Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 189 - Memulai Pencarian Kain Langit Suci


__ADS_3

Selesai makan bersama, Bai Xianlin menjelaskan tentang sebuah kain putih bernama Kain Langit Suci yang merupakan Pusaka Surgawi yang merupakan peninggalan masa lalu Klan Bai.


Konon Kain Langit Suci sendiri ditenun oleh Dewi Langit itu sendiri. Setelah Klan Bai binasa, Kain Langit Suci dibawa oleh Tinju Api yang memiliki panggilan Bai Huo.


“Kakakku membawa kain ini ke Kekaisaran Shi saat kami melarikan diri ke benua ini...” Bai Xianlin menjelaskan bahwa Kain Langit Suci disimpan kakaknya dalam sebuah pemakaman milik salah satu anggota Klan Bai di Kota Luodao.


Bai Xianlin berniat pergi ke Kota Luodao mengambil Kain Langit Suci tersebut. Kemudian Bai Xianlin memberikan usulan agar Jing Yang tetap berada di Istana Bulan Biru selama kelumpuhannya.


“Tubuh Raja Neraka, kau harus menjaganya, Adik Rong. Dia...” Bai Xianlin takut Jing Yang akan berubah menjadi orang seperti yang dikatakan Fu Xinghe.


“Aku takut dia mencoba melakukan hal yang bodoh jika mendapatkan kembali kesadarannya...” Bai Xianlin menceritakan bahwa kakeknya pernah bercerita tentang kehidupan seorang pemilik Tubuh Raja Neraka.


Pemilik Tubuh Raja Neraka sering mendapatkan penglihatan misterius tentang masa lalu. Penglihatan misterius itu membuat pemilik Tubuh Raja Neraka melakukan hal untuk mencegah sebuah kejadian, namun jika pemilik Tubuh Raja Neraka gagal mencegahnya maka kebanyakan dari mereka akan menyalahkan diri sendiri.


Selain itu kakek Bai Xianlin dan kakek Jing Yang merupakan teman dekat, sehingga kakek Bai Xianlin pernah mendengar langsung dari Jing An tentang gambaran sekilas penglihatan misterius masa depan dari pemilik Tubuh Raja Neraka.


“Setelah mengetahui masa depanku, aku lebih memilih mati tetapi aku tidak bisa. Itulah yang kakekku katakan saat kakek bocah itu bercerita padanya.” Bai Xianlin menghela nafas panjang dan mengusap wajahnya secara lembut.


“Oh iya, Adik Rong...” Bai Xianlin mengambil semangka yang baru dipotong Xue Que, dia memakannya lahap sebelum melanjutkan perkataannya, “Apa dia pernah mengatakan sesuatu padamu?”


Xue Rong memejamkan matanya, “Sesuatu?” Dia mencoba mengingatnya.


“Sesuatu yang baginya itu penting.” Bai Xianlin menanggapi.


Xue Rong mengingat bahwa Jing Yang pernah mengatakan dirinya sangat mirip dengan orang yang paling berharga dalam hidupnya dan tak lain adalah mendiang Ibunya sendiri.


“Dia mengatakan jika aku sangat mirip dengan mendiang Ibunya. Dia juga mengatakan jika suatu saat dirinya kehilangan arah, dia ingin aku memarahinya.”


Penjelasan Xue Rong membuat Xue Bingyue terkejut. Xue Bingyue tidak menyangka Jing Yang akan mengatakan itu. Sementara Bai Xianlin menghela nafas panjang sebelum meminum air hangat.


“Jika suatu saat dia kehilangan arah? Perkataannya ini seolah-olah dia sedang merencanakan sesuatu dimasa depan. Cukup rumit, bukankah seorang bocah berumur tiga belas tahun? Jangan membuatku pusing.” Bai Xianlin justru mengeluh dan menghela nafas panjang berulang kali.

__ADS_1


Lalu mereka mengobrol seperti biasanya sebelum akhirnya Bai Xianlin berniat meninggalkan Istana Bulan Biru. Tetua Agung Istana Bulan Biru telah berbaik hati menerima dirinya, namun Bai Xianlin tidak betah berdiam diri disatu tempat saja.


Mungkin karena masa lalunya, Bai Xianlin tidak ingin merepotkan orang-orang yang menerimanya. Tempat yang akan dituju Bai Xianlin adalah Kekaisaran Shi.


“Bibi Xianlin! Tunggu!” Xue Bingyue memanggil Bai Xianlin yang sedang mempersiapkan barang bawaan.


Bai Xianlin menoleh dan mengetahui niat Xue Bingyue. Dia tidak keberatan karena akan lebih mudah mengawasi Xue Bingyue berada didekatnya, selain itu Xue Bingyue membutuhkan pengalaman yang nyata tentang dunia persilatan.


“Ada apa, Yueyue?” Bai Xianlin bertanya sambil memperhatikan ekspresi antusias Xue Bingyue.


“Izinkan aku ikut bersamamu. Aku ingin menyelamatkan Yangyang sama seperti dia menyelamatkanku. Kali ini giliranku yang melindunginya. Aku akan menepati janjiku.” Xue Bingyue mengatakan ini dengan penuh tekad membuat Bai Xianlin menelan ludah karena kagum.


‘Mana mungkin aku menolaknya...’ Bai Xianlin tersenyum dan mengelus kepala Xue Bingyue penuh kasih sayang.


“Baiklah, kau boleh ikut. Tetapi berjanji jangan melakukan sesuatu tanpa izinku.” Bai Xianlin memejamkan matanya dan tersenyum dihadapan Xue Bingyue.


Xue Bingyue mengangguk, “Ya, aku berjanji, Bibi Xianlin.”


“Aku sudah meminta izin pada mereka.” Xue Bingyue menjawab singkat. Dan tak lama Xue Rong, Xue Que serta Tetua Agung Istana Bulan Biru datang menghampiri Xue Bingyue.


Selesai mengemasi barang-barang milik Bai Xianlin yang diberikan Xue Rong, segera Xue Bingyue menaruhnya kedalam Cincin Dewa lalu dia juga mengambil beberapa barang-barang miliknya.


“Yueyue, kemari Nak.” Tetua Agung Istana Bulan Biru yang memberi isyarat pada Xue Bingyue untuk mendekat.


Xue Bingyue memberi hormat sebelum mendekati Tetua Agung Istana Bulan Biru. Saat Xue Bingyue berada dihadapannya, Tetua Agung Istana Bulan Biru memeluknya.


“Istana Bulan Biru adalah rumahmu. Jangan sungkan untuk kembali. Aku dan semua orang disini akan menyambut kedatanganmu.” Tetua Agung Istana Bulan Biru memeluk Xue Bingyue begitu erat.


“Terimkasih, Tetua Agung.” Xue Bingyue tersenyum dan membalas pelukan Tetua Agung Istana Bulan Biru.


“Untuk Yang‘er, kau tidak perlu mengkhawatirkan dia Yueyue. Karena bagaimanapun dia akan menjadi suami Matriark Istana Bulan Biru dimasa depan nanti. Kau dan Gurumu itu harus saling berbagi.”

__ADS_1


Tetua Agung Istana Bulan Biru tertawa saat mengatakan itu membuat Xue Rong melebar matanya dengan pipi bersemu merah, sementara Xue Bingyue ikut tertawa dan menanggapinya santai.


“Baik, Tetua Agung. Kalau begitu aku bisa tenang.” Jawaban Xue Bingyue membuat Xue Rong kebingungan.


“Yueyue, jika perkataan Tetua Agung sungguhan, apa kau tidak keberatan?” Xue Rong bertanya.


Xue Bingyue melepaskan pelukannya dan menggelengkan kepalanya sebelum menjawab, “Tidak, kenapa aku harus keberatan?”


Xue Bingyue tersenyum kecut, “Setelah mendengar cerita Guru, aku merasa tidak pantas bersama Yangyang. Sejak pertama kali bertemu dengannya, aku merasa dia begitu terang dan sulit untuk kugenggam. Dalam kegelapan, dia membuat hari-hariku yang penuh rasa sakit menjadi berwarna.”


Mendengar ucapan Xue Bingyue, seketika raut wajah Tetua Agung Istana Bulan Biru dan Xue Rong menjadi penuh rasa bersalah.


“Terimakasih Tetua Agung, Adk Rong. Kalau begitu aku akan pergi dulu.” Bai Xianlin berbicara lebih dulu saat suasana mendadak canggung.


“Hati-hati.” Tetua Agung Istana Bulan Biru menanggapi singkat.


“Yueyue, bawa ini.” Tetua Agung Istana Bulan Biru memberikan sejumlah uang kepada Xue Bingyue yang jumlahnya banyak.


“Gunakan ini untuk makan makanan yang layak dan untuk tidur di penginapan.” Tetua Agung Istana Bulan Biru tersenyum sambil mengelus kepala Xue Bingyue.


“Terimakasih Tetua Agung.” Xue Bingyue tersenyum manis sebelum berlari kearah Xue Que dan memeluknya.


“Kakak Que aku pergi dulu.” Xue Bingyue tersenyum saat melihat Xue Que meneteskan air matanya.


“Yueyue...”


Setelah itu Xue Bingyue berlari kearah Xue Rong dan memberi hormat. Xue Rong menjawabnya dengan memeluk tubuh Xue Bingyue.


“Aku berharap yang terbaik untukmu, Yueyue.”


“Terimakasih Guru. Aku tidak akan mengecewakanmu Guru.” Xue Bingyue tersenyum lalu melambaikan tangannya sebelum pergi meninggalkan Pegunungan Suxue bersama Bai Xianlin.

__ADS_1


__ADS_2