Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 244 - Mei Hua


__ADS_3

“Saudari Mei!”


Sebuah suara memanggil nama Mei Hua yang sedang menunggu giliran. Giliran untuk memulai Metode Penyiksaan Petir dan Metode Penyiksaan Api.


‘Sekarang giliranku...’ Mei Hua berjalan memasuki bagian gua terdalam disana terlihat Jing Yang sedang duduk disamping Xue Bingyue yang tertidur. Pakaian atas Xue Bingyue berantakan membuat Mei Hua menelan ludah. Satu tatapan penuh pertanyaan mengarah pada Jing Yang.


“Berbeda dengan Yueyue, aku akan menotok punggunhmu secara langsung dan menyentuh perutmu. Apa kau siap untuk itu, Saudara Mei?” Jing Yang menatap kearah Mei Hua.


Mei Hua menundukkan kepalanya saat pandangan matanya bertemu dengan mata Jing Yang. Hanya anggukan lemah dari Mei Hua tanda sebagai jawaban dia tidak keberatan dengan apa yang akan Jing Yang lakukan.


“Tetapi, aku ingin kau tidak terlibat terlalu jauh untukku, Kaisar. Aku ingin melewati Metode Penyiksaan Petir dan Metode Penyiksaan Api atas usahaku sendiri...” Mei Hua mengatakan itu sambil melepaskan pakaian atasnya secara bertahap menambah kesan menggoda.


Jing Yang terdiam dan menelan ludah lalu memejamkan matanya saat pakaian atas Mei Hua terlepas sepenuhnya. Mei Hua mendekat dan duduk dihadapan Jing Yang.


“Kenapa Kaisar memejamkan matanya? Kaisar bisa melihat tubuhku, aku tidak keberatan.” Mei Hua tersenyum saat mengatakan itu karena mengetahui Jing Yang menelan ludah karena perilakunya.


Jing Yang menggelengkan kepalanya pelan, “Aku akan memulai dari punggungmu.” Jing Yang berdiri dan melakukan konsentrasi secara penuh hingga dapat memvisualisasikan bentuk tubuh bagian atas Mei Hua.


Mei Hua merasakan sentuhan tangan Jing Yang begitu lembut. Jari-jemari Jing Yang membuat tubuh Mei Hua bergetar hebat karena baru pertama kali ada laki-laki yang menyentuh tubuhnya yang belum terjamah tangan lelaki.


“Aku akan memulainya. Apa kau siap, Saudari Mei?” Jing Yang bertanya untuk memastikan kesiapan Mei Hua.


“Aku siap, Kaisarku..." Mei Hua mengatakan itu penuh rasa malu.


“Ini akan terasa menyakitkan..." Jing Yang mengatakan itu sambil mengalirkan tenaga dalamnya pada tubuh Mei Hua sebelum menotok punggung Mei Hua membuat gadis itu berteriak.


“Aaahhh! Sakit!”


Suara Mei Hua menggema seisi gua, Jing Yang memperbarui struktur titik meridian Mei Hua dan itu membuat suara ledakan dari dalam tubuh Mei Hua.

__ADS_1


“BANG!”


Mei Hua melebar matanya saat merasakan tubuhnya diremukkan, nafasnya tidak beraturan namun tak lama sentuhan lembut tangan Jing Yang yang mengusap punggungnya membuat Mei Hua dapat bernafas normal.


‘Dia berhasil menahannya...’ Jing Yang khawatir jika tubuh Mei Hua tidak mampu menahan perubahan paksa yang dilakukannya pada tubuh gadis itu. Namun siapa sangka, Mei Hua berjuang untuk meyakinkan Jing Yang jika dirinya mampu melewati rintangan ini.


“Saudari Mei, kita ketahap selanjutnya.” Jing Yang sudah berdiri lalu duduk dihadapan Mei Hua sambil memegang telapak tangan Mei Hua guna memenangkan gadis muda itu.


Mei Hua menganggukkan kepalanya pelan, “Kaisar, tolong peluk aku...” Mata sayu Mei Hua menatap Jing Yang membutuhkan penyemangat karena dirinya sudah merasakan rasa sakit yang mengerikan.


Jujur saja Mei Hua tidak ingin merasakannya lagi, tetapi dia ingin Jing Yang mengakuinya. Sekarang Mei Hua ingin mengetahui pandangan Jing Yang terhadap dirinya.


Jing Yang memeluk tubuh Mei Hua dan mengelus kepala belakangnya, “Semua akan baik-baik saja...” Mei Hua menganggukkan kepalanya saat Jing Yang mengatakan itu.


“Lakukanlah, Kaisar. Aku rela perutku disentuh olehmu.” Jing Yang merasa aneh saat Mei Hua mengatakan itu. Namun baginya ini sangat wajar mengingat Mei Hua merupakan pendekar dari Istana Bunga Persik.


Tentu tidak mudah bagi pendekar dari Istana Bunga Persik membiarkan tubuhnya dilihat dan disentuh laki-laki, begitu sebaliknya. Jing Yang sendiri membutuhkan keberanian besar untuk menyentuh kulit mulus Mei Hua yang putih.


“Aaaahhh... Ssshhh...” Mei Hua memerah wajahnya saat telapak tangan Jing Yang menyentuh perutnya.


Jing Yang ikut memerah wajahnya karena suara yang ditimbulkan Mei Hua. Terlebih ekspresi Mei Hua saat ini begitu menggoda, Jing Yang sendiri bersikap tenang hanya saja dia takut suara Mei Hua barusan membuat salah paham.


Saat Jing Yang mengeluarkan Api Ilahi dan menyalurkannya pada perut Mei Hua, seketika kilatan petir tercipta ditelapak tangannya dan masuk ke perut Mei Hua bersamaan dengan Api Ilahi.


“Akh!”


Mata Mei Hua terbelalak saat merasakan kesakitan. Alisnya mengerut dan wajahnya menegang. Mei Hua tidak menyangka akan sesakit ini menjalani Metode Penyiksaan Petir dan Metode Penyiksaan Api.


Mata Mei Hua sempat menatap Jing Yang. Pemuda itu menatapnya penuh kekhawatiran sambil menggenggam erat tangannya.

__ADS_1


Mei Hua mencoba menahan rasa sakit ini namun dirinya kesulitan menahan rasa sakit yang mendera tubuhnya. Saat Api Ilahi masuk semakin dalam ke dalam tubuhnya, tiba-tiba Mei Hua mendapatkan penglihatan misterius dimana dia melihat seorang perempuan sedang berbaring lemah tanpa busana.


Didekat perempuan itu terlihat ada pria berparas tampan yang tidak mengenakan pakaian lalu melirik kearah sang perempuan.


“Hua‘er, aku berjanji akan bertanggungjawab. Saat ini aku sarankan padamu agar jangan terlibat denganku, aku tidak ingin menyakiti siapapun. Jangan biarkan lelaki lain menyentuh tubuhmu kecuali diriku.” Tatapan pria itu begitu dingin dan suram.


“Yang‘gege, apa kau akan meninggalkan diriku setelah menyelamatkan diriku? Kau sudah mengambil mahkotaku semalam... Kumohon jangan pergi, jangan tinggalkan kami...” Sang perempuan penuh air mata memandang wajah tampan pria yang sudah berubah kepribadiannya.


Mei Hua semakin melebar matanya saat mengetahui siapa pria dan perempuan yang muncul dalam ingatannya. Matanya berair menatap Jing Yang tidak percaya.


“Saudari Mei, bertahanlah. Kau pasti bisa melalui semua ini.” Jing Yang mengelus pipi Mei Hua dan menyeka air matanya.


Mei Hua mengetahui apa yang Jing Yang pikirkan saat ini. Dirinya meminta Jing Yang untuk tidak mengganggu ritual ini, namun harus Mei Hua akui dirinya sudah kesulitan mempertahankan kesadarannya.


“Ugh!” Mulut Mei Hua mengeluarkan darah segar dalam jumlah banyak. Pandangan Mei Hua mulai kabar, sebelum dirinya menyadari apa yang terjadi, Mei Hua merasa tubuhnya dipeluk oleh Jing Yang.


Rasa sakit yang membuatnya tak sadarkan diri itu menghilang. Mei Hua tidak menyadari jika Jing Yang telah mengambil sembilan puluh lima persen rasa sakit yang dialami Mei Hua sehingga Mei Hua hanya melewati lima persen rasa sakit dari penyiksaan.


“Kau terlalu keras kepala.” Jing Yang tersenyum memandang wajah Mei Hua yang tidak sadarkan diri.


“Sial, apa sejauh ini perbedaannya?” Jing Yang menatap Xue Bingyue dan Mei Hua secara bergantian. Dia tidak menyangka Xue Bingyue mampu melewati Metode Penyiksaan Petir dan Metode Penyiksaan Api namun sebagai gantinya Xue Bingyue tidak sadarkan diri dengan tubuh tidak bertenaga.


Selepas Mei Hua tidak sadarkan diri, Jing Yang membenahi pakaian atas Mei Hua dengan hati-hati sebelum akhirnya membaringkan tubuh Mei Hua disamping Xue Bingyue.


‘Kenapa aku berbuat sejauh ini?’ Jing Yang bingung dengan tindakannya karena merasa dirinya seperti akan menjalani kehidupan yang sesuai dengan ucapan Raja Neraka.


Jing Yang sendiri tidak mengetahui tentang apa yang Xue Bingyue dan Mei Hua alami saat mendapatkan penglihatan misterius tentang dirinya.


Jing Yang memanggil nama Qiao Xi setelah memastikan denyut nadi Mei Hua.

__ADS_1


“Saudari Qiao!”


__ADS_2