Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 222 - Sembilan Permata Bunga Persik


__ADS_3

Setelah melakukan pembersihan terhadap Istana Jiang. Suasana di Ibukota Huaran tampak berbeda karena hampir seluruh pendekar yang akan bergabung kedalam aliansi yang dibentuk Jing Yang sedang berkabung atas kematian Jiang En.


Jing Yang berdiri paling depan dan didampingi Xue Bingyue. Buka hanya pendekar yang akan bergabung kedalam aliansinya saja, namun seluruh anggota keluarga bangsawan Kekaisaran Jiang juga turut berduka dan menghadiri langsung.


Xue Bingyue melihat Jing Yang masih memejamkan matanya saat satu demi satu penduduk mulai dari rakyat biasa, bangsawan sampai pendekar mulai meninggalkan pemakaman.


Jing Yang masih berdiri dan memejamkan matanya dihadapan makam Jiang En. Terlihat Xue Bingyue masih berdiri disampingnya dan tidak bergeming sedikitpun saat mendengar detak jantung Jing Yang yang begitu tenang.


Dibelakang Jing Yang terlihat Murong Qiaomi dan seluruh Tetua Istana Bunga Persik hadir dan masih berdiri menunggu Jing Yang. Bukan hanya Istana Bunga Persik saja, melainkan Patriark Sekte Bukit Angin, Sekte Lembah Air dan Sekte Pedang Langit juga turut hadir.


Disamping para pendekar yang namanya besar didunia persilatan Kekaisaran Jiang, para kepala keluarga bangsawan juga masih berdiri dan menunggu Jing Yang.


Jing Yang membuka matanya namun tidak menunjukkan ekspresi apapun diwajahnya. Lu Xiuyu dan Shen Mi yang melihat itu melebar matanya. Keduanya merasa Jing Yang yang mereka lihat adalah orang yang berbeda.


‘Meski Yang‘gege sedang berduka, tetapi emosinya tidak tampak sedikitpun diwajahnya... Yang‘gege apa yang sebenarnya terjadi padamu?’ Lu Xiuyu ingin berlari dan memeluk Jing Yang. Gadis kecil itu merasa jika saat ini Jing Yang seperti orang yang kesepian.


‘Jing Yang, apa ini sungguh dirimu? Kau terlihat sangat berbeda dari pertama kali kita bertemu.’ Shen Mi menggigit bibir bawahnya karena melihat ekspresi wajah Jing Yang.


Jing Yang berjalan melewati semua orang dan berjalan menuju Istana Jiang. Bukan hanya Lu Xiuyu dan Shen Mi saja yang terkejut, bahkan Qiao Xi, Mei Hua dan Qiu Mei juga terkejut melihat perubahan Jing Yang.


Semua orang menatap Jing Yang yang berjalan dengan langkah goyah dan ekspresi kosong. Jing Yang larut dalam emosinya namun dirinya tidak dapat mengekspresikan emosi tersebut.


“Aku ingin membunuh mereka semua Sejak keluar dari Jurang Kesepian, aku ingin membunuh kalian semua. Tetapi orang yang menyadarkan akal sehatku adalah kata-kata mendiang Ibuku...” Jing Yang berbicara sendiri dan berjalan melewati semua orang yang menatapnya penuh rasa iba.


‘Yang‘er...’ Murong Qiaomi bisa melihat jelas betapa hancur mental Jing Yang sekarang.


“Yangyang...” Xue Bingyue berjalan mengikuti Jing Yang namun dia menghentikan langkahnya saat mendengar Jing Yang berbicara sendiri.


“Ibuku selalu mengatakan ini. Sekalipun mereka menyakitimu dan tidak menerimamu, mereka adalah keluargamu. Jangan pernah menyimpan dendam pada mereka dan maafkan kesalahan mereka. Itu yang Ibuku selalu katakan saat aku tidak menyukai sikap kalian semua.” Jing Yang kembali berbicara sendiri dan kali ini dia tanpa sadar melepaskan aura pembunuh.

__ADS_1


Suaranya meninggi, namun raut wajahnya tidak menunjukkan ekspresi sedikitpun. Semua orang tersentuh melihat keadaan Jing Yang sekarang. Jing Yang terus berjalan memasuki Istana Jiang. Xue Bingyue mengejarnya dan memeluk tubuh Jing Yang saat pemuda itu melepaskan aura pembunuh lebih besar dari sebelumnya.


“Jika kalian menghancurkan sesuatu yang berharga untukku, maka aku akan menghancurkan kalian semua.” Jing Yang tidak sadar dirinya berbicara sendiri.


Tubuhnya berhenti melangkah saat Xue Bingyue memeluknya erat. Jing Yang memegang tangan Xue Bingyue dan tersenyum pahit.


“Yueyue, jika aku membunuh semua orang musuh diluar sana, apa aku bisa menciptakan sebuah negeri yang damai?” Pertanyaan Jing Yang membuat Xue Bingyue kebingungan.


Semua orang mendengar ucapan Jing Yang. Mereka semua mengira Jing Yang sudah goyah mentalnya. Namun sebenarnya Jing Yang menanyakan itu karena dia berharap seseorang membantu dan menemukannya.


Penglihatan misterius Raja Neraka membuat Jing Yang takut jika dimasa depan dirinya tidak akan melindungi sesuatu yang berharga baginya.


“Yangyang, jangan mengatakan hal semenyedihkan itu!” Xue Bingyue memeluk kepala Jing Yang dan membenamkan kelehernya.


“Sekalipun neraka kejam yang menanti kita dimasa depan, aku akan menemanimu sampai akhir, Yangyang!” Xue Bingyue tanpa sadar menangis.


Jing Yang memeluk Xue Bingyue dan memejamkan matanya. Cukup lama Jing Yang memeluk Xue Bingyue sebelum akhirnya dirinya tenang.


“Terimakasih Yueyue...” Jing Yang mengusap air mata Xue Bingyue dan menatap wajah gadis manis itu penuh makna.


‘Aku akan melindungi semuanya.’ Jing Yang menatap Xue Bingyue dan seluruh orang yang hadir di pemakaman Jiang En.


____


Setelah pemakaman Jiang En selesai, dalam kurun waktu dua hari pengangkatan Jing Yang sebagai Kaisar Jiang berlangsung tenang. Semua penduduk Kekaisaran Jiang mendengar kabar ini dan menyambutnya bahagia.


Dengan Murong Qiaomi sebagai penasehatnya. Jing Yang menerima posisi Kaisar Jiang karena keinginannya sendiri. Dia ingin menciptakan negeri impiannya dimana semua orang yang hidup didalamnya damai.


Saat acara pengangkatan selesai, Jing Yang membaringkan tubuhnya diatas ranjang kamar pribadinya. Jing Yang berbaring lama dan menatap kosong keluar jendela.

__ADS_1


“Sejak lahir mungkin aku sudah seperti ini. Aku tidak menyesalinya dan aku akan memutarbalikkan kutukan itu.” Jing Yang menghela nafas panjang dan kembali duduk sambil menatap bangunan Ibukota Huaran dari kamarnya yang berada dilantai teratas Istana Jiang.


Saat Jing Yang sedang menikmati pemandangan, Murong Qiaomi mengetuk pintu dan tidak menunggu jawaban dari Jing Yang, wanita itu masuk kedalam kamar Jing Yang dan menutup pintu.


“Yang‘er, kemarilah Nak.” Suara lembut Murong Qiaomi membuat Jing Yang mendekati Murong Qiaomi yang duduk ditepi ranjang. Jing Yang kebingungan melihat sikap Murong Qiaomi.


Belum sempat dirinya memahami, Murong Qiaomi memeluk kepalanya dan menenggelamkan wajahnya kedadanya. Wajah Jing Yang bersemu merah, terlihat Murong Qiaomi tersenyum ramah kepada Jing Yang sambil mengelus kepalanya.


“Selamat Yang‘er, kau telah menjadi seorang Kaisar. Kenapa wajahmu memerah?” Murong Qiaomi merayu Jing Yang dan tersenyum jahil.


“Ternyata kau cukup nakal.” Murong Qiaomi berbisik lirih membuat Jing Yang menjauh dari badan Murong Qiaomi.


“Bibi Qiaomi!” Jing Yang cemberut dan memalingkan wajahnya.


Murong Qiaomi tertawa melihat sikap Jing Yang yang kekanak-kanakan, “Syukurlah...” Suara tawa Murong Qiaomi terdengar merdu. Jing Yang mengerutkan keningnya.


“Eh? Apa maksud kedatanganmu kemari, Bibi Qiaomi?" Jing Yang sendiri mengira Murong Qiaomi akan memberinya nasihat atau memarahinya. Jujur saja dia merasa tidak begitu menyukai saat Murong Qiaomi memarahinya.


“Bibi berpikir jika kamu masih bersedih. Yang‘er, jangan memendamnya, kamu tidak sendirian. Bibi akan selalu mendukungmu Nak.” Murong Qiaomi mengelus kepala Jing Yang dan menarik lembut kepala Jing Yang agar tidur dipangkuan pahanya.


“Anggap saja ini hadiah dari Bibi untukmu. Berbanggalah.” Sungguh beruntung Jing Yang. Banyak lelaki diluar sana berharap bisa merasakan hal seperti Jing Yang. Wanita secantik Murong Qiaomi yang merupakan Matriark Istana Bunga Persik dengan postur tubuh ideal, tengkuk leher yang memukau serta keanggunan wanita itu tentu saja membuat setiap lelaki sulit mengalihkan pandangan terhadap sosok Murong Qiaomi.


Murong Qiaomi sendiri seumur hidup belum pernah menjalin hubungan asmara dengan lelaki. Mengingat dirinya menjabat sebagai Matriark Istana Bunga Persik dan menjaga ucapan leluhurnya, maka Murong Qiaomi tidak menunjukkan ketertarikan pada lelaki manapun.


“Bibi Qiaomi terimakasih.” Jing Yang tersenyum sebelum tertidur diatas pangkuan paha Murong Qiaomi.


“Bagaimanapun dia tetaplah seorang bocah. Tetapi sepertinya dia bukanlah lelaki yang akan memetik Sembilan Permata Bunga Persik.” Murong Qiaomi tersenyum manis sebelum mengecup kening Jing Yang.


“Yang‘er, aku akan mengawasimu.” Murong Qiaomi kembali tersenyum manis memperhatikan wajah Jing Yang yang tertidur dan nampak sangat menggemaskan.

__ADS_1


__ADS_2