Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 88 : Rencana Jing Yang Dan Ye Xiaoya


__ADS_3

Xue Liwen dan Xue Lihua mengambil beberapa sumber daya dari jasad pembunuh Organisasi Laba-Laba Hijau dan Organisasi Air Dosa. Peri Salju Kembar itu memberikan sebuah rute peta menuju Kekaisaran Qing dan menceritakan kebenaran tentang marga Lin yang menetap di Pulau Salju Rembulan kepada Jing Yang.


Ketika Xue Lihua hendak bercerita, Jing Yang meminta keduanya menceritakan semuanya ketika mereka sampai di Pulau Salju Rembulan. Karena Jing Yang berniat menemui Shen Mi bersama Ye Xiaoya.


Banyak sumber daya dan beberapa pil yang penting untuk membantu perkembangan. Ye Xiaoya mengambil beberapa pil tersebut dan menaruhnya di Cincin Penyimpanan. Di benua ini tidak semua pendekar yang mempunyai ilmu tinggi memiliki Cincin Dewa dan Cincin Penyimpanan.


Bahkan di Benua Dataran Tengah hanya beberapa pendekar yang mempunyai Cincin Penyimpanan. Jumlah Cincin Dewa di dunia hanya berjumlah sebelas, sementara Cincin Penyimpanan berjumlah dua puluh dua. Jadi tidak semua ahli bela diri berilmu tinggi memiliki kedua pusaka tersebut.


Tak terasa seminggu telah berlalu. Dalam kurun waktu seminggu itu, Jing Yang dan Ye Xiaoya menghilang dari kediaman Jiang En karena pergi ke Tebing Dimensi Hitam melalui Cincin Portal. Keduanya memulihkan tenaga dan meningkatkan kemampuan mereka.


Hari ini suasana di Ibukota Huaran tampak penuh sukacita setelah duka karena pengangkatan Jing Yang sebagai pewaris sah tahta Kekaisaran Jiang akan dilakukan.


Jing Yang sebenarnya tidak ingin menerima pengangkatan ini, tetapi dia sadar pada akhirnya untuk mengejar sesuatu kita harus melepaskan sesuatu. Jing Yang tidak bisa egois dan pada akhirnya dia akan menjadi pewaris tahta Kaisar Jiang setelah Jiang En menebus kesalahannya di masa lalu.


Acara pengangkatan Jing Yang sebagai pewaris sah tahta Kekaisaran Jiang berjalan lancar tanpa halangan suatu apapun. Banyak tokoh aliran putih dan netral menghadiri proses tersebut.


Ketika Jing Yang dikawal Panglima Shen Ho dan Jendral Besar Huan Chen keliling Ibukota Huaran, banyak penduduk yang terpana dengan tatapan ramahnya.


Acara pengangkatan Jing Yang sebagai pewaris tahta Kekaisaran Jiang berjalan lancar, tetapi ketika semua rakyat melihatnya. Mata kiri Jing Yang secara mendadak mengeluarkan darah.


Acara kembali dilanjutkan dan semuanya berjalan sesuai rencana. Jing Yang tidak mengira dirinya akan menjadi seorang pewaris tahta Kekaisaran Jiang. Ketika semua orang sedang merayakannya, Jing Yang berada di kamar bersama Ye Xiaoya untuk memikirkan rencana mereka kedepannya.


Sehari setelah pengangkatan Jing Yang sebagai pewaris sah tahta Kekaisaran Jiang, Sheng Long menemui Jing Yang, Xue Lihua dan Xue Liwen jika keadaan di Pulau Salju Rembulan sudah stabil semenjak Ye Long bersama Tetua Istana Sembilan Naga membunuh pendekar dari Gunung Pedang Tunggal dan Istana Naga Api.


Untuk sementara waktu Pulau Iblis Tengkorak tidak akan melakukan pergerakan, bahkan Gunung Pedang Tunggal dan Istana Naga Api sudah dianggap sebagai aliran sesat di kalangan aliran putih. Pendekar wanita dari Gunung Pedang Tunggal menetap di Pulau Salju Rembulan sesuai perjanjian dan permintaan Xue Lihua.

__ADS_1


Penduduk yang dijadikan budak sudah dibebaskan. Hanya saja Sheng Long tidak menyangka akan ada aliran putih yang menjadikan wanita di Pulau Salju Rembulan bekerja di rumah bordil secara paksa.


Jing Yang dengan tenang mendengarkan, tetapi dia sudah memantapkan langkahnya. Selepas menjelaskan keadaan di Pulau Salju Rembulan, Sheng Long berpamitan dengannya untuk kembali ke Istana Sembilan Naga.


Murong Qiaomi, Tao Qiaoli, Fan Ziwei dan Fan Liwei juga akan kembali ke Istana Bunga Persik. Sementara itu Xue Lihua dan Xue Liwen kembali lebih dulu ke Pulau Salju Rembulan untuk memimpin dan mengendalikan kondisi Pulau Salju Rembulan.


Sebelum pergi, Peri Salju Kembar mengingatkan kepada Jing Yang jika di Kekaisaran Jiang ada seorang pendekar wanita yang membunuh semua pria bermarga Lin maupun pendekar dari Istana Naga Api dan Gunung Pedang Tunggal secara acak.


Jing Yang sendiri juga akan pergi dari Ibukota Huaran karena berniat mencari informasi tentang Kekaisaran Qing. Terlebih dia telah mendapatkan akses penuh masuk ke dalam Bangsawan Shen setelah menjadi pewaris tahta Kekaisaran Jiang dan diberi sebuah lencana khusus oleh Panglima Shen Ho.


Jing Yang sempat mengobrol dengan Panglima Shen Ho. Beberapa hari lagi, Panglima Shen Ho juga akan memimpin beberapa pasukan untuk mengamankan Kota Shendu karena mendengar kabar yang tidak baik.


Jiang En dan Yi Yue sulit untuk mengatakan maaf kepada Jing Yang. Memohon maaf dan memaafkan lewat kata-kata bukanlah hal yang sulit, tetapi mengikhlaskan kejadian pahit dengan hati yang tulus itu sulit.


Jing Yang sudah memaafkan Yi Yue dan Jiang En, hanya saja dia ingin Jiang En menebus kesalahannya selama memimpin Kekaisaran Jiang.


“Kakek Jiang, jika kau memanfaatkanku hanya statusku menjadi Tetua Sembilan Naga, kau tidak akan pernah kumaafkan jika melakukan itu!” Jing Yang memberikan peringatan kepada Jiang En setelah mereka sarapan pagi bersama.


“Nenek Yi, maaf karena aku sempat marah.” Jing Yang menunduk meminta maaf kepada Yi Yue.


“Yang‘er, seharusnya nenek yang berkata seperti itu...” Yi Yue memeluk tubuh Jing Yang.


“Nenek Yi, aku tidak berjanji akan menjadi Kaisar Jiang. Aku melakukan ini karena kalian semua memaksaku. Aku memiliki janji pada Guru yang paling berjasa dalam hidupku. Jika bukan karena dia, mungkin aku sudah mati dan tidak akan disini. Untuk menepati dan membalas budi, aku akan memenuhi permintaannya. Berapa lama waktu yang aku tempuh, aku akan mencari keberadaan dari saudarinya.” Jing Yang membalas pelukan Yi Yue setelah berkata demikian.


Jiang En sulit mengobrol dengan cucunya. Melihat Jing Yang tumbuh dengan baik adalah kebahagiaan tersendiri di dalam hatinya. Dia ingin menebus kesalahannya seperti apa yang dikatakan Jing Yang.

__ADS_1


“Kakek Jiang, apakah di Kekaisaran Qing terjadi sesuatu? Aku dengar dari Tetua Lihua, Kekaisaran Qing telah dikuasai bangsa asing?” Jing Yang bertanya memulai obrolan biasa dengan kakeknya.


Jiang En terlihat bahagia sebelum menjawab pertanyaan cucunya, “Kakek dengar akses masuk Kekaisaran Qing sangat sulit karena setahun yang lalu, tempat itu menjadi negeri tertutup. Aku pernah mendengar cerita dari Panglima Shen Ho jika ada beberapa penduduk Kekaisaran Qing yang mengungsi di salah satu kota perbatasan yang dipimpin Bangsawan Shen.” Sebisa mungkin Jiang En menjelaskan kepada cucunya tentang kondisi Kekaisaran Qing.


Situasi di Kekaisaran Qing tidak diketahui oleh kekaisaran lain setelah menjadi negeri tertutup. Jing Yang menjadi khawatir dengan keadaan Xue Bingyue. Tetapi dia percaya jika Xue Bingyue masih hidup dan baik-baik saja. Dia harus membuktikan dengan mata kepalanya sendiri dan ingin mengetahui mengapa pendekar wanita bertopeng putih mengatakan demikian.


Jiang En dan Jing Yang mengobrol cukup lama, hingga akhirnya Jing Yang mengakhiri obrolan karena hendak melakukan sesuatu dan mencari informasi lebih tentang Kekaisaran Qing.


Jiang En telah memberikan kereta kuda beserta kusirnya, tetapi Jing Yang menolaknya dengan halus. Sebelum pergi meninggalkan Ibukota Huaran, Jing Yang sempat bertanya pada Jiang En dan Yi Yue tentang seseorang yang memberikan minuman beracun, Racun Iblis Neraka saat dirinya berusia dua bulan, tetapi Jiang En dan Yi Yue tidak mengetahuinya.


Justru Jiang En dan Yi Yue menjadi khawatir setelah mendengar perkataan Jing Yang. Melihat kekhawatiran keduanya, Jing Yang hanya bersikap biasa. Seandainya mereka memberikan perhatian kepadanya saat masih kecil seperti Xue Qinghua mungkin lain ceritanya dengan apa yang dirasakannya sekarang.


“Kalau begitu, aku pergi dulu.” Jing Yang memberi hormat dan berpelukan dengan Jiang En dan Yi Yue sebelum pergi.


“Yang‘er, setidaknya terimalah uang ini...” Yi Yue mengkhawatirkan Jing Yang dan memberikan kepingan emas dalam jumlah banyak.


Jing Yang memperlihatkan isi Cincin Dewa kepada Jiang En dan Yi Yue. Setelah melihat isinya, keduanya mematung dengan mata yang terbelalak.


Jumlah emas yang ada di Cincin Dewa milik Jing Yang memang banyak karena saat di Tebing Dimensi Hitam, Jing Yang mengambil semuanya yang ada di gua.


Ye Xiaoya hampir tertawa melihat ekspresi Jiang En dan Yi Yue. Dengan kekayaannya saja, Jing Yang sudah menjadi salah satu orang terkaya di Kekaisaran Jiang.


Jing Yang segera memanggil Xue Ying dan naik ke atas punggung Elang Salju tersebut bersama Ye Xiaoya.


Perlahan Jing Yang dan Ye Xiaoya menjauh dari Ibukota Huaran. Kepergian mereka berdua dilihat ratusan penduduk yang mengantar ke gerbang kota. Bahkan Jiang En dan Yi Yue mematung karena cucunya telah menjadi seseorang yang luar biasa.

__ADS_1


Yi Yue percaya jika di masa depan nanti Jing Yang akan memiliki kehidupan yang cerah. Jing Yang bersikap biasa walau memiliki kekayaan dan teman-teman yang luar biasa.


“Semoga kau menemukan Yueyue. Perkenalkan dia kepada nenekmu ini, Yang‘er...” Yi Yue menyeka air matanya ketika melihat siluet Jing Yang dan Ye Xiaoya mulai menjauh.


__ADS_2