
Tebasan pedang Ye Long mendarat dengan telak di tubuh Gui Liang.
“Kau mengambil resiko bunuh diri...” Gui Liang juga mendaratkan tebasan pedang pada tubuh Ye Long. Keduanya sama-sama mendapatkan luka yang parah.
Ye Long tersenyum menoleh ke arah Jing Yang, “Lihat, dia telah mencabutnya...”
Gui Liang dan semua pendekar yang berada disekitar mereka melihat Jing Yang.
Hampir bersamaan, Murong Qiaomi dan pendekar dari Istana Bunga Persik juga berhasil memukul mundur lawannya. Pendekar dari Istana Bunga Persik berhasil memukul mundur Yan Kang dan pendekar Gunung Pedang Tunggal lainnya. Sementara itu Jin Hou dan Xue Ying tanpa segan membunuh pendekar Istana Naga Api dan bertarung sengit melawan pendekar bumi.
“Langitnya...” Murong Qiaomi menggumam pelan, sambil menatap langit.
Semua pendekar langsung menatap langit setelah melihat Jing Yang dapat menarik Pedang Dewa Naga.
Awan bergerak dengan cepat, cuaca seketika berubah, semua pasang mata menatap ke satu arah yakni Jing Yang yang memegang Pedang Dewa Naga.
Petir bergemuruh hebat, suaranya begitu menggema dan menggelegar hingga membuat awan-awan terlihat seperti terbelah, seketika muncul kumpulan petir dalam jumlah besar membentuk Naga yang terlihat seperti sedang berenang dibalik awan di atas langit yang gelap dan berapi-api.
Suara raungannya terdengar begitu keras, Auman Naga yang menggema di segala penjuru itu disertai kilatan petir yang menyambar daratan.
Nampak langit terbelah menjadi dua ketika kepala Naga yang terbentuk dari kumpulan petir terbang di udara. Wujud Naga itu mendekati Jing Yang, lalu menatapnya lama sebelum kembali memasuki lautan awan dan mengarunginya.
Jing Yang langsung mengarahkan Pedang Dewa Naga ke langit, seketika kumpulan petir berbentuk Naga itu kembali mengeluarkan auman yang teramat keras. Suaranya membuat tanah bergetar.
Muncul kilatan petir yang menyambar tubuh Jing Yang. Kecepatan petir yang melebihi suara itu, menyambar tubuh Jing Yang berkali-kali. Proses itu berlangsung cukup lama membuat semua pasang mata terdiam mematung terkesima.
‘Proses pemurnian darah. Kau sendiri telah dilatih olehku, Dewi Naga! Penguasa kegelapan! Tentu pedang ini akan memilihmu!’ Roh Sang Hitam terkekeh di alam bawah sadar Jing Yang, ‘Ketika mencabut, kau telah terikat kontrak darah dengan Pedang Dewa Naga.'
Jing Yang sekarang memejamkan matanya karena merasakan tubuhnya dipenuhi sensasi yang berbeda. Suara kobaran api ataupun suara yang berisik tidak menggangu ketenangannya. Hanya dengan memejamkan mata, dia merasa bisa melihat jelas keberadaan aura semua orang.
‘Guru, iblis hatiku memiliki kebencian yang teramat besar pada Mao Gang! Jika aku dapat memberinya satu pukulan atau tebasan, kemungkinan Iblis hatiku akan menghilang.’ Jing Yang berpendapat. Sementara Roh Sang Hitam menyalurkan auranya sebelum memberi tanda pada Jing Yang untuk membuka mata.
Mata kiri Jing Yang berwarna hitam sepenuhnya dengan tanda Naga berwarna merah yang mengelilingi bola matanya.
“Tanda Mata Naga!”
Jing Yang dan Roh Sang Hitam mengucapkan teknik mata, Tanda Mata Naga bersamaan. Ketika semua orang melamun karena melihat perubahan yang terjadi pada Jing Yang, mereka kembali dikejutkan dengan kecepatan Jing Yang yang langsung berada di depan Mao Gang.
__ADS_1
“Bocah! Aku telah mengingatmu! Kau adalah anak Tuan Putri Ketiga bukan?!” Mao Gang melepaskan hampir seluruh aura tubuhnya hingga membuat gelombang kejut yang mematikan.
Jing Yang tidak menggubris perkataan Mao Gao melainkan mengayunkan kedua pedangnya. Seketika gravitasi yang berada di jangkauan Jing Yang memadat bercampur dengan api beserta petir.
Mao Gang melompat ke udara, diikuti oleh Sheng Long yang mengamati Jing Yang karena merasa pemuda itu sedang dalam kondisi tidak sadar bertarung melawan Mao Gang.
Jing Yang melihat ke atas dan melompat. Tubuhnya melayang di udara, tindakannya itu diikuti pendekar suci ke atas. Hingga langit Istana Sembilan Naga dipenuhi pertarungan yang terjadi di udara.
“Aku berubah pikiran! Targetku sekarang adalah kau, bocah!” Mao Gang tertawa lantang karena melihat pertempuran ini mendekati akhir. Kekuatan Istana Sembilan Naga telah melemah dan ini akan menjadi kemenangan yang besar, tetapi dihadapannya terlihat Jing Yang yang menjadi ancaman tidak terduga.
“Serudukan Tapak Berlian!”
Sheng Long melesatkan tapak dari kejauhan yang mengenai Wang Zhi dan Zhu Huazhi dengan telak. Kedua pendekar itu melompat dan menyerang Jing Yang namun justru mendapatkan luka yang parah.
Tapak Sheng Long yang membentuk kepala Naga itu mendarat dengan telak di dada Wang Zhi dan Zhu Huazhi.
“Kalian berdua akan kupastikan mati di sini sebagai bentuk hukumanku pada kalian!” Telapak tangan Sheng Long membuka, seketika tombak emas yang besar dan dikelilingi Naga berwarna emas itu menembus perut Zhu Huazhi, tetapi tidak dengan Wang Zhi karena pria itu berhasil menghindarinya.
Mao Gang mengernyitkan dahinya, “Tua bangka, kau sampai menggunakan jurus itu, untuk apa kau melakukan itu?! Apa karena kau menyerahkan segalanya pada bocah ini?!”
Sheng Long menunjuk ke satu arah, tempat pertarungan pendekar suci ke atas yang terbang dan mulai bertarung sengit di udara. Mao Gang menoleh dan melihat banyak pendekar aliran hitam yang tewas.
Mulut Jing Yang kembali mendesis sebelum petir berbentuk Naga yang datang dari langit bersatu dengan tubuhnya.
“Anak ini! Aku harus membunuhnya!” Mao Gang melepaskan segenap kekuatannya. Wujud Iblis yang mengerikan bergerak menyerang Jing Yang. Namun serangannya disambut oleh Naga Petir.
“Aku akan membunuhmu, Mao Gang!” Jing Yang berteriak, seketika auranya meledak.
Semua pendekar suci ke atas menyadari kemampuan Jing Yang ini adalah pedang bermata dua, jika Jing Yang termakan emosi, maka dia akan mengalami luka fatal. Ketika Jing Yang menghilang dan berada di depan Mao Gang, keduanya langsung bertukar serangan.
Sheng Long mendapati Ye Xiaoya yang menatapnya tajam seolah-olah memberi tanda agar menghentikan Jing Yang.
“Kakek tua! Kenapa kau diam saja! Dia adalah Tetua Naga Muda sekarang!” Perkataan Ye Xiaoya membuat semua pendekar Istana Sembilan Naga menatap Jing Yang.
“Aku mengerti. Aku juga tidak akan membiarkan pendekar jenius ini mati.” Sheng Long melepaskan aura tubuhnya, sebelum rambutnya yang memutih itu memanjang dan hendak mengikat Mao Gang.
“Tua bangka!” Mao Gang geram karena tidak menyangka Jing Yang dapat bertahan lebih dari lima jurus. Bahkan sekarang dia melihat Sheng Long membantu Jing Yang dari belakang.
__ADS_1
‘Anak manusia, tubuhmu telah mencapai batas! Daratkan satu serangan pada tubuh Mao Gang agar kau sadarkan diri!’ Roh Sang Hitam dan Jing Yang menyatu pikirannya. Iblis hati Jing Yang begitu ingin membalaskan kematian orang tuanya, setidaknya dia dapat mendaratkan pukulan atau tebasan pada tubuh Mao Gang.
Jing Yang yang menyadari hal tersebut, berusaha untuk mendaratkan serangan pada tubuh Mao Gang. Tetapi kemampuan Mao Gang tentu saja berada jauh diatasnya, walau Jing Yang telah kehilangan kendali karena Aura Naga Kegelapan. Tetapi dia merasakan dampak dari kekuatan yang meningkat pesat ini, tulang-tulangnya terasa hancur dan tubuhnya terasa ingin meledak.
Dengan Aura Naga Kegelapan yang dipenuhi kebencian, kekuatan Jing Yang setara dengan pendekar bumi akhir. Bahkan dia mampu menggunakan Tanda Mata Naga dan bergerak bebas di udara.
”Jarum Rambut!”
Sheng Long segera menyerang Mao Gang sembari mendekati Jing Yang. Ketika dia memfokuskan serangan untuk melilit tubuh Mao Gang dengan rambutnya yang memanjang dan menajam, sesuatu terjadi pada Jing Yang.
“Argh!” Jing Yang berteriak, ayunan kedua tebasan pedangnya mendarat di perut Mao Gang berkat bantuan Sheng Long.
‘Tekan...’
Tidak sampai Roh Sang Hitam selesai memberi arahan, tubuh Jing Yang dipenuhi darah segar. Tubuhnya terlihat seperti meledak, sekarang Jing Yang kembali ke pendekar suci karena telah menekan Aura Naga Kegelapan dan iblis hatinya.
“Bocah ini!” Mao Gang memegang perutnya yang tertebas. Kemudian dia mengayunkan pedangnya hendak memotong kepala Jing Yang tetapi kecepatan ayunan tangannya terhenti.
“Langkahi mayatku ini jika kau berniat membunuhnya!” Rambut Sheng Long mengikat tangan Mao Gang, bahkan menusuk tangannya, “Masih ingin bertarung? Aliansimu dengan dua sekte sesat itu berakhir.”
Mao Gang sekilas menoleh ke bawah dan sekitarnya. Dia melihat pendekar dari Gunung Pedang Tunggal dan Istana Naga Api telah melarikan diri.
“Kita lanjutkan dilain waktu!” Mao Gang mengeraskan kulitnya dan melepaskan lilitan rambut Sheng Long.
Setelah terlepas dari lilitan rambut Sheng Long, Mao Gang memanipulasi aura tubuhnya membentuk harimau berwarna hitam, ketika harimau tersebut meraung, raungannya terdengar ke segela penjuru. Mendengar raungan itu, pendekar aliran hitam berhenti bertarung dan pergi meninggalkan Istana Sembilan Naga.
“Tua bangka! Dengan ini kekuatan kalian telah melemah!”
Sheng Long tidak menanggapi perkataan Mao Gao dan langsung memegang tubuh Jing Yang. Di bawah terlihat Ye Long memberi tanda pada pendekar Istana Sembilan Naga tidak melakukan pengejaran. Mengingat kekuatan mereka telah melemah.
“Xue Ying!” Jing Yang memanggil Elang Salju yang sedang mengejar pendekar dari Istana Naga Api.
“Baik, Tuan!” Xue Ying terbang dengan cepat dan langsung mendaratkan punggungnya di atas kaki Jing Yang.
Dengan segera Jing Yang menggunakan Cincin Dewa dan mengambil buah-buahan yang dia petik di Tebing Dimensi Hitam. Ketika Jing Yang memakan Apel Es dan Buah Api, Sheng Long tersentak sesaat karena melihat kualitas buah-buahan yang dimakan Jing Yang.
‘Hoh...’ Sheng Long merasa Jing Yang memiliki guru yang hebat.
__ADS_1
Ketika Jing Yang duduk di atas punggung Xue Ying dan memakan Apel Es serta Buah Api, Ye Xiaoya datang dan langsung meremas rambut Jing Yang.
“Yang‘er! Aku butuh penjelasan darimu tentang apa yang baru saja terjadi!”