Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 177- Desa Air


__ADS_3

Jing Yang menaruh Gulungan Dewa Api kedalam Cincin Dewa. Saat Jing Yang menggenggamnya seketika sebuah ingatan seseorang muncul, wajah Jing Yang pucat pasi melihat bagaimana seluruh saudara Li Ho dibantai oleh sekelompok orang.


“Ini-” Jing Yang memegang kepalanya dan terus diperlihatkan sesuatu yang bukan termasuk ingatannya.


Klan Li yang telah binasa seperti Klan Jing dan Klan Ye ini membuat Jing Yang memejamkan matanya lama. Saat dirinya mulai tenang, kembali lagi Jing Yang mendapatkan penglihatan misterius tentang cara menguasai Badan Semesta milik Klan Li.


“Kakek Li... Bukankah ini terlalu cepat untukku... Aku tidak mengerti harus berekspresi seperti apa..." Jing Yang sudah lelah melihat pertempuran dan kematian, jauh didalam hatinya dia menginginkan kedamaian untuknya. Tetapi sekali lagi hatinya tidak mau mendengar, dia masih belum memaafkan pembunuh orang tuanya dan dia masih belum menemukan kebenaran tentang asal-usul ayahnya.


“Pada akhirnya kau juga meninggalkanku, Kakek Li...” Tatapan kosong Jing Yang terlihat menggelap dan suram. Jing Yang mengepalkan tangannya begitu erat membuat kukunya menancap dikulit telapak tangannya.


Setelah itu Jing Yang pergi menuju tempat keberadaan Xue Rong. Terlihat disana Bing Mu sudah terbangun dan hanya menyisakan Bing Hen yang masih pingsan.


“Junior Yang?” Xue Rong melihat ekspresi Jing Yang yang suram.


“Mari pergi, Senior Rong. Aku akan membunuh orang bernama Fu Xinghe!” Jing Yang tidak melupakan tujuan utamanya datang ke Negeri Kabut Tersembunyi.


Saat ini Jing Yang ingin melampiaskan semua kesedihannya dengan membunuh orang yang membekukan ingatan Xue Bingyue. Tatapannya yang suram itu sama sekali tidak menatap Xue Rong bahkan Jing Yang sudah berjalan meninggalkan Desa Api secepat mungkin.


Xue Rong mengikuti Jing Yang, begitu juga dengan Bing Mu yang menggendong Bing Hen. Dalam perjalanan tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulut Jing Yang, hanya Bing Mu dan Xue Rong yang mengobrol.


Setelah dua hari melakukan perjalanan, Bing Hen terbangun dan menceritakan kejadian yang dia ketahui. Sementara Bing Mu mendengarkan sebelum menceritakan kehancuran Gunung Es Utara dan Desa Api.


Bing Mu mengatakan bahwa semua kejadian di Gunung Es Utara dan Desa Api berhubungan dengan Menara Dewa. Mengetahui itu Jing Yang menatap dingin Bing Mu.


Xue Rong baru melihat sisi Jing Yang seperti ini, bocah yang biasanya polos kini terlihat seperti tidak bisa mengekspresikan perasaannya.

__ADS_1


“Saudara Jing, kau mengincar orang bernama Fu Xinghe bukan? Selama ini aku mencoba mencari petunjuk dan semua petunjuk itu mengarah pada Menara Dewa. Manusia yang memiliki kekuatan berubah menjadi iblis, makhluk jadi-jadian seperti itu harus aku binasakan!" Bing Mu mengepalkan tangannya dan merapatkan giginya.


Jing Yang menyipitkan matanya, “Apa kau menemukan petunjuk menuju lokasi Menara Dewa?”


“Aku hanya pernah mendengar tentang sebuah desa tersembunyi di negeri ini. Negeri Kabut Tersembunyi sebenarnya adalah bagian Kekaisaran Yin, tetapi wilayah ini memiliki kondisi unik dimana seluruh negerinya tertutupi kabut ilusi.” Bing Mu mengatakan jika markas tersembunyi Menara Dewa berada di Desa Air.


“Jika dua desa yang berada di Negeri Kabut Tersembunyi telah musnah, maka kabut ilusi yang melindungi negeri ini akan menghilang. Batu Kabut yang ada di Desa Api telah menghilang dan Batu Kabut lainnya berada di Desa Air.” Bing Mu sendiri belum pernah ke Desa Air, tetapi dengan semua penjelasan dari Li Ho yang pernah dia ceritakan padanya membuat Bing Mu berpikir jika Menara Dewa berniat membentuk kerajaan sendiri setelah kabut ilusi menghilang dari Negeri Kabut Tersembunyi.


“Desa Air? Aku baru mengetahuinya...” Bing Hen menanggapi sambil memegang dagunya. Pemuda itu berusaha membiasakan diri dengan situasi pahit dimana seluruh orang di Desa Api terbunuh.


Xue Rong memperhatikan Bing Mu dan sesekali terlihat Bing Mu tersenyum kearahnya membuat Xue Rong memalingkan wajahnya.


Mata Jing Yang terpejam lama sebelum terbuka secara bertahap, “Mari pergi.” Jing Yang menajamkan matanya dan menggunakan Tanda Mata Naga.


Mungkin karena kematian Li Ho yang membuat sesuatu dalam dirinya goyah dan bangkit disaat yang bersamaan, sekarang kedua bola mata Jing Yang bisa melihat dengan jelas kabur-kabut yang menghalangi penglihatannya.


Tidak terasa beberapa hari telah berlalu, tidak pernah Bing Mu sangka Jing Yang menuntun mereka ke sebuah sungai besar dimana air sungai itu terlihat sangat jernih.


Berbeda dengan Xue Rong dan Bing Hen yang terlihat terkejut, Jing Yang justru memperhatikan raut wajah Bing Mu yang biasa saja.


‘Tempat ini sama seperti tempat yang dimaksud oleh Nenek-’ Jing Yang menoleh kearah langit saat merasakan aura pembunuh yang begitu besar.


Sebuah selendang hendak melilit tubuhnya tetapi Jing Yang menangkapnya dan menariknya sekuat tenaga membuat wanita bertubuh dewasa dengan lekuk tubuh menggoda jatuh menimpa tubuhnya.


“Bocah, kau terlalu kasar! Aduh, kau membuat tubuhku kotor!” Wanita yang tak lain dikenal sebagai Selendang Nafsu ini merintih diatas tubuh Jing Yang.

__ADS_1


Jing Yang sendiri sudah diserang tertimpa buah dada yang matang dan sempurna. Xue Rong yang melihat Jing Yang berwajah tenang itu langsung membekukan tubuh Selendang Nafsu.


“Kau!” Xue Rong menunjuk Selendang Nafsu dan melepaskan aura pembunuh, “Kau menodainya!”


“Hei, jangan terlalu kasar. Aku ditarik olehnya. Seharusnya aku merasa dilecehkan karena kepalanya terbenam didadaku ini." Selendang Nafsu berdiri dan menatap Jing Yang dengan senyuman menggoda.


“Kau seharusnya bersyukur, bocah nakal.” Ucapan Selendang Nafsu membuat Jing Yang mengerutkan keningnya.


“Tubuhmu benar-benar berat. Apa perempuan dewasa seberat ini-”


PLAK!


Selendang Nafsu menampar pipi Jing Yang keras, “Katakan sekali lagi! Kau bilang aku berat bukan?!”


Jing Yang memegang pipinya dan menatap tajam Selendang Nafsu tidak menunjukkan ketakutan sedikitpun, “Memang kenyataannya seperti itu. Tubuhmu berat."


Selendang Nafsu kembali menampar Jing Yang, tetapi kali ini Jing Yang menahan pergelangan tangan Selendang Nafsu dengan cengkeraman tangannya.


“Hmmm..." Selendang Nafsu bisa merasakan perkembangan Jing Yang begitu pesat, “Kau masuk dalam kriteriaku.”


Setelah itu Selendang Nafsu menatap langit, “Salju Dendam, dia sudah mencapai Pendekar Bumi.”


Tak lama sosok Xue Qinghua muncul dan berdiri depan Jing Yang, “Tujuan kita adalah menara yang ada ditengah sungai itu. Desa Air telah lama dimusnahkan. Didalam sana anggota Pelangi Dosa sudah memulai pergerakan. Sebaiknya kita bergegas.”


Xue Qinghua memperhatikan Jing Yang. Banyak yang ingin dia bicarakan, tetapi Xue Qinghua enggan membicarakannya karena menurutnya dirinya telah berdosa karena menyebabkan Jing Yang berakhir seperti ini, menanggung semuanya sendirian.

__ADS_1


“Aku akan menjelaskan rencananku dalam perjalanan." Xue Qinghua menambahkan sebelum berlari diatas air dan bergerak menuju sebuah menara yang berdiri diatas air sungai yang mengalir.


__ADS_2