Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 106 : Pasangan Pendekar Pedang


__ADS_3

Xiang Qi melihat dengan seksama kekuatan yang dipancarkan Jing Yang.


“Malam itu aku ada disana. Apa kau tidak ingin melihat kepala dan tubuh orang tuamu?” Xiang Qi menyeringai ketika melihat Jing Yang menatapnya penuh kemarahan, “Oh, iya. Disana juga ada tubuh pasangan pendekar dari Pulau Salju Rembulan...”


“Oi!” Jing Yang melepaskan Aura Raja Naga dalam jumlah besar dan menyerang Xiang Qi, “Tutup mulutmu itu! Sekali lagi kau berbicara, aku akan menghancurkan mulutmu!”


Tebasan pedang Jing Yang berbenturan dengan pedang Gu Ao. Melihat itu, Xiang Qi terus berbicara mengenai orang tua Jing Yang dan Xue Bingyue.


“Bagus, keluarkan seluruh kekuatanmu. Aku ingin membuat pertarungan ini semeriah mungkin, seperti malam itu!” Xiang Qi melepaskan hawa panas yang menyebar ke segala arah.


Di udara terlihat Ling Shan memukul mundur Ye Xiaoya. Kedatangan Xiang Qi membuat Ling Shan menjadi penuh percaya diri menghadapi Ye Xiaoya.


“Berniat memojokkanku bersama muridku. Tidak buruk, tetapi apakah kau sudah yakin dengan tindakanmu ini?” Ye Xiaoya berpikir jika Xiang Qi hanya mencari kesenangan, dan tidak menganggap Ling Shan ataupun Menara Pilar Hitam sebagai sekutunya.


“Senior Xiang, wanita ini akan aku berikan padamu! Dia adalah pendekar bumi, aku jamin wanita ini lebih lezat dari yang lainnya!” Dalam satu kali tebasan pedangnya, Ling Shan membuat Ye Xiaoya tersudut di belakang Jing Yang.


“Hoh, wanita yang menggunakan dua pedang...” Xiang Qi mengangkat tangannya, “Aku heran kenapa orang-orang seperti kalian sangat gemar bermain dengan perempuan? Maaf saja, aku tidak sepemikiran denganmu, Saudara Ling!”


Ling Shan terkejut mendengarnya, dia ingin berbicara tetapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, ‘Tidak ada yang mengetahui jalan pikirannya. Jika dia telah mengetahui tindakan kami, kemungkinan besar dia bergerak karena perintah orang itu...’


Setelah melihat perubahan yang terjadi pada Gu Ao, Ling Shan merasa Xiang Qi datang untuk membunuhnya, tetapi tujuannya berubah setelah melihat Jing Yang.


Ketika Ling Shan mengalihkan pandangannya, Ye Xiaoya sudah berada dekat dengannya. Dalam satu tarikan napasnya, Ye Xiaoya melancarkan puluhan tebasan yang tajam dan membuat sekujur tubuh Ling Shan penuh dengan luka sayatan.


“Masih sempat menonton muridku bertarung. Kalian terlalu percaya diri...” Ye Xiaoya memberi kedipan mata pada Jing Yang sebagai tanda.


“Hoh, menarik. Sepertinya sepasang guru dan murid ini ingin kujadikan karya seni.” Xiang Qi mendarat di depan Ye Xiaoya dan Jing Yang yang sedang berdiri berdampingan.

__ADS_1


Jing Yang mengatur napasnya agar tetap tenang dan tidak terpancing emosi, “Kepala Gu Ao dan kalian berdua akan ku pajang di Kota Gufei. Tenang saja, aku sudah berlatih caranya memotong kepala dari pria yang tergeletak disana.”


Jing Yang mengikuti alur perkataan Xiang Qi yang mencoba memancing kemarahannya, “Apa kau ingin menjadi bahan latihanku, senior?”


Xiang Qi langsung mengarahkan pukulan api pada Jing Yang. Seiring pukulan api yang membara mendarat di tubuh Jing Yang, Xiang Qi terus tertawa keras.


“Bocah yang menarik. Ini di luar perkiraanku. Sepertinya kau telah melewati masa lalu yang sulit bukan?” Kepalan tangan Xiang Qi membentuk kepala singa yang dipenuhi api, “Aku akan melayanimu, bocah!”


Bersamaan dengan Xiang Qi yang sudah memulai pertarungan melawan Jing Yang, Ling Shan bergerak kembali melawan Ye Xiaoya. Sementara Gu Ao memegangi kepalanya.


‘Xiang Qi! Beraninya kau memaksaku menelan pil ini dalam jumlah banyak!’ Walau kekuatannya bertambah pesat, tetapi Gu Ao merasa tubuhnya sulit untuk dikendalikan, pikirannya terasa sangat kacau.


“Tiga lawan dua. Tidak buruk juga.” Jing Yang tersenyum ketika melihat Gu Ao membantu Xiang Qi melawannya.


Permainan pedang Gu Ao semakin brutal. Tak segan-segan, pria berpenampilan kasar itu menyerang Jing Yang secara membabi-buta.


Jing Yang menyambut serangan dari berbagai arah sebelum mulai menyelaraskan gerakan dengan Ye Xiaoya.


Gerakan Jing Yang dan Ye Xiaoya hampir sama, bahkan keduanya terlihat serasi ketika bertarung bersama.


Xiang Qi justru tersenyum lebar melihat tebasan yang membentuk kepala Naga mengarah padanya, namun berbeda dengan Ling Shan yang merasa Ye Xiaoya belum menunjukkan kekuatannya yang sebenarnya.


‘Apa dia memakai zirah tak kasat mata?’ Ling Shan sangat yakin jika dirinya menebas perut Ye Xiaoya dalam pertukaran serangan, tetapi gaun yang dikenakan Ye Xiaoya masih dalam keadaan utuh.


Gelombang tebasan dua naga berbenturan dengan semburan api yang membara dari mulut Xiang Qi.


Ye Xiaoya menambahkan serangannya dengan menebaskan tebasan pedang yang dipenuhi hawa panas. Sementara Jing Yang mencari kesempatan untuk membunuh Gu Ao.

__ADS_1


‘Sudah kuduga, mereka tidak bekerjasama.’ Ye Xiaoya tersenyum tipis ketika perhatian Xiang Qi tertuju padanya.


Jing Yang tidak melewatkan kesempatan untuk menghabisi Gu Ao, berkali-kali Jing Yang menghunuskan kedua pedangnya yang dialiri petir untuk membunuh Gu Ao demi membuat keseimbangan pria berpenampilan kasar itu goyah.


“Kicauan Seribu Burung!”


Seketika muncul burung-burung yang terbentuk dari aura berwarna ungu dan merupakan perubahan unsur petir.


Gu Ao merasakan energi yang besar dari seribu burung petir yang berterbangan memenuhi dataran tempat pertarungannya.


Jing Yang dan Ye Xiaoya melompat ke belakang bersamaan, sementara Xiang Qi, Ling Shan dan Gu Ao terkejut melihat seribu burung petir yang berkicau berubah menjadi kumpulan petir yang menyambar.


“Amarah Pedang Petir : Kilat Membelah Malam!”


Suara gemuruh petir menyambar tubuh Xiang Qi, Ling Shan dan Gu Ao. Ketiganya terkena serangan dari Jing Yang.


Dari ketiga orang yang terkena sambaran petir hanya Xiang Qi yang masih dalam kondisi prima. Ling Shan dapat menahan sambaran petir dengan membungkus tubuhnya dengan aura, sementara Gu Ao yang memang sudah diambang batas karena tubuhnya tidak mampu menyerap kemampuan Pil Darah Iblis mengalami luka yang cukup parah.


Jing Yang tidak ingin melewatkan kesempatan untuk membunuh Gu Ao demi memenuhi janjinya kepada Lu Han, sedangkan Ye Xiaoya menahan Xiang Qi dan Ling Shan ketika jarak Jing Yang dan Gu Ao semakin mendekat.


Jarak antara keduanya semakin dekat, Jing Yang sudah memanipulasi aura tubuhnya menjadi petir yang berkumpul di bilah Pedang Dewa Naga.


“Cobalah berlagak seperti waktu pertama kali kita bertemu!” Jing Yang membalik Pedang Gravitasi dan menghunuskan pedangnya pada perut Gu Ao.


‘Apakah aku akan mati? Pada akhirnya aku hanyalah bidak. Setelah membunuh seluruh keluargaku, aku diperlakukan layaknya bidak...’ Terlambat. Perut dan jantungnya telah tertusuk pedang Jing Yang.


“Bocah..., lawan... yang harus... kau bunuh... adalah... Mao Gang...” Gu Ao menatap Jing Yang tajam sebelum menghembuskan napas terakhirnya.

__ADS_1


Perkataan terakhir Gu Ao membuat Jing Yang menghentikan tebasan pedangnya yang hampir memotong kepala pria yang mati dengan wajah dipenuhi penyesalan itu.


“Tanpa kau beritahu, aku akan membunuh orang itu...”


__ADS_2