Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 209 - Hampir Ternoda


__ADS_3

Dari kejauhan wilayah Istana Naga Api terlihat sebuah ledakan keras diangkasa dengan diiringi asap berwarna ungu. Wanita yang sedang berdiri didahan pohon segera mengernyitkan keningnya dan melebarkan matanya.


“Itu tanda dari Ketua Qiaomi. Semoga kalian baik-baik saja, Saudariku!” Wanita itu tidak lain adalah Fan Ziwei.


Dengan kecepatan tinggi Fan Ziwei terbang meninggalkan hutan yang dekat dengan wilayah Istana Naga Api dan segera menuju Istana Bunga Persik untuk memberitahu kebenaran yang terjadi didalam Istana Naga Api.


Situasi dunia persilatan Kekaisaran Jiang sudah kacau dengan bangkitnya Pulau Iblis Tengkorak. Ditengah badai kekacauan itu, justru beberapa pihak dari aliran putih dan netral memanfaatkan untuk menguasai dunia persilatan Kekaisaran Jiang dengan hancurnya Istana Sembilan Naga.


Sebut saja seperti Istana Naga Api, Gunung Pedang Tunggal dan Pedang Tiga Raja. Dengan bergabungnya tiga sekte ini saja sudah bisa membuat gempar, namun kekuatan tempur ketiga sekte ini belum tentu menandingi Istana Naga Api.


Fan Ziwei memang berhasil pergi dari wilayah Istana Naga Api namun saat berada dekat dengan wilayah yang dahulunya merupakan bagian Istana Sembilan Naga, Fan Ziwei tidak sengaja bertemu dengan rombongan sejumlah pendekar dari Bulan Purnama Merah.


Diketahui Bulan Purnama Merah juga menjadi bagian sekutu Pulau Iblis Tengkorak dan bisa dikatakan sekte ini merupakan sekte terkuat setelah Pulau Iblis Tengkorak.


Fan Ziwei menekan hawa keberadaannya dan hendak menjaga jarak, tetapi dalam rombongan pendekar Bulan Purnama Merah ada yang menyadari keberadaannya.


Pria yang umurnya kurang lebih sama dengan Fan Ziwei dan berasal dari generasi yang sama. Pria itu menoleh kebelakang lalu menyapu seluruh pandangannya menatap hutan.


“Berhenti!” Pria itu berteriak sambil melepaskan aura tubuhnya dalam jumlah besar.


“Ada apa Senior Cao?” Salah satu pendekar bertanya pada pria bernama Gu Cao yang merupakan anak terakhir Patriark Bulan Purnama Merah.


Gu Cao menajamkan matanya, “Tidak, sepertinya aku salah menebak. Mungkin hanya firasatku saja.” Gu Cao sempat merasakan hawa keberadaan seseorang yang kemampuannya kurang lebih setara dengannya.


Gu Cao sendiri hampir menembus Pendekar Bumi dan dia telah dipuncak Pendekar Agung. Mengingat aura yang dia rasakan bukanlah sembarangan, Gu Cao menjadi waspada.


“Istana Sembilan Naga telah hancur. Kita harus mengambil kitab dan semua ilmu milik mereka. Tetapi Paman Mao memberiku tugas yang menyebalkan dan parahnya Ayahku menyetujuinya. Ini sangat membosankan.” Gu Cao mengoceh kesal mengingat dirinya diberi tugas untuk mencari keberadaan sumber daya dan semua kitab milik Istana Sembilan Naga.


Memang Pulau Iblis Tengkorak berhasil membantai dan menghabisi pendekar dan penduduk yang tinggal di wilayah Istana Sembilan Naga, tetapi Pulau Iblis Tengkorak tidak dapat menemukan keberadaan semua pusaka serta kitab dan catatan kuno tidak ada Perpustakaan Sembilan Naga.


“Situasi yang sangat aneh. Lihat, disini tidak ada apapun. Paman Mao dan Ayah memarahiku karena aku terlalu sibuk bermain wanita. Mereka berdua ingin setidaknya aku mendapatkan pengalaman dengan pergi keluar pulau.” Gu Cao kembali mengeluh membuat sejumlah pendekar yang mengawal perjalanannya terdiam dan sebagian ada yang merasa kesal.


“Wanita dari Jiu dan Daejong memang terbaik. Lebih baik kita kembali, disini tidak ada apapun.” Gu Cao dengan malas-malasan mengajak seluruh pendekar yang mengawalnya untuk kembali ke Pulau Iblis Tengkorak.


“Tetapi Senior Gu-”


“Apa kau membantah ucapanku?!” Gu Cao memegang kepala pendekar yang berbicara padanya sambil menajamkan matanya menatap kearah hutan.


Kali ini Gu Cao sangat yakin ada orang yang menekan hawa keberadaannya. Dengan melepaskan aura tubuhnya berjumlah besar, Gu Cao memanipulasi aura tubuhnya menjadi api yang menyebar ditanah dan membakar hutan.


“Kalian semua susuri hutan itu! Jangan biarkan tikus yang mengawasi kita kabur!” Gu Cao memberikan perintah membuat seluruh pendekar Bulan Purnama Merah yang mengawalnya terkejut.

__ADS_1


Mereka semua tidak menyangka Gu Cao akan sangat cekatan dan dapat mengetahui keadaan disekitarnya dari jarak sejauh ini. Tanpa menunggu lebih lama, sejumlah pendekar Bulan Purnama Merah mulai menyusuri hutan.


Gu Cao memberikan perintah hingga akhirnya seluruh pendekar yang mengawalnya membentuk sebuah lingkaran. Gu Cao tersenyum lebar sambil melepaskan aura tubuhnya lebih besar dari sebelumnya.


“Percuma bersembunyi! Aku bisa merasakan keberadaanmu!” Gu Cao menyemburkan api dari mulutnya kearah pepohonan.


Asap yang menjaga jarak dan mengganggu penglihatan itu membuat Gu Cao menajamkan matanya. Beberapa saat kemudian muncul seorang wanita yang memiliki paras cantik dan manis dengan tatapan sayu dna rambut berwarna merah.


Mata Gu Cao melebar serta mulut yang bersiul, “Wow, jadi kau yang mengawasiku? Aku merasa tersanjung jika diriku ini diikuti wanita secantik dirimu, Nyonya.”


Fan Ziwei mendecakkan lidahnya, “Kau pikir diriku ini seorang penguntit?!” Kesal Fan Ziwei mendengar ucapan Gu Cao.


“Nyonya anda sangat kasar. Jika boleh tahu, siapa namamu Nyonya?” Gu Cao dengan santai berjalan mendekati Fan Ziwei.


“Senior Gu, dia adalah Fan Ziwei dari Istana Bunga Persik!” Salah satu pendekar berseru dan Gu Cao mengerutkan keningnya.


“Istana Bunga Persik? Jika tidak salah sekte itu dihuni para perempuan. Ini bagus, aku bisa membuat impianku menjadi nyata disana.” Gu Cao tersenyum lebar menatap Fan Ziwei.


“Minggir, aku tidak akan segan membunuhmu jika kau menghalangiku!” Fan Ziwei memperhatikan sekitarnya dan menyadari dirinya terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan.


Kesempatan bagi dirinya untuk menang melawan Gu Cao dan anggotanya sangat minim. Terlebih kemampuan Gu Cao setara dengannya dan Gu Cao diunggulkan karena memiliki banyak pendekar yang bersamanya sementara dia hanya sendiri.


Mata Fan Ziwei melebar, ‘Dia ringan tangan terhadap perempuan. Aku membenci lelaki seperti ini.’ Serangan pukulan Gu Cao masih dapat dilihat olehnya dengan jelas sehingga Fan Ziwei dapat menghindarinya.


Namun Fan Ziwei terkena serangan mendadak itu karena angin yang berkumpul diserangan pukulan Gu Cao tiba-tiba meledak setelah hampir mengenai tubuh Fan Ziwei.


“Kalian semua kepung dia! Aku akan merenggut kesuciannya! Wanita dari Istana Bunga Persik semuanya adalah perawan! Ini perjalanan yang indah untukku! Terimakasih Paman Mao, Ayah. Berkat kalian berdua aku bisa menikmati perjalanan ini!” Gu Cao menatap tajam Fan Ziwei dan melepaskan aura pembunuh.


Fan Ziwei mulai melepaskan tenaga dalam dan melapisi tubuhnya. Dalam hitungan detik, keduanya sudah mulai bertukar serangan. Intimidasi dari berbagai arah serta posisi dirinya yang dikepung membuat Fan Ziwei tidak leluasa melepaskan serangannya pada Gu Cao.


Fan Ziwei melepaskan sejumlah pukulan dan tapak pada Gu Cao, begitu juga dengan sebaliknya. Pertukaran serangan keduanya itu membuat para pendekar dari Bulan Purnama Merah mulai menjauh karena takut terkena dampak serangan dari keduanya.


“Wanita yang tangguh. Aku bisa menebak jika milikmu pasti akan mencengkeram kuat milikku nanti.” Gu Cao justru tertawa lebar saat perutnya terkena tapak Fan Ziwei.


Fan Ziwei mengalirkan tenaga dalam serta aura tubuhnya pada telapak tangannya sebelum melepaskan tusukan tangan ke jantung Gu Cao.


Gu Cao menghindarinya namun masih ada bekas goresan, “Yang benar saja, kemampuanmu itu bisa saja langsung membunuhku.”


Gu Cao yang dalam posisi bertahan membuat Fan Ziwei mengambil inisiatif untuk menyerang. Sekarang Fan Ziwei lebih dominan melakukan serangan bahkan telah melepaskan sejumlah pukulan yang bersarang disekujur tubuh Gu Cao.


Walaupun dalam posisi terdesak dan nyawa terancam, Gu Cao tersenyum lebar seolah-olah menikmati rasa sakit yang diberikan Fan Ziwei.

__ADS_1


Belum Fan Ziwei menyadari situasi yang terjadi, dia melihat para pendekar dari Bulan Purnama Merah tertawa dan memperhatikan pertarungan itu dengan ekspresi mengejek Fan Ziwei.


Satu pukulan mengarah ke wajahnya, Gu Cao menangkisnya dan memukul perut Fan Ziwei berulang kali dengan penuh tenaga dalam. Tak segan-segan Gu Cao memukul wajah Fan Ziwei.


Fan Ziwei sendiri kalah telak saat semua pendekar Bulan Purnama Merah yang mengepungnya melepaskan serangan dari kejauhan kearahnya. Beberapa serangan pedang berhasil dia hindari, tetapi sebagian mengenai tubuhnya membuat gaun yang dia kenakan hampir memperlihatkan seluruh tubuhnya dan hanya menyisakan ********** saja.


“Binatang!” Fan Ziwei geram dengan tindakan Gu Cao dan pendekar dari Bulan Purnama Merah.


“Baiklah, aku tidak peduli dengan sebutan itu. Tetapi kau harus tau, binatang ini akan memuaskanmu.” Gu Cao mengalirkan tenaga dalam pada kesepuluh jarinya sebelum menotok bagian-bagian tertentu tubuh Fan Ziwei.


Fan Ziwei mematung saat Gu Cao mendorong tubuhnya dan langsung menindihnya.


“Saatnya menu utama perjalanan jauhku.” Gu Cao melepaskan pakaian atasnya dan tersenyum lebar.


“Ukuranmu boleh juga. Masih kencang dan terlihat jelas belum pernah disentuh. Sepertinya aku yang pertama kali untukmu-”


“Argh!”


“Kau-”


“Senior Gu ada serangan!”


“Argh!”


Gu Cao yang hendak memegang dada Fan Ziwei terhenti saat mendengar teriakan pendekar Bulan Purnama Merah. Sekelilingnya seketika menjadi penuh darah bersamaan dengan tubuh pendekar Bulan Purnama Merah yang tumbang satu demi satu didepan matanya.


“Apa yang terjadi?!” Gu Cao merasakan hawa keberadaan yang tidak dia kenal.


“Bulan Purnama Merah bukan? Ini lebih mudah.” Gu Cao terkejut saat melihat seorang pemuda terbang merendah dan mendarat dihadapannya.


“Siapa kau-”


Belum sempat Gu Cao menyelesaikan perkataannya, pemuda itu menendang kepalanya. Gu Cao melakukan posisi pertahanan dengan kedua tangannya, tetapi tetap saja tubuhnya terlempar jauh beberapa meter kebelakang bahkan yang membuat Gu Cao terkejut adalah kedua tangannya yang dia gunakan untuk menahan tendangan pemuda itu patah.


‘Sial! Apa yang terjadi?! Kenapa ada orang yang mengganggu kesenanganku?!’ Gu Cao dengan kedua tangan yang merasakan rasa sakit menatap pemuda itu.


“Bibi Xianlin, Yueyue, Nona Shi, tolong urus Tetua Ziwei. Aku akan memberikan pertanyaan pada orang itu sebelum mengambil nyawanya.” Pemuda itu melirik kearah Fan Ziwei lama sebelum menghilang dari pandangan wanita itu.


‘Wajahnya tidak asing dan suaranya pernah aku dengar sebelumnya...’ Fan Ziwei penasaran dengan wajah pemuda itu yang terlihat tampan dan lebih dewasa dibandingkan pemuda seusianya, ‘Tidak salah lagi, dia Pangeran Jing Yang.'


Saat Fan Ziwei menyadari betapa kacaunya tubuhnya yang hampir dinodai wajahnya memerah karena dia mengingat Jing Yang melirik dan menatap dirinya lama sebelum menghajar Gu Cao.

__ADS_1


__ADS_2