedang Jing Yang mengenai dadanya. Tatapan putus asa Yong Xiang menatap tatapan dingin dan suram Jing Yang.
Dalam sekejap Yong Xiang bisa melihat perubahan sikap Jing Yang. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Jing Yang terlihat lebih gelap sorotan matanya. Saat Yong Xiang hendak kembali meronta kesakitan, Jing Yang menusuk mulutnya menggunakan pedang.
Pemandangan ini membuat pertempuran lainnya terhenti. Kai Xuexuan dan Kong Taiha menyadari nyawa mereka telah diambang batas saat melihat bagaimana Jing Yang tanpa ragu membunuh dan menyiksa lawannya.
“Kematian terlalu mudah untukmu. Aku mendengar kalian bekerjasama dengan Tang Mu. Apakah tubuhmu dapat beregenerasi?” Jing Yang mencabut Pedang Gravitasi dan menatap tubuh Yong Xiang yang berlumuran darah.
Tidak ada jawaban dari Yong Xiang, akhirnya Jing Yang menjambak rambut Yong Xiang sambil memotong kepala pria itu tanpa berkedip sedikitpun.
Hua Minha dan Hua Quin tercengang melihat pertarungan Jing Yang. Pemuda itu membunuh tanpa ragu dan mengakhiri nyawa orang-orang yang telah merenggut kebahagiaan mereka berdua dengan cara paling kejam.
Mata Hua Minha berlinang, “Aku tidak menyangka akan ada hari dimana ada seseorang yang membalaskan penderitaan kami...”
__ADS_1
Hua Quin sendiri masih mengingat bagaimana dirinya kehilangan mahkotanya akibat perbuatan Ho Xing, Fan Bao, Yong Xiang, Kai Xuexuan dan Iblis Kembar Mematikan.
Melihat Jing Yang membunuh Yong Xiang membuat Hua Quin meneteskan air matanya tanpa sadar karena sebagian rasa sakit yang menduri di tubuhnya terangkat.