Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 185 - Sepenggal Nafas Terakhir Xue Qinghua


__ADS_3

“Tunggu sebentar...” Jing Yang menatap baik-baik kakek tua yang menghunuskan pedangnya pada Xue Qinghua.


“Dia kakekku?” Setengah tidak percaya Jing Yang saat mendengar ucapan Fu Xinghe. Tetapi samar-samar dia merasakan aura yang tidak asing dari kakek tua tersebut, kurang lebih aura tersebut sama seperti dirinya dan mendiang ayahnya.


Fu Xinghe tertawa keras, “Kau merasakannya bukan? Ya, dia adalah kakekmu!”


“Omong kosong!” Jing Yang kembali bergerak cepat kearah Fu Xinghe sambil menebaskan pedangnya yang dipenuhi energi gravitasi. Dengan mudah Fu Xinghe memantulkan energi gravitasi tersebut.


“Pusaka Dewa? Kau memilikinya, ini tidak terduga. Sepertinya kau memang pantas menjadi tumbal, anak Jing Tian!” Fu Xinghe mengembalikan energi gravitasi yang dilepaskan Jing Yang.


Jing Yang melebar matanya saat energi gravitasi itu melesat kearahnya. Dia menghindarinya dan memperhatikan pergerakan Fu Xinghe dengan seksama.


“Katakan padaku, apa kau tertarik membuka Era Kekacauan? Kau adalah wadahnya, jika kau mau bekerjasama, maka kami tidak akan menumbalkan orang-orang di Benua Dataran Tengah!” Perkataan Fu Xinghe tidak membuat Jing Yang goyah, justru sebaliknya dia merasa harus membunuh Fu Xinghe dan mencari tahu semua kebenarannya.


“Jangan gegabah!” Tinju Api memegang pundak Jing Yang. Dia yang paling mengerti bagaimana sosok Fu Xinghe.


Saat Tinju Api menyentuh pundaknya, Jing Yang mengembuskan nafas secara halus, “Aku mengerti, Senior.” Jing Yang terbang rendah dan berhenti didepan Xue Qinghua.


“Yang‘er, maafkan Nenek...” Topeng yang dikenakan Xue Qinghua hancur, “Sepertinya Nenek tidak bisa menepati janji...”


Jing Yang menguatkan hatinya saat mengetahui organ vital Xue Qinghua hancur.


Fu Xinghe tersenyum menyeringai melihat Jing Yang menahan amarahnya, ‘Hanya dengan sekali melihatnya, aku tahu dia lebih baik dari siapapun. Untuk membangkitkan Era Kekacauan dan menghancurkan orang-orang di Benua Suci!’


‘Jing An, Jing Tian, keduanya terlalu naif dan tidak bisa diajak bekerjasama. Kami mengendalikan mereka. Kini dihadapanku, aku melihat bocah yang memikul beban besar dan istimewa, dia keturunan terakhir Klan Jing. Pemilik Tubuh Raja Neraka yang seharusnya menjadi Raja Para Dewa dan berdiri diatas orang lain dengan pengaruhnya...’


Fu Xinghe menjentikkan jarinya memanggil Jing An, seketika Jing An berdiri disampingnya dan diberikan perintah untuk membunuh seluruh anggota Pelangi Dosa termasuk Xue Rong dan Bing Hen.


‘Aku akan memperbaiki jalannya sebagai anggota Sembilan Jari Iblis. Sejak sisa-sisa anggota Klan Jing melarikan diri ke benua ini, kami telah mengawasi mereka. Menggunakan Mao Gang dan antek-anteknya sebagai media untuk membunuh orang tuanya dan membuat dia hidup penuh dengan dendam. Tetapi sangat disayangkan, anak itu tumbuh dengan kebaikan hati yang lebih baik dari siapapun.’


Fu Xinghe mengepalkan tangannya dengan erat dan menatap Jing An yang sedang bertarung hebat melawan Tinju Api, Golok Serakah dan Pedang Amarah.


‘Tidak peduli berapa nyawa yang harus dikorbankan, aku tidak boleh berhenti disini. Dengan membunuh orang-orang yang dicintainya, aku akan menggunakan anak Jing Yang sebagai media tertinggi. Dia memiliki potensi untuk melawan para penjajah itu. Membunuh Nenek dari teman masa kecilnya adalah sentuhan pertama dan kedua adalah pemilik Tubuh Yang.’

__ADS_1


Fu Xinghe hanya diam mengamati dari atas. Jing Yang tidak mengetahui apapun tentang Fu Xinghe, tetapi sejak awal dirinya sudah berada dalam genggaman tangan kelompok bernama Sembilan Jari Iblis.


“Bagaimana, orang-orang dari Klan Bai?!” Fu Xinghe berbicara pada Tinju Api, Golok Serakah dan Pedang Amarah.


“Cepat atau lambat kami akan berkuasa ditempat ini! Negeri Kabut Tersembunyi adalah tempat kedua, Kekaisaran Sembilan Iblis!” Fu Xinghe memperhatikan Tinju Api yang kewalahan menghadapi Jing An.


“Aku tidak mengerti jalan pikiran kalian! Berpihak pada penjajah dan membentuk kekaisaran yang baru! Dimataku kalian tidak lebih dari sekedar penjilat!” Tinju Api melepaskan pukulan beruntun dan dibalas dengan tebasan pedang yang dipenuhi tenaga dal dari Jing An.


Fu Xinghe berhenti tertawa dan menatap dingin Tinju Api yang berteriak padanya, “Kau tidak mengerti apapun, keturunan Klan Bai! Kau akan tunduk pada kekuatan mutlak!”


“Aku tidak menyangka kau bereaksi seperti itu, Fu Xinghe?! Ini mengejutkan!” Tinju Api melihat jelas ekspresi Fu Xinghe yang terlihat tertekan.


“Apapun itu, kita harus membunuhnya!” Pedang Amarah menangkis sebuah tebasan dari Jing An.


Golok Serakah membantunya dan menebaskan goloknya penuh tenaga, namun staminanya yang sudah tidak memungkinkan membuat Golok Serakah mendapatkan serangan balasan yang telak.


“Benar-benar mayat hidup yang kuat!” Fu Xinghe mengomentari pertarungan Jing An yang membuat ketiga anggota Pelangi Dosa tidak berkutik sedikitpun.


“Ini diluar rencana! Kita harus melawan Patriark Klan Jing terlebih dahulu sebelum menghadapinya!” Golok Serakah memegang perutnya. Dia sadar ini sudah diluar batasannya.


Tinju Api melirik kearah Selendang Nafsu yang sedang memberikan pertolongan pada Xue Qinghua. Walaupun mustahil, tetapi Selendang Nafsu terlihat begitu tertekan saat melihat Xue Qinghua dalam kondisi kritis, jelas nyawa Xue Qinghua tidak bisa diselamatkan.


“Sepertinya aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi...” Xue Qinghua merasakan pandangannya yang mulai kabur, “Yang‘er, mendekatlah...”


Jing Yang merapatkan giginya dan mencoba menenangkan dirinya saat melihat nyawa Xue Qinghua diambang batas. Xue Rong mendampinginya dan memegang pundak bocah tersebut.


“Entah apa yang dikatakan orang, aku mati atas keinginanku sendiri dan bukan mati ditangan Kakekmu. Jadi kau tak perlu merasa bersalah...” Xue Qinghua memegang pipi Jing Yang dan mengelusnya lembut, “Tolong jaga Yueyue untukku.”


Xue Qinghua memejamkan matanya dan melepaskan seluruh kekuatannya sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.


“Nenek Qinghua!” Selendang Nafsu menangis melihat Xue Qinghua yang sudah mencoba bertahan hidup lewat sepenggal nafasnya yang kian melemah.


“Bai Xianlin... Tolong awasi Yang‘er dan cucuku... Mereka berdua adalah harta karunku yang paling berharga...” Xue Qinghua tersenyum untuk terakhir kalinya.

__ADS_1


Saat itu juga Xue Qinghua menghembuskan nafas terakhirnya bersamaan dengan sebuah es yang membekukan tubuh Fu Xinghe.


‘Segel Es : Pembeku Jiwa!’


Tinju Api, Golok Serakah dan Pedang Amarah segera membentuk formasi penyegelan disusul Selendang Nafsu.


“Jing Yang! Hadapi kakekmu itu! Ulur waktu untukku!” Selendang Nafsu terbang dengan kecepatan tinggi menuju tempat Tinju Api, Golok Serakah dan Pedang Amarah berada.


Mata Jing Yang berkaca-kaca, namun air matanya sama sekali tidak menetes. Perkataan Selendang Nafsu membuat lamunannya buyar.


‘Ini tidak mungkin...’ Mental Jing Yang goyah saat itu juga. Dia merasakan keputusasaan melihat Xue Qinghua mati dihadapannya dan dibunuh Kakeknya sendiri.


“Junior Yang!” Xue Rong mencengkeram pundak Jing Yang erat saat bocah itu terlihat tertekan.


Jing Yang diambang perasaan bersalah jatuh kedalam keputusasaan, “Senior Rong, menjauhlah dariku! Aku akan membunuhnya!”


Aura Raja Neraka keluar dari tubuhnya, Jing Yang yang diselimuti amarah terbang dengan kecepatan tinggi kearah Jing An.


Saat Pedang Gravitasi dan Pedang Dewa Naga bersentuhan langsung dengan Pedang Raja Neraka milik Jing An, seketika Jing Yang merasakan kesadarannya perlahan menghilang.


Bersamaan dengan itu, tubuh Fu Xinghe membeku sepenuhnya. Tinju Api, Selendang Nafsu, Golok Serakah dan Pedang Amarah segera melakukan formasi penyegelan pada Fu Xinghe.


“Teknik Penyegelan Terlarang : Pemusnahan Jiwa!”


“Lin‘er, jaga Jing Yang. Jangan biarkan dia lepas kendali!” Tinju Api mendorong tubuh Selendang Nafsu kebawah. Dia tidak ingin adik kandungnya itu mengorbankan nyawa hanya untuk menyegel tubuh Fu Xinghe.


“Tetapi, Kakak Huo, aku tidak ingin sendirian!” Selendang Nafsu terjatuh kebawah tepat disamping Xue Qinghua.


‘Mereka benar-benar melakukan tindakan diluar batas!’ Fu Xinghe mengumpat saat merasakan seluruh tubuhnya terasa ringan dan dalam sekejap dia tidak merasakan apapun selain kegelapan yang tak berujung.


Saat itu juga Tinju Api, Golok Serakah dan Pedang Amarah sudah menggunakan seluruh kekuatannya dan energi kehidupannya. Tubuh ketiganya terjatuh ketanah dengan kondisi tubuh yang lemah.


“Sepertinya dia benar-benar tertekan...” Tinju Api menatap pertarungan Jing Yang melawan Jing An. Dimana keduanya terus memberikan perlawanan yang sengit.

__ADS_1


Namun saat kedua pedang mereka bersentuhan, Tinju Api melihat secercah cahaya berwarna merah terang yang membuat tubuh Jing Yang dan Jing An seolah-olah menghilang.


__ADS_2