
Selesai makan malam, Jing Yang diajak Li Ho mengelilingi Desa Api sebelum keduanya sampai di sebuah pemakaman.
“Yang‘er, orang-orang ini mati karena kebrutalan empat iblis yang mengeroyokku. Aku harap mereka bisa beristirahat dalam kedamaian.” Li Ho menunjukkan ekspresi sedih yang mendalam, “Semua ini karena kelemahanku. Andai saja aku lebih kuat.”
Jing Yang mengerti perasaan Li Ho, bagaimanapun dirinya juga pernah berpikir untuk kembali kemasa lalu dan menyelamatkan orang tuanya dan orang-orang disekitarnya.
“Sesakit apapun itu, kita harus tetap hidup dan berjalan ke depan. Mencoba bertahan hidup saja sudah cukup sulit bagiku...” Jing Yang bergumam pelan sambil berjongkok menatap makam seseorang.
Li Ho tersenyum sambil mengelus jenggotnya, “Semua orang di desa ini merupakan keluargaku. Aku membangun desa ini karena mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki apapun. Namun seiring berjalannya waktu, desa ini semakin besar dan aku tidak menyangka atas kejadian yang membuat mereka semua mati tanpa mengetahui kesalahan mereka.”
Lalu Li Ho tersenyum kecut dan menambahkan, “Gulungang Dewa Api yang dikatakan Bing Mu merupakan sebuah kemampuan yang dapat menyegel salah satu dari Sembilan Kekacauan Surgawi. Aku menerima ini mewarisi Klan Li yang telah lama musnah karena melindungi Gulungan Dewa Api.”
Li Ho mengeluarkan Gulungan Dewa Api dan menunjukkannya pada Jing Yang, “Aku memiliki anak perempuan, umurnya sama seperti gadis yang bersamamu itu. Dia tinggal bersama Ibunya di Kekaisaran Ma. Aku ingin sekali menemui mereka berdua, tetapi sampai saat ini selalu saja ada yang menghalangi jalanku untuk menemui mereka.”
“Kakek Li, kenapa kau menceritakan semua ini padaku? Aku hanyalah orang asing yang kebetulan lewat dan bukan siapa-siapa.” Jing Yang menggelengkan kepalanya dan menatap Li Ho tidak percaya.
“Saat pertama kali melihatmu bersama gadis muda itu, aku bisa melihat jika kau memiliki punggung yang lebih besar diantara orang-orangku. Seolah-olah kau memiliki beban besar yang kau tanggung sendirian. Aku sama sepertimu yang merupakan keturunan terakhir dari klanku. Terkadang aku berpikir hidup ini sangat tidak adil. Tetapi hidup inilah yang membuatku ingin membentuk sebuah keluarga dan bertahan hidup.” Penjelasan Li Ho membuat alis Jing Yang naik turun tidak percaya.
“Keluarga?” Jing Yang tersenyum namun tak lama dia memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara kasar.
“Namamu Jing Yang bukan? Jing adalah sebuah klan besar yang telah dimusnahkan secara keji di Benua Bintang Timur sama seperti Klan Li. Setiap klan yang berhubungan dengan Sembilan Kekacauan Surgawi akan berakhir seperti klanmu ataupun klanku. Mungkin inilah alasan terbesarku ingin mewarisi semua ilmuku padamu.” Li Ho tersenyum lebar melihat ekspresi tidak percaya Jing Yang.
“Kita bisa memulai latihannya esok hari, bagaimana apa kau setuju denganku?” Li Ho memutuskan secara pihak dan tertawa.
“Latihan? Kakek Li aku merasa begitu terhormat menjadi murid pendekar sepertimu. Kau adalah pendekar langit, tentu aku akan menerimanya jika Kakek Li tidak keberatan.” Jing Yang memberi hormat namun pundaknya ditepuk oleh Li Ho.
“Jing Yang... Justru aku yang merasa bahagia karena bisa bertemu dengan anak kecil sepertimu. Aku turut berduka atas yang menimpa keluargamu. Tetapi aku ingin kau menjadi orang yang kuat dimasa depan agar dapat melindungi orang-orang disekitarmu.” Li Ho mengangkat kedua bahunya lalu duduk diatas batu, Jing Yang mengejarnya dan duduk disamping Li Ho.
“Bagaimana caranya? Apa menjadi seorang pendekar surgawi belum cukup untuk melindungi dunia ini?” Jing Yang cukup antusias bertanya.
__ADS_1
“Melindungi dunia ini? Kau cukup rakus untuk seorang bocah polos, tetapi aku sangat menyukai ekspresimu itu. Jangan berubah, karena kau akan menakutkan jika berubah.” Li Ho menatap kedalam kedua mata Jing Yang.
“Kau tahu didalam gulungan itu terdapat sebuah teknik yang tidak pernah kupelajari.” Li Ho kembali berucap membuat Jing Yang penasaran.
“Apa kau penasaran?” Li Ho melirik Jing Yang dan dijawab anggukan kepala penuh antusias oleh Jing Yang.
“Nama teknik itu adalah Badan Semesta. Kau masih seorang bocah jadi aku akan menjelaskan secara singkat.” Li Ho menjelaskan jika seseorang yang mampu menggunakan Badan Semesta maka akan saling berbagi kenikmatan dan kekuatan saat laki-laki dan perempuan saling berhubungan.
Mendengar penjelasan Li Ho, Jing Yang berdiri dan mengepalkan kedua tangannya, “Kakek Li menjelaskan secara detail! Kau...”
“Hahaha... Maaf, maaf. Lagipula kau memiliki kharisma yang unik. Aku yakin anakku akan jatuh hati padamu sama seperti gadis muda itu. Kau sangat berbahaya untuk seorang bocah.” Li Ho sengaja mengeledek, kemudian Jing Yang kembali duduk dengan wajah bersemu merah.
“Jika aku menikah, aku akan menikahi Yueyue.” Jing Yang memalingkan wajahnya setelah berkata demikian.
“Bocah sepertimu sudah berkata seperti itu?” Li Ho menatap tidak percaya kemudian dia membatin, ‘Ngomong-ngomong Yueyue itu siapa?’
“Kami berdua sudah berjanji saat masih kecil, jika kita besar maka kita akan menikah.” Ucap Jing Yang dengan polosnya membuat Li Ho terdiam dan tidak menemukan jawaban.
Jing Yang tertawa pelan, dia sendiri merasa terhibur dengan kepribadian Li Ho yang lain.
“Kau masih terlalu dini untuk menanggung semua ini, Yang‘er. Semua itu membuatku ingin terus mengawasimu.” Li Ho berbicara sambil menatap langit malam.
“Kita baru saja bertemu, tetapi Kakek Li sangat percaya padaku. Mungkin seperti ini obrolan antara kakek dan cucunya...” Jing Yang membalas dengan nada sendu.
‘Sungguh sangat menyayat hati melihatmu, Yang‘er. Seharusnya kau masih butuh perhatian orang tua, tetapi kau sudah mengotori tanganmu diumur yang begitu muda. Kau bersikap polos, tetapi jauh didasar hatimu kau lebih dewasa dari orang yang pernah kukenal. Kepolosanmu itu akan menjadi senjata yang menakutkan jika implusif gelap dalam dirimu keluar dan kau kehilangan arah.’ Li Ho mengamati Jing Yang dengan seksama mulai dari nada suara bocah itu sampai tatapan matanya yang berubah-ubah.
“Yang‘er, aku akan mengajarimu cara membuat seorang perempuan bahagia. Apa kau tertarik?” Tiba-tiba terbesit dalam pikiran Li Ho untuk menggoda Jing Yang.
“Aku tidak tertarik.” Cukup singkat Jing Yang membalas.
__ADS_1
“Eh?” Li Ho terkejut kemudian dia memegang pundak Jing Yang dan mencengkeramnya, “Ini adalah tugas pertama gurumu.”
“Tugas? Ini sangat aneh.” Jing Yang sebenarnya ingin menolak, tetapi dia menganggukkan kepalanya dan berkata, “Baiklah, Kakek Li.”
Li Ho tersenyum sumringah dan mengeluarkan sebuah denah lalu memberikannya pada Jing Yang.
“Tempat yang dilingkari ini terdapat sebuah danau dengan sejuta keindahan yang memanjakan mata. Aku yakin kau dapat membuat gadis muda itu langsung bertekuk lutut padamu.” Li Ho tertawa terbahak-bahak membayangkan Jing Yang menggoda perempuan.
“Jika dipikir aku harus memberikan Senior Rong sesuatu karena telah menemaniku...” Jing Yang tersenyum dan menatap Li Ho yang berhenti tertawa, “Terimakasih, Kakek Li.”
‘Kenapa aku merasa seperti dibodohi?’ Li Ho kebingungan kemudian dia melambaikan tangannya kearah Jing Yang membalas lambaian tangan bocah itu.
Jing Yang segera berlari menuju Desa Api, tetapi saat sampai disana dia melihat Xue Rong sedang mengobrol dengan Bing Mu. Keduanya tertawa lepas dan sesekali dia melihat Xue Rong menepuk lengan tangan Bing Mu.
“Apa aku mengganggu?” Xue Rong terkejut karena tidak merasakan kehadiran Jing Yang dibelakangnya.
Tatapan Jing Yang masih sama, lagipula Jing Yang menganggap Xue Rong sebagai seorang kakak tidak lebih karena umurnya yang masih dibawah umur.
“Junior Yang, aku...” Xue Rong kebingungan karena mengira Jing Yang cemburu.
“Saudari Rong, aku pamit.” Bing Mu segera pergi dan tersenyum, sementara Xue Rong mengangguk.
“Apa aku mengganggu, sepertinya kau sangat menyukai pria itu, Senior Rong.” Jing Yang menggaruk kepalanya dan merasa tidak enak.
Xue Rong berdiri dan mendekati Jing Yang, “Tidak, kau salah paham!”
“Hah? Kenapa Senior Rong berteriak?” Jing Yang sendiri dengan santai menanggapi perkataan Xue Rong.
Akhirnya Xue Rong sadar jika selama ini Jing Yang tidak menarus perasaan apapun padanya.
__ADS_1
“Senior Rong, ikutlah denganku. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.” Jing Yang menarik lembut tangan Xue Rong dan membawa gadis muda itu pergi.
“Eh?” Jantung Xue Rong berdebar kencang melihat telapak tangannya digenggam erat oleh Jing Yang.