
Perjalanan dari Ibukota Huaran menuju Kota Shendong memakan waktu tiga hari, Jing Yang menghabiskan waktu selama tiga hari untuk mengolah aura pembunuh menjadi Aura Raja Naga. Dia juga berhasil menembus gerbang keenam, gerbang pemandangan selama perjalanan.
Sesampainya di Kota Shendong, Jing Yang menyuruh Xue Ying kembali. Kemudian Jing Yang dan Ye Xiaoya memasuki Kota Shendong dengan cepat setelah menunjukkan lencana yang diberikan Panglima Shen Ho.
Situasi di Kota Shendong tampak ramai. Jing Yang menapaki jalanan menuju tempat keberdaan Bangsawan Shen. Berita tentang kudeta yang dilakukan Jiang Feng, kematian Shi Mubai dan Jiang Nian serta diangkatnya Jing Yang menjadi pewaris sah tahta Kekaisaran Jiang tersebar dengan cepat.
Jing Yang sendiri bersikap seperti biasa karena tidak banyak penduduk yang mengetahui dirinya secara pasti. Sesampainya di depan gerbang kediaman Bangsawan Shen, Jing Yang kembali menunjukkan lencana pada penjaga sebelum diantar masuk ke dalam kediaman.
Ye Xiaoya mengamati situasi di Kota Shendong yang damai. Penduduk kota tampak bahagia, suasana ini yang membuatnya merasa nyaman dan tenang ketika singgah di dalam kota yang seperti ini.
Bangunan megah milik Keluarga Shen menyambut kedatangan Jing Yang. Terlihat Shen An dan beberapa pelayan langsung menyambut kedatangan Jing Yang dan Ye Xiaoya. Setelah mengetahui identitas Jing Yang, tentu saja dia harus memberikan sambutan yang terbaik.
“Maaf, merepotkan, Paman Shen...” Jing Yang merasa canggung melihat pelayan wanita berbaris menyambut kedatangannya.
”Silahkan masuk, tidak perlu sungkan.” Shen An mempersilahkan masuk.
Shen An mengajak Jing Yang dan Ye Xiaoya untuk makan bersama. Keduanya menerima ajakan Shen An dan mulai makan bersama di meja makan.
Jing Yang merasa Shen Mi tidak berada di Kota Shendong, sehingga dia memilih bertanya kepada Shen An tentang keberadaan Shen Mi.
“Paman Shen, apakah Shen Mi tidak berada disini?” Jing Yang bertanya setelah selesai makan.
Shen An tersedak. Dari gelagatnya sepertinya terjadi sesuatu pada Shen Mi. Tak lama dia menarik napas, “Mi‘er berada di Kota Xuedong bersama yang lain. Akhir-akhir ini banyak kaum bangsawan pria yang melamarnya, tetapi Mi‘er tidak menerima mereka semua...”
Jing yang dan Ye Xiaoya mendengar cerita Shen An sampai selesai. Mengingat Shen Mi tidak berada di Kota Shendong, Jing Yang berniat melanjutkan perjalanan tetapi alangkah lebih baik mereka menerima tawaran Shen An untuk menginap selama semalam.
Ye Xiaoya sangat mengetahui alasan mengapa Shen Mi menolak semua pria yang melamarnya. Di dalam kamar Ye Xiaoya melatih pernapasan sambil mencoba bermeditasi dan mencoba berkomunikasi dengan dua Roh Pedang miliknya.
Sementara itu Jing Yang yang berada di kamar sebelah mencoba menembus gerbang ketujuh yakni gerbang keajaiban. Sembari mengeluarkan Permata Iblis, Jing Yang bermeditasi dan menyerap khasiat Permata Iblis dengan cepat.
__ADS_1
Tubuh Dewi Naga Hitam membantu proses penyerapan. Jing Yang sendiri penasaran dengan kondisi tubuhnya karena Roh Sang Hitam sempat menyinggung kecocokan antara dirinya dengan Ye Xiaoya.
Dalam proses menembus gerbang ketujuh, Jing Yang merasakan perbedaan besar dalam tubuhnya. Jika dia dapat menembus gerbang ketujuh, maka tidak butuh waktu lama untuknya membuka seluruh kedelapan gerbang.
Waktu terus berlalu, mengalir seperti air. Tirai keheningan malam berlalu tenang dan dibuka dengan sinar hangat matahari yang baru saja keluar dari singgasananya.
Jing Yang dan Ye Xiaoya sarapan pagi bersama Shen An sebelum melanjutkan perjalanan menuju Kota Xuedong.
Jing Yang dan Ye Xiaoya langsung pergi menuju luar kota. Kali ini keduanya mengeluarkan pedang dengan bilah yang lebar dan besar sebelum mereka menaikinya dan menggunakan Ilmu Pedang Terbang menuju Kota Xuedong.
Dalam perjalanan terlihat Jing Yang dan Ye Xiaoya saling mengejar. Dibandingkan sebagai guru dan murid, Jing Yang dan Ye Xiaoya lebih mirip seperti kakak dan adik.
Delapan hari mereka menempuh perjalanan menuju Kota Xuedong. Jing Yang dan Ye Xiaoya tidak singgah di Kota Cunfei terlebih dahulu, melainkan langsung bergerak menuju Kota Xuedong.
Sesampainya di Kota Xuedong, Jing Yang dan Ye Xiaoya memasuki kota tanpa kesulitan yang berarti. Bahkan kedatangan Jing Yang membuat penduduk kota berbondong-bondong melihatnya. Kebanyakan dari mereka tidak menyangka jika Jing Yang adalah pewaris tahta Kekaisaran Jiang.
Butuh waktu lama bagi Jing Yang dan Ye Xiaoya untuk sampai di kediaman Walikota Kota Xuedong. Ketika sampai di kediaman yang mewah, Jing Yang melihat seorang pria keluar dari rumah mewah dengan wajah murung dan masuk ke dalam kereta kuda.
“Jing Yang!” Shen Mi tersenyum bahagia melihat kedatangan Jing Yang.
“Siapa pria itu?” Jing Yang bertanya. Sementara Shen Mi menghela napas panjang.
“Akhir-akhir ini banyak pria kaya yang melamarku. Kebanyakan dari mereka kaya karena hasil orang tua bukan kerja keras mereka.” Shen Mi terlihat tidak begitu menyukai ketika disuruh berdandan cantik dan berpenampilan anggun. Tak lama gadis muda itu membawa Jing Yang dan Ye Xiaoya masuk ke dalam kediaman.
Kedatangan Jing Yang membuat heboh keluarga Shen Mi. Bahkan Shen Liu menceritakan kepada Jing Yang tentang anak perempuannya yang menolak puluhan pria yang melamarnya.
Ibu Shen Mi yang bernama Shen Ling justru sangat antusias dengan kedatangan Jing Yang. Ketika keduanya mengobrol, tak jarang Shen Ling menyinggung soal Shen Mi.
Tak lama Ye Xiaoya dan Shen Ling menyiapkan makanan bersama beberapa pelayan. Ye Xiaoya membantu karena Shen Ling menawarkan daging sapi yang dibuat barbeque.
__ADS_1
Sebelum membantu Shen Ling menyiapkan barbeque, dia menyuruh Jing Yang untuk mengajak Shen Mi mengobrol dan meminta bantuan untuk mengolah organisasi yang akan dibentuk oleh Jing Yang dan Ye Xiaoya.
Saat ini Jing Yang dan Shen Mi mengobrol akrab. Tak lama Jing Yang mencoba menanyakan hal yang cukup sensitif bagi Shen Mi.
“Kenapa kau menolak lamaran mereka semua?” Jing Yang menatap Shen Mi yang tersenyum lembut padanya.
“Aku sudah mempunyai seseorang yang kusuka. Hanya itu alasanku menolak lamaran mereka. Beberapa dari mereka adalah pria yang baik, hanya saja memberiku harta dan kekayaan dari hasil orang tua dan tertarik karena wujud luarku sama sekali bukan tipe pria idamanku.” Shen Mi menjawab sambil sesekali memperhatikan mata kiri Jing Yang yang menatapnya ramah, “Aku lebih menyukai pria yang bersikap alami.” Tambahnya.
Jing Yang tersenyum tipis karena sesaat dia mengira jika pria yang dimaksud Shen Mi bukanlah dirinya.
“Semoga pria yang kau maksud itu melamarmu...” Walau terdengar polos, tetapi Jing Yang mengatakan apa yang ada dipikirannya.
“Ehmm...” Shen Mi menarik napas dan menatap wajah Jing Yang penuh makna. Bibir tipisnya yang semerah jambu merekah dan sedikit terbelah seperti kelopak bunga.
‘Orang yang kumaksud adalah kamu...’ Shen Mi berkata dalam hatinya ketika kedua bola matanya bertemu dengan kedua bola mata Jing Yang.
“Shen Mi, mau ikut denganku ke suatu tempat?” Jing Yang tiba-tiba berdiri dan mengulurkan tangannya.
Tidak butuh waktu lama bagi Shen Mi untuk menyambut uluran tangan Jing Yang dan menggenggamnya. Dengan pakaian yang masih anggun, Shen Mi tidak menyangka dia akan menggenggam tangan pemuda yang telah mengisi hatinya.
Jing Yang membawa Shen Mi keluar rumah. Setelah itu dia mengeluarkan pedang sebelum kakinya berpijak di atas bilah pedang. Shen Mi sedikit ragu, tetapi tangan Jing Yang merangkul pinggangnya. Seketika keraguan dalam hati Shen Mi menghilang dan berubah menjadi perasaan hangat.
Detak jantung Shen Mi berdebar. Matanya menatap pemuda yang lebih umurnya lebih muda darinya. Walau Jing Yang bersikap alami dan polos, tetapi Shen Mi sangat menyukainya.
“Pegang tanganku...” Jing Yang terkejut ketika Shen Mi memeluk tubuhnya. Perlahan dia terbang membawa Shen Mi menuju Pulau Salju Rembulan.
Jing Yang tersenyum ketika melihat Shen Mi takjub melihat lautan sementara dirinya terbang bersamanya.
“Itu Pulau Salju Rembulan...” Shen Mi menunjuk hamparan tanah bersalju. Pulau seputuh salju yang dikenal dengan Pulau Salju Rembulan.
__ADS_1
Jing Yang mengangguk menanggapi perkataan Shen Mi sebelum mempercepat laju pedang terbang yang dia pijak.