
Jing Yang duduk di dekat kusir. Dalam perjalanan dia mengetahui identitas dari tiga orang yang ingin memberinya imbalan.
Ketiganya tak lain adalah keluarga Walikota Kota Cunfei. Pria paruh baya dengan senyum ramah yang mengajak Jing Yang bernama Lu Hen. Sedangkan istrinya bernama Lu Xiulan dan seorang anak perempuannya yang berumur sepuluh tahun bernama Lu Xiuyu.
Kereta kuda membawa Jing Yang dan Keluarga Lu Hen menuju Kota Cunfei. Dalam perjalanan, Jing Yang tidak mendapatkan masalah yang berarti. Bisa dibilang Tikus Petir adalah hambatan terakhir menuju Kota Cunfei.
Ketika dalam perjalanan, sesekali Lu Hen bercerita masalah yang sering terjadi di berbagai kota yang ada di Kekaisaran Jiang. Selama dua tahun terakhir, Hewan Buas selalu menyerang pertanian milik penduduk. Desa-desa kecil selalu menjadi incaran, sudah tak terhitung jumlah korbannya.
Dalang dari penyerangan itu adalah Partai Hewan Buas. Sebuah perkumpulan yang hanya memiliki lima anggota itu mempunyai kekuatan yang setara dengan sekte menengah karena kelima orang tersebut mampu mengendalikan Hewan Buas. Tikus Petir adalah contohnya.
Jing Yang mengingat sekilas tentang tanda merah di leher Tikus Petir, sambil mendengarkan penjelasan Lu Hen kepadanya. Jing Yang melirik Roh Sang Hitam yang terbang di udara.
Menurut Roh Sang Hitam ada Pusaka Langit yang mampu mengendalikan Hewan Buas. Senjata itu telah jatuh ke tangan orang yang salah, sehingga tidak bisa dipungkiri masalah ini kedepannya akan sangat serius.
Jing Yang sempat bertanya pada Lu Hen, seharusnya masalah Hewan Buas dapat diatasi oleh pendekar dari sekte kecil hingga menengah. Namun Jing Yang mendapatkan jawaban yang mengejutkan.
Lu Hen dan beberapa walikota yang tersebar di Kekaisaran Jiang sudah menyewa pendekar dari sekte kecil hingga menengah, namun kebanyakan dari mereka tewas dalam misi tersebut.
Lu Hen sebenarnya ingin menyewa pendekar dari sekte besar. Tetapi hanya ada satu dari tiga sekte aliran putih terbesar di Kekaisaran Jiang yang mau berkerjasama. Satu diantaranya dan yang menerima pekerjaan dari walikota telah merosot kejayaannya, sedangkan dua lainnya selama empat tahun terakhir naik pesat perkembangannya.
Jing Yang langsung menaikan alisnya ketika mendengar perkataan Lu Hen. Ada rasa penasaran tentang dua nama sekte tersebut, sehingga Jing Yang bertanya kembali kepada Lu Hen.
Dua nama sekte besar aliran putih yang selama empat tahun terakhir berkembang pesat yakni Gunung Pedang Tunggal dan Istana Naga Api. Saat mendengar dua nama sekte ini, Jing Yang ingin menyelidikinya terlebih dahulu.
Dari dua nama itu, tidak ada yang menerima pekerjaan dari bangsawan. Kedua sekte itu sangat percaya diri dengan kemampuan mereka. Satu sekte aliran putih tersebar yang bernama Istana Bunga Persik adalah satu-satunya diantara tiga sekte aliran putih terbesar yang mau menerima dan membantu penduduk.
Jing Yang mengerti garis besarnya. Dari sini dia mulai menghubungkan sedikit demi sedikit orang-orang yang terlibat dalam kudeta Pulau Salju Rembulan.
Setelah melewati perjalanan yang cukup lama. Akhirnya Jing Yang bersama rombongan Keluarga Lu Hen sampai di tempat tujuan. Kota dengan gerbang yang dijaga penjaga kota itu terlihat ramai dan damai.
Gerbang besar itu bertuliskan nama kota itu sendiri. Kota Cunfei adalah kota kecil yang menghubungkan Kota Xufei dan Kota Shendong. Jadi di Kota Cunfei banyak pedagang serta orang yang ingin menginap sebelum melanjutkan perjalanan menuju Kota Xufei ataupun sebaliknya, menuju Kota Shendong.
__ADS_1
Jing Yang sendiri mengambil rute terobosan dengan melewati gunung dan bukit. Rute yang dia lewati adalah rute menuju Kota Shendong tercepat dari Kota Xuedong.
Peta yang diberikan oleh Shen Mi adalah peta buatan Keluarga Shen. Saat ini Jing Yang ingin bermalam terlebih dahulu di Kota Cunfei sebelum melanjutkan perjalanan ke Kota Shendong keesokan harinya.
“Mari masuk, Tuan Muda...” Lu Hen dengan ramah menyuruh Jing Yang masuk ke dalam rumahnya. Kediaman Walikota Kota Cunfei cukup besar dengan halaman yang luas. Jing Yang menatap sesaat sebelum turun dari kereta kuda.
“Panggil aku Jing Yang saja Paman Hen...” Jing Yang membungkuk dan tersenyum ramah.
“Baiklah. Mari masuk, Pendekar Muda...” Jing Yang tidak membantah lagi dan mengikuti ajakan Lu Hen.
Istri Lu Hen berjalan terlebih dahulu dan menyuruh pelayan untuk menyiapkan jamuan. Lu Xiulan terlihat begitu tegas, sedangkan anaknya yang masih berumur sepuluh tahun yakni Lu Xiuyu terlihat begitu pemalu.
Jing Yang sedikit sungkan karena disambut dengan meriah. Tudung hitamnya dia lepas sebelum masuk ke dalam rumah mewah itu.
“Xiuxiu, ayo sapa Yang‘er. Jangan diam saja...” Lu Xiulan memegang pundak Li Xiuyu dan menggoyangnya pelan.
Lu Xiuyu menatap Jing Yang dengan malu-malu. Butuh waktu lama bagi Lu Xiuyu untuk menatap wajah Jing Yang lurus.
Sementara Lu Hen menggelengkan kepalanya dan tertawa cukup keras. Hanya Jing Yang dan Lu Xiuyu yang kebingungan harus bersikap seperti apa.
Jing Yang sebenarnya tidak ingin terlalu menanggapi perkataan Lu Xiuyu, namun melihat wajah Lu Xiuyu yang tampak malu-malu, membuat Jing Yang menjadi kebingungan.
“Bunda!” Lu Xiuyu memukul pelan perut Lu Xiulan setelah melihat Jing Yang tidak menanggapi perkataannya.
Lu Hen segera mengajak Jing Yang masuk ke dalam rumahnya dan mengantarnya ke dalam ruangan kamar yang cukup besar ukurannya.
Jing Yang bisa melihat ranjang di kamar tersebut memiliki kualitas yang tinggi. Lu Hen mengobrol dengan Jing Yang dalam waktu yang lama hingga jamuan makan malam siap untuk dimakan.
Sebelum makan. Jing Yang mandi terlebih dahulu, karena dia tidak ingin menyantap makanan dengan bau badan serta keringat yang menempel di badannya.
Jamuan makan malam yang diadakan Lu Hen termasuk berlebihan. Namun bagi Jing Yang ini adalah makanan yang selama ini ingin dia rasakan. Sayuran hijau dan daging yang dimasak dengan sangat baik. Rasa dan aromanya sangat menggoda. Rasa sedap menyatu dalam mulutnya, kerenyahan dan kelembutan membuat Jing Yang menikmati jamuan malam ini.
__ADS_1
Dengan lahap Jing Yang memakannya. Ketika sedang memakan hidangan dengan lahap, Jing Yang melihat sup jagung yang terlihat berbeda dari makanan lainnya yang ada dalam jamuan.
Jing Yang menatap Lu Hen dan Lu Xiulan. Namun tidak ada reaksi dari pasangan suami-istri tersebut. Ketika Jing Yang menatap wajah Lu Xiuyu, tersirat wajah yang penuh harap. Jing Yang sedikit penasaran sehingga dia memakan sup jagung tersebut.
Sup jagung yang hangat itu memiliki rasa yang terlalu asin. Tetapi bagi Jing Yang ini lebih baik daripada daging Binatang Iblis yang tiap hari dia makan selama lima tahun belakangan ini.
“Bagaimana rasanya? Apa enak, Yang Gege?” Lu Xiulan tersedak melihat kepribadian anaknya berubah. Bahkan Lu Hen juga membulat matanya karena baru kali ini dia melihat anaknya memasak untuk seseorang. Terlebih seseorang itu adalah Jing Yang, pemuda yang baru saja dia kenal dalam perjalanan.
“Enak. Sup jagung ini rasanya sangat hangat dimulutku. Aku sangat menyukainya. Sudah lama aku tidak memakan sup hangat seperti ini.” Jing Yang menjawab dengan polosnya. Mendengar itu tentu Lu Xiulan menahan tawanya.
Wajah Lu Xiuyu terlihat begitu gembira. Pipinya merah merona dan menatap Jing Yang malu-malu.
“Anak manusia, kau membuat anak itu salah tingkah...” Roh Sang Hitam berkata dengan keras kepada Jing Yang.
Selesai makan malam bersama. Jing Yang kembali ke kamarnya, dia diikuti oleh Lu Xiuyu dari belakang.
Di dalam kamar. Jing Yang mendengarkan Lu Xiuyu bercerita tentang Hewan Buas yang pernah dia lihat di dalam buku.
Jing Yang menjadi pendengar yang baik karena dia tidak ingin menyinggung Lu Xiuyu jika dirinya telah hidup bersama Hewan Buas dan Binatang Iblis sejak umurnya tujuh tahun.
“Yang gege, apa besok kau akan pergi dari sini?” Selesai bercerita. Lu Xiuyu bertanya dengan wajah yang terlihat penasaran. Seolah-olah gadis kecil itu tidak ingin Jing Yang pergi dari Kota Cunfei.
“Aku akan pergi ke Kota Shendong. Mungkin kita tidak akan bertemu ketika aku pergi dari Kota Cunfei dalam waku yang lama. Ada sesuatu yang harus aku lakukan. Tidak, aku harus melakukannya.” Jing Yang menyatukan kedua telapak tangannya dan merubah raut wajahnya menjadi serius.
Jing Yang menceritakan tentang orang yang sedang dia cari kepada Lu Xiuyu. Mendengar cerita Jing Yang tentu hati gadis kecil itu merasa patah hati. Lu Xiuyu tidak terlalu mengerti perasaan itu, namun dia bisa melihat Jing Yang adalah orang yang bebas. Tidak mungkin dia menggenggamnya dan mendekapnya dalam pelukannya sendiri, karena Jing Yang adalah pemuda yang bebas.
“Yang gege, semoga kau bisa menemukan Xue Bingyue dan Nenek Xue Qinghua. Aku akan mendoakan yang terbaik untukmu dan mereka berdua...” Lu Xiuyu tersenyum lembut kepada Jing Yang, sambil berdiri dan keluar kamar Jing Yang secara perlahan.
Jing Yang membalas senyuman Lu Xiuyu. Kemudian dia membaringkan tubuhnya setelah Lu Xiuyu menutup pintu.
Malam ini Jing Yang tertidur pulas. Roh Sang Hitam yang mengamati Jing Yang menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Anak manusia ini! Ternyata dia memiliki kekuatan memikat yang hebat. Aku harus berhati-hati dengan sikap manjanya!”