
Selama sebulan Jing Yang masih tidak dapat beradaptasi di tempat barunya, namun berkat senyuman lembut Roh Sang Hitam, dia dapat tidur di malam hari ketika kelelahan tanpa khawatir dirinya diawasi ratusan Binatang Iblis.
Hari ini Roh Sang Hitam menjelaskan pada Jing Yang tentang apa saja yang tertulis di Kitab Dewi Naga Surgawi, walau tidak memberitahu semuanya secara langsung, Roh Sang Hitam menjelaskan pada Jing Yang tentang pernapasan yang ada di Kitab Dewi Naga Surgawi.
Di dalam Kitab Dewi Naga Surgawi ada dua cara mengolah pernapasan, yang pertama mengolah pernapasan secara halus dan yang kedua mengolah pernapasan secara kasar.
Kemudian Roh Sang Hitam menjelaskan pada Jing Yang tentang pernapasan yang akan dia ajarkan kepada pemuda tersebut.
Pernapasan Dewi Naga terbagi menjadi beberapa bagian. Pertama, Seni Napas Dewi Naga Api. Kedua, Seni Napas Dewi Naga Angin. Ketiga, Seni Napas Dewi Naga Petir. Keempat, Seni Napas Dewi Naga Tanah. Terakhir, Seni Napas Dewi Naga Kegelapan.
Sebelum berlatih pernapasan, Roh Sang Hitam berniat mengajari Jing Yang untuk mempelajari Teknik Tubuh Dewi Naga Hitam. Melihat wajah Jing Yang yang gembira, Roh Sang Hitam menyuruh pemuda tersebut untuk bertarung melawan Binatang Iblis di sekitar hutan yang mereka tempati.
Jing Yang terlihat kesulitan mengalahkan Binatang Iblis Tahap Langit Tingkat Satu, sehingga Roh Sang Hitam menemani Jing Yang ke tempat Binatang Iblis Tahap Bumi berkumpul.
Dalam kurun waktu dua bulan, Jing Yang terus-menerus bertarung melawan Binatang Iblis Tahap Bumi. Ratusan Permata Iblis dia serap khasiatnya. Selama itu pula Jing Yang merasakan perbedaan yang semakin terasa pada tubuhnya.
Setelah merasa cukup, Roh Sang Hitam menyuruh Jing Yang mencari buah-buahan yang masih termasuk sumber daya di dalam hutan. Tak lama setelah pemuda itu kembali, Roh Sang Hitam menunjukkan sebuah air terjun yang dibawahnya terdapat kolam air panas.
Roh Sang Hitam menjelaskan kepada Jing Yang jika kolam air panas maupun air dari aliran air terjun sangat berkhasiat. Perkataan Roh Sang Hitam benar apa adanya, ketika Jing Yang berendam di kolam air panas, dia merasa tubuhnya mengalami proses penempaan tulang dengan sendirinya.
Perlahan Jing Yang memejamkan matanya dan tertidur di dalam kolam air panas hingga sore hari. Roh Sang Hitam membiarkan Jing Yang untuk beristirahat, perempuan berparas cantik itu sedang menatap ke arah langit.
Langit yang dia tatap adalah sebuah tempat yang tak lain adalah Tebing Kesepian. Menurut Roh Sang Hitam, butuh waktu lama bagi Jing Yang untuk membuka segel Tebing Dimensi Hitam.
Jika Jing Yang berhasil menguasai Teknik Tubuh Dewi Naga Hitam, maka pemuda tersebut dapat bertarung bersama dengan Roh Sang Hitam dan menggunakan kekuatan dari Roh Sang Hitam.
__ADS_1
Ketika malam hari tiba, Jing Yang terbangun dan merasa ada perbedaan di tubuhnya. Senyuman tipis menghiasi wajahnya.
“Aku merasa ada sesuatu yang hebat terjadi pada tubuhku...” Jing Yang bergumam sendiri sambil membasuh tubuhnya. Setelah membasuh tubuhnya, Jing Yang menghampiri Roh Sang Hitam yang sedang terbang melayang di udara seperti biasanya.
“Malam ini lakukan meditasi sambil menyerap Permata Iblis yang telah kau ambil dari Binatang Iblis. Gunakan semuanya, jangan buang-buang sumber daya yang ada di hutan ini.” Roh Sang Hitam menjelaskan. Kemudian perempuan berparas cantik itu mengamati Jing Yang yang sedang duduk bersila dan bermeditasi.
Menit demi menit berlalu, ketenangan malam berlalu dengan cepat. Ketika matahari keluar dari singgasananya, Roh Sang Hitam tersenyum puas karena mendengar tulang-tulang Jing Yang berbunyi keras. Suara tulang-tulang Jing Yang yang terdengar seperti remuk dan hancur.
Mata Jing Yang terbuka dan tersenyum tipis menatap ke arah Roh Sang Hitam, ”Guru, apa tadi Guru mendengarnya?” Dengan raut wajah yang kebingungan, Jing Yang tersenyum melihat Roh Sang Hitam.
“Tulang-tulang tubuhmu semakin kuat, namun kau belum mencapai Tulang Naga Perunggu.” Roh Sang Hitam turun dan mendekati Jing Yang.
“Untuk sebulan ini, aku ingin kau berlatih mandiri. Cari sumber daya dan Permata Iblis sendiri. Kemudian jangan lupa berendam di kolam air panas sambil bermeditasi.” Roh Sang Hitam menambahkan. Terlihat Jing Yang menelan ludah.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Jing Yang sarapan pagi dengan Apel Es dan Madu Ratu. Selesai sarapan pagi, Jing Yang langsung bergegas menuju hutan yang dihuni Binatang Iblis Tahap Bumi.
Dari pagi hingga siang hari, Jing Yang bertarung melawan Binatang Iblis Tahap Bumi Tingkat Tiga. Kemudian ketika siang hari tiba, Jing Yang berendam di kolam air panas hingga sore hari.
Ketika malam hari tiba, Jing Yang bermeditasi dan menyerap khasiat yang terkandung di dalam Permata Iblis. Dalam sebulan Jing Yang melakukan hal tersebut secara berulang-ulang.
Tak terasa satu bulan telah berlalu, ketika pagi hari tiba, suara tulang-tulang Jing Yang terdengar seperti retak. Suaranya menggema di hutan yang sedang dia huni itu.
Roh Sang Hitam tersenyum puas melihat perkembangan Jing Yang. Setelah Jing Yang membuka matanya, terlihat wajah pemuda tersebut kelelahan.
“Berlatih memang menyenangkan, Guru. Tetapi...” Untuk pertama kalinya Jing Yang merasa dirinya sangat lelah dan ingin meminta untuk beristirahat pada Roh Sang Hitam secara langsung.
__ADS_1
Roh Sang Hitam bisa menebak apa yang ada di pikiran Jing Yang saat ini sehingga perempuan berparas cantik itu mendekati Jing Yang.
“Hari ini, kita akan mengobrol. Sebelumnya kita sangat jarang mengobrol, maka dari itu aku ingin mendengar tujuamu setelah keluar dari sini, anak manusia.” Roh Sang Hitam bertanya sambil duduk di samping Jing Yang.
“Seperti janji kita, Guru. Aku ingin kembali menemui Nenek dan Yueyue. Tentu aku akan membantu Guru mencari saudara jauh dari Guru.” Jing Yang tersenyum tipis sambil kepalanya mendongak menatap langit.
“Tetapi aku ingin mencari pengalaman terlebih dahulu, Guru. Bagiamana kalau kita berdua pergi berpetualang mengelilingi Benua Dataran Tengah, Guru?” Perkataan Jing Yang yang terakhir membuat Roh Sang Hitam tersenyum tipis.
“Aku akan mengikutimu. Pelajari dunia ini terlebih dahulu sebelum kau kembali menemui kedua orang berhargamu itu,” ucap Roh Sang Hitam.
“Apa kau tidak berpikir untuk membalaskan kematian orang tuamu?” Roh Sang Hitam bertanya secara mendadak. Pandangan matanya menatap Jing Yang yang berubah raut wajahnya.
Terlihat wajah Jing Yang yang tadi tersenyum lebar menjadi tersenyum kecut. Entah apa yang ada di pikiran pemuda itu, namun Roh Sang Hitam bisa merasakan kebaikan hati Jing Yang dan kepolosan alami pemuda tersebut.
“Sejujurnya aku masih tidak terima, Guru. Tetapi Ayah dan Bunda pasti tidak ingin aku menjadi seorang pendendam.” Jing Yang menghela napas panjang, “Saat itu aku tidak mempunyai kekuatan apapun. Selain menangis, aku tidak bisa melakukan apapun. Namun sekarang aku tidak ingin keluargaku yang tersisa direnggut oleh siapapun lagi. Akan kupastikan kali ini aku akan dapat melindungi Nenek dan Yueyue,” tambah Jing Yang.
Roh Sang Hitam senang mendengar jawaban Jing Yang, “Mungkin ini alasan aku menolongmu saat terjatuh dari tebing. Aku bisa merasakan kelembutan hatimu. Kau harus ingat, dunia adalah tempat yang keras dan teramat kejam...” Roh Sang Hitam menahan perkataannya.
“Namun jika kau terlalu polos, baik hati dan terlalu tulus maka itu akan menjadi kelemahanmu. Semua emosi yang berhubungan dengan cinta dan kasih sayang akan melahirkan kebencian.” Roh Sang Hitam menambahkan.
Jing Yang tersenyum tipis mendengar perkataan Roh Sang Hitam. “Tidak terasa aku berada disini selama dua tahun. Apa Yueyue masih ingat denganku?” Jing Yang membatin dalam hatinya.
”Untuk mengisi waktu luangmu, lebih baik kau berendam di kolam air panas itu hingga sore hari. Jangan lupa melakukan meditasi.” Roh Sang Hitam kembali melayang di udara dan mengamati Jing Yang.
“Baik, Guru. Lagipula aku sudah terbiasa tidur sambil berendam,” jawab Jing Yang sambil terkekeh. Tak lama dia melepaskan pakaiannya dan berendam di kolam air panas.
__ADS_1