
Melihat bagaimana rekan-rekannya mati membuat Kong Taiha tidak bisa bertarung dengan segenap kemampuannya. Serangan dari gabungan Tao Qiaoli, Hua Ying, Fan Ziwei, Mei Hua dan Qiao Xi membuatnya kesulitan untuk melakukan serangan balik.
Kong Taiha semakin terdesak saat Chu Yui dan Bai Xianlin ikut melepaskan serangan dari kejauhan. Tubuh Kong Taiha mendapatkan luka parah baik itu dari sodokan tongkat Tao Qiaoli ataupun pukulan Hua Ying. Belum lagi tebasan pedang gabungan dari tiga arah milik Fan Ziwei, Qiao Xi dan Mei Hua membuat Kong Taiha semakin terdesak.
Tidak butuh waktu lama sebelum akhirnya Kong Taiha menghembuskan nafas terakhirnya karena kehabisan tenaga. Rasa takut karena melihat rekan-rekannya telah mati membuat Kong Taiha tidak dapat berpikir jernih. Setelah mendapatkan serangan beruntun tidak henti akhirnya Kong Taiha mati dengan serangan tebasan gabungan milik Fan Ziwei, Mei Hua dan Qiao Xi.
Jing Yang menggelengkan kepalanya tidak percaya saat melihat bekas pertempuran. Menurutnya kejadian ini adalah pertama kalinya dia membunuh manusia dengan jumlah yang sangat banyak. Sepuluh ribu bukanlah jumlah sedikit, Jing Yang bisa merasakan aura pembunuh dalam tubuhnya semakin pekat.
Satu hal Jing Yang sadari setelah dirinya berbuat sejauh ini dia tidak akan berhenti sampai menuntaskan tujuannya.
Setelah pertempuran di Rongma berakhir, suara sorak gembira terdengar dari dalam benteng. Semua penduduk Rongma menyambut kemenangan yang diraih Jing Yang.
“Bocah monster ini memiliki kharisma yang luar biasa. Sudah berapa banyak orang yang kagum padanya diusianya yang begitu muah?” Chu Yui menggelengkan kepalanya tidak percaya melihat Jing Yang disambut gembira penduduk Rongma.
Xue Bingyue sendiri selalu dibuat kagum dan terkejut dengan sepak terjang Jing Yang didunia persilatan bahkan saat pemuda itu menjadi seorang Kaisar Jiang.
“Dia memang mengagumkan...” Xue Bingyue tersenyum menatap Jing Yang yang berjalan mendekati mayat Kong Taiha.
Pertempuran Rongma berakhir dengan kemenangan Jing Yang dan rekan-rekannya yang menaklukkan pasukan Kekaisaran Ma serta beberapa petinggi Lentera Iblis Tunggal.
Pertempuran ini menyisakan sebuah bekas luka dan sukacita. Penduduk Rongma ramai-ramai merapikan sisa-sisa bekas pertempuran setelah Jing Yang membakar seluruh jenazah musuhnya menggunakan api hitam.
Dengan menggunakan api hitam, saat itu juga Jing Yang tidak sadarkan diri karena tubuhnya tidak dapat memulihkan tenaga lebih cepat seperti biasanya.
Sebuah danau kecil yang merupakan bekas pertempuran tercipta, penduduk Rongma menamakan danau ini dengan sebutan Danau Jingyui, sebagai tanda ucapan terimakasih mereka kepada Jing Yang yang berperan besar menebus kesalahan para pendahulunya ataupun Chu Yui yang membantu mereka selama beberapa tahun terakhir ini.
____
Sudah tiga hari semenjak pertempuran di Rongma. Sampai saat ini Jing Yang belum sadarkan diri. Pertempuran ini menyisakan sebuah luka dibenak Jing Yang karena dia telah mengotori tangannya dan membunuh sepuluh ribu pasukan Kekaisaran Ma.
Tentu saja saat ini Jing Yang tidak mampu mengontrol aura pembunuh dalam tubuhnya yang begitu pekat. Jing Yang menahan aura pembunuh agar orang-orang terdekatnya tidak terkena dampaknya.
Dengan memulihkan tenaganya di Dimensi Neraka serta mengubah aura pembunuh menjadi Aura Raja Neraka dan Aura Raja Naga, Jing Yang tidak akan kembali dari alam bawah sadarnya sebelum mengubah seluruh aura pembunuh miliknya itu.
Selain itu Jing Yang ingin bertemu Raja Neraka dan menanyakan soal Qi, namun Raja Neraka tidak menampakkan dirinya. Semenjak menggunakan Qi, Jing Yang tertarik untuk menguasainya.
Jika menemukan petunjuk tentang cara menguasai Qi, tentu Jing Yang akan mempelajarinya. Tetapi Raja Neraka tidak menampakkan diri sebelum akhirnya saat hari keempat Jing Yang tidak sadarkan diri, Raja Neraka menampakkan dirinya dan mengatakan kepada Jing Yang jika kelak dia akan bisa berlatih menguasai Qi setelah mendapatkan kepercayaannya.
“Berjuanglah untuk mencapai Pendekar Dewa. Aku tahu ini tidak mudah, tetapi cepat atau lambat kau akan bisa menggunakan Qi. Mungkin saat itu aku telah tiada. Kau adalah harapannku, bocah manusia. Selamatkan dunia ini.” Suara Raja Neraka terdengar saat Jing Yang sedang bermeditasi.
“Kau terkadang mengucapkan hal yang haru.” Jing Yang tersenyum tipis dan menatap api kecil yang berada dihadapannya, namun selang beberapa detik kemudian api kecil itu menghilang dan lenyap.
Jing Yang memejamkan matanya dan kembali berlatih hingga satu minggu penuh semenjak dirinya tidak sadarkan diri akhirnya dia terbangun.
Tepat setelah membuka mata, Jing Yang menemukan dirinya berada diruangan yang penuh dengan bunga-bunga indah. Jing Yang tidak mengetahui jika dirinya berada didalam kamar pribadi Hua Minha.
“Kau sudah bangun, Kaisar Kecil?” Hua Minha menyapa Jing Yang sambil tersenyum manis.
Jing Yang mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya memegang kepalanya yang terasa sakit, “Sudah berapa lama aku tertidur Bibi Minha?”
“Berapa lama kamu tertidur? Ini sudah hari ketujuh kamu tertidur. Sungguh Waku yang lama karena aku mengira kau tidak akan membuka matamu kembali.” Hua Minha menjelaskan kepada Jing Yang jika sekarang banyak penduduk Rongma yang menantikan dirinya siuman.
“Kau mendapatkan hati penduduk Rongma. Aneh, tetapi kau luar biasa.” Hua Minha menjelaskan kepada Jing Yang jika dirinya jujur mengaguminya.
Pada akhirnya Hua Minha memangil yang lainnya setelah Jing Yang siuman. Mulai dari Xue Bingyue, Hua Quin, Mei Hua dan Qiao Xi menunjukkan ekspresi sedih. Sedangkan Bai Xianlin, Fan Ziwei, Hua Ying dan Tao Qiaoli menunjukkan ekspresi lega, hanya Chu Yui yang memandang Jing Yang dari kejauhan.
__ADS_1
Chu Yui selama seminggu tidak bisa tidur karena didalam pikirannya sosok Jing Yang selalu muncul. Aneh tetapi Chu Yui sadar jika dirinya tertarik kepada Jing Yang.
Kharisma yang sangat jarang dimiliki oleh orang lain terdapat dalam diri Jing Yang. Mulai dari yang dibawah umurnya bahkan sampai yang lebih pantas menjadi Ibunya bahkan janda sekalipun memiliki ketertarikan kepada Jing Yang.
Bukan hal yang aneh jika banyak yang tertarik kepada Jing Yang. Selain memiliki masa depan yang cerah, Jing Yang merupakan sosok penguasa. Bagi perempuan itu hal yang wajar jika mereka mengantre menjadi selir dimasa depannya Jing Yang.
‘Sepertinya aku terlalu lama tertidur...’ Jing Yang masih memegang kepalanya dan menghela nafas.
Selama seminggu Rongma sedang dalam masa pemulihan. Penduduk bergotong-royong untuk membangun rumah dan memperbaiki benteng yang hancur.
Jing Yang mendapatkan penjelasan dari Hua Minha jika mulai saat ini Jing Yang akan terlibat dalam urusan pemerintahan Rongma.
“Bibi Minha, berapa hari untuk mencapai Kota Jiyangma darisini?” Jing Yang tidak berbasa-basi. Saat ini dia akan mengambil tindakan cepat dengan mengunjungi Kota Jiyangma setelah membebaskan Rongma.
“Dua hari ditempuh dengan berjalan kaki.” Hua Minha mengatakan jika saat ini kondisi Kota Jiyangma sama halnya dengan Rongma bahkan lebih buruk lagi.
Kota yang berada didekat laut itu telah dikuasai Kekaisaran Ma selama beberapa tahun terakhir. Hasil laut yang melimpah ruah juga tidak dinikmati penduduk Kota Jiyangma karena adanya pasukan Kekaisaran Ma dan petinggi Lentera Iblis Tunggal disana.
“Andai saja seluruh anggota Lentera Iblis Tunggal berada dalam satu tempat. Maka ini akan mudah bagiku mengakhiri mereka hingga ke akar-akarnya...” Jing Yang menghela nafas panjang karena yakin Lentera Iblis Tunggal akan menemukan petinggi yang baru setelah dia membunuh anggota lamanya.
“Jadi apa yang akan kau lakukan setelah ini?” Hua Minha bertanya.
Jing Yang menjawab jika dirinya ingin memberitahu penduduk kota mengenai tujuannya membebaskan Rongma. Jing Yang ingin Rongma menjadi tempat penghasilan padi dan rempah-rempah terbaik di Kekaisaran Jiang. Selain itu Jing Yang sudah menyiapkan bibit tanaman sumber daya untuk penduduk Rongma.
“Aku hanya ingin membantu sisanya tergantung mereka percaya padaku atau tidak. Rongma akan berkembang pesat jika kita semua bekerjasama.” Jing Yang berkata sambil mencoba untuk mendapatkan kesadarannya.
“Yang‘er, apa sebaiknya kau bicarakan ini dengan para penduduk Rongma? Itu akan lebih mudah. Mendapatkan hati penduduk Rongma dan memberikan kepercayaan kepada mereka akan lebih baik dan mempercepat urusanmu di Rongma. Selain itu kau tidak seharusnya fokus kepada Rongma dan Jiyangma terlebih dahulu karena Festival Api akan digelar sebentar lagi.” Ucap Bai Xianlin memperingatkan.
Bagaimanapun saat ini Jing Yang membutuhkan semua dukungan semua elemen. Lagipula Jing Yang memilki niat yang baik dan jika ada orang yang menentangnya maka itu hanya akan menghambat rencana Jing Yang.
“Aku mengerti Bibi Xianlin...” Jing Yang mengutarakan niatnya jika dirinya tidak akan membawa banyak orang ke Kota Jiyangma.
“Baiklah, sepertinya aku memang tidak ikut ke Kota Jiyangma. Tetapi Yang‘er, kau mengerti bukan? Bibi Qiaomi yang menyuruh kami bertiga mengawalmu. Apa menurutmu dia akan menerima kami begitu saja?” Fan Ziwei sendiri merasa malas jika dirinya mendapat omelan Murong Qiaomi.
“Hmmm...” Jing Yang berpikir sejenak. Dia sendiri juga malas mendengar omelan Murong Qiaomi.
Melihat reaksi Jing Yang dan Fan Ziwei membuat Tao Qiaoli tertawa lirih. Tao Qiaoli mengerti apa yang dipikirkan Jing Yang dan Fan Ziwei sekarang.
“Yang‘er, bukannya aku menentang keputusanmu. Biarkan aku saja yang kembali ke Ibukota Huaran. Hua‘er dan Xi‘er beserta Tetua Ziwei bisa membantu Rongma terlebih dahulu bersama Nyonya Minha, Nona Muda Quin dan Saudari Yui.” Tao Qiaoli akhirnya angkat bicara. Melihat orang kepercayaan Murong Qiaomi angkat bicara membuat Jing Yang lega.
“Tetapi satu hal yang harus kau ketahui, kita belum mengetahui bagaimana kondisi Kota Jiyangma yang sesungguhnya.” Tao Qiaoli menegaskan jika bisa saja kondisi Kota Jiyangma akan lebih parah dari Rongma.
“Aku menebak di Kota Jiyangma ada Iblis Kembar Mematikan dari Lentera Iblis Tunggal. Untuk pasukan Kekaisaran Ma, kebanyakan dari mereka sudah bergabung dengan pasukan yang melakukan ekspedisi ke Rongma.” Chu Yui yakin jika Jing Yang hanya membawa Xue Bingyue, Bai Xianlin dan Hua Ying maka semua akan baik-baik saja.
Jing Yang memiliki alasan mengapa dirinya ingin membawa Hua Ying karena bagaimanapun Jing Yang ingin Hua Ying terbebas dari rasa bersalahnya karena tidak dapat menyelamatkan Hua Minha dan Hua Quin.
“Satu hal yang harus kau ketahui Yang‘er, petinggi pasukan khusus Kekaisaran Ma yang berada di Kota Jiyangma memiliki kemampuan yang setara dengan petinggi Lentera Iblis Tunggal. Seingatku disana ada empat petinggi pasukan khusus Kekaisaran Ma. Kau harus berhati-hati, karena kepercayaan dirimu bisa saja membawamu jatuh kedalam penyesalan.” Chu Yui kembali memberi peringatan.
“Aku mengerti Bibi Yui. Terimakasih atas pengertiannya. Besok kita akan pergi menuju Kota Jiyangma, kita tidak bisa mengulur waktu lagi.” Jing Yang bangkit dari ranjang dan berjalan menuju dekat jendela melihat suasana Rongma.
Akhirnya hari itu Jing Yang berbincang banyak dengan Hua Minha, Hua Quin serta penduduk Rongma. Penduduk Rongma setuju untuk mewujudkan ambisi Jing Yang yang berniat mengembalikan Rongma menjadi wilayah yang makmur menghasilkan padi dan rempah-rempah terbaik di Kekaisaran Jiang.
Selain itu bibit-bibit tanaman yang dibawa Jing Yang sangat unggul dan langka. Tanaman sumber daya yang dibawa Jing Yang lebih berharga dari para petinggi Lentera Iblis Tunggal sebelumnya.
Setelah berbincang dengan penduduk Rongma, Jing Yang dan Xue Bingyue berjalan mengelilingi Danau Jingyui. Saat itu Xue Bingyue menyinggung soal Chu Yui yang menurutnya menaruh perasaan kepada Jing Yang.
__ADS_1
“Bibi Yui lebih pantas menjadi Ibuku. Kau sendiri mengetahui itu bukan, Yueyue?” Jing Yang tertawa pelan saat Xue Bingyue membahas Chu Yui.
“Tetapi Yangyang kau tidak sadar jika dirimu ini terlalu memikat. Sama seperti Bibi Xianlin, kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi dimasa depan.” Xue Bingyue sendiri akan menerima keputusan Jing Yang jika pemuda itu kelak akan membangun sebuah istana Harem.
Jing Yang tersedak dan menggelengkan kepalanya, “Untuk saat ini aku belum berpikir sampai kesana. Tetapi...”
Jing Yang menatap danau kecil akibat bekas pertempuran sudah mengering. Tetapi dibandingkan dengan tujuh hari yang lalu, Danau Jingyui terlihat begitu mengerikan karena isinya hanyalah darah segar.
Xue Bingyue menaikkan alisnya karena penasaran akan ucapan Jing Yang yang tertunda, “Tetapi?"
“Aku... Akan menepati janji yang kita buat. Entah aku memiliki perasaan kepada mereka semua atau tidak, tetapi kau adalah orang yang pertama untukku, Yueyue.” Jing Yang rela meninggalkan dan memberi harapan palsu pada perempuan yang memiliki perasaan padanya jika Xue Bingyue menginginkan itu.
Mendengar itu Xue Bingyue tersenyum. Xue Bingyue sendiri tidak keberatan jika dimasa depan pemuda itu akan memiliki banyak istri, tetapi satu hal yang mengganjal pikiran Xue Bingyue adalah tentang penglihatan misterius yang memperlihatkan dirinya hamil dan mengatakan Jing Yang pergi meninggalkannya setelah menghamilinya.
“Aku ingin menanyakan ini padamu. Saat kita melakukan Metode Penyiksaan Api dan Metode Penyiksaan Petir. Saat sebelum diriku tidak sadarkan diri, aku melihat ingatan diriku. Sepertinya itu ingatan masa depan. Mungkin ini terdengar aneh, tetapi aku melihat diriku dewasa tengah hamil dan berdiri didekat Tebing Kesepian...” Xue Bingyue mengatakan itu sambil menatap ekspresi wajah Jing Yang yang terkejut.
“Yueyue..." Jing Yang menelan ludah setelah menyebut nama Xue Bingyue, “Dimasa depan yang kau lihat, siapa orang yang menghamilimu?” Jujur saja Jing Yang takut jika orang itu bukan dirinya.
“Kamu.” Jawaban Xue Bingyue membuat Jing Yang memasang ekspresi lega, “Kamu yang menghamiliku. Itu ingatan yang aku lihat.”
Tetapi ekspresi lega itu tidak berlangsung lama setelah Xue Bingyue menjelaskan kepada Jing Yang jika pemuda itu kelak pergi meninggalkannya setelah menghamilinya.
“Hah? ” Jing Yang terkejut mendengar pengakuan Xue Bingyue.
“Kenapa ekspresimu? Kau terlihat seolah-olah percaya dengan ucapanku. Yangyang, anggap saja ucapanku barusan adalah mimpi.” Xue Bingyue tertawa pelan karena bagaimanapun dia tidak mengerti dan mengetahui apa yang menimpa Jing Yang.
Jing Yang berulang kali mendapatkan ingatan masa depan walaupun samar-samar. Raja Neraka pernah menjelaskan bahwa dirinya dimasa depan terlalu mempedulikan kebahagiaan orang lain sampai dia lupa akan kebahagiaannya dirinya sendiri dan membuat orang-orang disekitarnya aman sekaligus menderita.
“Yueyue, aku juga pernah melihat ingatan seperti itu. Ingatan yang aku lihat adalah diriku yang menjadi Penguasa Benua Dataran Tengah dan membunuh banyak musuh yang menghalangiku. Jujur saja aku takut pada apa yang membuatku berubah sampai sejauh itu. Dan terkadang aku berpikir ingatan itu ingin memberikan isyarat padaku agar berhati-hati dalam mengambil keputusan.” Jing Yang gemetaran mulutnya saat mengatakan itu.
Xue Bingyue berhenti tertawa karena dia yakin saat ini Jing Yang berbicara serius. Tidak mungkin Jing Yang mengatakan sebuah kebohongan saat menunjukkan ekspresi itu.
“Yangyang, aku melupakannya. Tetapi kau sudah berjanji padaku bukan...” Xue Bingyue kembali mengingatkan Jing Yang akan perasaan pemuda itu kepada perempuan yang dekat dengannya.
Jing Yang menganggukkan kepalanya, “Ya, aku masih mengingat janji itu.” Jing Yang menjawab sambil menatap langit.
“Aku menyayangi kalian semua, Yueyue. Baik itu mulai dari Shen Mi sampai Bibi Qiaomi.” Mendengar jawaban jujur Jing Yang membuat Xue Bingyue tertawa pelan.
“Dengar kau mengatakannya. Kau juga menyukai Bibi Qiaomi.” Xue Bingyue menggoda Jing Yang.
“Lalu hal terbesar yang kau sembunyikan dariku, bisa kau ceritakan padaku.” Xue Bingyue sudah mengetahui sosok Jing An yang membunuh Xue Qinghua. Jujur saja Xue Bingyue tidak menaruh dendam terhadap Jing An ataupun Jing Yang.
“Ini adalah masalah kehidupanku. Saat aku melihat Nenek Qinghua mati dihadapanku. Aku kehilangan semangat hidupku. Bisa kau katakan jika diriku saat itu telah mati. Tetapi sebuah kutukan malapetaka dalam tubuhku membuat perjanjian denganku...” Jing Yang tersenyum kecut.
Jing Yang menceritakan jika umurnya tidak akan panjang. Kemungkinan dia hidup hanya sampai dirinya berumur dua puluh tahun karena Kutukan Raja Neraka.
Raja Neraka pernah mengatakan kepada Jing Yang jika cara untuk menyembuhkan dan mematahkan kutukan itu hanya dengan membuat pemilik Tubuh Roh Dewi mencintainya. Kutukan Raja Neraka akan menghilang dan patah saat Jing Yang dan pemilik Tubuh Roh Dewi melakukan hubungan badan.
“Makhluk sialan itu mengutuk diriku seenaknya.” Jing Yang tertawa pelan, namun Xue Bingyue yang mendengarnya terlihat sedih.
“Yangyang, bisakah kau berjanji satu hal padamu?” Xue Bingyue ingin Jing Yang tetap hidup. Bagaimanapun alasannya Xue Bingyue ingin Jing Yang tetapi hidup walaupun dirinya harus rela berbagi Jing Yang dengan perempuan lain dimasa depan.
“Ada apa Yueyue?” Jing Yang menganggukkan kepalanya dan bertanya.
“Aku ingin kau tetap hidup. Kita menginginkan sebuah keluarga bukan? Aku akan menjadi keluargamu dan kau harus tetap hidup untuk keluargamu dimasa depan nanti.” Xue Bingyue mengulurkan jari kelingkingnya pada Jing Yang.
__ADS_1
“Keluarga...” Jing Yang mengulurkan jari kelingkingnya dan mengikat jari kelingking Xue Bingyue.
“Aku berjanji, Yueyue...” Jing Yang tersenyum karena Xue Bingyue mengetahui impian masa kecilnya yang ingin membentuk sebuah keluarga.