Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 131 : Kekaisaran Yin


__ADS_3

Sekitar dua hari setelah meninggalkan Makam Ratu Kuno yang telah tertutup dan Hutan Kegelapan, Jing Yang dan yang lainnya sedang terbang menuju Pegunungan Suxue.


‘Walau muda, tetapi dia memiliki kemampuan yang luar biasa...’ Xue Rong terbang dan mengamati Jing Yang yang membawa Xue Bingyue dan Xue Que.


“Rubah Putih, apa kamu lelah?” Xue Bingyue merasa tidak enak karena dirinya hanya duduk manis di atas bilah pedang yang tak tajam. Sementara Jing Yang mengontrol aura dan tenaga dalamnya untuk terbang.


“Yueyue, kamu pijat bahunya.” Sahut Xue Que sengaja menggoda Xue Bingyue. Namun reaksi datar Xue Bingyue membuat suasana kembali sunyi.


Xue Bingyue memijat bahu Jing Yang. Xue Que langsung diam dan mendengus kesal karena tidak memiliki bahan obrolan.


Jing Yang justru merasa nyaman. Dia melihat Xue Rong yang terus menatapnya dan Xue Bingyue yang memijat bahunya. Setelah menyerap intisari Giok Pengetahuan, Jing Yang bisa mengetahui perasaan mereka berdua terhadap dirinya.


Sebenarnya Jing Yang mulai menerima bagian dirinya yang baru, tetapi tidak dia sangka bahwa dirinya juga memiliki perasaan hangat kepada seseorang. Selain itu dia mengetahui beberapa orang yang pernah memiliki perasaan kepada dirinya.


Jing Yang menyadari dia telah membuat seorang gadis mengikuti kemauannya, memikirkan itu dia merasa dirinya begitu kejam.


___


“Bukankah disana...” Xue Que yang telah melamun dan hanya memakan cemilan sekilas melihat bayangan orang.


“Senior Rong, apa kamu melihatnya?” Jing Yang merasa ada tiga orang yang dikejar puluhan pria berjubah merah.


Xue Rong menggelengkan kepalanya, “Sebenarnya aku tidak terlalu dengan urusan politik. Sepertinya rumor jika Kota Shuyang di kuasai perampok benar...”


Xue Bingyue mengangkat alisnya, “Guru, bukankah kita harus membantunya?” Gadis ini memiliki rasa keadilan yang tinggi. Walau kehilangan ingatannya, tetapi Xue Bingyue tidak ingin ada seseorang memiliki masa lalu sama seperti dirinya.


Xue Rong memang ingin membantu, tetapi dia sebagai Matriark Istana Bulan Biru tidak dapat bertindak seenaknya. Istana Bulan Biru bukanlah sekte aliran putih ataupun hitam, melainkan netral.


‘Guru terlalu lama terkekang. Mungkin dia bisa membebaskannya dan mengubah cara pandangnya...’ Xue Que membatin lirih menatap Jing Yang.


“Biarkan aku membantu mereka, aku akan bertindak sesuka kata hatiku.” Jing Yang turun ke bawah sambil melepaskan Aura Raja Naga.


“Junior Yang!” Xue Rong ingin mencegahnya. Tetapi Jing Yang sudah turun.

__ADS_1


Jing Yang menatap Xue Rong yang terbang, dan Xue Bingyue yang sedang berdiri di atas bilah pedang besar bersama Xue Que.


“Seni Napas Dewa Naga Petir!” Jing Yang menarik Pedang Dewa Naga dan mengalirkan tenaga dalam berjumlah besar, kemudian memotong tangan pendekar berjubah merah yang hendak menebaskan pedangnya pada seorang perempuan.


“Siapa kau?!” Pendekar berjubah merah yang telah mencapai pendekar tingkat tiga menatap Jing Yang tajam.


“Namaku Jing Yang.” Pedang Dewa Naga berayun menebas tubuh pendekar berjubah merah. Seketika pendekar itu mati dan membuat sembilan pendekar yang tersisa menjaga jarak.


“Saudaraku tidak baik ikut campur masalah orang lain...” Salah satu pendekar berjubah merah yang telah mencapai tingkat pendekar kaisar berusaha menghampiri Jing Yang. Pendekar ini memiliki kemampuan paling tinggi di antara yang lain.


“Apa masalahmu? Kau juga tidak berhak membunuh mereka!” Jing Yang melepaskan kembali Aura Raja Naga. Seketika pendekar berjubah merah mematung.


“Aku sarankan jangan bertindak gegabah. Walau saudara ini telah mencapai pendekar agung, tetapi jika kau membunuh kami. Maka tiga pendekar agung akan memburu kalian.”


Bukannya takut dengan ancaman itu Jing Yang justru menghela napas panjang, “Paman, lama tidak berjumpa. Bisa ceritakan padaku ini, mereka siapa?”


Raut wajah sembilan pendekar berjubah merah langsung pucat pasi. Mereka benar-benar mengira Jing Yang memiliki hubungan dengan target mereka.


“Paman, kalian adalah keluarga bangsawan. Aku bisa merasakannya hanya dengan merasakan aura kalian.” Jing Yang menepuk pundak pria itu dan bergerak mendekati sembilan pendekar berjubah merah.


Jing Yang melihat sembilan pendekar berjubah merah yang mengeluarkan pisau beracun ke arahnya.


“Beraninya kau menghalangi tugas kami! Minggir dan jangan mengacaukan pekerjaan kami!” Pendekar berjubah merah yang mencapai pendekar kaisar berteriak dengan nada yang meninggi.


‘Mereka takut tiga orang ini bertahan hidup...’ Jing Yang melihat kemarahan dan ketakutan di wajah pendekar berjubah merah, tetapi kemarahan menguasai emosi mereka.


Melihat Jing Yang hanya diam membisu, pendekar kaisar itu melompat ke arahnya dan mengayunkan pedangnya.


“Mati!”


Jing Yang menggelengkan kepalanya pelan. Dia tidak mengira mereka akan bertindak seperti sedemikian rupa.


“Aku akan menahannya! Bunuh tiga orang itu!” Pendekar kaisar ini melepaskan seluruh kekuatannya guna menahan Jing Yang.

__ADS_1


“Baik, Senior!” Delapan pendekar berjubah merah yang lainnya langsung bergerak.


“Semua ini demi Yang Mulia Ma...” Pendekar itu menyeringai sebelum melepaskan tebasan membentuk bayangan hairmau berwarna hitam.


Jing Yang menangkis dan bergerak lincah menebaskan pedangnya dengan memotong kepala lawannya. Dia melirik delapan pendekar yang memucat wajahnya.


Jing Yang menekan pergerakan kedelapan pendekar berjubah merah menggunakan kekuatan gravitasi milik Yue Wang.


“Apa yang kau lakukan?!”


“Tubuh tidak digerakkan?!”


Jing Yang membunuh kedelapan pendekar berjubah merah dengan tebasan yang tajam dan dalam. Kemudian dia memeriksa jubah milik pendekar kaisar.


“Hmmm...” Jing Yang menemukan sesuatu yang menarik.


Tiga orang yang dia selamatkan menghampirinya. Jing Yang melihat ketiganya menatap dirinya ketakutan.


Jing Yang memperkenalkan dirinya dan mencubit pipi seorang bocah berumur lima tahun, “Adik, namamu siapa?”


“Anu, Kakak Jing. Namaku Ma Chenba.” Melihat anak ini membuat Jing Yang mengingat masa lalunya. Inilah mengapa dirinya dan Xue Bingyue ingin membantu mereka.


“Salam kenal Chenba.” Jing Yang segera hormat pada orang tua Ma Chenba.


Xue Rong menghampiri Jing Yang, kemudian dia bersikap anggun dan dingin kepada mereka bertiga. Sementara Jing Yang menurunkan Xue Bingyue dan Xue Que.


Ayah dari Ma Chenba memperkenalkan dirinya sebagai Ma Lizi dan istrinya sebagai Guan Yu. Setelah melihat anaknya yang langsung akrab dengan Jing Yang, mereka masih tetap ketakutan dan lebih memilih pergi.


Jing Yang menenangkan orang tua Ma Chenba yang masih ketakutan, dia segera menenangkan mereka. Pada akhirnya, Ma Lizi menceritakan tentang siapa pendekar berjubah merah dan tempat asal mereka.


___


Terimakasih atas pengertiannya karena sudah memaklumi keadaanku. Gak habis pikir sih masih ada segelintir yang nerka-nerka. Tetapi buat kalian yang tahu kondisi di Kalimantan, thanks. Salut untuk kalian. Cari sinyal, butuh perjuangan bos.

__ADS_1


__ADS_2