
Dalam perjalanan menuju Ibukota Shilin, Shi Surao memberitahu jika akses masuk kedalam Ibukota Shilin diperketat. Bahkan untuk mengancam penduduk, Shi Xuanyuan tidak segan-segan memajang tubuh ayah kandungnya didepan istana.
“Tubuh ayahku dibekukan dan...” Shi Surao menelan ludah dan tidak melanjutkan perkataannya mengingat kepala ayahnya yang terpisah dari tubuhnya.
Bai Xianlin mengerti dan memahami, “Untuk akses masuk ke Ibukota Shilin kita pikirkan nanti, pasti ada jalan.” Cukup optimis Bai Xianlin berpikir demikian.
Sementara Xue Bingyue sendiri memberi saran untuk masuk lewat jalur udara. Bai Xianlin menerimanya tetapi kehadiran mereka bisa saja diketahui salah satu pilar Menara Sejalan.
“Sepertinya kita bisa melewati jalur udara. Malam hari adalah waktu yang tepat untuk bergerak. Kita bisa mendarat ditempat terjauh dari istana untuk menghindari pilar utama Menara Sejalan.” Shi Surao memberikan pendapat tetapi rencana selanjutnya setelah memasuki Ibukota Shilin tidak dia ketahui.
“Benar juga..." Bai Xianlin bergumam pelan sambil mengelus dagunya, “Sepertinya buntu...”
Bai Xianlin mendarat dan memilih untuk membuat api unggun untuk beristirahat sejenak. Xue Bingyue dan Shi Surao mengikuti Bai Xianlin sambil mencari rantaing kayu kering.
“Hidupku terasa diputarbalikkan. Aku yang dulunya seorang putri berubah menjadi gadis buronan yang diincar sekelompok pembunuh.” Shi Surao menghela nafas panjang saat mengambil beberapa ranting kayu.
“Tidak ada gunanya mengeluh dan meratapi kejadian yang lalu, Kakak Raorao.” Xue Bingyue melirik Shi Surao sambil menatapnya tajam, “Apa yang akan kau lakukan jika memiliki kesempatan untuk membunuh kakakmu? Apa kau sanggup menghunus pedang padanya?”
“Aku bisa saja memberikan kesempatan itu padamu jika bertemu kakakmu.” Xue Bingyue berdiri dan berjalan menuju tempat mereka beristirahat. Shi Surao berjalan disampingnya dan mencerna perkataan Xue Bingyue.
“Entah, sebagian diriku diselimuti dendam dan disisi lain aku tidak sanggup melakukannya. Membunuh kakak kandung sendiri itu sangat berat untukku.” Shi Surao menjawab dengan suara bergetar dan tak lama dia tersenyum kecut.
“Aku sadar kebaikanku ini percuma dan akan berujung pada kenaifan. Lagipula dunia tidak sebaik itu. Aku harus membulatkan tekadku.” Shi Surao menatap tajam Xue Bingyue yang tersenyum mendengar pernyataannya.
“Apa yang kalian berdua bicarakan?” Bai Xianlin sedang membuat api unggun sambil duduk didekat perapian.
Xue Bingyue dan Shi Surao membantu Bai Xianlin sebelum keduanya menjelaskan kepada Bai Xianlin tentang sosok Shi Xuanyuan yang ingin Shi Surao bunuh.
“Membunuh...” Bai Xianlin tersenyum kecut, “Memang mudah mengatakannya. Tetapi saat kita memiliki kesempatan itu, tangan dan tubuh kita akan gemetaran. Bahkan setelah membunuh orang yang paling kita benci sekalipun perasaan diselimuti rasa bersalah akan terus menghampiri.”
“Aku hanya ingin kalian berdua tidak menyesali tindakan dan keputusan kalian.” Bai Xianlin menambahkan sambil mengulurkan tangannya pada Xue Bingyue untuk mengeluarkan sejumlah makanan dari dalam Cincin Dewa.
“Bibi Xianlin, terimakasih atas nasehatnya.” Xue Bingyue memberikan sejumlah makanan pada Bai Xianlin dan beberapa daging Hewan Buas.
“Aku hanya ingin memberitahu saja. Hanya itu.” Bai Xianlin memakan cemilan yang diberi Xue Bingyue sementara Shi Surao mulai membakar daging Hewan Buas.
__ADS_1
Mereka bertiga menikmati makan malam dengan makanan seadanya dibawah langit berbintang. Ketiganya berbincang ringan dan membicarakan tujuan mereka kedepannya.
____
Saat pagi tiba Xue Bingyue terbangun lebih dulu dibandingkan Shi Surao dan Bai Xianlin. Gadis kecil itu membasuh wajahnya disungai yang dekat dengan tempat mereka beristirahat.
“Sejuk...” Xue Bingyue memejamkan matanya dan tersenyum tipis, “Pagi yang indah.”
“Ya, pagi yang indah bukan?” Shi Surao berdiri disamping Xue Bingyue yang sedang melebarkan kedua tangannya.
Xue Bingyue membuka matanya dan menatap Shi Surao yang berdiri disampingnya, “Dimana Bibi Xianlin?”
“Ah, dia sedang mandi dibawah sana.” Shi Surao menunjuk aliran sungai, Xue Bingyue memandang aliran sungai tersebut sebelum memilih untuk bergabung dengan Bai Xianlin.
Shi Surao mengikuti Xue Bingyue sebelum keduanya mandi pagi bersama Bai Xianlin.
“Eh, tubuhmu terlihat menjanjikan Raorao. Hanya saja dua aset atasmu itu kurang besar.” Bai Xianlin bersandar pada batu dan memperhatikan Shi Surao yang berusaha menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya.
“Berhenti menatapku, Bibi Xianlin.” Shi Surao sendiri tidak melepaskan pandangannya dari tubuh Bai Xianlin yang begitu dewasa dan indah.
“Yueyue, kau akan tumbuh menjadi gadis cantik. Hmmm, kurasa setelah umurmu aku akan memberitahumu cara memperbesar ini.” Bai Xianlin memegang dadanya dan tersenyum menggoda kearah Xue Bingyue.
“Dasar mesum!” Justru Shi Surao yang menanggapi ucapan Bai Xianlin.
“Aku sudah terbiasa dengan sikapnya, Kakak Raorao. Bertahanlah, lama-lama kau akan terbiasa.” Xue Bingyue membasuh tubuhnya sebelum mengenakan pakaiannya kembali.
“Sampai kapan kau akan berendam, Bibi Xianlin?” Xue Bingyue menggelengkan kepalanya melihat Bai Xianlin bersantai.
“Benar, Bibi Xianlin kau terlalu santai.” Shi Surao menanggapi.
Bai Xianlin menghela nafas berat, “Kalian berdua terlalu berisik. Sikap kalian menandakan kalian masihlah seorang bocah dan bukan seorang wanita.”
Bai Xianlin membasuh tubuhnya dan memakai pakaiannya kembali. Setelah itu dia menyuruh Shi Surao membuat sarapan pagi sambil mendiskusikan rencana mereka kembali.
Saat Shi Surao sedang membuat makanan, terdengar suara langkah kaki kuda. Bai Xianlin melepaskan aura tubuhnya dalam jumlah besar dan merasakan hawa keberadaan manusia.
__ADS_1
“Sebelas orang, sepuluh diantaranya adalah seorang pendekar.” Bai Xianlin mengeluarkan topeng berwarna biru dan memberikannya pada Shi Surao.
“Pakai ini.” Lalu Bai Xianlin kembali mengeluarkan topeng berwarna putih dan memberikannya pada Xue Bingyue.
Setelah Shi Surao selesai membuat sarapan pagi, segera Bai Xianlin, Xue Bingyue dan Shi Surao menikmatinya.
“Yueyue, Raorao, menjauhlah.” Bai Xianlin tidak menjelaskan rencananya dan hanya memakai topeng berwarna merah sebelum berdiri didekat perapian.
Xue Bingyue dan Shi Surao menjauh dari lokasi dan memperhatikan tindakan Bai Xianlin yang tidak terduga.
“Apa yang sebenarnya Bibi Xianlin pikirkan? Bukankah itu bendera keluarga Huang? Dan pengawalnya merupakan pendekar Menara Pilar Langit!” Shi Surao merasa khawatir dengan tindakan Bai Xianlin.
“Tenang saja, Kakak Raorao. Bibi Xianlin tidak akan melakukan hal yang tidak membuatnya untung. Kurang lebih aku mengerti dengan tindakannya itu.” Xue Bingyue menebak Bai Xianlin akan membunuh seluruh pengawal keluarga Huang dan memanipulasi pria bangsawan yang duduk didalam kereta kuda.
Beberapa saat terlihat kereta kuda dan berhenti. Bai Xianlin memperhatikan kusir kuda yang merupakan seorang pendekar. Tatapan sepuluh pendekar mengarah padanya termasuk sang kusir kuda.
“Baiklah...” Bai Xianlin mengetahui jubah yang dikenakan para pendekar sama seperti pendekar yang ada di Kota Luodao. Terlebih dia mengetahui keluarga Huang yang bekerjasama dengan Shi Xuanyuan dari sekelompok pendekar Benteng Naga Besi yang mengejar Shi Surao.
Tanpa aba-aba Bai Xianlin bergerak cepat membunuh satu demi satu pendekar hingga menyisakan sosok pria berumur tiga puluhan tahun yang ketakutan melihat dirinya.
“Siapa- siapa kau?!” Pria itu menunjuk-nunjuk Bai Xianlin dan melebarkan matanya waspada, “Aku rasa kita tidak pernah memiliki dendam sebelumnya! Apa tujuanmu?! Uang? Aku akan memberikannya!”
Bai Xianlin tersenyum lebar, “Bagus, ternyata kau cepat mengerti. Berikan seluruh uangmu jika tidak ingin mati.”
Mendengar tuntutan Bai Xianlin tentu saja pria itu ragu, “Tetapi-”
Belum sempat selesai bicara, Bai Xianlin menyela perkataannya, “Serahkan semua padaku atau mati?”
Pria itu menelan ludah saat merasakan hawa pekat mencekam, “Aku akan memberikannya...”
Setelah menerima uang pemberian dari pria bangsawan itu, Bai Xianlin memukul ulu hati pria itu hingga pingsan.
“Menarik. Aku bisa menggunakan dia.” Bai Xianlin tersenyum lebar sebelum berteriak, “Raorao, dia dari keluarga Huang bukan?”
Segera Shi Surao dan Xue Bingyue mendekati Bai Xianlin yang sedang memegang sejumlah kantung emas.
__ADS_1