
Yang pertama kali lihat saat dirinya terbangun adalah wajah Murong Qiaomi yang sedang memperhatikan wajahnya. Seketika wajah Jing Yang merah padam. Wajah Murong Qiaomi terlalu dekat dan Jing Yang merasaa malu karena tertidur terlalu pulas dipangkuan paha Murong Qiaomi.
“Maaf, Bibi Qiaomi. Aku tidak sopan.” Jing Yang bangkit berdiri namun Murong Qiaomi justru memeluk tubuhnya dari belakang. Tubuh Jing Yang memang sekarang lebih kecil dan Murong Qiaomi seenaknya memangku Jing Yang layaknya anaknya sendiri.
“Jangan perlakuan aku seperti anak kecil, Bibi Qiaomi. Aku...” Jing Yang memberontak namun justru sikut tangan kirinya tidak sengaja menekan dada kiri Murong Qiaomi keras.
Murong Qiaomi tersenyum dan mencubit gemas pipi Jing Yang, “Kaisar Kecil, dimataku kau tetaplah seorang bocah. Untuk apa malu? Lagipula aku adalah penasehatmu. Tidur lagi, jangan memaksakan diri. Kau terlalu lelah, Yang‘er.”
Jing Yang pasrah saja saat Murong Qiaomi memangku dirinya kembali. Ada perasaan aneh karena dirinya diperlakukan seperti anak kecil yang manja. Jing Yang tidak mengerti jalan pikiran Murong Qiaomi, dia tidak percaya Murong Qiaomi lebih agresif dari Ye Xiaoya ataupun Bai Xianlin.
“Bibi Qiaomi, sudah berapa lama aku tertidur?” Jing Yang bertanya saat kepalanya disenderkan Murong Qiaomi ke belahan dadanya.
“Mungkin sekitar tujuh jam. Diluar sudah malam.” Jelas Murong Qiaomi sambil mengusap rambut Jing Yang penuh kasih sayang.
‘Ini menyebalkan.’ Jing Yang semakin kesal saat Murong Qiaomi mengelus-elus kepalanya.
Tak lama pintu kamarnya diketuk. Jing Yang langsung bangkit dari pangkuan Murong Qiaomi dan bergerak membuka pintu kamar. Diluar terlihat Xue Bingyue datang bersama Tao Qiaoli dan sosok perempuan yang terlihat tua dengan rambut mulai memutih.
“Nenek Yi!” Jing Yang melihat Yi Yue tersenyum kearahnya dengan mata berkaca-kaca.
Sementara itulah Xue Bingyue dan Tao Qiaoli menatap aneh Jing Yang dan Murong Qiaomi. Karena terlihat Murong Qiaomi duduk di ranjang Jing Yang.
‘Mengapa Ketua Qiaomi ada disini? Ini sangat mencurigakan. Tidak, tidak. Jangan berpikir yang aneh-aneh.’ Tao Qiaoli menggelengkan kepalanya menepis pikiran negatifnya.
Jing Yang mempersilahkan Yi Yue serta Xue Bingyue dan Tao Qiaoli untui masuk. Didalam kamar Jing Yang terdapat tempat duduk didekat jendela dan meja bundar. Disana Xue Bingyue, Tao Qiaoli dan Yi Yue duduk.
Murong Qiaomi ikut bergabung setelah menyuruh pelayan Istana Jiang menyiapkan teh hangat dan cemilan. Jing Yang sendiri duduk disamping Xue Bingyue dan Yi Yue.
__ADS_1
“Nenek Yi, perkenalkan dia adalah Yueyue.” Jing Yang memperkenalkan Xue Bingyue kepada Yi Yue.
Terlihat Yi Yue tersenyum ramah sambil memperhatikan wajah cantik dan manis Xue Bingyue.
“Jadi kamu Yueyue? Cantiknya calon istri cucuku ini.” Yi Yue mencubit gemas pipi Xue Bingyue dan tersenyum ramah, “Jaga Yang‘er untukku.”
Xue Bingyue tersedak mendengar ucapan Yi Yue. Wajahnya merah padam, sedangkan Jing Yang tersenyum hangat padanya. Xue Bingyue bingung mengapa Jing Yang terlihat senang saat Yi Yue menyukai Xue Bingyue.
Tao Qiaoli dan Murong Qiaomi tersenyum melihat Jing Yang dan Xue Bingyue. Setelah itu Murong Qiaomi, Tao Qiaoli dan Yi Yue mengobrol. Ketiganya mengobrol lama sambil menikmati teh hangat serta cemilan.
Sementara itu Jing Yang dan Xue Bingyue mengobrol berdua. Jing Yang bertanya tentang pertemuannya dengan Yi Yue. Xue Bingyue menjelaskan jika Tao Qiaoli yang mempertemukan dirinya dengan Yi Yue karena Tao Qiaoli membawa Yi Yue dari Hutan Persik Tersembunyi.
Mendengar obrolan Jing Yang dan Xue Bingyue akhirnya Yi Yue menceritakan dirinya yang menyelamatkan diri ke Hutan Persik Tersembunyi. Hari pembantaian yang mengerikan itu masih teringat jelas dibenak Yi Yue.
Tanpa sadar Yi Yue menangis tersedu-sedu mengingat kematian Jiang En. Jing Yang sendiri merasa bersalah, dia tidak menyangka akan menjadi seorang Kaisar Jiang tanpa Jiang En datang melihatnya. Bukan itu saja, dia pernah bermimpi suatu saat dimasa depan saat dirinya menjadi seorang Kaisar Jiang, seluruh anggota Istana Sembilan Naga menyaksikan dirinya.
Setelah beberapa lama Murong Qiaomi dan Tao Qiaoli memutuskan untuk memberikan waktu pada Jing Yang, Yi Yue dan Xue Bingyue untuk berbagi waktu. Murong Qiaomi menatap tajam Jing Yang membuat pemuda itu salah tingkah.
Murong Qiaomi tersenyum sendiri dan segera pergi meninggalkan kamar Jing Yang. Sedangkan Tao Qiaoli memperhatikan ekspresi Murong Qiaomi rumit karena dia melihat jelas bagaimana Murong Qiaomi menatap tajam Jing Yang ataupun ekspresi malu Jing Yang.
‘Jelas, ini mencurigakan.’ Tao Qiaoli menatap Murong Qiaomi penuh tatapan selidik.
Selepas kepergian Murong Qiaomi dan Tao Qiaoli, Jing Yang dan Yi Yue mengobrol lama sebelum akhirnya Xue Bingyue ikut dalam obrolan itu. Terlihat Xue Bingyue dan Yi Yue sudah akrab mengobrol.
Yi Yue memperlakukan Xue Bingyue seperti cucunya sendiri. Yi Yue sendri merasa senang karena Jing Yang telah memiliki calon istri secantik dan semanis Xue Bingyue.
“Yang‘er, sama seperti Kakekmu, apa kau menikahi beberapa perempuan?” Yi Yue menebak jika Jing Yang kelak akan memiliki istri lebih dari satu.
__ADS_1
Namun jawaban Jing Yang tidak terduga, “Nenek Yi, aku dan Yueyue telah berjanji saat kecil. Aku tidak ingin menyakiti perasaan Yueyue, Bunda pernah mengatakan ini padaku. Jika tidak wanita rela berbagi suami dengan wanita lain.”
Jing Yang menyinggung saat dahulu seorang kasim mengatakan pada dirinya jika dia harus memiliki istri lebih dari satu karena bagaimanapun dirinya merupakan seorang keturunan bangsawan sekaligus Kaisar Jiang, namun Jiang Lian justru mengatakan bahwa tidak ada wanita yang rela jika harus berbagi suami dengan wanita lain.
Yi Yue menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecut, “Lian‘er, kau membuat Yang‘er terlihat terlalu polos.”
“Nenek Yi, aku bersyukur Nenek baik-baik saja.” Jing Yang tersenyum lebar dan memeluk tubuh Yi Yue.
“Yang‘er, kau sangat manja. Apa kau tidak malu memeluk Nenekmu dihadapan Yueyue?” Yi Yue mengelus kepala Jing Yang dan tersenyum ramah.
“Yang‘er, apa yang membuatmu menjadi seorang Kaisar Jiang?” Yi Yue bertanya karena bagaimanapun dahulu Jing Yang bersikeras menolak menjadi seorang Kaisar Jiang.
Jing Yang melepaskan pelukannya dan menatap Xue Bingyue lama. Xue Bingyue salah tingkah ditatap Jing Yang cukup lama, pipinya bersemu merah karena Jing Yang begitu hangat menatapnya.
“Nenek Yi, aku ingin menciptakan sebuah negeri yang damai. Aku mungkin seorang bocah, tetapi aku sangat yakin tidak ada orang lain yang pantas mengemban tugas ini selain diriku. Aku membenci melihat penduduk diluar sana menderita. Aku akan memperbaikinya. Memperbaiki segalanya.” Jing Yang bercerita jika suatu saat pasti akan ada musuh yang lebih kuat darinya ataupun masalah yang tidak terduga, Jing Yang ingin menghadapi semua itu dengan dirinya yang menanggung tanggung jawab Kaisar Jiang.
“Untuk melakukan itu, langkah pertamaku adalah membebaskan Negeri Jiu dan Negeri Daejong. Aku telah membaca dan mendengar ceritanya dari Bibi Qiaomi...”
Dahulu Kekaisaran Jiang berdampingan dengan Negeri Jiu dan Negeri Daejong. Kedua negeri tersebut telah jatuh kedalam genggaman Pulau Iblis Tengkorak. Namun yang sebenarnya adalah jatuhnya Negeri Jiu dan Negeri Daejong karena camput tangan Kekaisaran Ma.
Kekaisaran Ma tertarik menguasai sumber daya yang ada di Negeri Jiu dan Negeri Daejong. Namun Kekaisaran Ma kalah oleh Mao Gang yang dibantu Tang Mu. Selain melanggar perjanjian damai Tiga Negeri yakni Kekaisaran Jiang, Negeri Jiu dan Negeri Daejong.
Tindakan Pulau Iblis Tengkorak ini membuat rakyat Negeri Jiu dan Negeri Daejong menderita. Jing Yang akan mengakhiri semuanya di malam berapi-api yakni Festival Api yang merupakan sebuah festival untuk memperingati keberhasilan Pulau Iblis Tengkorak menguasai Negeri Jiu dan Negeri Daejong.
“Tidak ada langkah apapun yang diambil oleh orang-orang terdahuluku. Aku akan memperbaiki semuanya. Dengan diriku yang menjadi Kaisar Jiang, aku akan mengakhiri perang panjang ini.”
Yi Yue tercengang mendengar cerita Jing Yang. Bagaimana tidak, Jing Yang bagi dirinya merupakan Kaisar Jiang termuda dan terhebat dalam sejarah Kekaisaran Jiang. Terlebih seluruh pendekar aliran putih dan netral bergabung dengannya, ini tidak pernah terjadi sebelumnya bahkan di era Jiang En sekalipun.
__ADS_1
“Yang‘er, kau tumbuh menjadi lelaki yang hebat.” Yi Yue tersenyum dan menyeka air matanya.