Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 183 - Kombinasi


__ADS_3

Bing Mu tidak sempat menghindar saat Jing Yang kembali melepaskan sebuah tebasan kearahnya. Jing Yang mengakhiri nyawa Bing Mu saat itu juga.


Tubuh Bing Mu dipenuhi luka tebasan yang dalam. Tidak butuh waktu sampai satu menit hingga akhirnya Bing Mu menghembuskan nafas terakhirnya.


Jing Yang mengibaskan kedua pedangnya dan menatap Quan Shang, Shan Zuan serta Liong Wang yang berhasil selamat dari serangannya.


“Siapa yang mau mati duluan?” Perubahan Jing Yang saat ini membuat Xue Rong terkejut. Dia melihat sisi gelap Jing Yang yang seolah-olah menikmati pembunuhan.


“Dua pedang melawan dua pedang, biar aku yang maju!” Quan Shang tentu tertarik melawan Jing Yang. Menyadari kemampuan Jing Yang mendekati Pendekar Langit membuat Quan Shang waspada.


Quan Shang mengetahui Jing Yang memiliki jumlah lingkaran tenaga dalam yang lebih darinya, terlebih seluruh pembentukan dasar tubuh Jing Yang sangat sempurna.


Quan Shang mempersingkat jarak dengan penuh hati-hati sambil memperhatikan Jing Yang yang berdiri dengan tenang.


Jing Yang tidak melepaskan pandangannya dari Quan Shang yang mengamatinya. Setelah itu dia mengalirkan tenaga dalam pada kedua pedangnya sebelum menyambut tebasan pedang Quan Shang yang tidak terlihat itu.


“Penglihatanmu jeli, bocah!” Quan Shang melepaskan sejumlah tebasan tajam pada Jing Yang.


Jing Yang menangkisnya sebelum keduanya melakukan pertukaran serangan yang dahsyat. Jing Yang menyadari untuk mengalahkan Quan Shang membutuhkan tenaga dalam yang besar, terlebih staminanya sudah berkurang.


Jing Yang menggenggam kedua pedangnya lebih erat karena mengetahui Fu Xinghe belum ditemukan olehnya. Pertempuran di Menara Dewa ini sangat tidak terduga dan membuatnya mengambil keputusan yang sulit.


Jing Yang dan Quan Shang sudah melakukan pertukaran serangan, begitu juga dengan Shan Zuan yang menghadapi Selendang Nafsu, Salju Dendam dan Golok Serakah.


Terakhir terlihat Liong Wang berhadapan dengan Tinju Api dan Pedang Amarah. Xue Rong dan Bing Hen membantu Jing Yang menghadapi Quan Shang.


“Junior Yang, aku akan membantumu.” Xue Rong berdiri disamping Jing Yang sambil melepaskan hawa dingin yang membekukan udara dan sekitarnya.

__ADS_1


“Tubuh Yang, kau benar-benar mengganggu!” Quan Shang mendecakkan lidahnya kesal dan melepaskan sejumlah tebasan kearah Xue Rong.


Jing Yang menangkisnya dengan mudah sebuah tebasan yang menyerang Xue Rong dari kejauhan.


Quan Shang kembali melancarkan serangan beruntun pada Jing Yang, sementara Bing Hen tidak banyak berkutik dalam pertarungan. Melihat Bing Mu berakhir ditangan Jing Yang saja sudah membuatnya syok terlebih Bing Mu telah mengkhianati kepercayaannya.


Bing Hen akhirnya hanya diam memperhatikan pertarungan. Kombinasi Jing Yang dan Xue Rong sempurna. Xue Rong fokus dalam pertahanan, sementara Jing Yang menyerang.


Sesekali Xue Rong melepaskan serangan yang terbentuk dari aura tubuhnya seperti pedang es, tombak es dan panah es. Serangan itu berhasil mengecoh Quan Shang yang berhadapan langsung dengan Jing Yang.


“Seranganmu itu tidak melukaiku! Jangan paksakan keberuntungan, bocah!” Quan Shang kini memainkan kedua pedangnya lebih agresif dan tajam. Jing Yang menahannya dan membiarkan Xue Rong menyerang Quan Shang dengan membekukan tubuhnya.


Berulang kali Quan Shang merasa pergerakannya melambat saat kedua kaki atau tangannya dibekukan. Sementara Jing Yang terus memberikan sejumlah tebasan yang kuat dan penuh tenaga.


‘Serangan kombinasi mereka ini sangat merepotkan! Baiklah, aku akan membunuh gadis cantik itu duluan!’ Quan Shang memainkan tempo kecepatannya berusaha mengecoh Jing Yang, tetapi pergerakannya diblokir oleh Jing Yang.


“Raungan Naga Angin!”


Mulut Jing Yang menghembuskan angin besar yang kencang membuat Quan Shang terperanjat kaget dengan serangan tiba-tiba itu. Quan Shang menghindarinya dengan cepat sambil memperhatikan pergerakan Jing Yang yang mengejarnya.


Mulut Jing Yang mendesis dan mempercepat langkah kakinya sebelum melepaskan energi pedang lebih besar lagi dari sebelumnya.


“Amarah Pedang Petir : Auman Halilintar!”


Suara halilintar menggelegar, Quan Shang melompat menghindari tebasan itu tapi Jing Yang kembali sudah berada dihadapannya. Quan Shang mengerutkan keningnya karena dirinya merasa dipojokkan terlebih Quan Shang tidak menyadari pergerakan Xue Rong yang sudah bersiap membekukan tubuhnya.


“Cengkeraman Delapan Penjuru!”

__ADS_1


Tubuh Quan Shang terkena teknik Xue Rong, perlahan tubuhnya membeku. Quan Shang mendecakkan lidahnya dan berdecak kesal saat mengetahui sebuah energi pedang yang besar dari arah depan dimana Jing Yang sudah bersiap melepaskan tebasan tajam pedangnya.


Petir berwarna kuning keemasan terlihat disekitar tubuh Jing Yang, terutama Pedang Gravitasi dan Pedang Dewa Naga. Jing Yang menebaskan pedangnya saat Quan Shang juga bersiap menyambut tebasan pedangnya.


“Amarah Pedang Petir : Kilat Emas!” Langit Menara Dewa dipenuhi kedua energi pedang yang saling berbenturan. Jing Yang tidak berhenti sampai disitu, dengan gerakan yang lincah dia kembali menebaskan tebasan pedang selanjutnya.


“Seni Napas Dewa Naga Petir!”


Tubuh Quan Shang gemetaran saat melihat sebuah tebasan Jing Yang kembali mengincar dirinya. Energi pedang yang bercampur tenaga dalam itu membentuk bayangan seekor naga yang berwarna ungu.


“Jurus Pedang Dewa Naga : Naga Petir Membasmi Iblis!”


Jing Yang memotong kepala Quan Shang tanpa ragu dan mengakhiri musuh nyawanya tersebut. Tubuh Quan Shang terjatuh kebawah dan lenyap tak berbekas sebelum menyentuh tanah.


Jing Yang turun disamping Xue Rong sambil mengibaskan kedua pedangnya, “Senior Rong, aku telah membunuh Bing Mu, maafkan aku...”


Setelah berkata demikian Jing Yang menyarungkan kedua pedangnya kembali. Lalu memperhatikan pertarungan yang sedang terjadi didekatnya.


“Kenapa minta maaf?” Xue Rong menatap Jing Yang karena ucapan pemuda itu membuatnya bingung.


Jing Yang kembali menatap Xue Rong dan menggaruk pipinya pelan, “Bukankah Senior Rong memiliki perasaan pada Bing Mu?”


Seketika Xue Rong merasakaa sakit dihatinya, memang dia merasakan debaran saat melihat kebaikan Bing Mu. Tetapi debaran itu tidak membuat hatinya berbunga-bunga seperti saat dia merasakan itu pertama kali karena melihat kepolosan alami Jing Yang.


“Aku tidak menyukai lelaki seperti dia. Kau jangan salah paham, Junior Yang. Aku bisa marah jika kau menganggapku demikian.” Xue Rong menjawab tegas.


Jing Yang menghela nafas panjang dan tersenyum, “Aku mengerti.” Setelah itu Jing Yang melihat Salju Dendam, Selendang Nafsu dan Golok Serakah berhasil membunuh lawan mereka yang bernama Shan Zuan.

__ADS_1


Sementara pertarungan antara Tinju Api dan Pedang Amarah melawan Liong Wang mendekati puncak. Ketiganya berimbang, Jing Yang dan Xue Rong hendak membantu namun sesuatu yang mengejutkan terjadi.


__ADS_2