Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 40 : Pendekar Suci


__ADS_3

Jing Yang mengeluarkan segenap kekuatannya. Pasir pantai terhempas ketika aura berwarna hitam pekat berputar disekitar Jing Yang. Sedangkan aura berwarna merah melapisi pedang Jing Yang hingga bercahaya terang.


Semua pendekar dari Pulau Salju Rembulan terkejut melihat kemampuan Jing Yang. Kekuatan yang dimiliki pemuda berumur dua belas tahun itu sangat berbeda dari anak seusianya, bahkan sekarang Jing Yang telah mencapai pendekar suci diusianya yang begitu muda.


Lin Guo menaikan kewaspadaannya dan menatap tajam Jing Yang. Jubah yang dikenakannya robek ketika Lin Guo memperkuat fisiknya hingga badan dan lengannya membesar.


Jing Yang menatap Ye Xiaoya yang tersenyum kepadanya, “Guru, jangan bunuh orang bernama Lin Fang dan lima bawahannya...” Jing Yang mengingatkan Ye Xiaoya tentang Lin Fang, ayah dari Lin Fan agar jangan terbunuh oleh serangan acaknya.


“Tenang saja, kau cukup urus bagianmu itu...” Ye Xiaoya menjawab sambil terus menebaskan pedangnya menyerang pendekar yang berusaha melawannya atau melarikan diri.


Sekarang Jing Yang sudah tenang. Ketika putaran aura berwarna hitam pekat menghilang, semua orang tidak melihat keberadaan Jing Yang.


“Anak ini! Sangat berbahaya! Sial!” Lin Guo mengumpat dalam hatinya dan memperluas aura pertahanannya.


Suara benturan pedang terjadi. Jing Yang menebaskan pedangnya dengan cepat kepada Lin Guo. Keduanya langsung bertukar serangan dengan begitu cepat. Pendekar yang ada di dekat mereka tidak berkutik.


Ye Xiaoya membiarkan Lin Fang dan lima bawahannya hidup, sambil melihat dua pemuda yang melarikan diri dari pelabuhan. Ye Xiaoya tidak peduli dengan Lin Feng dan Lin Xiang. Sekarang dirinya berniat menghabisi tetua yang masih tersisa, sambil mengintrogasi tentang keadaan di Pulau Salju Rembulan. Jika masih ada pendekar yang berada di pulau, Ye Xiaoya berniat akan menghabisinya secara langsung.


Tebasan pedang Lin Guo memotong bangunan hingga terbelah, sementara Jing Yang memotong ombak yang datang dari arah laut.


“Tidak buruk juga! Tetapi kau akan mati!” Lin Guo terus melancarkan serangan tebasan beruntun tanpa henti. Tanah terbelah karena Jing Yang menahan menggunakan kekuatan gravitasi dari pedangnya.


Jing Yang bergerak dengan kecepatan tinggi sambil menghindari tebasan pedang Lin Guo. Ketika jarak diantara keduanya semakin mendekat, Jing Yang melepaskan tendangan pada perut Lin Guo. Tendangan yang dilapisi api itu membuat tubuh Lin Guo mundur tiga langkah ke belakang.


“Kau...” Lin Guo tersentak kaget, dia baru menyadari kekuatan Jing Yang sangat berbeda dari pendekar biasanya. Kekuatan ini terasa seperti manusia yang dilatih secara langsung oleh Dewa, “Siapa yang mengajarimu bela diri?”


Lin Guo penasaran dengan orang yang mengajari Jing Yang ilmu bela diri. Dari tendangan serta pukulan yang dilepaskan Jing Yang tidak pernah dia lihat gerakannya, bahkan permainan pedang Jing Yang selalu berganti-ganti.


“Guru...” Jing Yang menjawab dengan nada yang tidak peduli. Kali ini dia kembali memainkan pedangnya dengan begitu lincah.


Keduanya bertukar serangan di pesisir pantai. Setiap serangan dari mereka menghasilkan kerusakan yang cukup besar. Tebasan demi tebasan, mulai terdengar begitu nyaring hingga ke penjuru Kota Xuedong yang sekarang sepi itu.


Selepas keduanya bertukar sembilan jurus, Jing Yang menggunakan kekuatan dari Pedang Gravitasi, Yue Wang, pada Lin Guo. Namun serangannya tidak terlalu berpengaruh. Walau tanah berlubang dan hancur, tetapi Lin Guo dapat menghindari dan menahan serangan tersebut.

__ADS_1


Merasa dirinya tidak diuntungkan, Lin Guo berniat membunuh Jing Yang. Walau tidak dapat melarikan diri dari Ye Xiaoya, setidaknya dia dapat membunuh Jing Yang.


“Pedang Salju Rembulan : Pusaran Salju Merah!”


Jing Yang melebar matanya melihat teknik pedang milik Lin Guo. Pusaran salju yang membuat badai itu memporak-porandakan semua yang ada di dekat tempat pertempuran. Pusaran salju tersebut mulai berwarna merah ketika mayat pendekar yang bergelimpangan ikut terseret kedalamnya.


“Bau amis ini...” Jing Yang melepaskan tenaga dalamnya dan mengaliri pada bilah pedangnya.


“Jurusku ini mampu menyerang dan membantuku bertahan. Kau tidak akan bisa lari dari kematianmu!” Lin Guo berada di dalam pusaran salju tersebut.


Jing Yang melihat air laut yang ikut terseret dan membuat serangan Lin Guo semakin kuat. Bahkan serangannya mulai membuat badai.


“Aura Zirah Naga : Zirah Naga Petir!”


Ketika Jing Yang mulai menggunakan kekuatan Aura Zirah Naga. Seketika petir menyambar tubuh Jing Yang dan membuat tubuhnya dipenuhi cahaya dan kilat yang memutari tubuhnya.


Sekarang Jing Yang menggunakan Aura Zirah Naga pada seluruh tubuhnya. Roh Sang Hitam dan Ye Xiaoya tersenyum bangga melihat kemampuan Jing Yang.


Walau banyak teknik pedang yang dia ciptakan saat melihat pertarungan Hewan Buas dan Binatang Iblis di Tebing Dimensi Hitam. Tetapi Jing Yang tidak pernah memberi nama pada teknik pedangnya.


Lin Fang dan lima bawahannya tidak percaya melihat kemampuan Jing Yang. Ada perasaan bangga di hati mereka karena melihat orang yang diasuh Xue Qinghua telah tumbuh dengan begitu baik. Namun dosa besar yang mereka berenam tanggung karena gagal membalas kebaikan Xue Qinghua membuat keenam orang tersebut hanya diam dan menyaksikan Jing Yang dengan mata kepala mereka sendiri.


Jing Yang menampar wajahnya karena terlalu berpikir dan bergerak dengan kecepatan tinggi menebas pusaran salju tersebut. Tebasan pedang Jing Yang dilapisi petir berwarna ungu. Suaranya begitu keras dan menggelegar ketika pedang Jing Yang membentur pusaran salju tersebut.


“Tidak mungkin! Aku tidak akan kalah disini!” Lin Guo berteriak karena pusaran salju menyatu dengan aura tubuh milik Jing Yang. Petir mulai menyambar dirinya yang berada di tengah-tengah pusaran salju tersebut.


Jing Yang memanipulasi aura tubuhnya menjadi petir dan menyalurkannya pada pusaran salju tersebut. Ledakan membuat tubuh Lin Guo terhempas keluar dari pertahanannya.


Mata Lin Guo menatap Jing Yang geram ketika serangannya dapat dimentahkan oleh Jing Yang. Sekarang dia melampiaskan kemarahannya kepada Jing Yang karena telah membuatnya merasa terdesak bahkan diambang kematian.


Kedua pedang saling berbenturan. Angin dan petir bergesekan di udara. Lin Guo dan Jing Yang saling bertukar jurus, mereka berdua berpindah tempat ketika selesai melepaskan jurusnya. Tidak ada yang mau mengalah, dan tidak ada yang berhenti melepaskan serangannya.


Jing Yang terus memainkan pedangnya lebih cepat. Baru pertama kali dirinya melawan orang yang membuatnya memakai kekuatan milik Roh Sang Hitam.

__ADS_1


“Aura Zirah Naga sangat membantuku...” Jing Yang menggumam pelan.


Berkat Aura Zirah Naga, tubuh Jing Yang tidak mendapat luka yang terlalu parah walau Lin Guo berulang kali memberinya luka sayatan pada sekujur tubuhnya.


Lin Guo merasa telah memiliki kesempatan untuk membunuh Jing Yang, namun semua itu sirna dalam sekejap ketika permainan pedang Jing Yang berganti dari lembut menjadi lebih agresif. Butuh waktu yang lama bagi Jing Yang mendaratkan beberapa tebasan pedang yang dilapisi petir pada sekujur tubuh Lin Guo.


Selepas meneriman tebasan pedang Jing Yang. Rasa sakit mulai menyebar di sekujur tubuhnya. Lin Guo mengumpat karena tidak menyangka akan datang dua orang yang membalas perbuatannya empat tahun lalu saat kudeta Pulau Salju Rembulan.


“Sialan kau anak cacat!” Lin Guo berteriak mencaci Jing Yang. Amarahnya meluap namun perkataannya membuat Jing Yang lebih mudah untuk membunuhnya.


“Akan kupikirkan nama untuk jurus ini...” Jing Yang menggumam pelan dan menahan tebasan pedang Lin Guo dengan mudah. Sekarang Lin Guo dipenuhi kemarahan dan emosi, Jing Yang justru memanfaatkan untuk membunuhnya dengan jurus pedangnya yang baru saja dia pikirkan.


Serangan Lin Guo semakin lama semakin agresif, tetapi Jing Yang dapat menangkisnya dengan mudah. Kemarahan Lin Guo, dia manfaatkan dengan baik.


Keduanya bertukar jurus hingga delapan jurus yang membutuhkan tenaga dalam dan aura tubuh yang besar, dalam pertukaran serangan itu Lin Guo berkali-kali mendapatkan tusukan serta sayatan, begitu juga dengan Jing Yang.


Selepas bertukar serangan, Jing Yang tersenyum tipis karena telah memikirkan nama untuk teknik pedangnya kali ini.


“Amarah Pedang Petir : Auman Halilintar!”


Kilat menyambar bersamaan dengan kecepatan tebasan pedang Jing Yang. Angin berhembus kencang ketika bilah pedang Jing Yang dikelilingi petir. Suara auman singa terdengar walau itu hanyalah kilat yang menyambar.


Dalam satu kali tebasannya yang begitu cepat, Jing Yang melepaskan serangannya kepada Lin Guo yang menahannya.


Napas Lin Guo tertahan melihat teknik pedang Jing Yang. Dia tidak mengira akan mati di tangan seorang pemuda yang dahulu menjadi bahan tertawaan di Pulau Salju Rembulan.


Sejauh dia memandang bekas pertempuran, Lin Guo hanya bisa tersenyum pahit ketika tebasan pedang petir yang membentuk mulut singa itu menembus perutnya.


Semua pendekar yang tersisa seperti Lin Fang dan lima bawahannya hanya berdiri lemas. Bahkan Lin Feng dan Lin Xiang berkeringat dingin ketika melihat Lin Guo mati di tangan Jing Yang.


“Sepertinya tenagaku terkuras habis...” Jing Yang berkata pelan, sambil menatap tubuh Lin Guo yang tergeletak di tanah. Matanya memejam, kemudian dia bergerak dengan kecepatan yang tinggi mengejar Lin Feng dan Lin Xiang.


“Jangan berharap bisa melarikan diri dariku!” Jing Yang berkata dengan tenang. Tatapan matanya menatap dingin Lin Feng dan Lin Xiang.

__ADS_1


__ADS_2