Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 54 : Penginapan Sepi Angin


__ADS_3

Setelah babak penyisihan Turnamen Sembilan Naga selesai, acara babak enam belas besar akan di gelar keesokan harinya. Hari sudah mulai gelap. Seluruh pendekar yang datang dari sekte aliran putih dan aliran hitam menginap di tempat yang telah disediakan.


Tempat penginapan aliran putih berada di kediaman milik Tetua Naga Api, Huo Long. Sementara penginapan aliran hitam berada di kediaman Tetua Hakim Naga, Wang Zhi.


Murong Qiaomi terlihat menjaga jarak dari pendekar Gunung Pedang Tunggal dan Istana Naga Api. Jing Yang bisa melihat banyak pendekar laki-laki yang menatap rendah pendekar perempuan dari Istana Bunga Persik. Tatapan mereka semua membuat Jing Yang merasa sedikit emosi.


“Saudara Jing Yang, seperti itulah sikap pendekar dari Gunung Pedang Tunggal. Mereka merasa berada di atas. Menatap rendah semua yang ada di bawah.” Ucap Qiao Xi yang berjalan disamping Jing Yang. Terlihat Qiao Xi kesal dengan sikap pendekar dari Gunung Pedang Tunggal.


“Xi‘er, bagaimana kabarmu? Apa kau sudah lupa denganku?” Pendekar muda dengan cara berjalan yang terlihat gagah, namun terkesan angkuh menghampiri Qiao Xi.


“Ehmm, mohon maaf. Anda siapa?” Qiao Xi memasang wajah datar dan tidak peduli. Pendekar yang tak lain adalah Yan Shangxuan tentu langsung merah padam wajahnya karena marah dan dipermalukan.


“Xi‘er, aku sudah memutuskan untuk menjadikanmu istriku! Aku, Yan Shangxuan. Lihat saja, hanya kekuatan yang akan membuatmu tunduk padaku!” Yan Shangxuan sedikit berteriak dengan nada yang mengancam.


“Jangan terlalu angkuh!” Balas Qiao Xi sambil menatap tajam Yan Shangxuan. Tatapan matanya begitu menusuk dan membuat Yan Shangxuan semakin ingin membuat Qiao Xi tunduk padanya.


Yan Shangxuan hendak memegang tangan Qiao Xi namun tangannya ditepis oleh Jing Yang. Mata kanan Jing Yang menatap tajam Yan Shangxuan.


“Saudari Qiao Xi ada urusan denganku. Mohon, jangan ganggu kami berdua!” Jing Yang memegang telapak tangan Qiao Xi dan menggenggamnya. Kemudian dia menarik Qiao Xi dengan lembut. Sang pemilik tangan langsung terdiam seribu bahasa dan mengikuti Jing Yang membawanya ke tempat Ye Xiaoya bersama yang lainnya berada.


Yan Shangxuan merasa telah dipermalukan. Terlebih lagi ada seorang pemuda yang membawa Qiao Xi. Malam itu Yan Shangxuan bertekad akan mempermalukan Jing Yang dan membunuhnya di Turnamen Sembilan Naga.


“Tunggu pembalasanku, cacat!” Yan Shangxuan pergi dan menyusul pendekar dari Gunung Pedang Tunggal yang telah masuk ke dalam kediaman Tetua Naga Api.


Di sisi lain Jing Yang dan Qiao Xi membuat Mei Hua dan Qiu Mei menatap keduanya dengan tatapan menyelidik. Terutama Qiu Mei yang sekilas melihat


Jing Yang dan Qiao Xi berpegangan tangan.


“Qiao Xi, kenapa wajahmu merah begitu?” tanya Mei Hua, dengan penasaran.


“Enggak merah.” Qiao Xi menjawab sambil menatap Mei Hua lurus.

__ADS_1


“Tidak, wajahmu itu seperti tomat.” Mei Hua justru memandangi wajah Qiao Xi dari dekat.


“Tadi Qiao Xi dan Saudara Jing Yang berpegangan tangan. Pasti sesuatu telah terjadi diantara mereka berdua.” Perkataan Qiu Mei membuat wajah Qiao Xi semakin merah padam, sedangkan Jing Yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena mendengarkan ceramah dari Roh Sang Hitam agar jangan membuat seorang perempuan salah tingkah dengan kebaikannya.


“Eh, Qiao Xi dan Saudara Jing Yang berpegangan tangan? Qiao Xi jadi...” Mei Hua tersenyum tipis menatap Qiao Xi.


“Semuanya sudah berkumpul disini.” Ye Xiaoya datang bersama Murong Qiaomi, Murong Liuyu dan Chi Rong.


“Kami sudah berkumpul, Senior Ye Xiaoya.” Mei Hua menjawab paling cepat dan menatap Qiao Xi dengan senyuman yang menyungging di wajahnya.


“Kalau begitu, kita akan menginap di tempat kenalan Saudari Hua Ying.” Ye Xiaoya langsung berjalan bersama Murong Liuyu. Keduanya terlihat sedang membicarakan sesuatu.


Sementara itu Murong Qiaomi dan Chi Rong menatap Qiao Xi yang merah padam wajahnya. Baru pertama kali mereka melihat Qiao Xi terlihat gelagapan dan salah tingkah.


Jing Yang mengamati suasana malam di Istana Sembilan Naga. Lentera dan lampion menyala di sepanjang jalan. Begitu banyak orang-orang yang membuka toko dan berjualan. Mereka yang berjualan dan membuka usaha di Istana Sembilan Naga adalah penduduk yang telah resmi menjadi penduduk kediaman Istana Sembilan Naga.


Jadi bukan hanya orang yang bisa menjadi pendekar atau orang punya ilmu bela diri saja yang ada di kediaman Istana Sembilan Naga. Sekte aliran netral terbesar di Kekaisaran Jiang ini memiliki kediaman yang luas. Layaknya kota-kota besar yang ada Kekaisaran Jiang.


Sebuah bangunan yang memiliki tanda papan dengan tulisan “Penginapan Sepi Angin” itu terlihat sepi pengunjung. Pemilik Penginapan Sepi Angin adalah seorang wanita tua renta, biasa dipanggil Nenek Jia oleh Hua Ying.


“Jadi disini tempat kita menginap?” Ye Xiaoya mengamati tempat yang bersih di sekitar penginapan. Tempat yang cocok untuk menginap.


“Silahkan masuk, anggap saja rumah sendiri.” Nenek Jia mempersilahkan masuk sambil berjalan memasuki penginapan, “Sudah lama aku tidak menerima tamu. Aku hanya menerima perempuan untuk menginap, tetapi malam ini aku izinkan pendekar muda ini menginap.”


Jing Yang menjadi canggung setelah mendengar perkataan Nenek Jia. Terlihat Nenek Jia begitu ramah kepada Hua Ying. Di masa lalu Hua Ying menyelamatkan Nenek Jia dari kejaran pendekar dan berniat membawa Nenek Jia ke Istana Bunga Persik.


Saat dalam perjalanan Hua Ying dan Nenek Jia bertemu dengan Sheng Long. Setelah melakukan perjalanan bersama walau hanya beberapa jam saja, Nenek Jia justru lebih memilih untuk pergi bersama Sheng Long dan menetap di Istana Sembilan Naga.


Jing Yang meninggalkan Hua Ying yang sedang menceritakan masa lalunya pada Ye Xiaoya dan Murong Liuyu. Dia memasuki pintu kamar dan langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya.


Sekitar tiga puluh menitan Jing Yang berada di dalam kamar mandi sebelum keluar dan memakai pakaiannya. Di ruangan tengah, Jing Yang melihat semua pendekar dari Istana Bunga Persik sudah mandi termasuk Ye Xiaoya.

__ADS_1


“Yang‘er, duduk sini...” Ye Xiaoya melambaikan tangannya dan memberi isyarat pada Jing Yang agar duduk disampingnya.


Di meja sudah tersaji hidangan lezat yang disajikan oleh Hua Ying dan Nenek Jia. Mereka makan bersama dan menikmati hidangan yang dibuat dengan penuh perasaan oleh Nenek Jia.


“Qiao Xi, kenapa kau terlihat berbeda malam ini. Apakah kau memiliki janji untuk jalan bersama seseorang malam ini?” Mei Hua sengaja mengeledek Qiao Xi setelah selesai makan.


Qiao Xi tidak menjawab perkataan Mei Hua dan memalingkan wajahnya ke samping. Namun pandangan matanya justru melihat Jing Yang yang sedang menikmati hidangan dengan lahap.


“Ehm, jadi...” Mei Hua berbicara dengan nada sedikit mengeledek. Qiao Xi langsung mencubit paha Mei Hua agar teman seperguruannya itu diam.


“Kalian berdua jangan terlalu berisik. Lagian, Mei Hua, jika kau suka dengan Saudara Jing Yang katakan saja padanya.” Qiu Mei menengahi dan membuat Mei Hua terdiam, begitu juga dengan Qiao Xi.


“Kalian bertiga bantu aku dan Tetua Hua Ying membersihkan...” Murong Liuyu memberi isyarat pada Mei Hua, Qiu Mei dan Qiao Xi agar membantu mencuci piring dan membersihkan dapur beserta ruang makan.


“Ketua Qiaomi, sepertinya mereka datang dengan kekuatan penuh. Bukankah ini mencurigakan...” Chi Rong yang sedang berada di teras bersama Murong Qiaomi menyinggung tentang pendekar dari Bulan Purnama Merah dan Gunung Pedang Tunggal.


Murong Qiaomi memijat keningnya dan menghela napas panjang, “Saudari Rong, Istana Sembilan Naga sangat percaya pada kekuatan mereka. Aku merasa Gunung Pedang Tunggal dan Bulan Purnama Merah hanya ingin menunjukkan kehebatan mereka.”


“Ya, itu benar juga...” Chi Rong menanggapi jawaban Murong Qiaomi sambil memegang dagunya.


Kemudian mereka berdua mengobrol di depan penginapan yang sepi itu. Selang dua puluh menitan datang pendekar dengan suara khasnya yang langsung dikenali oleh Murong Qiaomi dan Chi Rong.


“Selamat malam Saudari Murong Qiaomi dan Saudari Chi Rong...” Ye Long memberi hormat pada Murong Qiaomi dan Chi Rong. Kemudian dia melihat ke dalam penginapan, “Mohon maaf, apakah disini ada pemuda bernama Jing Yang?”


Murong Qiaomi dan Chi Rong tersentak kaget. Keduanya saling berpandangan sebelum akhirnya Chi Rong berdiri dan masuk ke dalam penginapan memanggil Jing Yang.


Selang dua menit, Jing Yang datang bersama seluruh pendekar dari Istana Bunga Persik yang berada di dalam penginapan.


Jing Yang menatap Ye Long lama sebelum memberi hormat kepada pria yang bertugas menjadi wasit pertandingan Turnamen Sembilan Naga tersebut.


“Selamat malam Senior, apa ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan, sampai datang malam-malam begini menemui Junior?” Jing Yang memberi hormat dan merasa Ye Long mempunyai motif tersembunyi karena datang menemuinya.

__ADS_1


“Ikut aku ke Paviliun Pedang Naga.”


__ADS_2