Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 252 - Hua Quin


__ADS_3

Pengakuan Hua Ying membuat Mei Hua, Qiao Xi dan Fan Ziwei terkejut. Sedangkan Xue Bingyue mengerutkan keningnya penasaran dan hanya Jing Yang yang bersikap tenang sambil memperhatikan Hua Ying dan Hua Minha.


“Bibi Minha adalah orang tua Tetua Hua Ying?” Mei Hua menelan ludah tidak percaya. Namun dari sikap Hua Ying menjelaskan semuanya terlebih nama keduanya memiliki banyak kesamaan.


Hua Minha dengan mata berkaca-kaca menatap wajah Hua Ying. Wajah yang tidak asing karena Hua Ying berjuang mencari bantuan setelah kabur dari kekejaman Lentera Iblis Tunggal.


“Ibu, aku merindukanmu...” Hua Ying memegang kedua kaki Hua Minha dan menangis. Hua Ying tidak peduli dengan orang-orang yang melihatnya, saat ini dia ingin mengetahui Hua Minha akan penyesalan dirinya.


Hua Minha bersyukur karena setidaknya Hua Ying masih tetap menjadi kehormatannya dan masih suci. Sambil menyeka air matanya, Hua Minha memegang lengan Hua Ying.


“Kau sudah tumbuh menjadi wanita anggun, Ying‘er.” Hua Minha tersenyum lembut dan memeluk tubuh Hua Ying.


Jing Yang memejamkan matanya melihat hal itu. Suasana mendadak haru dan jujur saja dirinya dipenuhi merasa bersalah karena hal yang menimpa Hua Minha.


“Banyak ingin kuceritakan padamu, Bu. Aku tidak bisa menyelamatkan Rongma dan aku tidak ingin membebani teman-temanku. Maaf, karena aku Ibu mengalami masa-masa yang berat... Aku berterimakasih pada Ketua Qiaomi yang menyadari kegelisahan dalam diriku ini...” Hua Ying menyeka air matanya dan tersenyum lebar pada Hua Minha.


“Apa kau tidak ingin menemui Quin‘er?” Hua Minha mengelus kepala Hua Ying dan duduk kembali.


“Nanti Bu. Aku mendengar kabar bahwa Quin‘er telah lumpuh. Aku butuh keberanian untuk bertemu dengannya. Pasti dia tidak ingin bertemu dengan kakak yang tidak berguna sepertiku...” Hua Ying duduk disebelah Hua Minha sambil menundukkan kepalanya.


“Silahkan duduk..." Chu Yui mempersilahkan Tao Qiaoli untuk duduk disebelahnya.


“Ini cukup mengejutkan...” Jing Yang menghela nafas panjang saat Tao Qiaoli duduk disamping Chu Yui, “Bibi Qiaomi benar-benar menakutkan. Dia memperkirakan segalanya.”


Tao Qiaoli tertawa pelan mendengar ucapan Jing Yang tentang tindakan Murong Qiaomi yang tidak terduga. Sementara Bai Xianlin menikmati hidangan sambil mendengarkan percakapan.


“Apa kau memiliki kelainan menyukai wanita tua seperti kami yang lebih pantas disebut Bibi atau pantas menjadi Ibumu, Yang‘er?” Bai Xianlin berbisik begitu lirih ditelinga Jing Yang.


“Bibi Xianlin, aku sarankan kau untuk diam.” Jing Yang memerah wajahnya karena sikap Bai Xianlin sangat mengganggunya.


Fan Ziwei memperhatikan tubuh Bai Xianlin dan menggelengkan kepalanya, ‘Aku kalah. Dia sangat seksi.’


“Semenjak menjadi penasehat pribadimu. Ketua Qiaomi terlihat lebih bebas dan aku sendiri belum pernah melihat dirinya seperti ini sebelumnya. Bisa dikatakan kau adalah orang yang mampu mengubah Ketua Qiaomi, Yang‘er.” Tao Qiaoli tersenyum kearah Jing Yang.


“Kaisar Kecil, kau mengenal anak angkatku ini bukan? Aku harap kau bisa menjaganya sama seperti kau berjanji padaku menjaga Quin‘er.” Hua Minha tersenyum saat mengatakan itu. Niat sebenarnya adalah memanfaatkan kepolosan Jing Yang.


“Ibu, apa maksudmu?” Hua Ying melebar matanya.


“Ibu ingin kau dan Quin‘er memiliki masa depan yang cerah. Aku yakin Kaisar Kecil ini akan memperlakukan kalian dengan baik dimasa depan. Turuti permintaan Ibu yang satu ini, Ying‘er. Ibu tidak ingin kalian berdua jatuh ketangan pria yang berbahaya, setidaknya Kaisar Kecil jujur dan tulus dalam ucapan serta tindakannya.” Hua Minha menatap Hua Ying memohon.


Jing Yang menggaruk kepalanya dan mengalihkan pandangannya menatap lantai, ‘Semenjak aku menjadi Kaisar Jiang, aku sudah mendengar perjodohan tidak masuk akal berapa kali?’


Hua Ying tidak pernah menyangka jika dirinya akan dijodohkan dengan Jing Yang. Membayangkan masa depan harus berbagi suami dengan adik angkatnya membuat Hua Ying menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


‘Sebaiknya aku turuti permintaan Ibu. Siapapun pendamping hidupku, itu tidak masalah asalkan dia berbakti kepada Ibu.’ Hua Ying sadar jika dirinya dan Hua Quin merupakan anak angkat Hua Minha. Namun Hua Ying sudah menganggap Hua Minha seperti Ibu kandungnya sendiri.


Sebelum mengakhiri pembicaraan ini, sekali lagi Chu Yui menjelaskan rencana tentang mempertahankan benteng di Rongma kepada Tao Qiaoli dan Hua Ying. Dengan kedatangan Tao Qiaoli dan Hua Ying tentu saja akan meningkatkan keberhasilan.


Hanya saja membayangkan sepuluh ribu prajurit menyerbu Rongma itu membuat Chu Yui bergidik ngeri jika mereka mengalami kekalahan. Namun anehnya saat melihat wajah Jing Yang yang tenang, ketakutan dalam diri Chu Yui menghilang.


Sebelum kembali ke kamar, Jing Yang menemui Hua Quin untuk melihat kondisi anak angkat kedua Hua Minha tersebut.


Sebuah ruangan remang-remang dilantai bawah dan merupakan tempat tinggal Hua Quin. Terlihat ruangan megah dengan ranjang besar itu dipenuhi bunga. Diatas ranjang itu terlihat sosok gadis yang bersandar pada senderan ranjangnya sambil menatap Hua Minha.


“Ibu, siapa laki-laki ini?” Hua Quin menatap Jing Yang kosong bahkan seolah-olah menganggap Jing Yang tidak ada.


“Dia adalah Kaisar Jiang sekarang, namanya Jing Yang. Dia telah menolong Ibumu ini dan penduduk Rongma. Dan perempuan disana adalah kakakmu.” Hua Minha memperkenalkan Jing Yang sekaligus Hua Ying.


Hua Quin mengabaikan Jing Yang dan menatap tajam Hua Ying yang tersenyum canggung padanya. Air Hua Quin menetes tanpa sadar.


“Ini tidak mungkin... Kakak Ying!” Hua Quin menangis keras saat Hua Ying mendekatinya dan memeluk tubuhnya.


“Maaf, Quin‘er.” Hua Ying memeluk erat Hua Quin dan bisa merasakan rapuhnya gadis itu karena menanggung penderitaan.


“Kakak Ying, kemana saja kau selama ini? Apa kau tidak tahu aku selalu mengkhawatirkan dirimu? Aku pikir kau telah mati...” Hua Quin meraung seperti anak kecil. Jing Yang ikut sedih melihat ekspresi Hua Quin dan tanpa sadar meneteskan air matanya.


“Quin‘er, maafkan kakakmu ini yang telah membuatmu khawatir sepuluh tahun belakangan ini, aku pulang...” Hua Ying tersenyum sendu dan meneteskan air matanya.


“Selamat datang kembali di Rongma, Kakak Ying.” Hua Quin ikut tersenyum namun saat matanya terbuka lebar dia melihat Jing Yang ikut meneteskan air mata.


Hua Quin dan Hua Ying menyeka air mata mereka dan menoleh kearah Jing Yang. Keduanya baru sadar jika Jing Yang dengan ekspresi tenang meneteskan air matanya.


“Hmmm? Kenapa aku menangis?” Jing Yang menyeka air matanya dan mencoba tersenyum, namun rasanya begitu sulit untuk tersenyum.


Mungkin dia selalu bersikap tegar selama ini sehingga semua emosionalnya yang terpendam tanpa sadar keluar. Jing Yang ingin tertawa namun juga tidak bisa. Saat mulutnya terbuka mencoba berbicara, justru hanya terbuka tanpa suara.


“Kau juga sudah menderita selama ini bukan? Menangislah. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali kami bertiga. Kau tidak perlu menahannya.” Hua Minha membenamkan wajah Jing Yang pada dadanya.


Pelukan hangat Hua Minha membuat Jing Yang menangis. Mungkin karena melihat pertemuan Hua Ying dengan Hua Quin membuat emosional Jing Yang bangkit tanpa sadar. Jing Yang selama ini menekan perasaan lemahnya, namun perasaan terlemahnya itu kembali disaat yang tidak terduga.


‘Aku tahu aku selama ini mencoba bersikap tegar, tetapi semua ini sangat menyakitkan... Tidak ada kata-kata yang keluar dan hanya air mata yang terus mengalir membasahi pipiku...’ Jing Yang menangis dan memeluk tubuh Hua Minha, dia menumpahkan semua kesedihan yang dia tahan selama ini.


Jing Yang tidak menyangka dirinya akan selemah ini. Dia tidak peduli jika Hua Ying dan Hua Quin melihatnya seperti ini. Yang terlintas dalam pikirannya sekarang adalah menumpahkan seluruh rasa sakit yang dia pendam selama ini.


Hua Quin sadar saat melihat Jing Yang. Pemuda itu lebih muda darinya dan telah mengalami pengalaman kehidupan yang pahit seperti dirinya. Melihat sisi lemah Jing Yang justru membuat Hua Quin tersenyum sendiri saat merasakan debaran kencang dalam jantungnya untuk pertama kali.


Bukan hanya Hua Quin saja, Hua Ying juga merasakan hal yang sama dengan Hua Quin. Aneh tapi nyata, cinta datang tanpa permisi dan singgah dengan sendirinya. Hua Ying dan Hua Quin tidak bisa memilih, mereka berdua yakin Jing Yang akan menjadi pria hebat dan bertanggung jawab dimasa depan.

__ADS_1


Pada akhirnya Jing Yang menangis dalam waktu yang cukup lama sebelum akhirnya Hua Quin meminta Hua Minha dan Hua Ying meninggalkan dirinya bersama Jing Yang.


“Ibu, Kakak Ying, bisa tinggalkan kami berdua. Hanya berdua. Ada yang ingin kubicarakan dengannya.” Hua Quin mengepalkan kedua tangannya di dada sambil menatap Jing Yang.


“Heeeh, sepertinya adikku yang cantik ini sedang jatuh cinta?” Hua Ying mencubit pipi Hua Quin gemas.


“Dia lebih muda dariku!” Hua Quin memerah wajahnya karena digoda Hua Ying.


Hua Minha hanya tersenyum karena melihat tingkah Hua Quin. Didalam kamar hanya menyisakan Hua Quin dan Jing Yang yang saling menatap satu sama lain.


“Namamu Jing Yang bukan? Berapa umurmu?” Hua Quin bertanya sambil memandang wajah Jing Yang yang sembab penuh makna.


“Tiga belas tahun.” Jing Yang menjawab singkat sambil menganggukkan kepalanya.


“Tiga belas tahun? Kau sepuluh tahun lebih muda dariku? Tunggu sebentar, aku dijodohkan dengan seorang bocah?” Hua Quin menghitung jarinya berulang kali memastikan jarak antara umurnya dengan umur Jing Yang.


“Aku sebenarnya ingin menolak, tetapi aku tidak sampai hati menolaknya... Kau menderita seperti ini karena pendahuluku dan juga Ibumu menderita selama ini karena pendahuluku... Semua ini salahku...” Jing Yang menundukkan kepalanya.


“Benar sekali! Semua ini salahmu! Kalian para bangsawan hanya mementingkan kepentingan kalian! Dasar manusia egois!” Hua Quin menatap Jing Yang penuh kemarahan sebelum memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan.


“Tetapi kau berbeda...” Berubah ekspresi Hua Quin sekarang, “Kau polos dan lemah, kupikir aku menyukaimu...” Wajah Hua Quin merah padam setelah mengatakan itu.


Jing Yang melebar matanya dan mulutnya terbuka tanpa suara.


“Ini- Ini tidak seperti yang kau pikirkan! Maksudku aku tidak membenci orang yang jujur dan memiliki sisi lemah seperti dirimu, jangan salah sangka dengan perkataanku barusan!” Hua Quin menatap Jing Yang tajam dengan wajah bersemu merah.


“Aku mengerti...” Jing Yang menganggukkan kepalanya dan menyeka matanya. Hua Quin mempersilahkan Jing Yang untuk duduk diranjangnya.


“Apa yang ingin kau bicarakan denganku?” Jing Yang duduk didekat Hua Quin dan bertanya.


Hua Quin menatap Jing Yang serius sebelum tangannya memegang jubah yang dikenakan Jing Yang.


“Selain diriku, berapa wanita yang sudah terikat perjodohan denganmu?”


Sebuah pertanyaan yang sulit dijawab, tetapi Jing Yang sebisa mungkin mengatakan kepada Hua Quin jika sejauh ini ada nama Xue Bingyue, Shen Mi dan Lu Xiuyu yang telah terikat perjodohan dengannya.


“Jadi aku yang ketiga? Hmmm, sepertinya tidak, aku menebak kau sudah memiliki banyak calon. Apa kau tidak sadar jika banyak perempuan yang ingin menjadi istrimu dimasa depan?”


Hua Quin seolah-olah menginterogasi Jing Yang membuat Jing Yang terdiam lama sebelum membuka suara.


“Aku tidak menyangkal itu.” Santai dan terlihat seperti tidak ada beban diwajah Jing Yang saat mengatakan itu.


“Jika kau ragu untuk menepati janjimu, kau bisa mundur sekarang. Kau terlalu baik untukku. Kau mungkin akan menatapku rendah jika mengetahui masa laluku...” Hua Quin mengepalkan tangannya dan menatap kosong Jing Yang.

__ADS_1


“Aku akan menepati janjiku.” Jing Yang menatap serius Hua Quin.


“Kita buktikan setelah kau mendengar kisah pilu masa laluku...” Hua Quin menatap balik tatapan serius Jing Yang.


__ADS_2