
Angin berhembus dengan tenang disekitar Ibukota Huaran. Sedangkan bulan menyinari kota megah tersebut dengan sinr lembutnya. Dalam ketenangan malam itu, beberapa orang telah melakukan pergerakan.
Kediaman Jiang Nian yang ada di Ibukota Huaran telah menjadi markas pendekar Benteng Naga Besi, Sekte Lembah Darah dan Lima Golok Darah.
Shi Mubai atau dikenal sebagai pangeran yang berasal dari Kekaisaran Shi menikahi Jiang Nian hanya untuk menguasai tahta Kekaisaran Jiang.
“Lima Golok Darah, aku tidak menyangka kalian gagal membunuh mertuaku. Masalah ini lebih merepotkan jika dia membeberkannya pada Kaisar Jiang!” Shi Mubai sedang duduk di kursi yang mirip dengan singgasana.
“Kami tidak akan mengecewakan Pangeran Mubai kali ini.” Salah satu dari petinggi Lima Golok Darah yang bernama Liong Lao berbicara dan menunduk.
“Kita tunggu tanda dari Kung Hao. Apa istri anda tidak keberatan dengan rencana ini.” Sekarang pria dari Lima Golok Darah berbicara. Pria bernama Xu Shuang hanya tidak menyangka Jiang Nian tergila-gila pada Shi Mubai hingga rela mengkhianati orang tua dan tanah airnya sendiri.
“Aku tidak keberatan...” Jiang Nian datang dan duduk di pangkuan Shi Mubai.
“Lagipula aku membenci orang itu karena tidak bersikap adil!” Perempuan berparas cantik itu terlihat begitu membenci Jiang En.
Di masa lalu Jiang En memiliki dua orang selir yang dekat dengan Jiang Nian. Namun kedua selir itu jarang diperhatikan Jiang En karena Yi Yue mengandung Jiang Lian.
Salah satu dari dua selir itu memilih bunuh diri karena tekanan dari hinaan dan tuduhan orang-orang disekitarnya. Sementara selir lainnya meninggal karena penyakit. Walau kedua selir itu bukanlah ibu kandung Jiang Nian, tetapi keduanya menemani masa kecilnya.
Jiang Nian mengingat saat selir terakhir meninggal. Selir itu lumpuh dan Jiang En tidak pernah menjenguknya, kecuali saat pemakaman selir tersebut. Secara tidak langsung, Jiang Nian membenci sifat ayahnya yang tidak berlaku adil. Jiang Nian menemani selir terakhir sampai akhir hayatnya. Luka itu menyebabkannya menjadi pribadi yang seperti sekarang.
“Kita akan bergerak setelah ada tanda. Dan aku yang akan membunuhnya dengan tanganku sendiri.” Shi Mubai berkata dingin dan memegang pinggang Jiang Nian.
Tak lama asap berwarna merah meledak dari arah kediaman Jiang En.
“Saatnya bergerak!” Shi Mubai memberi tanda pada semua pendekar yang bekerja dibawahnya untuk bergerak.
___
Sementara itu pembunuh dari Organisasi Laba-Laba Hijau dan Organisasi Air Dosa membunuh prajurit militer yang berjaga di kediaman Jiang En. Kemudian mereka menyembunyikan mayatnya di belakang kediaman.
Pembunuh dari Organisasi Laba-Laba Hijau mulai melakukan pergerakan ketika melihat Kaisar Jiang bersama beberapa orang masuk ke dalam kediaman. Sementara pembunuh dari Organisasi Air Dosa mengamati keadaan disekitarnya hingga muncul salah satu pendekar suci yang bernama Kung Hao menampakkan wujudnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam jubahnya.
__ADS_1
“Apa dia berada di pihak kita?”
“Tunggu, kita diberi pesan agar berhati-hati dengan pendekar yang bekerja di bawah Shi Mubai!”
“Dia mengeluarkan sesuatu? Bunuh dia!”
Kung Hao mengeluarkan suar yang dalam sekejap mewarnai langit malam kediaman Jiang En dengan warna merahnya.
“Hadapi aku jika kalian bisa!” Kung Hao mengeluarkan golok dan bergerak cepat menghabisi pembunuh dari Organisasi Laba-Laba Hijau.
“Kalian bukanlah lawanku! Panggil pendekar suci untuk menghentikanku!” Kung Hao mahir dalam menggunakan golok. Tebasan demi tebasannya membunuh pembunuh dari Organisasi Laba-Laba Hijau dengan tebasan goloknya yang rapi.
Ketika Kung Hao sedang menikmati pertarungan, salah satu dari lima petinggi Organisasi Laba-Laba Hijau yang tersisa menyambut tebasan golok Kung Hao.
“Kalian masuk dan bunuh Kaisar Jiang! Terutama kalian dari Pulau Salju Rembulan. Lin Song, kau paham bukan?!” Petinggi Organisasi Laba-Laba Hijau yang bernama Ma Chong menangkis tebasan golok Kung Hao.
Lin Song tidak membantah dan langsung bergerak bersama yang lainnya. Pertarungan sengit terjadi antara Ma Chong melawan Kung Hao.
Situasi di halaman depan kediaman Jiang En semakin tidak terkendali ketika Shi Mubai dan Jiang Nian datang bersama pendekar yang melindungi mereka.
“Aku melihat Shi Mubai dan Tuan Putri Kedua!”
Salah satu pembunuh berteriak sebelum mati dibunuh pendekar dari Benteng Naga Besi. Shi Mubai dan Jiang Nian terus bergerak tidak menghiraukan apa yang terjadi karena dua pendekar bumi, tiga pendekar agung dan beberapa pendekar suci melindungi mereka.
Sesampainya di ruangan tempat Jiang En duduk di sebuah singgasana kecil. Shi Mubai memberi tanda pada pendekar yang berada disampingnya untuk membunuh Jiang En.
“Kalian berdua ada apa kemari?” Jiang En berdiri dari tempat duduk, sementara Panglima Shen Ho dan Jendral Besar Huan Chen menarik senjatanya.
Dua pendekar suci hendak memotong kepala Jiang En, tetapi Jing Yang menahannya dengan mudah dan tanpa kesulitan yang berarti.
“Aku datang untuk membunuhmu mertuaku! Kau terlalu naif!” Shi Mubai berlari sambil membawa sebuah pedang di tangannya. Terlihat disamping kiri dan kanannya terdapat pendekar bumi.
Jiang En memucat wajahnya ketika melihat Jiang Nian tersenyum sinis kepadanya. Dalam kekacauan itu, Yi Yue membuka penutup wajahnya. Sementara Murong Qiaomi dan Tao Qiaoli menahan dua pendekar bumi yang menjaga Shi Mubai.
__ADS_1
“Aku tidak menyangka kau menjadi seperti ini, Nian‘er. Dan kau! Beraninya membunuh adik kandungmu sendiri!” Yi Yue berteriak. Wajah Jiang En terkejut melihat istrinya, tetapi sesuatu terjadi karena tubuhnya tiba-tiba tidak dapat bergerak.
Aura pembunuh yang dilepaskan salah satu pendekar bumi membuatnya kesulitan bergerak. Murong Qiaomi memberi tanda pada Panglima Shen Ho dan Jendral Besar Huan Chen agar membawa Jiang En dan Yi Yue menjauh.
“Tidak akan kubiarkan!” Shi Mubai bergerak kembali. Tetapi dia dikejutkan dengan dua pendekar suci yang tidak dapat mengatasi seorang pemuda berumur dua belas tahun.
“Seharusnya aku yang berkata seperti itu!” Jing Yang menatap dingin Shi Mubai ketika bertukar serangan dengan dua pendekar suci yang menghalanginya.
“Jadi ini perbedaan kekuatan yang dimaksud Guru Xiaoya.” Jing Yang berkata pelan mengingat perkataan Ye Xiaoya tentang pendekar suci yang telah membuka delapan gerbang.
Ye Xiaoya pernah merasa penasaran dengan pendekar agung di Kekaisaran Jiang yang memiliki kemampuan seperti pendekar suci. Dia menemukan alasannya karena pendekar agung tersebut tidak dapat membuka delapan gerbang dan memilih cara instan untuk menerobos pendekar agung.
Perbedaan kekuatan antara pendekar suci yang telah membuka gerbang dan tidak membukanya terpaut jauh. Ketika Jing Yang mengingat perkataan Ye Xiaoya dia hanya tersenyum tipis.
“Anak ini! Bagaimana bisa ada anak kecil telah mencapai pendekar suci?!” Salah satu pendekar suci terus memainkan pedangnya mencoba menerobos dan membunuh Jing Yang. Dia melihat Jiang En dan Yi Yue dihadapannya tetapi kehadiran Jing Yang membuat langkahnya terhambat.
“Aku akan menahannya! Kau harus membunuhnya!” Pendekar suci yang lainnya melepaskan aura pembunuh dalam jumlah besar sebelum mengayunkan pedangnya dengan cepat menyerang Jing Yang.
‘Lambat...’ Jing Yang menggunakan kekuatan Pedang Gravitasi untuk menahan tebasan tersebut. Sementara Pedang Dewa Naga dia ayunkan penuh tenaga memotong tubuh pendekar suci yang menahan dirinya.
“Jangan alihkan pandanganmu ketika bertarung!” Jing Yang kembali bergerak membunuh pendekar suci yang mematung ketika merasakan energi pedang yang mencekam.
Shi Mubai berkeringat dingin melihat tatapan Jing Yang. Namun tak lama pendekar agung dan pendekar suci melindunginya.
“Bunuh dia!” Shi Mubai menunjuk Jing Yang dengan jarinya.
Ketika semua pendekar yang menjaganya bergerak, Jing Yang melebar matanya karena melihat Panglima Shen Ho mengikat tubuh Shi Mubai beserta Jiang Nian.
“Nian‘er! Aku ingin kau merenungkan kesalahanmu!” Ternyata Jiang En yang memberikan perintah. Sementara Yi Yue masih terlihat bimbang.
Jing Yang memejamkan matanya sebelum aura hitam pekat menyebar di sekujur tubuhnya.
“Aura Naga Kegelapan!”
__ADS_1
Aura pembunuh dua pendekar suci diserap Jing Yang dengan kekuatan Aura Naga Kegelapan. Tindakan itu membuat Yi Yue merinding ketika melihat sisi gelap cucunya.
“Yang‘er...”